Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 41


__ADS_3

Shua Xie melucuti satu persatu bajunya, setelah semua pakaian yelah lepas, dia melangkahkan kakinya memasuki bak kayu di depannya. Dapat dirasakannya air hangat dalam bak itu, rasa hangat itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Rasanya semua rasa dingin yang menusuk kulitnya mulai mengurang. Shua Xie masuk ke dalam bak, lalu merendamkan tubuhnya hingga kepalanya saja yang timbul.


Shua Xie bukan sedang mandi biasa, tapi dia sedang mandi obat. Beberapa menit yang lalu dia membuat air obat yang digunakannya mandi sesuai perintah Phoe. Katanya Phoe akan membantu Shua Xie melebarkan merediannya dan dantiannya, tidak hanya itu juga tapi juga membantu peningkatan kekebalan tubuh serta kultivasinya.


Shua Xie tersenyum kecil kemudian menghela nafas lega, "Nikmatnya," ungkap Shua Xie tanpa disadarinya.


'Heh, apa kau pikir aku hanya menyuruhmu berendam saja. Sekarang seraplah air obat itu hingga habis! Jangan berhenti sebelum habis, atau tidak meredianmu akan mengalami kerusakan.'


Shua Xie tergelak kaget, "Apa? Menyerap? Padahal aku sedang merasakan kehangatan dari air obat ini!" sahut Shua Xie.


'Hei,hei! Kita tidak bisa berlama-lama di sini. Klan Mo pasti sedang mencarimu, seharusnya kau tahu itu.'


"Haih, mereka menganggu saja. Setelah aku selesai latihan, akan kuhabis saja klan Mo itu!"


Shua Xie mengambil posisi duduk lotus, kemudian dia menutup matanya lalu menyerap air obat secara perlahan. Tiba-tiba ....


"Aarggg!!! Kenapa tidak bilang akan sesakit ini?" teriak Shua Xie keras, tangannya memegang pinggiran bak sangat kuat, tapi ke dua matanya masih belum terbuka.


'Kalau aku bilang, kau pasti tidak akan melakukannya. Ingat jangan berhenti atau meredianmu akan rusak!'


Shua Xie berdecak kesal, genggaman tangannya semakin kuat tapi untunglah dia masih bisa menahan tenaganya agar bak kayu itu tidak rusak karenanya. Shua Xie berusaha menyerap air obat secara perlahan, tapi tetap saja dia merasakan sakit yang hebat ketika melakukannya.

__ADS_1


"Aarggg!!! Sakit sekali! Air obat apaan ini!"


'Tanaman herbal yang kau beli melangkah tanaman herbal biasa, tapi jika mereka digabungkan maka akan menjadi air obat. Seharusnya tidak sangat sakit, tapi karena kau memiliki sajak kutukan, sajak Kutukan juga berusaha melahap air obat. Pengaruhnya juga akan berdampak padamu.'


Shua Xie menggigit bibir bawahnya hingga berdarah, berusaha dia menahan rasa sakitnya sampai seluruh tubuhnya basah karena keringat. Beberapa kali teriakan keras dari mulutnya terus keluar, karena Shua Xie memiliki sajak kutukan ditubuhnya, tekanan gelombang teriakannya membuat langit-langit gua bergetar.


"Sialan!!! Sakit sekali!!! Jangan sampai hasilnya mengecewakan!!!"


***


Kedatangan Guwei Mo bersama pengurus pavilun senjata dalam keadaan pingsan dan terluka membuat seisi klan Mo terkejut hebat. Mereka semua menghampiri Guwei Mo lalu membawanya ke ruang perawatan. Tetua Ke dua yang merupakan ayah Guwei Mo memukul tembok sangat kuat, raut wajahnya sangat-sangat menakutkan. Dia sangat marah ketika melihat anaknya pulang dengan keadaan babak belur.


"Katakan! Siapa ******** yang berani melukai Putraku?" tanya Tetua ke dua sambil melirik ke arah pengurus paviliun yang menghantar anaknya tadi.


Tetua ke Tiga dan ke empat saling menatap satu sama lain dengan raut wajah terkejut. Sedangkan Tetua ke dua langsung menghentakkan kakinya ke lantai membuat lantai hancur membekaskan lubang yang cukup dalam dan besar.


"Beraninya! Gadis ****** dari klan mana?" tanya Tetua ke dua lagi.


"Saat ini pihak paviliun masih menyelidikinya. Tapi kami pikir, gadis itu seorang pendatang."


Mata Tetua ke dua memerah padam seperti mata iblis, urat-urat tubuhnya seketika mulai bermunculan di kulitnya. Tubuhnya perlahan mulai membesar diiringi dengan suara teriakan besar. Semua orang di sekitarnya menjadi semakin takut, tentu saja mereka takut jika menjadi sasaran kemarahan Tetua ke dua. Mereka semua tahu kalau Tetua ke dua sangatlah hebat dan kuat, dan sampai saat ini belum ada yang bisa mengalahkan kekuatannya kecuali para Tetua besar klan Mo.

__ADS_1


"Beraninya seorang pendatang melawan klan Mo!" Semakin murka Tetua ke dua ketika tahu gadis itu adalah seorang pendatang.


"Mo Wan! Mo Gui! Dan Mo Lang!" panggil Tetua ke dua keras, tidak lama muncul 3 orang berpakain serba hitam di hadapannya dengan posisi memberi hormat, "Cari gadis jalan itu dan bawa dia ke sini. Hidup atau pun mati!" Lanjut Tetua ke dua lagi. Ke 3 orang itu mengangguk pelan lalu menghilang seperti bayangan.


Tetua ke Tiga mendekati Kakaknya Tetua ke dua, dia menepuk pudak Kakaknya sambil menatapnya serius.


"Menurut Adik, gadis yang memukul bukanlah gadis biasa. Bisa jadi dia memiliki latar belakang hebat hingga dia berani mencari masalah dengan klan Mo. Aku harap Kakak jangan bertindak gegabah."


Seketika kepala Tetua ke dua menoleh ke arah adiknya, tatapan tajam bak elang itu membuat Adiknya sedikit bergetar, "Adik ke tiga, apa kau terima saja klan Mo dihina oleh seorang gadis pendatang? Aku tidak peduli dia memiliki latar apapun, kalau kita sempat membunuhnya, gadis itu pasti tidak memiliki kesempatan memberitahu keluarganya."


Tetua ke empat mendekati ke dua Kakaknya, ditatapanya ke dua Kakaknya dengan tatapan serius, "Kakak ke dua, yang dikatakan Kakak ke tiga ada benarnya juga. Tidak mungkin gadis sepertinya berkeliaran seorang diri, dia pasti hebat dan memiliki latar belakang yang kuat. Kita tidak boleh gegabah, atau klan Mo akan musnah."


"Heh! Aku yakin gadis ****** itu tidak akan bisa menang melawan Mo Wan, Mo Gui dan Mo Lang. Mereka bertiga adalah Kultivator elit di klan Mo."


Tetua ke Tiga menggelengkan kepalanya, dia sangat tidak setuju dengan ungkapan Tetua ke dua. Karena dia sendiri sudah melihat luka yang diderita Guwei Mo bukanlah luka ringan.


"Tidak. Menurutku gadis itu lebih hebat dari Mo Wan, Mo Gui dan Mo Lang. Setelah aku memeriksa luka Guwei Mo, itu bukalah luka yang diakibatkan serangan energi spirit, tapi pukulan tangan kosong. Tiga tukang rusuk patah, tulang belakang juga patah, organ di sekitar menderita luka lumayan parah."


Tetua ke Empat terkejut hebat, "A-apa? Pukulan tanpa energi spirit?" ungkapnya gelagapan.


Tetua ke Tiga mengangguk pelan, "Benar, seperti gadis memiliki tubuh yang unik. Atau mungkin dia punya semacam jurus kekuatan tubuh, kalau kita bisa menangkapnya kita bisa memanfaatkan tubuhnya. Atau mungkin dia punya pusaka?"

__ADS_1


"Hei! Apa maksudmu memanfaatkannya? Jangan bilang kau ingin menggunakan tubuhnya untuk itu?" sela Tetua ke Empat.


"Heh, kau paling bisa menebak pikiranku. Pasti Kakak permata akan suka dengan ideku."


__ADS_2