Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 91


__ADS_3

Hari masih menunjukkan fajar tapi Huang Zechi sudah bangun lebih awal, karena ketidak nyamanannya atas kejadian semalam. Masih menjadi misteri kenapa Huang Zechi tiba-tiba saja memberitahukan pada seluruh keluarganya bahwa gadis yang dia sukai ialah Shua Xie, pasalnya semua keluarga Huang tahu, Huang Zechi sangat jarang bertemu dengan gadis mana pun apalagi sampai berbincang, jika ada itu hanya kepada keluarganya saja. Lalu kenapa Huang Zechi bisa tiba-tiba saja memiliki gadis pilihannya sendiri, padahal semua orang tahu Huang Zechi sangat fokus pada dunia politik dibanding dunia asmara, kapan pria itu menjalin hubungan tanpa sepengetahuan mereka? Tidak ada yang tahu kecuali Huang Zechi sendiri.


Tak jauh dari meja kerja Huang Zechi, ada 2 orang pria dan wanita tengah berdiri menunggu kapan saja mereka menerima perintah. Pria berambut coklat pendek berbaju hanfu coklat putih disertai 2 samurai melekat di punggungnya, pria berambut coklat itu memiliki mata cantik berwarna sama seperti rambutnya, hanya saja warna iris matanya lebih terang dibanding rambutnya. Pria bermata coklat terang itu bernama Yugito dari wilayah benua timur yang mana di sana mayoritas Kultivator ahli samurai. Usia Yugito masih terbilang muda 18 tahun, dengan pencapaian kultivasinya saat ini dia bisa masuk kategori jenius.


Lalu gadis kecil tinggi sekitaran 120 centimeter, berwajah imut dengan mata hitam pekat berkilau terang, pakaian gadis itu sangat anggun seperti wajahnya, sehingga usianya yang masih 11 tahun itu bisa ditutupi dengan sikap dewasanya. Gadis itu sangat menyukai racun, terutama bunga beracun seperti wisteria. Gadis itu sangat ahli dalam ilmu meracik racun tanpa bau atau pun wujud. Asal gadis itu dari benua tengah tempat benua pedalaman yang sampai saat ini masih belum terjelajahi sepenuhnya. Banyak rumor beredar bahwa benua tengah tempat kehidupan begitu bebas, seperti manusia primitif. Gadis imut itu bernama Uni Calvo, sering dipanggil Uni.


Huang Zechi masih sibuk menulis beberapa untaian kata di atas kertas putih dengan kuas, sampai akhirnya tulisan terakhir selesai ditorehkan. Huang Zechi membaca kembali tulisannya itu, setelah puas dia menggulungnya hingga membentuk kertas gulungan, tak lupa dia beri ikatan kain merah pada gulungan itu. Setelah selesai, dia memberikannya pada Yugito.


"Ingat, kembalilah sebelum sore nanti," ucap Huang Zechi datar sambil menatap Yugito.


Yugito menerima gulungan itu, "Baik Tuan," balasnya lalu segera menghilang dari hadapan Huang Zechi.


Huang Zechi menghela nafas pelan, tatapannya beralih menatap gadis imut yang sejak tadi masih memasang senyuman, ah ... gadis selalu tersenyum sepanjang waktu. Hingga banyak orang membenci senyumannya itu karena semua ekspresi yang dikeluarkan selalu ditemani dengan senyuman.


"Uni, bagaimana pergerakannya saat ini?" tanya Huang Zechi.


"Hanya biasa saja, Tuan," jawab Uni dengan nada santai. Pembawaan wajahnya memang selalu tersenyum dan santai, namun aslinya dia juga sama seperti gadis pada umumnya.


Huang Zechi terdiam sejenak, "Uni, kau ikutilah terus dia ke mana pun dia pergi. Tapi jangan sampai dia sadar ... gadis itu sangat berbahaya."


"Tuan, bolehlah saya bertanya kenapa Tuan tiba-tiba saja menyukai gadis itu? Dia bahkan sangat tidak cocok untuk Tuan. Apalagi dengan sikapnya tadi malam, andaikan Yugito tidak menghentikanku aku pasti sudah menghampirinya dan memberinya beberapa pelajaran untuknya." Uni berbicara dengan nada kesal, tak lupa dia melipat ke dua tangannya di depan dadanya. Walau pun begitu, senyumannya masih terpampang jelas.


Uni masih sangat penasaran, kenapa Huang Zechi tiba-tiba saja menyukai gadis berwajah dingin dan tak berperasaan itu. Dengan sikapnya seperti itu, Uni yakin tidak seorang pun mau pada gadis seperti itu.


Huang Zechi tersenyum kecil merasa lucu mendengar ucapan Uni, walau pun tidak salah Uni bertanya seperti itu.


"Uni, apakah kau pikir aku ini seseorang yang sedang dimabuk asmara?" Huang Zechi menatap ke arah Uni, dengan alis terangkat sebelah. Memperlihatkan wajah tampannya itu sedang memasang wajah merasa lucu.


"Maksud Tuan, Tuan hanya mempermainkan gadis itu?" Melihat ekspresi Huang Zechi, Uni tahu ekspresi itu selalu Huang Zechi keluarkan jika dia sedang melakukan rencana sesuatu atau sedang mempermainkan sesuatu.


Huang Zechi tersenyum sinis dengan dengusan pelan, "Aku tidak mempermainkannya, tepatnya hanya menyelidikinya," jawabnya.


"Tuan ingin menyelidiki gadis itu? Tapi kenapa? Aku tahu gadis itu tidak pernah mengusik ketenangan Tuan, seharusnya Tuan tidak perlu menyelidikinya," balas Uni setengah terkejut.


"Uni, apa kau ingat saat kita kedatangan pria bermata biru itu?" Huang Zechi menatap Uni dengan wajah serius, mengingat terakhir kali mereka bertemu dengan pria bermata biru terang.


Seketika raut wajah Uni memburuk saat Huang Zechi mengingatkan mereka akan kejadian beberapa hari yang lalu, sekitar 4 hari yang lalu. Saat itu Huang Zechi sedang sibuk berkerja di ruang kerja, tiba-tiba saja sesuatu benda dingin dan tajam menyatuh leher belakangnya. Saat Huang Zechi hendak berbalik menyerang orang di belakangnya, ternyata orang di belakangnya langsung menotok punggungnya membuat Huang Zechi tidak bisa bergerak.


Karena tidak bisa bergerak, Huang Zechi langsung berteriak memanggil nama Uni dan Yugito, meminta bantuan 2 bawahannya itu untuk segera membasaknnya dari totokan. Berharap seperti itu ternyata harapan Huang Zechi tak sesuai dengan apa yang dibayangkan. Walau pun 2 bawahannya itu telah datang, apa yang mereka bisa lakukan? Mereka berdua bahkan telah dilumpuhkan dengan 1 jarum perak yang menempel di leher mereka. Entah sejak kapan orang itu melempar jarum perak ke arah Uni dan Yugito.


Huang Zechi melirik ke arah pria yang baru saja menyerangnya saat pria itu berjalan ke hadapannya. Tapi Huang Zechi tidak bisa melihat wajah pria itu sebab pria itu mengenakan topeng, hanya sepasang mata biru terang milik pria itu yang hanya bisa Huang Zechi lihat dan ingat.


"Siapa kau!" teriak Huang Zechi dengan wajah tenang namun sepenuhnya dia tengah ketakutan. Pria bertopeng itu bisa menyusup sampai ke kediamannya tanpa di ketahui pengawal sungguh luar biasa, Huang Zechi tahu seberapa ketatnya pengamanan kerajaan Pilar Emas. Tidak sembarang orang bisa masuk tanpa seizin darinya atau Ayahnya. Tapi pria bertopeng itu bisa masuk dengan mudah, sudah pasti tahap kultivasinya sangat tinggi sehingga bisa masuk ke kediamannya tanpa sepengetahuan para prajuritnya.


Pria bertopeng itu tersenyum di balik topengnya, kemudian dia berjalan menuju kursi lalu duduk santai di sana.


"Pangeran Huang Zechi," ucap Pria bertopeng itu membuat Huang Zechi sedikit terkejut.


Pria bertopeng itu tahu namanya? Kemungkinan pria itu adalah musuh Huang Zechi, sehingga dia menyusup masuk ke dalam kediaman Huang Zechi. Namun seingat Huang Zechi dia tidak berurusan dengan pria bermata biru. Lalu untuk apa kedatangan pria bertopeng itu ke kediamannya? Apa dia pembunuh bayaran yang dikirim musuh tak dikenal?

__ADS_1


"Kau! Bagaimana mungkin kau tahu namaku? Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Huang Zechi dengan nada sedikit berteriak.


"Tenanglah Pangeran Huang Zechi. Aku tahu namamu dari mana itu tidak penting, kedatanganku ke sini bukan untuk membunuhmu, tapi aku memberimu satu misi kecil. Kalau kau bisa melakukannya dengan baik, maka nyawamu dan nyawa seluruh penghuni kerajaan ini akan selamat, tapi jika tidak ... kau dan semua penghuni kerajaan Pilar Emas yang akan menjadi gantinya," balas pria itu santai.


Huang Zechi mengerutkan keningnya, pria itu datang ke tempatnya bukan untuk membunuhnya, namun untuk memberinya misi? Sejak kapan Huang Zechi bersekongkol dengan pria sepertinya, dan dengan seenaknya dia meminta Huang Zechi menjalan misi. Apa status pria bertopeng itu?


"Aku tidak mengenalmu ... dan aku yakin aku tidak pernah menyinggung orang sepertimu." Huang Zechi menatap lekat penuh keberanian pria bertopeng itu, kalau pun memang dia akan mati saat ini juga, lebih baik daripada mati ketakutan dan penasaran.


"Itu tidak penting." Pria bertopeng itu melipat tangannya di dadanya, seraya menatap Huang Zechi dengan tatapan merendahkan, "Dengarkan dengan baik, tugasmu selidiki seberapa kuat gadis bernama Shua Xie?" Pria itu bangkit dari duduknya, kemudian berjalan menuju jendela.


"Shua Xie? Siapa dia?" Huang Zechi tidak mengenal siapa itu Shua Xie, dan kenapa pria itu memintanya menyelidiki Shua Xie? Dengan kekuatan hebat pria bertopeng itu, kenapa dia tidak menguji kekuatan Shua Xie sendiri. Kenapa harus merepotkan Huang Zechi?


Pria bertopeng itu berbalik menatap Huang Zechi tajam, sorotan mata biru milik pria itu sangat terang seperti lampu dalam kegelapan. Namun keterangan itu memiliki arti yang menakutkan -- jangan mendekatinya dia berbahaya.


Seketika bulu kuduk Huang Zechi berdiri, pria di hadapannya sungguh menyeramkan, walau hanya memberikan tatapan, tapi tatapannya itu seperti tatapan dewa kematian membuat tubuh Huang Zechi bergetar.


"Dia gadis paling berbeda dari gadis yang lain. Memiliki paras cantik, namun berwajah dingin. Lebih penting, dia memiliki dua iris mata yang berbeda," jelas pria bertopeng itu dengan nada datar, "Jangan pernah beritahukan gadis itu bahwa aku yang memerintah dirimu menyelidikinya. Sedikit saja mulutmu berbicara, percayalah ... saat itu juga nyawa keluargamu akan hilang."


Setelah berucap demikian, pria bertopeng itu langsung menghilang seperti seberkas cahaya. Bersamaan dengan hilangnya pria bertopeng itu, tubuh Huang Zechi bisa kembali bergerak seperti biasa, tidak hanya itu 2 para bawahannya itu langsung tersadar.


Huang Zechi jatuh berlutut di lantai, seluruh tubuhnya hampir mati rasa, bergetar dan takut itulah yang dia rasakan. Walau pun pria itu hanya mengancam, tapi entah kenapa Huang Zechi bisa merasakan pria itu akan selalu ada di dekatnya sehingga dia tahu jelas apa yang akan Huang Zechi lakukan. Aura pria bertopeng itu benar-benar mengerikan ... untuk pertama kalinya Huang Zechi merasakan aura sehebat itu.


Tersadarnya Uni dan Yugito mereka langsung menghampiri majikan mereka, ketika melihat sang majikan tengah berlutut dengan ekspresi wajah ketakutan disertai keringat dingin.


"Tuan!" seru Uni dan Yugito bersamaan.


Huang Zechi mengangkat wajahnya, menatap 2 bawahannya itu dengan ekspresi sangat gelap dan ketakutan, "Uni, Yugito. Pergi selidiki gadis bernama Shua Xie! Apapun kabarnya kalian harus memberitahukan padaku!" ucap Huang Zechi setengah berteriak, kentara kalau Huang Zechi sedang dalam keadaan kaget dan takut.


"Tuan ...." Uni hendak menyentuh pundak Huang Zechi, namun Huang Zechi langsung mengangkat tangan kanannya memberi tanda kalau dia tidak apa-apa.


"Pergilah ... setelah dapat kabarnya. Segera laporkan padaku," ucap Huang Zechi sambil berusaha kembali tenang di hadapan 2 bawahannya itu.


Uni menatap Yugito, Yugito langsung membalasnya dengan anggukan pelan. Paham akan maksud Yugito, mereka berdua langsung menghilang dari hadapan Huang Zechi.


Huang Zechi berusaha mengontrol rasa tertekannya sambil berusaha beranjak berjalan ke kasurnya. Huang Zechi memikirkan ulang kembali ucapan pria bertopeng itu ... dan langsung menggelengkan kepalanya kuat saat ia teringat keluarganya akan menjadi taruhan. Jika itu benar, maka Huang Zechi tidak bisa membayangkan hal buruk apa yang akan terjadi nantinya. Dengan kekuatan pria misterius itu, bukan tidak mungkin kerajaan Pilar Emas memang bisa hancur. Bisa masuk ke kediamannya tanpa sepengetahuan dirinya dan 2 bawahannya itu, Huang Zechi harus akui pria itu pasti sangatlah kuat.


"Shua Xie? Siapa gadis itu! Kenapa dia harus membuatku seperti ini!"


***


Shua Xie menguap lebar, tak kuasa menahan rasa kantuk yang terus menyerangnya. Rasa kantuk ini terjadi karena semalam dia terus berkelebat dengan pikirannya sendiri sehingga membuatnya tidak bisa tidur.


Shua Xie masih memikirkan apa motif Huang Zechi mengusiknya, Shua Xie yakin dia tidak pernah bertemu Huang Zechi, sedangkan semalam ialah pertemuan pertama kalinya dia dengan pria itu. Dari cerita Wang Xue, Huang Zechi ialah pria dingin dan tak tertarik urusan asmara, namun kenapa tiba-tiba saja pria itu mengumumkan pada banyak orang bahwa dia akan melamar Shua Xie? Itu membingungkan! Apakah kabar Wang Xue salah?


Lama memikirkan Huang Zechi, tiba-tiba mengingatkan Shua Xie pada Lou Yue si pria aneh. Datang ke kediamannya saat Shua Xie di kerajaan Bora hanya untuk memberitahukan mereka berdua terikat tali benang merah? Apa maksudnya? Itu sangat konyol ... dan yang lebih konyolnya lagi Shua Xie menangis di hadapan pria itu. Membuat Shua Xie malu sendiri jika mengingatnya, bagaimana mungkin gadis tegar sepertinya menangis di hadapan pria! Itu memalukan!


Shua Xie menggelengkan kepalanya sambil menjerit dalam hati, 'Oh no! Betapa memalukannya aku menangis di hadapan seorang pria? Apa kata dunia! Aarggg! Itu tidak akan pernah terjadi lagi!'


Shua Xie malu bukan karena cinta, tapi dia malu selama ini dia tidak pernah menangis di depan pria, kalau pun ada dia hanya menangis di hadapan ayahnya saja. Tapi untuk kali pertamanya ... hal bodoh dia telah lakukan. Apalagi Lou Yue juga telah menjatuhkan kecupan singkat di keningnya, Shua Xie tidak bisa membayangkan apa jadinya jika anggota mafia yang dia dirikan di kehidupan lalunya tahu bahwa ketua mereka telah dicium pria. Para anggotanya pasti akan meledeknya terus menerus.

__ADS_1


Chen Xui mengerutkan keningnya saat melihat Shua Xie sedang menggelengkan kepalanya. Apa yang dipikirkan gadis itu sehingga dia bertingkah seperti itu.


"Kak Shua, apa kau tidak apa-apa?" tanya Chen Xui.


Ketika mendengar namanya disebut, Shua Xie langsung berbalik menatap Chen Xui, "Tidak apa-apa," balas Shua Xie langsung.


"Benarkah?" Melihat Shua Xie langsung menjawab Chen Xui ragu kalau Shua Xie tidak apa-apa. Pasti telah terjadi pada Shua Xie tapi dia tidak mau menceritakannya pada Chen Xui.


Shua Xie menganggukkan kepalanya membalas Chen Xui. Melihat Shua Xie masih tidak ingin menceritakan padanya, Chen Xui hanya bisa menerima, dia sadar dia tidak akan bisa memaksa Shua Xie untuk bercerita padanya.


Chen Xui berbalik menatap barisan di belakangnya. Melihat barisan masih begitu panjang, Chen Xui hanya bisa menghela nafas. Barisan panjang itu ialah antrian mendaftar lomba penyeleksian, sedangkan antiran Chen Xui masih di tengah, mungkin masih butuh 1 atau 2 jam lagi barulah gilirannya tiba di meja pendaftaran.


Dalam acara penyeleksian ini, tidak ada perbedaan, mau dia keluarga bangsawan atau tidak, kuat atau lemah. Semua harus mengantri sesuai urutan, peraturan ini sudah diterapkan 5 kerajaan, mereka sepakat tidak ada perbadaan dari kalangan kaya atau miskin. Dengan begitu para Pangeran yang mengikuti acara ini, akan merasakan bagaimana rasanya antri dengan masyarakat kalangan bawah.


Waktu terus bergulir, tidak terasa sudah 1 jam Shua Xie mengatri, kini tiba gilirannya di depan meja daftar. Shua Xie dihadapkan pria 20 tahunan penjaga meja daftar, pria itu berwajah hangat dan lumayan tampan, tidak ada juga gerak-gerik kalau dia terpukau akan kecantikan Shua Xie. Shua Xie sempat terkejut saat pria di depannya tidak menunjukkan respon apapun, tidak seperti pria biasanya, mereka pasti akan menganggunya. Tapi berbeda dengan pria yang satu ini, dia cukup mengejutkan.


Ah ... sepertinya Shua Xie terlalu percaya diri akan kecantikannya. Atau karena kejadian semalam jadi tak banyak pria mau mengganggunya lagi.


Setelah mendaftar Shua Xie langsung memberikan giliran berikutnya. Mendaftar tidak butuh waktu lama, paling 1 atau 2 menit saja. Pengawas meja daftar hanya menanyakan nama dan umur, setelah itu mereka memberikan 1 pin kecil yang terbuat dari perak. Di pin itu tertoreh nomer urutan peserta.


Shua Xie melirik pin kecil di telapak tangannya, urutan pesertanya 210 sungguh sangat jauh, bayangkan berapa banyak peserta mengikuti pertandingan ini?


'Ah ... dengan begini persaingan akan semakin banyak. Dengan begitu aku akan tidak bosan melawan banyak peserta,' gumam Shua Xie dalam hatinya.


Saat Shua Xie tengah asik menatap pin miliknya, tiba-tiba suara lumayan keras mengganggu gendang telinganya. Shua Xie langsung mengalihkan pandangannya, dia dapat melihat seorang pria tengah berseru keras pada seorang gadis kecil. Shua Xie sudah bisa menebak, dua orang itu pasti bertengkar karena urutan antiran. Hal seperti itu sudah sering terjadi dalam antiran.


"Kau! Apa kau tidak baca peraturan dengan baik? Bangsawan atau tidak, semua harus mengantri sesuai urutan!" seru pria berpakaian biasa.


Gadis yang pria itu tegur hanya tersenyum manis, memperlihatkan betapa imutnya dan kasihannya gadis itu jika pria itu tidak mengalah untuknya. Bermodalkan wajah imut seperti itu, siapa tega memukulnya, apalagi gadis kecil itu memegang bunga merah muda sesuai dengan bajunya. Sungguh sangat manis.


Tapi di antrian panjang seperti ini? Siapa sih mau mengalah? Sudah berjam-jam berbaris dan tiba-tiba saja ada orang lain menerobos antiran, siapa coba yang tidak marah?


Hati Chen Xui tergerak tak tega melihat gadis kecil itu dimarahi beberapa orang akibat kelakukan gadis itu. Gadis itu memang bersalah, tapi melihat betapa kasihannya gadis itu, siapa yang tidak ingin membantunya?


Tidak hanya Chen Xui saja yang tergerak hatinya, masih banyak orang lain juga ingin membantu, termasuk Xui Cuisha dan Xui Miaoyu. Ke tiga anak muda ini hendak maju membantu gadis kecil itu, namun baru saja selangkah mereka maju, sebuah tangan langsung menghentikan mereka.


Chen Xui melirik pemilik tangan itu yang tak lain ialah Shua Xie, "Kak Shua, kenapa menghalangi kami? Tidakkah kau kasihan melihat gadis itu?"


"Tidak," jawab Shua Xie singkat, padat dan jelas.


"Kak Shua-" belum selesai Xui Miaoyu berbicara, Shua Xie langsung memotong ucapannya.


"Dia bisa menyelesaikannya sendiri tanpa bantuan siapa pun." Shua Xie menatap tajam ke arah gadis berbaju merah muda itu, dan lebih tajam lagi saat melihat bunga di tangan gadis itu. Mungkin tidak banyak orang tahu bunga yang dipegang gadis itu ialah bunga beracun. Ditambah lagi, gadis itu bukanlah gadis biasa.


' Gadis itu.' Shua Xie mengulum senyum tipis, 'Menarik.'


***


Gaes saya up lagi 👋 makasih buat kalian susah support saya 😚 saya terharu membacanya 💦 lope-lope dah buat kalian ❤❤❤ oh ya, besok saya berangkat kemungkinan tidak up, jika gak jadi berangkat tetep up ;) tunggu aja kabarnya 😚

__ADS_1


see you next time 👑


Mampir dong ke karya author yang satunya, Pheonix Reincarnation 👑 dijamin seru kok 😉 jangan lupa berikan dukungan 😚 like aja gak masalah kok ❤


__ADS_2