
Jiazhen seketika menjauhi sosok gadis cantik itu setelah melihat pedangnya dibuat patah dengan mudah. Sedikit terkejut sebab gadis itu memiliki kekuatan lebih tinggi lagi dari pikiran Jiazhen, cukup melihat dari cara gadis itu mematahkan pedang spiritual milik Jiazhen dengan mudahnya dirinya bisa menebak gadis itu memiliki kekuatan lebih kuat lagi.
Minghao dan Yihua juga segera menjauhi gadis itu, mereka berdua juga sama terkejutnya, seakan tidak percaya lawan mereka baru saja mematahkan pedang spiritual tingkat rendah dengan tangan kosong. Cukup membuktikan kalau gadis yang mereka lawan memiliki kekuatan fisik yang kuat.
Sosok yang kini memperlihatkan wajahnya masih tersenyum puas melihat ke tiga bocah itu menjauhinya, bukankah sudah jelas mereka cukup terkejut melihat dirinya mematahkan pedang mereka. Sebenarnya gadis itu hampir saja tertusuk pedang milik bocah bermata biru itu, jika saja dirinya tidak cepat tanggap, sudah pasti dia mendapat sedikit luka. Gadis itu cukup mengagumi trik tiga bocah itu mengecohnya, meskipun dirinya sempat menyadari rencana mereka bertiga. Paling tidak dia sudah mengakui tiga bocah itu cukup kuat dan cerdik, dan pastinya harus ... dilenyapkan.
Jiazhen segera mendekati Minghao dan Yihua, bisa Jiazhen lihat ke dua kakaknya itu masih terkejut melihat kekuatan yang dikeluarkan gadis itu.
Di sisi lain, gadis dengan warna manik mata yang berbeda berbalik masih dengan memasang seringai meledek, "Kenapa mundur? Bukankah kalian ingin membunuhku?" tanyanya dengan nada meledek.
Minghao geram, ingin menyerang gadis itu lagi, tapi Yihua langsung menghentikannya, "Jangan, dia hanya memancing kemarahanmu. Minghao, kau harus paham, gadis itu tidak sedikit pun menggunakan kekuatan QI-nya sejak tadi, dia hanya memakai tenaga dari tubuhnya saja, dan itu sudah cukup meyakinkan kalau gadis itu sangat kuat," jelas Yihua dengan nada serius.
Minghao terdiam untuk beberapa saat, memikirkan ucapan Yihua ada benarnya juga, selama mereka bertarung gadis itu tidak menggunakan kekuatan QI selain kekuatan fisik semata. Tidakkah menujukkan bahwa gadis itu memiliki kekuatan fisik di luar nalar pikiran mereka.
Jiazhen juga berpikir sama seperti Yihua, gadis itu sangat kuat dan berbahaya, dan tidak seharusnya mereka menyerang gadis itu sebelum mencari tahu kebenarannya. Jika saja Minghao tidak gegabah, seharusnya semua ini tidak perlu terjadi.
"Sekarang bagaimana, Jiazhen?" tanya Yihua seraya beralih menatap Jiazhen, berharap adiknya itu memiliki cara di situasi seperti ini.
Minghao juga beralih menatap Jiazhen, "Jiazhen, kau pasti punya cara lain bukan?"
Jiazhen menatap ke dua Kakaknya itu sedikit kesal, sudah menjadi hal biasa jika mereka terpojok Jiazhen lah memikirkan rencana lagi. Meskipun kesal tapi Jiazhen tetap memikirkan rencana berikutnya.
"Kalian membuatku frustasi." Sekarang Jiazhen tidak mendapat rencana setelah mengetahui musuh mereka sekuat itu, "Tidak ada cara lain, kabur!" lanjut Jiazhen lagi sembari berbalik melarikan diri lebih awal.
Minghao dan Yihua sempat terkejut Jiazhen lari lebih awal tanpa aba-aba. Tanpa berpikir panjang lagi, Yihua dan Minghao segera mengejar Jiazhen.
"Mau melarikan diri? Tidak semudah itu!" Gadis itu mendengus pelan seraya mengaktifkan tato aura elemen kayu. Gadis itu mengangkat tangannya dan dalam sekejap keluar tiga akar dari tanah dan langsung mengejar ke tiga bocah itu.
Dalam waktu singkat saja, ketiga bocah itu berhasil tertangkap.
Jiazhen membulatkan matanya ketika satu tiba-tiba saja menarik kakinya secara kasar ke bawah, bahkan mulai meliliti tubuhnya dengan cepat. Tidak hanya Jiazhen bernasib serupa, Minghao dan Yihua juga mengalami hal sama. Mereka bertiga jatuh ke tanah dengan akar yang meliliti seluruh tubuh mereka dengan ganasnya, dan hanya menyisakan kepala mereka.
Bersamaan dengan itu, datang seorang gadis dengan senyuman merekah di wajahnya, meskipun senyuman itu membuat gadis itu semakin cantik, tapi di mata ke tiga bocah itu, senyuman gadis itu lebih mirip senyuman iblis.
"Setelah membuat masalah kabur begitu saja, memalukan!" ucap gadis itu setelah dia berdiri di depan ke tiga bocah itu, "Katakan, apa tujuan kalian?"
Jiazhen diam, begitupun dengan Minghao dan Yihua, tampaknya mereka tidak mau buka mulut bahkan setelah tertangkap. Gadis itu sedikit kagum akan keberanian mereka, padahal situasi tiga bocah itu sangat tidak menguntungkan. Bukankah alangkah baiknya mereka membuka mulut agar nyawa mereka tidak melayang lebih cepat?
Melihat ke tiga itu bungkam, gadis itu mengepalkan tangannya, bersamaan dengan itu akar yang mengikat ke tiga bocah itu membelit semakin kuat dan membuat ke tiga bocah itu menjerit kuat.
Tulang-tulang mereka seakan mau remuk ketika akar itu mengikat mereka semakin kuat, Minghao sendiri yang memiliki kekuatan fisik lebih kuat tidak bisa menahannya.
"Kuberi tahu pada kalian, aku bisa saja membunuh kalian dengan mudah. Akar yang mengikat kalian bukan akar biasa, tapi akar yang bisa menghisap habis tenaga dan QI kalian." Gadis itu menjelaskan dengan nada dibuat semenyeramkan mungkin, agar kiranya ke tiga bocah itu takut mendengarnya.
Namun, alih-alih merasa takut, Minghao justru tersenyum sinis dengan darah yang mulai mengalir di pinggir bibirnya, "Cih! Meskipun kau membunuh kami! Kami tidak akan buka mulut!" balasnya dengan nada meledek.
Gadis sedikit kagum, tapi rasa kagumnya tentu tidak akan bisa menyelamatkan tiga bocah itu, mereka bertiga telah menyerangnya, sudah wajar bukan dia harus membunuh tiga bocah itu.
"Seharusnya kau lebih mementingkan nasib dua temanmu ini. Jangan egois," balas gadis itu menghina keegoisan Minghao dalam bertindak.
__ADS_1
Jika Minghao tidak ingin buka mulut dan lebih memilih mati itu wajar saja, sebagai pria mereka sudah patut melakukan hal seperti itu. Tapi mau bagaimana pun, Minghao harus memikirkan nasib ke dua saudaranya, sebagai Kakak sudah menjadi tugasnya bukan melindungi adiknya.
Sejenak Minghao menatap Yihua dan Jiazhen yang mengalami hal serupa dengannya. Seperti tertimpa beban besar, Minghao sedikit tergoyah melihat ke dua Adiknya itu seperti tersiksa.
"Minghao! Tidak usah pedulikan kami! Kita tetap harus mengingat ucapan Ayah!" pekik Jiazhen, dia tahu Minghao tidak tega melihat dirinya dan Yihua terluka.
Yihua menganggukkan kepala pelan, setuju dengan ucapan Jiazhen, "Kalaupun kita mati di sini, paling tidak kita sudah menjalankan tugas Ayah."
Mendengar Jiazhen dan Yihua, Minghao semakin tidak tega lagi. Di sini Minghao merasa bersalah, situasi mereka sekarang semua karena dirinya, seandainya Minghao tidak gegabah dalam bertindak, semua ini pasti tidak akan terjadi. Minghao memaki betapa bodoh dan cerobohnya dirinya.
Minghao beralih menatap sosok gadis di depannya, bisa Minghao lihat gadis itu memasang ekspresi begitu datar seakan tidak peduli melihat penderitaan dari tanak kecil sepertinya. Bukankah gadis itu terlihat kejam?
"Bisakah kau berjanji akan melepaskan ke dua saudaraku setelah aku memberitahukanmu?" ucap Minghao membuat Yihua dan Jiazhen terkejut.
"Minghao! Apa yang kau lakukan!" teriak Jiazhen dengan cepat dan keras, diselingi dengan beberapa darah yang mulai mengalir di pinggir bibirnya.
"Minghao! Kau jangan bertindak ceroboh!" pekik Yihua setelah Jiazhen.
Minghao tampak tidak memedulikan ocehan Yihua dan Jiazhen, Minghao terfokus dengan apa yang akan dijawab gadis di depannya itu.
Gadis berwarna manik mata berbeda memijit pelipisnya, dirinya baru saja menonton drama saudara yang berakhir ironi, bukannya dia merasa tidak tega, hanya saja salah mereka mencari masalah dengan orang sepertinya. Dia sudah terbiasa melewati pahit manisnya kehidupan, jadi tidak akan sedikit pun tergoyah dengan drama seperti itu.
"Katakan saja," balas gadis itu seadanya.
Minghao tersenyum kecut mendengar jawaban dari gadis itu, "Berjanji dulu, baru aku akan mengatakannya!" tegas Minghao, masih tidak percaya sebelum gadis itu berjanji akan melepaskan ke dua saudaranya.
Gadis itu memutar bola matanya sembari melipat ke dua tangannya di depan dadanya, "Baiklah, aku berjanji akan melepaskan dua saudaramu."
"Kami merasa kau ancaman untuk wanita yang kami lindungi." Minghao sudah menjawab sedikit tujuannya menyerang gadis itu. Sejenak Minghao membuka mata lagi melihat reaksi dingin dari gadis di depannya.
"Siapa gadis yang kalian lindungi?" Gadis itu melontarkan lagi pertanyaan, kali ini dengan nada cukup serius. Gadis itu hanya tidak menyangka ke tiga bocah ini menyerangnya sebab mereka beranggapan bahwa gadis ini adalah ancaman bagi wanita yang mereka lindungi. Mereka boleh saja berpikir seperti itu, tapi, pastikan kalau mereka bisa menunjukkan bukti kalau dirinya memang berniat melukai wanita yang mereka lindungi.
"Dia-"
"Minghao! Jika kau berbicara lagi aku akan membuang jagungmu!" Jiazhen menyela Minghao dengan keras sembari memberi tatapan melotot yang tajam.
"Bocah, dibandingkan banyak bicara, lebih baik kau diam." Gadis itu memberikan tatapan tajam kepada Jiazhen, dan dalam waktu cepat akar yang sebelumnya hanya melilit tubuh Jiazhen kini naik menutupi seluruh tubuh bocah itu, sehingga suara teriakan Jiazhen tidak terlalu besar.
Minghao dan Yihua cukup terkejut melihat Jiazhen diperlakukan seperti itu, tentu saja mereka tidak senang, tapi mereka sadar dengan situasi seperti ini apa yang bisa mereka lakukan? Marah pun hanya menambah situasi mereka semakin sulit.
Gadis yang sebelumnya menatap Jiazhen kini beralih menatap Minghao, pandangan dingin yang diperlihatkan gadis itu membuat Minghao menelan salivanya secara kasar. Sungguh Minghao bersumpah tidak akan menyinggung gadis itu lagi, jika dia diberikan kesempatan untuk hidup.
"Lanjutkan," ucap gadis itu dengan nada datar.
Minghao tanpa sadar menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan gadis itu, "Wanita yang kami lindungi adalah Putri Langit," jawab Minghao pelan sambil menutup ke dua matanya agar dirinya tidak menyesali dengan apa yang barusan dia perbuat.
Gadis itu sedikit mengerutkan keningnya ketika telinganya menangkap jawaban dari bocah di depannya, "Putri Langit?" Gadis itu mengulang dua kalimat itu, semua orang bisa tahu kalau gadis itu sedikit tidak tahu siapa Putri Langit.
Minghao membuka kembali matanya, menatap sosok di depannya sedikit ngeri, "Putri dari Kerajaan Langit. Kau tidak akan mengerti meski aku-"
__ADS_1
"Kerajaan Langit!?" Gadis itu langsung menyela ucapan Minghao membuat Minghao menghentikan ucapannya dengan cepat, "Dari mana kalian tahu tentang Kerajaan Langit?" Gadis itu kembali bertanya. Meskipun Minghao berniat menjelaskan sedikit tentang Kerajaan Langit, tapi tampaknya gadis itu sudah mengetahui sesuatu.
"Kami tinggal di sana, tentu kami tahu banyak." Minghao menghentikan sejenak ucapannya, "Kami dikirim Ayah kami untuk melindungi Putri Langit dari bahaya."
Penjelasan Minghao memang cukup singkat, tapi gadis itu memahami sesuatu. Gadis itu terdiam untuk sesaat seperti sedang memikirkan sesuatu. Melihat sikap gadis itu sedikit aneh, Minghao menjadi sedikit curiga, gadis itu pasti mengetahui sesuatu.
"Tampaknya kau mengetahu sesuatu, bukan?" Minghao memberanikan diri bertanya, meskipun dia sadar pertanyaan bisa membuat gadis itu marah, tapi Minghao sadar bertanya atau tidak pada akhirnya dia akan mati di tangan gadis itu, bukankah lebih baik dia bertanya untuk mengurangi rasa penasarannya sebelum dia mati.
Sadar kalau dirinya cukup lama melamun, gadis itu kembali menyadarkan dirinya, sesaat dia menatap Minghao dengan tatapan cukup serius dari sebelumnya, "Katakan siapa nama Ayah kalian?" tanya gadis itu lagi.
Minghao mengerutkan keningnya, rasa curiganya pada gadis itu semakin besar, tapi Minghao tetap menjawab pertanyaan gadis itu, "Anak dari Raja Lou Zhou, Lou Yue."
Mendadak suasana menjadi hening ketika Minghao menjawab pertanyaan gadis itu. Gadis yang mendengar jawaban itu terdiam, membiarkan angin membelai anak rambut di dahinya.
"Lou Yue?!" Gadis itu mengulang nama itu membuat Minghao dan Yihua menatapnya aneh, "Jadi Ayah kalian si brengs*k itu?!" Tambah gadis itu lagi dengan nada tampak terkejut seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut bocah itu.
"Kau mengenal Ayah kami. Dan tolong jangan memanggilnya dengan sebutan itu, atau aku akan membunuhmu meski harus memaksakan seluruh tubuhku," balas Minghao dengan nada dingin, sangat tidak senang mendengar Ayahnya dipanggil dengan sebutan 'Brengsek'.
Anak manapun pasti tidak akan senang mendengar orang tuanya dihina apalagi direndahkan di depan mata mereka sendiri.
Gadis itu menutup sebagian wajahnya dengan tangan kirinya, tampak sebuah senyuman terlukis di sana, tapi senyuman itu terlihat seperti senyuman meledek.
"Aku tidak menyangka, setelah menggodaku ternyata si bajingan itu memiliki anak. Dasar pria sama saja," gumam gadis itu disertai dengan tawa kecil yang keluar dari mulutnya. Sepertinya sudah menjadi hukum alam wanita mengatakan pria itu sama saja, padahal mereka tidak tahu pasti apa semua pria itu sama.
"Jadi kalian anak si bajingan itu?" Gadis itu bertanya lagi sembari menatap bocah berambut hitam di depannya.
"Bukankah sudah kukatakan jangan pernah memanggil nama Ayah kami dengan sebutan itu!" Minghao semakin geram pada gadis di depannya, jika saja dia tidak terbelit akar aneh itu tentu Minghao sudah pasti menghajar gadis di depannya.
Melihat reaksi dari bocah di depannya, gadis itu semakin yakin kalau ke tiga bocah itu memang anak dari Lou Yue. Hal itu membuat gadis itu tertawa lagi dan lagi, seakan mentertawakan apa yang dia dengar dan apa yang pernah dia alami dengan pria itu. Pria yang pernah mendaratkan kecupan singkat di wajahnya. Mengingat semua itu membuat gadis itu bergidik jijik.
"Jadi kalian datang dari Dunia Atas untuk melindungi Putri Langit?" Pandangan meremehkan keluar dari gadis itu. Mungkin tidak percaya Lou Yue akan mengirim seorang bocah untuk melindungi seseorang yang merupakan buronan besar, "Lucu sekali dia mengirimkan tiga bocah untuk melindungiku. Apa dia pikir aku tidak bisa melindungi diri sendiri?" Gadis itu tertawa lagi sambil menggeleng-geleng pelan.
Minghao dan Yihua terkejut mendengar ucapan gadis di depannya, mereka tidak seharusnya salah dengar bukan? Gadis itu mengakui dirinya Putri Langit secara sadar atau tidak sadar.
"Kau, apa kau-"
"Ya, aku Putri Langit yang kalian ingin lindungi." Gadis itu langsung menjawab pertanyaan Minghao sembari membungkuk sedikit di depan Minghao, "Aku tidak menyangka Ayah kalian mengirim seorang bocah untuk melindungiku." Tambah gadis itu lagi.
"Bagaimana bisa kami mempercayaimu? Kau tidak tampak seperti yang Ayah kami bicarakan." Yihua angkat suara membuat semua pandangan langsung tertuju padanya.
Gadis itu menyinggung senyum lagi pada Yihua, pertanyaan yang bocah perempuan itu ajukan memang cukup masuk akal, bagaimana bisa mereka mempercayai gadis di depan mereka ini adalah wanita yang seharusnya mereka lindungi.
"Apa yang dikatakan Ayahmu tentang Putri Langit?" Gadis itu bertanya balik.
Untuk sesaat Yihua mengukir senyum penuh percaya diri sembari menutup ke dua matanya dia menjawab, "Putri Langit adalah wanita yang cantik, lemah dan baik. Tidak hanya itu, Putri Langit juga merupakan calon Ibu kami, instingku berkata tidak mungkin Putri Langit memiliki sifat sepertimu."
Minghao menganggukkan beberapa kali kepalanya, "Benar, Putri Langit lemah lembut seperti kapas."
"Puft!" Tanpa sadar gadis itu ingin tertawa, tapi tertahan sebab mulut dan tangannya lebih cepat menahan tawa itu untuk tidak keluar. Gadis itu barusan telah mendengar ucapan yang entah memujinya atau menghinanya karena dia memiliki sikap yang bertolak belakang dari apa yang ke dua bocah itu ucapkan.
__ADS_1
"Aku tidak tahu Ayah kalian memiliki bakat penipu yang baik. Tapi percaya atau tidak, aku adalah wanita yang kalian maksud."