
"Wah, dalam waktu cepat saja Kak Shua sudah terkenal. Bahkan tidak butuh sampai sore hari, orang-orang di sini ternyata sangat cepat menyebar gosip." Entah itu pujian atau hinaan, Xingxing tampaknya tidak memedulikan makna ucapannya. Dirinya teramat senang Shua Xie bisa membuat Diqiu malu di hadapan banyak orang.
Ya, meski berita dirinya sudah tersebar di sekte Kunlun, Shua Xie masih bisa bersikap tenang walaupun dia tahu kabar ini pasti akan membawa dampak buruk baginya. Tidak hanya memiliki banyak musuh murid luar atau pun murid dalam, dia juga akan menjadi pusat perhatian para Tetua. Tapi bagus juga jika seperti ini, jika para Tetua menaruh perhatian besar padanya bukan tidak mudah Shua Xie merebut perhatian mereka akan segera memasukkannya menjadi murid dalam.
'Yang pastinya aku sudah menjadi pusat perhatian saat ini. Seharusnya tidak lama lagi para murid akan mendatangiku, entah niat mereka mencari masalah atau berteman,' ujar Shua Xie dalam hatinya.
Tidak salah tebak, beberapa detik setelah dia menebak terdengar suara ketukan pintu dari luar. Pandangan Shua Xie dan Xingxing langsung tertuju pada pintu itu.
'Secepat inikah?' Shua Xie terkejut baru saja dirinya menebak ternyata tebakannya langsung menjadi kenyataan. Shua Xie beranjak bangun lalu berjalan menuju pintu diikuti Xingxing dari belakangnya.
"Mungkin orang-orang itu sangat penasaran denganmu, Kak Shua? Sehingga mereka mendatangi asrama kita, aku tidak menyangka kau akan sepopuler ini," puji Xingxing yang lebih tepatnya sedang meledek Shua Xie.
Shua Xie tidak memedulikan ucapan Xingxing itu, percuma juga dia meladeninya semakin diladeni hanya akan membuang waktunya saja. Shua Xie memegang gagang pintu lalu membukanya dengan cepat.
"Tetua Jiang Liang, akhirnya anda datang juga." Shua Xie mengukir senyum tipis, berpikir yang ada para murid yang ingin mencari masalah dengannya, ternyata salah.
Jiang Liang membalas senyuman Shua Xie, "Baru saja beberapa waktu kita berpisah kau sudah membuat gempar sekte Kunlun." Mata Jiang Liang melirik ke belakang Shua Xie, ketika dia melihat gadis kecil berdiri di sana Jiang Liang langsung tersadar, "Ah, aku melupakan kehadiran Putri Xingxing. Maaf atas ketidak sopananku, Putri." Jiang Liang langsung membungkuk memberi hormat.
"Haih, Tetua Jiang tidak perlu bersikap hormat begitu. Aku ke sini untuk berlatih menjadi kuat, bukan menginginkan setiap hormat dari Tetua," balas Xingxing. Dia sedikit heran saja sejak dia mendaftarkan dirinya ke sekte ini hampir setiap kali dia bertemu Tetua sekte mereka selalu memberi hormat padanya. Sikap para Tetua membuat Xingxing merasa tidak nyaman.
"Eh? Itu." Jiang Liang kebingungan, Xingxing meminta Jiang Liang untuk bersikap biasa saja kepadanya, namun bagaimana bisa seorang Tetua dari sekte yang tidak terlalu terkenal ini bersikap biasa saja kepada anak dari Kaisar negara Angin. Tidakkah itu sama saja Jiang Liang tidak menghormati pemimpin negaranya?
Shua Xie juga merasakan hal yang sama dengan Jiang Liang, sangat aneh mereka menemukan Putri seperti Xingxing. Biasanya para bangsawan selalu ingin dihormati setiap saat, tapi Xingxing justru tidak ingin terkenal karena statusnya.
'Tetua Jiang jangan khawatir, turuti saja apa yang dia katakan.' Shua Xie mengirim pesan suara lewat telepati.
Jiang Liang sedikit tersentak, dia baru saja menerima pesan telepati, setahu dirinya tidak semua Kultivator bisa melakukan teknik ini karena teknik ini sedikit susah dari jurus lain sekali pun. Jiang Liang tidak menyangka Shua Xie bisa melakukan telepati dengan mudah kepadanya.
'Benar-benar berbakat,' puji Jiang Liang dalam hatinya.
Jiang Liang kembali berdiri tegak, "Jika Putri Xingxing berkata seperti itu, Tetua ini hanya bisa menurutnya saja." Xingxing dengan sungkan mengiyakan perintah putri kecil itu.
"Sepertinya Tetua Jiang datang kemari membawa berita?" Kesampingkan soal tata krama yang tidak Xingxing inginkan, Shua Xie lebih penasaran apakah Jiang Liang berhasil membujuk Tetua Besar atau tidak. Seharusnya Jiang Liang pergi cukup lama dan kini datang lagi membawa berita baik.
"Ah, aku hampir lupa menyampaikan pesan ini." Jiang Liang tersenyum canggung, karena terlalu memikirkan Xingxing dia sampai lupa tujuannya datang kemari, "Murid Shua, ikut bersamaku, Tetua Besar ingin bertemu denganmu."
Shua Xie dan Xingxing menunjukkan reaksi sedikit terkejut, Shua Xie hanya tidak menduga Tetua Besar itu ingin bertemu dengannya secepat ini, sangat di luar dugaan Shua Xie. Tapi bagus juga jika dia bertemu dengan Tetua Besar, dengan begitu kesempatan Shua Xie menjadi murid dalam semakin besar.
"Baiklah, aku akan ikut bersama Tetua Jiang." Shua Xie melangkah mendekati Jiang Liang, namun sebelum dia pergi Shua Xie berbalik menatap Xingxing. Gadis itu pasti penasaran kenapa Tetua Besar memanggil Shua Xie.
"Kak Shua, apakah Tetua Besar akan mengeluarkanmu sebab telah memukul murid dalam, Diqiu?" ungkap Xingxing dengan nada khawatir ketika Shua Xie berbalik menatapnya. Di pikirannya saat ini hanya itu, alasan apa lagi jika bukan karena masalah itu?
Shua Xie tersenyum tipis sembari tangannya itu menepuk puncak kepala Xingxing, membuat gadis itu tertegun karena sikap Shua Xie, "Jangan khawatir, Tetua Besar tidak akan mengeluarkanku hanya karena aku melukai Diqiu," jelas Shua Xie menghilangkan kekhawatiran Xingxing.
Jiang Liang juga tersenyum, tidak dia sangka Xingxing begitu perhatian dengan Shua Xie. Berarti hubungan dua gadis itu tidak sesederhana yang dia pikirkan, "Benar, Tetua Besar tidak akan mengeluarkan murid Shua. Mengalahkan murid dalam itu wajar, hanya saja terlalu cepat untuk murid Shua." Jiang Liang membenarkan rasa khawatir Xingxing.
Xingxing mengangkat sedikit wajahnya, tampak raut wajah lugu terpasang di sana, "Benarkah?" tanyanya dengan suara rendah.
Shua Xie dan Jiang Liang mengangguk bersamaan mengiyakan pertanyaan Xingxing. Tentu saja Tetua Besar tidak akan mengeluarkan Shua Xie hanya karena Shua Xie baru saja melukai murid dalam, jika itu terjadi sama saja akan memperburuk reputasi sekte Kunlun. Apa jadinya jika orang di luar sana tahu, Tetua Besar mengeluarkan seorang murid luar hanya karena telah mengalahkan murid dalam? Bukankah itu aneh.
"Benar, kau tidak perlu khawatir. Kalau begitu aku pergi dulu, tidak baik membuat Tetua Besar menunggu," balas Shua Xie sambil tangannya turun dari kepala Xingxing.
__ADS_1
Shua Xie kembali berjalan sembari dia memberi kode kepada Jiang Liang untuk segera pergi. Shua Xie tentu tidak ingin membuat Tetua sekte menunggu, meski Shua Xie sekarang sangat kuat bukan berarti dia harus bersikap semena-mena kepada yang tua. Jiang Liang mengerti, dia berjalan paling depan sebagai penunjuk jalan.
Sebelum Shua Xie benar-benar jauh, Xingxing kembali berteriak, "Kak Shua, katakan saja jika ada masalah, aku pasti akan membantumu." Meski Xingxing melihat Shua Xie tampak tenang, tapi rasa kekhawatirannya tidak bisa dia tutupi. Shua Xie adalah teman pertamanya di sekte Kunlun dan orang pertama di sini yang menghargai sikapnya yang kekanak-kanakan, tentu saja Xingxing sudah menganggap Shua Xie seperti sahabatnya sendiri dan tidak akan membiarkan Shua Xie berada dalam masalah seorang diri.
Shua Xie mengangkat tangannya, meski dia tidak berbalik namun Xingxing paham makna itu. Shua Xie mengerti kekhawatiran Xingxing dan akan bersikap terbuka kepada gadis itu jika dia memiliki masalah. Respon Shua Xie membuat Xingxing senang, bahkan jantungnya berdebar cukup kencang, karena untuk pertama kalinya dia memiliki teman yang mau menghargainya.
"Kak Shua, percayalah aku akan membantumu di setiap masalahmu," gumam Xingxing pelan sambil terus menatap kepergian Shua Xie.
Di sisi lain, Jiang Liang tersenyum lagi tanpa sadar, dia memuji Shua Xie dalam hatinya. Shua Xie tidak hanya memiliki kecantikan dan bakat kekuatan hebat, tapi juga bisa berteman akrab dengan Xingxing Putri Kaisar Wexin. Jiang Liang tahu Xingxing memiliki sikap yang tidak banyak orang menyukai, tapi tampaknya Shua Xie bisa beradaptasi dengan Xingxing begitu cepat.
Jiang Liang menoleh ke samping, menatap gadis berwajah begitu tenang itu, "Sepertinya Nona Shua memiliki hubungan cukup dekat dengan Putri Xingxing. Aku tidak menyangka akan ada seseorang bisa menghargai sikap gadis itu," ungkap Jiang Liang kagum. Nada bicaranya juga sudah berubah terdengar lebih akrab dari sebelumnya.
Alis Shua Xie berkerut, seketika saja pandangannya itu beralih pada Jiang Liang, "Maksud Tetua Jiang? Tidak mungkin bukan Xingxing tidak memiliki teman? Dengan statusnya siapa yang tidak ingin berteman dengan Xingxing."
Ya, Xingxing memang memiliki sikap terlalu bersemangat selain itu Xingxing juga terlalu kekanak-kanakan, tidak banyak orang bisa tahan dengan sikap seperti itu. Tapi menurut sudut pandang Shua Xie tidak seharusnya juga Xingxing tidak memiliki teman, meski pun gadis itu memiliki sikap cukup menyebalkan. Tapi sikapnya yang lugu itu juga bisa dimanfaati orang di sekitarnya, status Xingxing seharusnya bisa menarik banyak orang mendekatinya.
"Seperti yang kuduga, Nona Shua tidak mengetahuinya." Jiang Liang tersenyum tipis, terlibat tidak berdaya.
Shua Xie semakin mengernyit, "Apakah ada sesuatu pada Xingxing?" tanya Shua Xie cukup penasaran.
Pandangan Jiang Liang kembali menatap ke depan, senyumannya juga perlahan memudar, "Menurutmu kenapa Putri seorang Kaisar bisa berakhir di sini?" Jiang Liang mengajukan pertanyaan balik, membuat Shua Xie sedikit terkejut namun Shua Xie tidak menjawab apapun, "Putri Xingxing hanyalah Kultivator tidak berbakat. Di antara saudaranya dialah yang paling lemah, karena merediannya mengalami kecacatan sejak lahir. Para master alkemia terbaik juga tidak bisa mengobati kecacatan merediannya, sebab itu dia selalu berpura-pura bersemangat dan ceria," jelas Jiang Liang dengan suara lemah.
Shua Xie akhirnya paham, kenapa Xingxing begitu ceria tapi mata gadis itu terlihat sedih. Ternyata karena masalah kecacatan meredian Xingxing dari lahir membuatnya tidak bisa maju menjadi Kultivator hebat. Pantas saja Shua Xie ada yang merasa aneh, seorang Putri bisa berakhir di sekte seperti ini, padahal dengan statusnya seharusnya Xingxing berada di perguruan terbaik di negara Angin.
"Meskipun begitu, tidak mungkin juga Xingxing tidak memiliki teman. Apa salahnya lemah selama statusnya jauh lebih tinggi dari orang kuat di sekitarnya, selain kekuatan status juga sangat di pandang," balas Shua Xie.
"Ya, Kau benar. Tapi sayangnya, karena Xingxing terlahir sebagai perempuan dia tidak bermakna apapun di mata banyak orang." Balasan Jiang Liang membuat Shua Xie mengernyit heran.
"Maksud Tetua Jiang? Apakah di kerajaan hanya memandang pria saja?" tanya Shua Xie keheranan.
Shua Xie tertegun mendengar nasib Xingxing dari Jiang Liang. Dari apa yang Shua Xie lihat tampaknya bibi Xingxing mempercayakan Xingxing kepada Jiang Liang sehingga Tetua itu begitu menghargai Xingxing. Pantas juga sikap murid lain di sekte Kunlun tidak begitu ramah terhadap Xingxing meski mereka tahu Xingxing anak dari Kaisar Wexin.
Nasib Xingxing tidak jauh berbeda dengan nasib Shua Xie, terlahir lemah dan tidak memiliki Ibu. Lebih buruk lagi memiliki saudara yang hanya mementingkan kekuasaan dari pada kasih sayang. Shua Xie mengasihani Xingxing tanpa dia sadari.
"Apakah benar tidak ada cara membantu Xingxing?" tanya Shua Xie pelan, matanya itu menatap Jiang Liang seakan penuh harapan. Berharap jika Tetua itu ada cara mungkin saja dia bisa membantu Xingxing.
Jiang Liang menghela nafas lesu, "Jika saja ada, mungkin Xingxing tidak akan seperti ini sekarang. Kaisar Wexin sangat menyayangi Putrinya itu, meski terlahir cacat tapi mau bagaimana pun Xingxing adalah anak dari wanita yang sangat Kaisar Wexin cintai," jawab Jiang Liang.
Berarti, meski pun Xingxing terlahir cacat Kaisar Wexin masih sangat menyayanginya sebab Xingxing adalah anak dari wanita yang paling dia cintai. Dalam artian Permaisuri sekarang hanyalah wanita dengan status tanpa cinta dari Kaisar Wexin. Inilah yang dinamakan menikah untuk takhta.
Shua Xie cukup prihatin, tampaknya Kaisar Wexin juga tidak bisa membantu banyak di mana dia memiliki banyak istri dan anak. Selain menjadikan wanita tercintanya itu sebagai Selir tentu dia tidak mungkin merelakan cintanya begitu saja. Berarti Kaisar Wexin bisa menjadi sekarang bukan karena kehendaknya.
'Apakah benar tidak ada cara membantu Xingxing dari kecacatannya itu?' Shua Xie bertanya dalam hatinya sendiri.
'Tentu saja ada.' Tiba-tiba muncul suara lain menjawab pertanyaan itu dalam benak Shua Xie.
'Phoe? Kau kah itu?!' tanya Shua Xie keras terlalu terkejut mendengar suara dalam benaknya, seharusnya itu benar Phoe bukan.
Seekor burung berbulu merah tersenyum sinis, 'Tampaknya aku terlalu lama tertidur sampai aku tidak sadar kau nyasar ke benua barat,' balas suara itu sinis.
Tanpa sadar Shua Xie mengukir senyum lega, sangat senang akhirnya Phoe sudah terbangun dari masa kultivasinya. Shua Xie pikir akan butuh waktu lama dia bisa berbicara lagi dengan Phoe.
__ADS_1
'Phoe, kau membuatku khawatir. Tidur tanpa mengatakan apapun, apa kau ingin aku mati khawatir karenamu?' sahut Shua Xie dengan nada sedikit membentak.
Terdengar suara tawa kecil lepas, suara itu seperti sedang mentertawakan sikap Shua Xie sekarang, 'Aku hanya tertidur sebentar saja. Tidak aku sangka kau akan serindu ini denganku. Tau-tau begitu aku akan tidur lebih lama lagi.'
'Phoe!' sahut Shua Xie kesal. Bagaimana mungkin burung Pheonix memiliki pikiran seperti itu.
'Ya, maaf aku hanya bercanda. Tidak aku sangka kau akan merindukanku juga, kupikir kau tidak akan peduli,' balas Phoe.
Shua Xie mengernyit, Phoe tampaknya berpikir salah tentang dirinya. Bagaimana bisa Shua Xie tidak peduli pada Phoe setelah apa yang dilakukan Phoe selama ini padanya, Shua Xie sudah menganggap Phoe seperti Kakaknya sendiri.
'Dasar bodoh, bagaimana bisa aku tidak peduli pada seseorang yang sudah kuanggap seperti Kakakku?' balas Shua Xie kesal namun nada bicara terdengar sedih.
Phoe sedikit tertegun mendengar ucapan Shua Xie namun beberapa saat kemudian dia tersenyum, 'Kesampingkan soal itu, bisakah kau jelaskan padaku kenapa bisa kau nyasar ke benua barat? Bukankah terakhir kali kau berada di benua timur di kota Kekai? Cepat sekali kau berjalan padahal aku hanya tidur beberapa waktu saja.'
Shua Xie tersenyum haru, ingin rasanya dia menangis haru karena Phoe telah kembali, tapi tidak mungkin bukan Shua Xie menangis di hadapan Jiang Liang sekarang. Tetua itu bisa keheranan nantinya melihat Shua Xie menangis tiba-tiba.
'Masalah itu nanti akan kuceritakan. Sepertinya kau sudah sadar sejak tadi tapi tidak memberitahukanku!' ungkap Shua Xie masih kesal.
Phoe tersenyum kaku, 'Itu, tidak lama juga. Hanya saja ketika aku sadar aku mendengar kau sedang membahas tentang gadis bernama Xingxing, gadis yang katanya terlahir cacat,' balas Phoe.
'Benarkah?' Shua Xie masih meragukan Phoe, 'Tapi tampaknya kau ada cara membantu Xingxing?' tanya Shua Xie. Shua Xie tahu Pheo memiliki pengetahuan di luar kepalanya seharusnya burung itu memiliki cara membantu Xingxing.
'Kau meragukan pengetahuanku. Aku cukup mengetahui banyak pengetahuan dibandingkan dengan saudaraku.' Phoe mendegus pelan sembari matanya itu tertutup, 'Asalkan aku bisa melihat gadis bernama Xingxing mungkin aku bisa membantunya menemukan cara. Di dunia ini tidak ada yang tidak bisa aku pecahkan, terlebih lagi hanya masalah manusia awam seperti kalian.'
Alis Shua Xie berkedut cepat, 'Phoe tampaknya kesombonganmu itu tidak hilang juga setelah kau tidur begitu lama.' Shua Xie ingin sekali memukul wajah Phoe, burung Pheonix itu baru saja menghina Shua Xie sebagai mahkluk awan yang tidak berwawasan, kan?
'Kesampingkan dulu soal itu, sepertinya kau akan bertemu sosok besar?' Phoe mengalihkan topik, bersamaan dengan itu Shua Xie sadar dia telah sampai di tempat tujuannya.
"Sudah sampai?" ungkap Shua Xie tanpa sadar, sedikit terkejut dia akan tiba secepat ini, Shua Xie terlalu sibuk berbicara dengan Phoe sampai lupa kalau dia sedang berjalan menuju kediaman Tetua Besar.
Jiang Liang segera menoleh ke arah Shua Xie, "Benar, kita telah sampai," jawab Jiang Liang ramah.
Shua Xie tertegun melihat pemandangan kediaman Tetua Besar sungguh terlalu nyaman dan rindang. Terlebih lagi banyaknya pohon persik menyejukkan mata memandang. Di luar pikiran Shua Xie ternyata Tetua Besar begitu mencintai alam.
Jiang Liang membawa Shua Xie berjalan menuju pondok kecil yang terbuat dari bambu. Di pondok itu Shua Xie bisa melihat seorang pria sesepuh sedang duduk berkultivasi, aura yang dikeluarkan pria sesepuh itu sangat pekat sehingga membuat pandangan Shua Xie terbuka lebar.
'Jadi inikah Tetua Besar? Auranya sungguh berbeda dari aura yang pernah aku temui, tampak seperti aura Kultivator sebenarnya,' puji Shua Xie dalam hatinya.
'Meskipun pria tua itu sudah menekan basis kultivasinya hingga di tahap Jindan tapi dia tidak bisa menutupinya di hadapanku, sekarang dia berada di puncak kultivasi manusia biasa, Tingkat Abadi Perunggu level dua. Seharusnya manusia sepertinya tidak berada di tanah Kultivator melainkan dunia Surgawi. Sangat disayangkan pria hebat sepertinya terlahir di dunia fana.' Phoe menyahuti Shua Xie.
Shua Xie terbelalak kaget, dia tidak salah dengar bukan? Phoe baru saja memuji basis kultivasi asli Tetua Besar di hadapan Shua Xie saat ini.
'Apa? Bagaimana bisa ada Kultivator hebat sepertinya di sini?' kejut Shua Xie. Wajar saja Shua Xie terkejut karena untuk kali pertamanya dia bertemu seseorang yang memiliki basis kultivasi di atas dirinya di tanah Kultivator yang terbilang tanah manusia biasa.
Phoe tertawa kecil, mentertawai kenaifan Shua Xie. Phoe tahu Shua Xie sekarang sudah sangatlah hebat, tapi bagaimana bisa Shua Xie berpikir bahwa dirinya adalah yang terkuat di tanah Kultivator.
'Jangan naif, dunia itu luas wajar saja kau bertemu seseorang yang kuat di atas dirimu. Meskipun Lou Zho sekarang kalah kultivasi denganmu bukan berarti kau sudah yang paling kuat saat ini. Lou Zhou hanyalah manusia naif yang berpikir dialah yang terkuat sehingga tidak tahu jelas di dunia Bawah begitu banyak Kultivator berbakat yang jauh lebih hebat darinya. Dunia Bawah tidaklah sesederhana yang kalian pikirkan,' balas Phoe dengan nada meledek.
Shua Xie terdiam, tidak bisa membantah kalau dia memang sempat berpikiran naif, berpikir kalau dialah yang paling kuat saat ini, ternyata hari ini Shua Xie disadarkan bahwa kenaifannya itu terlalu berlebihan. Tetua Besar adalah bukti Shua Xie telah salah menilai selama ini.
'Benar, tampaknya dunia Bawah tidak sesederhana yang kupikir. Untuk kesekian kalinya dunia Bawah terus mengejutkanku.'
__ADS_1
_____________
A/N : Tetua Besar mencurigakan!!! Ye kan 😨