
Jeng jeng jeng! Kembali update! Jangan lupa like and komen, ges!
...***...
“Aku tidak akan berbasa-basi lagi. Kutahu Kakak adalah orang yang sibuk, apalagi setelah kehilangan wanita tercintanya.” Oz tersenyum tipis. Mungkin lebih tepatnya meledek. Meski pun begitu, Lou You tidak merasa terpancing oleh ucapannya.
Berbeda pula dengan Wei Jingyue dan Lang Yun. Kedua pria tampak sedikit terkejut, seolah tak menyangka pangeran Oz akan melontarkan ledekan seperti kalimat terakhirnya.
‘Gawat. Jika terus seperti ini, Yang Mulia akan mengamuk besar.’ Wei Jingyue menatap Lou You khawatir. Takut jika majikannya itu akan lepas kendali karena singgungan pangeran Oz. Namun, melihat senyuman sinis di wajah Lou You, seketika saja perasaan cemas itu hilang dan berganti dengan raut wajah sedikit bingung. ‘Tidak. Ekspresi itu? Apa tidak salah?’ lanjut Wei Jingyue dalam hati. Tak percaya.
Lang Yun juga melihat senyuman sinis di wajah Lou You sesaat ia ingin melihat tanggapan seperti apa yang akan Lou You keluarkan. Tetapi, setelah melihatnya, kobaran kemarahan pada diri Lang Yun semakin memuncak. ‘Sialan! Akan kubunuh pria sialan itu!’ maki Lang Yun sembari mengepalkan kedua tangannya sekuat mungkin.
Lang Yun tidak terima, bagaimana mungkin Lou You bisa mengeluarkan ekspresi seperti itu setelah apa yang Lou You perbuat pada adiknya. Lang Yun merasa, semua pengorbanan adiknya menjadi sia-sia.
“Tidak perlu khawatir. Aku tidak sesibuk seperti yang kau pikirkan, Adikku.” Lou You melebarkan senyuman. Oz sedikit mengerutkan dahinya sebelum akhirnya kembali tersenyum. “Orang yang mati, tidak pantas lagi untuk diungkit. Bukankah itu tidak sopan, benar begitu kan, ksatria Lang Yun?” Lou You beralih menatap Lang Yun yang juga tengah menatap penuh amarah kepadanya. Lou You bahkan bisa merasakan seberapa marah Lang Yun saat ini.
Tentu saja karena Lou You baru saja mengatakan sesuatu yang tidak sepantasnya ia katakan.
“Yang Mulia, saya mohon agar Anda tidak membuat keadaan semakin kacau,” tegur Wei Jingyue pelan. Ekspresi yang cukup kesulitan itu, tidak perlu dijelaskan lagi sebab bisa terjadi.
“Kenapa? Apakah perkataanku salah? Padahal aku hanya ingin menghormati jiwa yang telah mati,” balas Lou You santai. Semakin tidak merasa bersalah.
“LOU YOU!” teriak Lang Yun. Tidak tahan lagi mendengar ucapan demi ucapan yang menyinggung tentang adiknya. Apalagi diucapkan dari orang seperti Lou You. “Kau tidak pantas berkata seperti itu! Pria bajingan sepertimu, bahkan mati, reinkarnasi, dan disiksa ribuan kali pun tidak akan cukup untuk membalas semua kejahatanmu!” Meski pun Lang Yun cukup marah, ia masih bisa menahan kaki dan tangannya agar tidak bergerak menyerang Lou You.
“Jika bukan karena aku menghormati pangeran Oz, sudah sejak tadi menebas kepalamu!” ucap Lang Yun, lagi
“Oh, begitukah? Kenapa harus sungkan? Serang saja aku ... itu pun jika kau bisa membunuhku.” Lou You tersenyum sinis sembari menyentuh dagunya.
“Dasar tidak tahu malu!” Lang Yun mengangkat pedangnya. Siap menyerang Lou You. Ia tidak tahan lagi melihat Lou You terus tersenyum sinis seperti itu. Benar-benar membuat Lang Yun muak.
Namun ....
“Tahan, ksatria Lang Yun.” Pangeran Oz membentang tangan kanannya di depan Lang Yun. Menahan pria itu untuk tidak menyerang Lou You. “Tenanglah, dia sengaja membuatmu marah. Itulah tujuannya sejak awal, karena dia tahu kelemahanmu adalah pada adikmu.”
“Tapi Yang Mulia!”
__ADS_1
“Lang Yun, dengarkan aku,” sela Oz tenang. Wajahnya mulai terpaut datar. “Aku tahu kau sangat marah dan kecewa, tapi ingat apa tujuan kita datang ke tempat ini? Kau tidak ingin membuat Sky Emperor kecewa, bukan?” lanjutnya tegas, lantas membuat Lang Yun tersentak. Sadar.
Lang Yun menggenggam erat pedangnya. Sedikit menundukkan pandangan yang sebenarnya tengah menyembunyikan ekspresi sangat-sangat kesal. “Ya, saya ingat, Yang Mulia,” ucap Lang Yun pelan.
“Bagus jika kau ingat. Sekarang pergilah cari gadis itu, masalah Lou You, biar aku saja yang menyelesaikannya.” Oz menurunkan tangannya perlahan, tanpa mengalihkan pandangannya dari Lou You.
Lou You mendengus mendengar ucapan Oz. “Mau pergi? Setelah aku menyambut kalian secara langsung?” Lou You terkekeh kecil. Lalu detik berikutnya memasang tampang dingin. “Kalian pikir kalian berhadapan dengan siapa? Tidak ada yang bisa datang dan pergi seenaknya di sini.”
“Ksatria Lang Yun!” teriak Oz.
“Siap, Yang Mulia!” Lang Yun langsung melompat mundur. Berlari secepat mungkin menjauhi Lou You dan Oz.
Lou You semakin berekspresi dingin melihat Oz mengabaikan ancamannya. “Kau pikir gelar pangeran iblis si pengkhianat yang disematkan padaku itu hanya sebuah pajangan saja?” Lou You menarik senyum tipis. “Benar-benar orang yang tidak diri.”
“Aku tahu itu bukan sekedar pajangan. Kriminal yang menerima hukuman tingkat sepertimu, sudah pasti bukan kriminal biasa.” Oz mencoba tersenyum. Namun, di dalamnya ia sangat waspada. Tentu saja dia tahu, lawan di depannya saat ini bukanlah lawan biasa. Melainkan sosok pengkhianat yang pernah melawan Sky Emperor hingga Sky Emperor kehilangan sebelah matanya. Bagi Oz saat ini, Lou You tidak jauh berbeda mengerikan dari Sky Emperor.
“Tapi ... apa kau pikir kami datang ke sini tanpa persiapan? Tentu saja tidak.” Oz mengangkat tangan kanannya. Menjentikkan jarinya sekali. Tiba-tiba saja langit mendadak gelap. Oz tersenyum puas. “Kedatangan kami bukan hanya untuk membawa kembali putri Nushen, tetapi juga membawa Kakak kembali. Tentu saja atas perintah Sky Emperor.”
“Yang Mulia.” Wei Jingyue terkejut hebat. Menatap Lou You penuh kekhawatiran. Bukannya Wei Jingyue khawatir pada langit yang menggelap karena di atas sana terdapat ribuan pasukan berkelas, tapi ia khawatir dunia Tengah akan hancur karena pertempuran hebat. Tentu saja dunia dan seisinya ini, mungkin saja tidak akan lagi selamat.
“Tapi ... putri Nushen pasti tidak akan senang.”
“Aku tahu itu. Cukup ingatkan saja jika aku mulai kehilangan kesadaranku nanti.”
“Baik, Yang Mulia. Semoga Anda tidak akan marah jika saya nanti akan menyadarkan Anda dengan cara yang tidak wajar.”
“Pfftt ... aku tahu itu. Memangnya selama ini kau selalu menyadarkan aku dengan cara yang wajar?” Lou You terkekeh pelan. Wei Jingyue jadi tersipu malu.
“Hehehe ... itu karena Yang Mulia sangat keras kepala. Saya hanya menjalankan amanah yang ditinggalkan putri Nushen pada saya.”
“Yayaya, aku tahu itu.” Lou You mulai melangkah ke depan. Mendekati adiknya, Oz. “Nah ... sekarang lawanlah Kakakmu ini, wahai Adikku yang bodoh.”
***
“Apa yang baru saja kau berikan padanya? Dan apakah kau baru saja melakukan trik sihir?” tanya Kun sembari mendekat Menma. Menma menatap Kun dengan wajah sedikit bingung.
__ADS_1
“Pikirlah apa yang baru saja kuberikan pada anak malang ini.” Menma tersenyum tipis. “Dan juga, jika aku memakai sihir, apakah bertentangan dengan peraturan kerajaan Dilie?”
“Kau!” Laila yang emosi mendengar jawaban Menma. “Sangat tidak sopan! Tuan dan majikan sama saja, sama-sama kasar,” ucapnya tanpa sadar. Sejak awal Laila memang tidak suka dengan Menma, apalagi gerak-gerik Menma mengingatkannya pada Shua Xie. Karena itulah Laila mengatakan Menma sama kasarnya dengan Shua Xie.
“Hoo?” Menma beralih menatap Laila. Tersenyum sinis pada perempuan itu. “Ternyata mulut Anda memang sesuai dengan ucapan tuanku. Pantas dibuat bisu selamanya.”
Laila dan Kun beserta rombongannya terkejut. Apa yang Menma ucapkan tadi sangatlah kasar, terlebih diucapkan kepada seorang putri.
Tu Mo maju selangkah. Ia tidak terima jika ada orang asing yang berani menghina putri kerajaan Dilie, meski hanya putri angkat. “Nona, sebaiknya Anda menjaga ucapanmu. Aku dan senior Kun, mungkin masih bisa mentoleransi, tapi aku tidak bisa menjamin yang lain akan tinggal diam saja,” ucap Tu Mo, sekedar mengingatkan.
“Aku juga akan mentoleransi jika putri kalian bisa menjaga sedikit mulutnya. Ingat, aku ada di sini bukan karena ingin menyelamatkan kalian, tapi hanya untuk menepati janji tuanku. Jika sekali saja kalian berani mengatakan hal buruk tentangnya, semua kesepakatan akan batal. Termasuk membantu kerajaan Dilie selamat dari penyerangan,” balas Menma dingin.
“Kau!”
“Aku tidak akan berbaik hati pada manusia yang tidak tahu diri. Di sini, sudah tidak ada perbedaan kasta. Kalian semua hanyalah manusia yang mencoba menyelamatkan diri dari bencana. Apakah aku salah? Atau kalian masih tidak sadar, mati dan hidup di dunia ini tidak pernah memandang kasta. Seperti sekarang misalnya. Aku bisa saja bersekutu dengan musuh dari pada memilih menyelamatkan kalian. Lagi pula aku tidak memiliki kewajiban untuk menyelamatkan kalian. Bagiku, kalian hanya manusia yang pada akhirnya akan mati juga,” lanjut Menma lagi. Setelah berucap panjang lebar, Menma berbalik dan mendekati Azura.
“Wah, apa itu tadi? Ocehan panjang lebar dari seorang Menma?” Azura tersenyum meledek. Baru kali ini ia melihat Menma berkata panjang dari biasanya.
Menma mendengus pelan. “Diamlah. Saat ini aku sedang kesal. Jangan sampai aku menjadikanmu sebagai pelampiasan,” ketus Menma sembari melewati Azura.
“Hoo? Menjadi pelampiasan hasratmu tak masalah. Justru itu yang aku harapkan darimu, Nonaku.”
“Azura!”
“Yayaya, baiklah.” Azura mengangkat tangan, menyerah. “Kenapa kau tidak bisa dibawa bercanda sedikit. Di suasana seperti ini, tidak baik marah-marah terus.”
“Aku tidak marah,” dengus Menma semakin kesal.
“Yayaya, aku mengerti. Dasar wanita, semua jawaban kalian selalu seperti itu. Sungguh membingungkan.”
“Tidak ada yang memintamu untuk mengerti diriku, Azura,” sindir Menma.
**Bersambung
A/N : Setelah sekian bulan gak update, akhirnya update kembali. Aku harap masih ada yang setia menunggu Menma kembali 🤧 gak bisa janji up lagi, tapi akan diusahakan jika sempat.
__ADS_1
Sampai berjumpa lagi! ✋**