Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 174


__ADS_3

"Jiazhen, kenapa kau mengatakan hal seperti itu? Dan kau bahkan berlari meninggalkan kami." Yihua dan Minghao berhasil mengejar Jiazhen setelah adiknya itu pergi begitu saja seusai mengucapkan bahwa Shua Xie bukanlah Ibunya. Melihat Jiazhen berlari, Yihua dan Minghao pun bergegas mengejarnya setelah pamit pada Shua Xie.


Pandangan Jiazhen masih tertuju ke bawah bersamaan dengan langkah kakinya yang terus berjalan ke depan, dia sudah tidak berlari seperti sebelumnya.


"Kalian tahu aku bisa merasakan aura dan Mana seseorang. Pertama kali aku mengganggap Shua Xie sebagai Ibu, aku sudah mengenali aura dan Mana-nya sehingga jika kita kehilangan Ibu di keramaian aku bisa menemukannya dengan cepat tanpa takut salah orang." Minghao dan Yihua tertegun karena perkataan Jiazhen.


"Jadi maksudmu wanita tadi bukan Ibu kita?" timpal Yihua sembari ia menatap Jiazhen serius.


"Aku tidak yakin apakah ini hanya perasaanku saja atau bukan. Tapi yang jelas aura dan Mana-nya terasa berbeda, selain itu Ibu juga menjadi semakin lemah," balas Jiazhen, tidak sepenuhnya yakin dengan dugaannya. Namun tidak bisa dia pungkiri kalau hatinya berkata wanita itu bukanlah Ibunya, meski wajahnya memanglah wajah Ibunya. Jiazhen sendiri merasa bimbang, apakah dugaan dia salah atau benar.


Melihat Jiazhen murung, Minghao menepuk pundaknya. "Jangan salah dirimu sendiri. Mungkin memang hanya perasaanmu saja. Mau bagaimana pun dia tetaplah Ibu kita. Kita tidak boleh bersikap seperti ini."


Jiazhen mengangkat wajahnya menatap Minghao. "Kau benar. Sepertinya sikapku tadi telah menyakiti Ibu. Haruskah aku meminta maaf padanya sekarang?"


Yihua ikut menepuk bahu Jiazhen. Kemudian dia menggeleng. "Jangan sekarang. Ibu pasti sibuk, bagaimana jika kita mencari hadiah permintaan maaf untuk Ibu mumpung kita sudah di luar? Aku yakin Ibu akan senang," ucapnya sambil menatap sekitar.


Benar juga, Jiazhen terlalu fokus berlari hingga tidak sadar dia sudah berada di luar kerajaan. Sekarang dia dan ke dua Kakaknya bahkan berada di dekat alun kota. Tinggal berjalan beberapa menit lagi mereka akan sampai di kota.


"Aku setuju. Baiklah mari kita cari hadiah permintaan maaf untuk Ibu," balas Jiazhen bersemangat.


"Baguslah! Mari pergi."


Ke tiga bocah itu pun kembali berlari menuju alun kota sambil tertawa riang selayaknya bocah yang sedang bermain. Harus mereka akui, hanya di sinilah mereka bisa bersikap selayaknya umur mereka, sedangkan di dunia Atas sang Kakek terus memaksa mereka untuk menjadi anak cerdas dan hebat. Jangan terlalu banyak bermain, begitu kata Kakek mereka.


Sedangkan Lou Yue, Ayah mereka? Hem, Ayah mereka tidak terlalu mengekang apa yang ingin mereka lakukan selama mereka bertiga senang. Hal itu juga yang menjadi poin plus Lou Yue kenapa dia sangat disayangi oleh tiga anak angkatnya ini.


Tidak butuh waktu lama, mereka tiba di alun kota. Suasana ramai langsung menyambut mereka. Suara bising entah dari para penjalan kaki lainnya, penjual di pinggir jalan, serta anak-anak yang berlarian ke sana kemari.


Awalnya mereka bingung hendak membelikan hadiah permintaan maaf seperti apa karena mereka tidak tahu jelas apa yang disukai Ibu mereka. Tapi Yihua mengatakan wanita itu sangat menyukai baju, perhiasan, bunga dan makanan manis. Akhirnya pun mereka berinisiatif membeli aksesoris wanita di toko perhiasan.


Tring!


"Jangan lupa mampir lagi!" Seorang gadis 17 tahunan meneriaki pelanggannya yang baru saja keluar dari tokonya.


"Tentu saja."


Jiazhen mendekati rak perhiasan berupa gelang, sementara Minghao di rak kalung, dan Yihua di rak cincin. Mereka sepakat memberikan hadiah masing-masing yang menurut mereka terbaik.


"Adik kecil apa yang bisa saya bantu?" Salah satu pekerja toko mendekati Jiazhen. Melihat Jiazhen tampak kebingungan memilih gelang, dia pun berinisiatif membantunya.


Jiazhen menengadah, menatap seorang gadis muda di sampingnya. Sedangkan gadis muda itu terbelalak kaget melihatnya, bukannya apa, di matanya Jiazhen sangatlah imut. Mata biru serta rambut putihnya tampak serasi dengan wajah tampan Jiazhen.


"Um, aku ingin membeli gelang. Tapi aku bingung gelang apa yang cocok untuk Ibuku," ucap Jiazhen pelan.


"Uwaa, kamu imut sekali. Ternyata kamu ingin membeli gelang untuk Ibumu. Tidak masalah, aku bisa membantumu," balas gadis itu bersemangat.


"Benarkah? Terima kasih." Jiazhen merasa sangat terbantu. Untungnya ada orang yang mau baik hati membantunya, Jika tidak, dia tidak tahu harus memilih gelang seperti apa. Jiazhen mana tahu gelang seperti apa yang disukai para wanita, baginya mempelajari hal seperti itu sangatlah membuang waktu. Tapi sekarang, Jiazhen sepertinya perlu mempelajarinya, sehingga ke depannya dia tidak akan sulit mencari hadiah untuk Ibunya.


"Sama-sama. Ikutlah bersamaku." Gadis itu berjalan diikuti Jiazhen di belakangnya. Mereka mendekati sebuah etalase, di mana di dalam etalase itu terdapat berbagai jenis gelang yang sepertinya gelang keluaran terbaru.

__ADS_1


"Coba jelaskan Ibumu wanita seperti apa, mungkin aku bisa memilihkan gelang terbaik untuknya," pinta gadis itu. Jiazhen mengangguk paham.


"Ibuku wanita yang sangat cantik. Kulitnya putih dan dia memilih mata yang unik. Namun Ibu sedikit pemarah, tapi aku tetap menyayanginya," jelas Jiazhen polos. Sementara gadis yang mendengarkannya tampak tertegun. Mungkin tidak menyangka, Jiazhen akan berkata sepolos itu.


"Menggemaskan sekali. Sepertinya aku tahu gelang seperti apa yang cocok untuk Ibumu." Gadis itu tersenyum singkat, kemudian mengambil satu kotak berkain merah. Gadis itu membukanya lalu nampaknya sebuah gelang berwarna perak. Bentuknya memang sederhana, hanya ada buah gelang berbentuk kristal di sana. Selain itu buah gelangnya berwarna biru langit. Dan terdapat beberapa ukiran cantik di sisi gelang. Gelang yang sederhana tapi terlihat elegan.


Melihat gelang itu, Jiazhen langsung tertarik ingin membelinya. "Aku mau gelang itu. Bungkus dalam tempat terbaik," ucapnya bersemangat.


"Ah, baiklah."


"Jiazhen, apa kau sudah mendapat hadiah yang bagus?" Minghao datang bersamaan dengan Yihua. Tampaknya dua anak itu juga sudah mendapatkan benda yang mereka cari.


Jiazhen mengangguk pelan sambil tersenyum riang. "Tentu saja. Aku yakin Ibu akan menyukainya."


"Baguslah." Minghao tersenyum melihat Jiazhen sesenang itu. Kemudian dia memberikan benda yang telah dia pilih kepada pekerja di sana. "Tolong bungkus kalung ini untukku. Dan berikan bungkusan terbaik," ucap Minghao.


"Aku juga," sahut Yihua sambil memberikan sekotak cincin yang telah dia pilih.


"Aku yakin Ibu akan senang mendapat hadiah dari kita," ucap Minghao bahagia.


"Ya, aku juga berpikir demikian." Yihua mengangguk pelan menyetujui ucapan Minghao. Dia juga seorang wanita, tentu tahu wanita sangat suka diberi benda seperti ini.


"Ini dia, semua seharga lima keping emas," ucap salah satu pekerja sambil menyerong bungkusan kepada tiga anak itu.


"Ah, lima keping emas?" Minghao mengibaskan tangannya di depan pekerja itu, lalu muncul sekantung uang yang diduga isinya ialah kepingan emas. Minghao memiliki cincin penyimpanan, meski hanya bisa menyimpan beberapa benda saja. Tidak sebesar ruang cincin milik Menma.


Pekerja itu sempat terkejut melihat sekantung uang mendadak muncul, tapi dia berpikir mungkin saja Minghao menggunakan intrik sulap. Dia pun memeriksa isi kantung itu dan terkejut lagi ketika melihat isinya.


"Tidak masalah, kamu melayani kami dengan sangat baik. Anggap saja itu bonus untuk kebaikan kalian," timpal Jiazhen sembari melirik gadis yang tadi melayaninya. Tampak gadis itu mengulum senyum malu karena perkataannya.


"Benar juga. Kalau begitu kami pergi." Minghao mengibaskan tangannya di atas tiga bungkus itu, dan seketika saja benda itu menghilang begitu saja. Para pekerja di sana berdecak kagum melihat keahlian sulap Minghao yang tidak mereka tahu kalau benda itu masuk ke dalam cincin penyimpan milik Minghao.


Setelah itu mereka bertiga berjalan meninggalkan toko tersebut.


Tring!


"Jangan lupa mampir lagi lain kali!" seru salah satu pekerja yang berada di dekat pintu keluar. Dia telah melihat tiga anak ini bukan anak biasa, memiliki uang sebanyak itu sudah dapat dipastikan mereka dari keluarga bangsawan. Jadi mereka harus melayani mereka sebaik mungkin.


Mereka bertiga hanya mengangguk ramah membalas perkataan pekerja itu.


"Sekarang bagaimana? Apa kita langsung pulang saja?" tanya Minghao selepas keluar dari toko perhiasan.


Yihua terdiam tampak sedang berpikir. Sedangkan Jiazhen terlihat acuh tak acuh, dia tidak peduli ke mana tujuan mereka lagi, yang terpenting dia sudah menemukan hadiah permintaan maaf yang bagus untuk Ibunya.


"Haruskah kita berjalan sebentar? Aku belum ingin pulang. Di kerajaan Kakek selalu mengajak kita menemaninya di ruang kerjanya. Sangat membosankan, lagi pula kapan lagi kita bisa keluar seperti ini?" ujar Yihua. Minghao sependapat dengannya, selama seminggu ini hampir setiap hari Kaisar Feng Kim mengajak mereka ke ruang kerja dengan alasan minta ditemani cucunya. Mau tidak mau mereka menuruti kemauan Kakek mereka itu. Bagi Minghao dan Yihua bersama Kaisar Feng Kim sangatlah membosankan, tapi bagi Jiazhen yang suka dengan hal-hal politik, justru dia merasa bersama Kaisar Feng Kim sangatlah menyenangkan.


"Aku sependapat dengan, Yihua. Bagaimana denganmu, Jiazhen?"


"Aku-"

__ADS_1


Nguung!!!


Tiba-tiba terdengar suara terompet menggelegar di langit. Sontak menarik perhatian banyak orang yang kebetulan sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Jiazhen yang belum sempat berbicara habis pun menengadah ke langit. Seketika saja matanya membulat sempurna.


"Apa itu?"


"Burungkah?"


"Banyak sekali, mereka menutupi matahari."


"Burung apa itu?"


"Apa yang terjadi di sana? Kenapa burung itu menutupi langit."


"Apakah mereka burung yang hendak migrasi?"


"Tidak! Perhatikan dengan baik, itu bukan burung, melainkan manusia!"


"Hah?! Benarkah?"


"Benar! Itu manusia! Mereka terbang!"


"Ada apa ini? Apa mereka akan menyerang kita?!"


"Cepat mengungsi! Cepat!"


"SEGERA MENGUNGSI!"


Para penduduk kota berhamburan panik melihat sekumpulan manusia di langit menutupi matahari. Awalnya meraka pikir itu adalah sekumpulan burung yang hendak migrasi, tapi ternyata sekumpulan itu ialah manusia berzirah hitam, lengkap dengan senjata tajam. Alhasil mereka pun panik dan segera melarikan diri, mencari tempat teraman karena menduga para manusia terbang itu akan menyerang mereka.


Di tengah keramaian rakyat yang panik melarikan diri. Jiazhen, Minghao dan Yihua justru terdiam di tempat mereka berdiri. Mereka terpanah melihat ratusan ribu prajurit perang di langit sana. Namun yang lebih mencolok dari para prajurit perang ialah pria yang memimpin pasukan tersebut.


"Apa aku tidak salah lihat? Kalian melihatnya bukan?" tanya Jiazhen sembari menajamkan penglihatannya. Bagi manusia biasa, mereka tidak akan bisa melihat jelas muka-muka para prajurit perang itu. Tapi untuk Jiazhen seorang Kultivator, dia bisa melihat jelas dari jarak cukup jauh sekali pun.


"Benar, aku juga melihatnya. Tapi kenapa?" timpal Yihua panik.


"Ada yang salah. Kenapa Ayah membawa prajurit perang ke dunia Bawah secepat ini? Bukankah seharusnya masih beberapa hari lagi?" Minghao mengernyit heran. Mengetahui kalau para pasukan prajurit perang itu dipimpin oleh Ayah mereka sendiri.


Mereka bertiga memang sudah tahu kalau Kakeknya, Lou Zhou, akan menyerang dunia Tengah lalu menguasainya. Namun tidak mereka sangka penyerangan itu lebih cepat dari waktunya. Kalau sudah seperti ini, maka dunia Tengah benar-benar akan dikuasai. Tidak akan sempat membuat pelindung atau semacamnya.


"Sepertinya telah terjadi sesuatu di sana. Dugaan sementara, Kakek Lou Zhou merasa terancam sehingga dia mempercepat penyerangannya," ujar Jiazhen.


"Hah? Memangnya bisa begitu?" sahut Yihua kaget.


"Kenapa tidak bisa? Dunia Atas bukanlah dunia satu-satunya yang memiliki Kultivator. Kalian harus ingat masih ada dunia Bawah. Mungkin saja ada sesuatu di dunia Bawah yang mengancam kekuasaan dunia Atas," timpal Jiazhen menjelaskan. Sementara itu Minghao dan Yihua tampak terkejut mendengar analisa Jiazhen.


______________


**A/N : Gila! Menma-nya belom nongol 💣

__ADS_1


Ehem! Untuk Q&A akan di post siang nanti. makasih loh udah berpartisipasi 😆 btw pertanyaan kalian ada yang bikin aku ketawa bak kuntilanak (kata emak, ade dan sepupu akoh sih begitu) tenang aja semua yang bertanya akan dijawab oleh Author kuece bin cuakep ini 😎 bye bye, see you next time ❤**


__ADS_2