Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 63


__ADS_3

Khusus untuk hari ini author tetap up :)


Mohon dukungannya ya ;)


-----------------------


"Kalian pikir kalian bisa seenaknya pergi dan datang padaku?" ungkap Shu Chin dengan raut wajah sedikit kesal.


Shua Xie tersenyum sinis pada Shu Chin sebelum akhirnya dia menjulurkan lidahnya meledek Shu Chin. Setelah Shua Xie meledeknya dia langsung pergi meninggalkan Feng Xian dan Rong Suan. Shu Chin berteriak memanggil Shua Xie, dia berniat mengejarnya namun terhalang oleh 2 pria di depannya.


Feng Xian tersenyum kecil sebelum akhirnya dia mengeluarkan senjatanya, tongkat kayu berwarna hitam, "Anak Muda, lawan kami jika kau ingin lewat."


Rong Sui juga sama mengeluarkan senjatanya samurai, "Kami memang tua, tapi soal pengalaman kau masih belum seberapa Anak Muda." Rong Sui menambahkan.


Shu Chin berdecak pelan sambil menatap 2 pria di depannya, mengingat urusannya hanya menangkap Shua Xie dia tidak boleh membuang-buang waktu mengurusi 2 pria paruh baya di hadapannya sekarang.


Lou Zho berpesan padanya, sebagai salah satu Jenderal kepercayaan dia mempercayakan pada Shu Chin untuk cepat membawa Shua Xie dan jangan banyak membuang waktu di dunia Bawah. Apapun yang menghalang bunuh saja, tidak perlu sungkan. Kata-kata itu tidak akan pernah Shu Chin lupakan apa lagi sampai mengabaikannya.


Shu Chin mengeluarkan senjata pusakanya lagi yang lain, yaitu jarum, hanya saja ukurannya lebih besar dari jarum pada umumnya. Panjang jarum itu mencapai setengah meter, dan terbuat dari emas murni.


"Padahal aku tidak peduli dengan nyawa kalian, tapi karena kalian menghalangiku, aku tidak akan sungkan lagi," balas Shu Chin datar.


Rong Sui dan Feng Xian berdiri dengan posisi siap setelah melihat senjata lain lagi yang dikeluarkan Shu Chin. Feng Xian mengerutkan keningnya, dia juga semakin berhati-hati sebab merasakan ada aura tajam dari jarum milik Shu Chin.


Shu Chin melayang ke udara sambil menatap Rong Sui dan Feng Xian. Setelah cukup tinggi, dia memasukan benang itu ke dalam lubang jarum sebagai mana biasanya ingin menjahit baju.


"Berhati-hatilah, aku merasakan firasat buruk setelah melihat senjatanya," ucap Feng Xian sambil menatap Rong Sui sejenak.


Rong Sui mengangguk paham, dia pun sama, saat melihat senjata milik Shu Chin tiba-tiba saja dia merasakan ada sesuatu bahaya besar akan terjadi padanya. Walau pun senjata Shu Chin terlihat seperti senjata biasa, tapi mereka berdua bisa merasakan aura buruk dari senjata itu.


Shu Chin mulai menggerakkan jarumnya ke arah Feng Xian dan Rong Sui dengan cepat, kecepatan senjatanya membuat Feng Xian dan Rong Sui terkejut hebat. Feng Xian segera melompat menghindari serangan, sebelum mengenainya dirinya. Saat dia menghindar suara dentuman keras terdengar dari tempat sebelumnya dia berpijak.


Feng Xian melihat ke arah di mana jarum itu mendarat. Dia dapat melihat ada lubang besar di tempat itu. Mendadak ekspresi Feng Xian langsung berubah drastis setelah melihat lubang itu.


"I-itu! Bahaya! Jangan sampai kita terkena jarumnya. Sekali saja kena, maka kita akan mati!" seru Feng Xian keras dapat didengar Rong Sui mau pun Shu Chin.


Rong Sui juga sama, ketika melihat lubang yang dihasilkan dari serangan jarum itu mampu membuat lubang besar mencangkup 7 diameter persegi, benar-benar membuatnya takjub sekaligus takut. Jika saja dia terkena sekali saja serangan jarum itu, sudah dipastikan dia akan mati.

__ADS_1


Shu Chin sendiri dia tidak memperdulikan ekspresi terkejut Rong Sui dan Feng Xian, "Sudah terlambat untuk menyesalinya. Aku sudah memperingati kalian, tapi kalian justru menghalangiku."


Feng Xian beralih menatap Shu Chin geram, dia pun juga tahu menyesalinya juga tidak ada gunanya, tapi membiarkan musuh semena-mena di kota kelahirannya, tentu saja dia tidak bisa menerima itu. Menurutnya lebih baik dia mati karena melindungi kotanya, dari pada berdiam diri dan menyaksikan kota kelahirannya hancur begitu saja.


***


Shua Xie terus berlari semenjak dia meninggalkan Feng Xian dan Rong Sui. Sebenarnya hatinya berat meninggalkan mereka sebab dia yakin, meninggalkan mereka berdua sama saja membiarkan mereka mati. Shua Xie mengenal Shu Chin dari siapa pun dia dunia Bawah, dia tahu Shu Chin memiliki kekuatan yang besar, bahkan Shua Xie sekarang juga bukan tandingannya. Apalagi Shu Chin juga memiliki tato aura, lebih-lebih lagi 3 elemen sekaligus.


Shua Xie dulu sering memuji-muji Shu Chin sangat jenius sebab di umur mudanya sudah mampu berada di tahap Jindan level 2 dan memiliki tato aura 3 elemen. Shua Xie tidak yakin apa karena Shu Chin dia keturunan klan Langit makanya dia sangat berbakat? Apa memang takdirnya yang baiknya.


Namun Shua Xie juga tidak bisa membantah permintaan Feng Xian dan Rong Sui, mengingat misinya ialah mengambil bulu Phoenix Agung.


'Phoe, tenagaku tidak tinggal banyak. Mungkin beberapa kali mengeluarkan serangan aku akan pingsan. Seluruh tubuhku mati rasa, walau pun sudah diobati tapi tetap saja efeknya masih terasa. Jika memang aku akan mati di sini, kuharap di kehidupan selanjutnya kita bisa bertemu lagi,' ujar Shua Xie.


Shua Xie paham kalau dirinya sekarang tidak akan bisa bertahan lama lagi, mungkin beberapa kali bertarung dia pasti sudah tidak bisa bertahan lagi.


'Apa yang kau katakan! Jika bulu Phoenix kakak tertua sudah berhasil aku ambil. Percayalah mereka semua bisa kita atasi dengan mudah.' Phoe menyahuti Shua Xie keras sebab dia kesal mendengar ucapan Shua Xie.


'Tidak biasanya kau menyerah begini! Biasanya kau selalu bersemangat apalagi jika memyangkut berkelahi!' Lanjut Phoe lagi.


'Kuberitahu kau satu hal! Manusia bertakdir besar sepertimu tidak akan mudah mati apalagi hanya karena hal kecil begini.'


Shua Xie sedikit tertegun mendengarnya kemudian dia tersenyum namun tidak membalas ucapan Phoe. Dia lebih memilih melanjutkan pengejarannya.


Tidak lama Shua Xie berlari akhirnya dia berhasil keluar kota. Saat ini Shua Xie berlari melewati hutan-hutan, sesuai arahan yang Phoe katakan, bahwa pria yang membawa lari kotak merah telah keluar dari kota Kekai. Berkat Phoe menyebarkan indera spirit-nya, Shua Xie bisa dengan mudah mengejar pria itu tanpa harus pusing lagi memikirkannya.


Setelah beberapa menit berlari di hutan, akhirnya Shua Xie bisa mengejar pria yang membawa kotak itu. Pria itu berlari bersama 50 rekannya membuat Shua Xie tersedak melihatnya, tentu saja dia tidak mudah bisa merebut kotak merah mengingat jumlah mereka lebih banyak darinya.


50 Kultivator itu berhenti berlari setelah merasakan ada seseorang mengejarnya. Mereka semua melihat seorang gadis berlari ke arah mereka dengan cepat.


"Ada pengejar, tapi hanya satu orang," ucap salah satu dari 50 Kultivator itu.


"Satu saja buat apa takut. Kita ini banyak sedangkan dia sendiri, sama saja dia cari mati mengikuti kita," balas yang lainnya.


"Baiklah biar aku yang menahannya! Kalian lanjutan saja menuju posko."


"Baiklah! Bunuh pengejar itu dengan cepat! Kami menunggu di sana."

__ADS_1


Satu Kultivator tinggal membiarkan rekannya pergi menuju posko sementara mereka. Pria bersenjata tombak itu menatap ke depan, semakin lama dia bisa melihat gadis yang mengejarnya itu semakin jelas.


Shua Xie mengeluarkan 1 pedangnya tanpa menghentikan larinya. Shua Xie berniat langsung menyerang agar pengejarannya bisa terselesaikan dengan cepat.


"Kau terlalu meremehkanku, kau pikir kau sendiri bisa menghentikanku?" Shua Xie tersenyum sinis melihat hanya 1 orang saja yang menghentikannya.


Shua Xie meluncur di rumput dengan cepat, lewat bawah dia langsung menyayat pedangnya pada pria itu. Pria itu tidak bisa menghindari serangan Shua Xie sebab pergerakan Shua Xie begitu cepat tidak bisa dia lihat dengan jelas.


Setelah berhasil menyerang pria itu, Shua Xie tidak menghentikan langkahnya dia justru tetap berlari mengejar pasukan di depannya. Sebab dia yakin pria yang baru saja dia serang tidak mungkin selamat, jika pun selamat tidak mungkin juga bisa mengejarnya dengan keadaan terluka.


Tidak butuh waktu lama, Shua Xie bisa mengejar rombongan di depannya. Ketika jarak hampir dekat, Shua Xie langsung meluncurkan serangannya.


"Teknik Pedang Tanah - Tanah Pengguncang!"


Seketika tanah yang dipijak rombongan di depan sana bergerak seperti gelombang membuat rombongan itu tidak bisa berdiri dengan seimbang akhirnya mereka terjatuh.


Shua Xie tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan langsung menarik pedangnya yang satunya lagi dan langsung bergerak menyerang satu persatu rombongan itu.


"Aarggg!!!"


Satu persatu dari mereka Shua Xie bunuh dengan 2 kali sayatan pedangnya. Shua Xie tidak berhenti dan tetap menyerang walau pun tenaganya semakin berkurang.


"Hentikan wanita gila itu!"


"Hentikan cepat!"


Mereka semua sadar teman mereka yang sebelumnya berniat menghentikan pengejar ternyata tidak sanggup, setelah melihat jelas pengejar itu, mereka sadar ternyata yang mengikuti mereka bukan Kultivator biasa.


Shua Xie menari-nari memainkan pedangnya, tidak akan dibiarkannya seorang pun menghalanginya. Tanpa mereka sadar juga, Shua Xie bergerak mendekati pria yang memegang kotak.


Shua Xie berniat menyerang pria yang membawa kotak, tapi terhentikan oleh tembok tanah yanh tiba-tiba muncul di depannya. Shua Xie menghentikan langkahnya, dan berdecak kesal. Kemudian dia melihat ke belakangnya.


"Sial! Mereka berkerjasama untuk menghentikanku!" Shua Xie bisa melihat semua musuhnya mengaktifkan jurus bersamaan, jurus elemen tanah. Shua Xie tidak menyangka ternyata jurus elemen tanah bisa digunakan berkelompok dengan tenaga besar walau mereka tidak memiliki tato aura sekali pun.


Shua Xie berniat menyerang mereka yang membuat jurus namun terhalang lagi oleh tembok tanah yang tiba-tiba saja muncul. Tidak lama muncul lagi tembok tanah lainnya dan mulai mengurung Shua Xie.


Shua Xie berdecak kesal setelah tanah itu berhasil mengurungnya, "Sudah kuduga tidak akan mudah mendapatkan bulu Phoenix."

__ADS_1


__ADS_2