
"Nona?" Chi Su menepuk pundak Shua Xie. Membuat Shua Xie sedikit terkejut. "Anda melamun karena perkataan, Jiazhen?" tanya Chi Su pelan. Ia rasa memang karena itu. Entah kenapa Jiazhen tiba-tiba berkata bahwa Shua Xie bukanlah Ibunya, bahkan Jiazhen lari menhindari Shua Xie. Tentu saja membuat mereka semua terkejut termasuk Chi Su, padahal selama seminggu ini Jiazhen pernah mengatakan rindu pada Shua Xie. Namun kenapa setelah kepulangan Shua Xie justru ia berkata aneh begitu.
Chi Su pikir Shua Xie akan mengejar Jiazhen, tapi ternyata Shua Xie membiarkan Jiazhen pergi bersama dua Kakaknya. Dan sekarang, Shua Xie melamun menatap jalan yang dilalui Jiazhen pergi darinya.
Shua Xie mengulum senyum pada Chi Su. "Tentu saja. Tapi aku membiarkannya pergi agar dia bisa berpikir dulu. Mungkin dia terlalu marah denganku sebab aku tidak memberitahukan kepergianku saat itu," balas Shua Xie sedikit sedih. Bahkan ia memegang dadanya tampak terlihat menyedihkan.
Chi Su terdiam, dia rasa apa yang dikatakan Shua Xie ada benarnya. Kemungkinan Jiazhen marah karena masalah itu. Namun yang tidak dia habis pikir, kenapa Jiazhen sampai melontarkan kata seperti itu. Setahu Chi Su, semarah apapun 3 anak itu pada Shua Xie juga tidak akan berani mengatakan perkataan seperti itu. Chi Su tahu 3 anak itu sangatlah menyayangi Shua Xie.
Shua Xie menghela nafas pelan kemudian menepuk pundak Chi Su. "Biarkan saja mereka. Bagaimana jika kau menemaniku ke kediaman Kaisar Feng Kim? Aku ada sedikit urusan dengannya." Chi Su mengangguk pelan.
"Bagus. Ayo kita pergi sekarang." Shua Xie berbalik, kembali berjalan pada jalannya yang sempat terhenti akibat 3 bocah tadi. Chi Su mengikutinya dari belakang.
***
Di dalam sebuah ruangan, tampak seorang pria yang hampir menua sedang sibuk berkutat pada banyaknya dokumen di meja. Kesibukan pria itu bahkan menyita perhatian adiknya yang sedang asik duduk memakan anggur di kursi kayu.
Feng Kim membenarkan kacamata miliknya sambil terus menulis sesuatu pada selebaran kertas. Melihat hal itu, Feng Xian berdecak pelan.
"Cih, ternyata kau masih saja sama, selalu mengerjakan sesuatu begitu serius. Aku bahkan tidak yakin kau akan memberiku kembali jabatan Kaisar."
Feng Kim menengadah sebentar pada Feng Xian, kemudian kembali sibuk lagi menulis. "Aku tidak akan memberikan jabatan ini lagi pada orang pemalas padamu. Kau bahkan selalu meminta Kasim Lu mengerjakan semua dokumen penting. Tidak tahu kenapa para pejabat bisa tertipu dengan lagak bijakmu," balasnya santai, namun begitu keras menampar wajah sang Adik sebagai mantan Kaisar meski hanya beberapa tahun saja.
Feng Xian memegang dadanya, memang tidak ada senjata menusuk di sana, tapi kenapa perkataan Feng Kim terasa lebih sakit dibandingkan tertusuk panas. "Bukankah perkataanmu sedikit berlebihan? Maksudku, kau seharusnya menjaga sedikit citraku di hadapan yang lain."
"Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya. Lagi pula siapa yang akan mendengar selain aku dan kau?" Feng Kim membalas santai. Masih sibuk bergelut dengan kertas dan penanya.
Feng Xian mengerucutkan bibirnya kesal. 'Tentu saja masih ada para pembaca. Mereka pasti akan mentertawaiku, bagaimana pun aku ini Paman, em maksudku bibi dari Shua Xie.'
"Jenderal Besar." Kasim Lu datang sedikit bergesa-gesa. Feng Xian mengernyit melihat kedatangan Kasim Lu yang tidak seperti biasanya, selalu tenang dan santai.
"Ada apa?" balas Feng Xian setengah berbisik, tidak ingin kegiatan pembicaraan mereka menggangu kesibukan Feng Kim. Kasim Lu mendekatkan mulutnya ke telinga Feng Xian, membisikkan sesuatu di sana hingga membuat mata Feng Xian membulat sempurna.
"Benarkah?" tanya Feng Xian bersemangat. Kasim Lu mengangguk pelan mengiyakan perkataannya.
"Suruh dia masuk." Perintah Feng Xian cepat. Kasim Lu pun pergi menjalankan perintah.
"Ada apa? Kenapa kau terlihat begitu bahagia?" sahut Feng Kim tanpa mengalihkan pandangannya dari pekerjaannya. Dia mungkin terlihat sibuk dengan pekerjaannya, tapi kesadarannya pada sekitar begitu kuat.
"Ogher, prajurit yang ikut bersama Shua Xie sudah pulang. Dia ingin menghadap pada kita," jawab Feng Xian bersemangat.
Tak!
Pena yang dipegang Feng Kim mendadak terjatuh mengotori kertas putih di bawah. Seakan mendapat kabar besar, Feng Kim membeku di tempatnya. Namun tidak lama kemudian, dia langsung menengadah pada Feng Xian.
"Suruh dia masuk!" ucapnya cepat
Feng Xian melebarkan senyumannya. "Itulah yang kukatakan pada Kasim Lu."
Bersamaan dengan itu muncullah seorang pria berbadan kekar mengenakan pakaian khusus prajurit kerajaan Xuilin. Dia Ogher. Ogher langsung memberi hormat pada dua sosok besar itu.
"Salam pada Yang Mulia Kaisar dan Jenderal Besar."
"Kamu, cepat katakan di mana Putri Shua Xie." Feng Kim lebih duluan bertanya sebelum Feng Xian. Ia bahkan tidak memedulikan penghormatan yang diberikan Ogher.
"Jawab, Yang Mulia. Putri ke Lima sedang menuju kemari. Putri meminta hamba menghadap mengatakan kedatangannya," jawab Ogher.
__ADS_1
Brak!
Itu bukan Feng Kim melainkan Feng Xian. Entah kenapa sosok Jenderal itu tiba-tiba menggebrak meja di depannya. Sontak Feng Kim dan Ogher menatap ke arahnya.
"Hahaha! Dasar bocah sialan, aku sudah menduga dia tetap angkuh seperti biasanya."
Pak!
Feng Kim melempar penanya ke kepala Feng Xian. "Kau yang sialan, beraninya kau mengatakan Putriku seperti itu!" balasnya yang tak terima Feng Xian menghina Putrinya. Sebenarnya Feng Xian tidak menghinanya melainkan kebalikannya. Tapi karena perkataannya cukup kasar di kalangan bangsawan, wajar saja jika Feng Kim marah.
"Uh, aku kan terlalu bersemangat. Kenapa anda melempar saya dengan pena sialan ini?" Feng Xian bersungut kesal sembari menatap Feng Kim. Namun tatapannya itu tak bertahan lama karena tatapan Feng Kim nyatanya lebih menakutkan dari tatapan hantu sekali pun.
Ogher hanya mengulum senyum kaku melihat kelakuan dua pejabat tinggi itu. Mereka mungkin memang bersaudara, tapi siapa bisa menebak keakraban mereka jauh lebih dekat dari apa yang dibayangkan banyak orang selama ini. Karena sejak Feng Xian turun jabatan, banyak yang mengatakan hubungan adik dan kakak itu mulai merenggang.
"Katakan padaku ke mana dia pergi selama ini?" Feng Kim melanjutkan sesi tanya jawab yang tertunda karena adiknya.
"Jawab, Yang Mulia. Putri membawa hamba ke tempat yang sangat jauh dan bahkan di sana terdapat banyak pendekar kuat. Kekuatan mereka bahkan tidak pernah di wilayah kita. Putri menyebutnya dunia Bawah," jawab Ogher tenang.
"Dunia Bawah?" Feng Kim terdiam bak patung di tempat dia terduduk. Pandangannya fokus ke depan tapi terlihat kosong. Sepertinya Feng Kim sedang bernostalgia tentang ingatan masa lalunya.
"Ada apa? Kenapa dengan dunia Bawah?" sahut Feng Xian penasaran. Melihat Feng Kim bersikap sekaku itu, pastinya ada sesuatu yang tidak dia ketahui.
"Di sana, jika tidak salah, ada seorang kenalan. Tapi aku tidak yakin soal itu." Feng Kim kembali termenung. 'Bagaimana Shua Xie bisa ke sana? Sebenarnya sekuat apa dirinya itu?'
Sejenak suasana menghening, menunggu apa lagi yang akan dikatakan Feng Kim. Dan tepat di saat itu, terdengar suara teriakan dari luar.
"Putri ke Lima datang!"
Sontak semua pandangan menuju pintu yang perlahan terbuka. Tampak sesosok gadis cantik masuk seorang diri. Feng Kim mendadak berdiri, begitu pun dengan Feng Xian. Sedangkan Ogher menyingkir ke sisi lain lalu menunduk.
"Salam pada Yang Mulia Kaisar." Shua Xie berniat memberi hormat, tapi sebelum itu terjadi, Feng Kim sudah berdiri di depannya. Mencegatnya memberi hormat.
"Akhirnya kau pulang." Feng Kim tanpa ragu memeluk Shua Xie. Melepaskan rasa khawatir dan rindunya selama ini. Di sisi lain Shua Xie membeku dalam pelukan Feng Kim.
"Shua Xie, ada apa? Kenapa kamu diam?" Feng Kim membuat Shua Xie kembali tersadar dalam lamunannya.
"Tidak ada apa-apa." Shua Xie menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.
"Sungguh?"
"Ya."
"Shua Xie!" Feng Xian menggepak bahu Shua Xie sedikit keras. Memang tidak akan berdampak apapun pada Shua Xie, tapi Feng Kim mana bisa terima melihat Feng Xian memukul Shua Xie.
"Apa? Aku hanya menyapa saja. Kenapa tatapanmu sudah seperti ingin membunuhku," ucap Feng Xian sembari menatap Feng Kim sedikit gugup. Bagaimana tidak, Feng Kim menatapnya seakan sedang menatap musuh paling berbahaya. Padahal Feng Xian ini adiknya.
"Ayah." Shua Xie membuyarkan suasana yang sedikit mencekam.
"Ya, Shua Xie?" Feng Kim beralih padanya. Sekejap suasana hatinya kembali baik. Feng Xian merasa lega akan hal itu.
"Ada sesuatu yang aku ingin katakan padamu." Lanjut Shua Xie dengan pandangan sedikit serius.
"Apa itu? Katakanlah."
"Jika nanti ada seorang wanita menemui Ayah. Gadis memiliki rambut perak seperti bola matanya. Jangan dengarkan apapun yang dia katakan. Dia wanita yang berbahaya," ujar Shua Xie sangat serius. Kentara dari raut wajahnya yang tidak menunjukkan sedikit pun ketenangan. Bahkan dia sama sekali tidak berkedip saat membicarakan itu.
__ADS_1
"Memangnya ada apa dengan wanita itu?" sahut Feng Xian penasaran. Kenapa juga Shua Xie tiba-tiba membicarakan tentang seorang wanita asing.
"Karena dia akan datang menemui kalian. Aku hanya ingin kalian tidak mendengarkan apapun yang dia katakan," ucapnya Shua Xie sedikit tegas.
Feng Kim dan Feng Xian terdiam sembari menatap satu sama lain. Sebenarnya mereka merasa aneh dengan permintaan Shua Xie yang satu ini, tapi karena Shua Xie mengatakan wanita itu berbahaya maka mau tidak mau mereka harus mendengarkan.
"Baiklah. Aku akan mendengarkan ucapanmu," balas Feng Kim.
"Lalu bagaimana dengan persiapan perang? Bukankah kau pergi selama seminggu ini karena itu?" Feng Xian bertanya.
"Masalah itu." Shua Xie terdiam sejenak. "Sepertinya kita hanya perlu fokus pada kerajaan Xuilin. Sedangkan kerajaan lain, lupakan saja." Lanjutnya santai.
"Apa?! Mana bisa begitu!" Feng Xian berbicara keras. Sangat kaget mendengar ucapan Shua Xie yang begitu enteng.
"Shua Xie, kau tidak mungkin lupa dengan janjimu pada empat kerajaan lain. Mereka sangat berharap padamu dan kau bahkan berjanji akan melindungi mereka. Bagaimana mungkin kau bisa membatalkan janjimu sendiri pada mereka?" Nada bicara Feng Xian semakin meninggi.
Shua Xie berdecak pelan sembari meruntuki gadis yang pernah dalam tubuhnya membuatnya kesusahan. "Untuk saat ini kerajaan Xuilin lebih penting dari pada kerajaan lain."
"Tapi-"
"Maafkan aku jika aku membatalkan janjiku. Aku tidak sempat menemukan apa yang aku cari di sana. Bahkan aku hampir mati di sana hanya untuk kalian. Tidakkah kalian merasa egois melimpahkan segalanya padaku?!"
"Tapi bukan itu yang aku maksud-"
"Cukup Paman! Aku tidak ingin berdebat lebih panjang denganmu." Nafas Shua Xie berderu kuat. Sorotan matanya yang tajam mengartikan dirinya yang sedang marah. "Siapkan saja para prajurit. Aku akan memimpin perang untuk kalian."
"Tapi."
Nguung!
Tiba-tiba saja terdengar suara keras seperti suara terompet. Sontak membuat seisi kediaman itu terdiam kaget. Setelah suara terompet berhenti, mereka semua bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi di luar.
"Apa itu?" tanya Feng Xian sambil menatap ke langit. "Burungkah?" tanyanya lagi.
Chi Su berlari mendekati Ogher. Begitu pun dengan Kasim Lu. Beberapa prajurit yang berjaga di sekitaran kediaman Kaisar segera berdatangan melindungi Kaisar mereka.
"Itu." Feng Kim tahu apa itu. Yang jelas bukan hal baik. Bahkan kakinya terasa kaku melihat sekumpulan hitam di langit.
"Mereka datang. Kenapa cepat sekali?" Shua Xie berdecak pelan.
"Jadi mereka sudah datang?" tanya Feng Xian. Feng Kim menepuk pundaknya sambil menatapnya sangat serius. Dari tatapan itu Feng Xian tahu jawabannya.
"Segera kumpulkan semua pasukan!" teriak Feng Xian pada prajurit di belakangnya.
"Siap kumpulkan!!"
_______________
**A/N : Perang oo perang!
halo gaes, maaf baru nongol. 3 hari ini aku sibuk buanget, ke sana ke sini beli itu beli ini untuk lebaran 😂 gak ada kesempatan buat nulis. Varu megang hp bentar udah diteriaki. Ini pun aku sempetin tadi subuh nulis cepat untuk kalian. Mungkin besok Author gak up, soalnya lebaran hehehe ... aku mau makan kue gaes ke rumah teman 😂 terus mungkin jalan-jalan ke rumah guru. Jadi gak ada kesempatan nulis. Gak tahu kalau malam 🙃
Besok kan lebaran, jadi Author mau minta maaf lebih awal. Maaf kalau saya ada salah pada kalian wahai para pembaca setia. Maaf belum bisa jadi Author terbaik untuk kalian. Dan makasih juga selalu mendo'akan saya untuk sehat selalu, kalian juga semoga diberikan kesehatan terus oleh Tuhan.
Oh ya, aku mau tanya nih, kalian berasal dari daerah mana saja? Dan umur kalian berapa? Aku penasaran banyak pembaca cerita ini berasal dari wilayah mana dan berusia berapa? Jawab di kolom komentar. Author dan Menma penasaran buanget** ^-^
__ADS_1