Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 182


__ADS_3


Visual Kerajaan Langit ⭐


Tap, tap, tap ....


Langkah indah itu, terdengar sangat anggun, tapi menyayat bagi pendengar setelah melihat hal yang sangat buruk. Beberapa penjaga kerajaan Langit memilih kabur, dibanding berhadapan dengan sosok mengerikan itu. Bagaimana tidak, setiap hal yang dipandang gadis itu, tak cukup 1 detik, sosok yang gadis itu lihat langsung mati mengenaskan. Mengerikan! Seakan ke dua manik mata perak gadis itu memiliki sihir yang mampu membunuh seseorang dalam sekali tatapan.


Padahal, ada hal yang para penjaga itu tidak ketahui. Sesosok bayangan yang mengikuti gadis itulah yang membunuh siapapun yang gadis itu lihat. Seakan sosok bayangan itu paham, apa yang dilihat gadis itu harus dihancurkan.


Di belakang gadis itu, ada satu pria paruh baya yang baru mereka bebaskan dari penjara. Pria itu hanya terdiam, menyaksikan pembantaian di depan matanya. Meski sebenarnya, ia sangat ingin mengutarakan apa yang ada di pikirannya. Tentang betapa mengerikannya dua anak muda itu membunuh. Untunglah yang mereka bunuh memang pantas untuk mati, jadi di sisi lain, dia cukup lega tak harus mengeluarkan banyak tenaga melawan para penjaga.


"A-ampuni aku! A-aku bersumpah tidak akan berkata apapun! To-tolong am-"


Srash!


Bam!


Krak!


"Uhh." Pria paruh baya itu meringis pelan tatkala ia melihat penjaga yang tadinya memohon pengampunan dari gadis berambut perak itu, mati secara mengenaskan. Kepalanya seketika meledak diiringi dengan perutnya. Sedangkan ke dua kaki dan tangannya patah-patah seolah ada seseorang yang mematahkannya. Sedangkan, jika dilihat dari sudut pandang biasa, penjaga itu mati dengan sendiri tanpa disentuh siapapun.


Menma--gadis berambut perak itu--menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. Pandangannya masih tertuju pada lantai yang telah kotor dengan ceceran darah, daging serta lainnya. Tak ada kesan jijik di pandangannya, hanya kesan datar dan tak peduli yang terpampang jelas di sana.


"Terlalu berlebihan," ucap Menma pelan. Ia masih setia menatap dingin ke arah mayat yang sudah tak bernyawa.


"Aku hanya ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat. Kau berjalan lambat sekali, apa perlu aku menggendongmu agar pekerjaan ini selesai dengan cepat," sahut suara berat. Seorang pemuda tampan keluar dari persembunyiannya, berdiri tegak di depan Menma dengan senyuman tipis.


Menma mengangkat sedikit pandangannya, menatap pemuda bermata jingga di depannya. "Jika kau tidak ingin memiliki tangan. Maka cobalah," balas Menma yang terdengar seperti ancaman. Ah, mungkin memang lebih tepat adalah ancaman.


Azura meringis pelan, membayangkan ke dua tangannya benar-benar hilang oleh gadis di depannya. Memalukan tentunya. "Dasar, padahal aku hanya ingin membantumu. Kau lambat sekali, berjalan seperti siput saja."


"Menyingkirlah jika kau ingin semua selesai dengan cepat," lugas Menma sembari kembali berjalan acuh tak acuh melewati Azura.


"Tsk, dasar." Azura berdecak pelan sambil mengikuti Menma dari belakang. Kali ini ia tak lagi bersembunyi, terlebih ia tahu ada hal besar menunggu di depan sana. Akan sangat disayangkan jika ia bersembunyi dan melewatkan tontonan menyenangkan.

__ADS_1


Tap, tap, tap ....


Mereka kembali berjalan menyusuri lorong kerajaan yang tak kunjung habisnya. Sangat besar dan berliku. Andai Menma tak memiliki Qi, terlahir dengan fisik manusia biasa, mungkin ia akan frustasi di dalam lorong kerajaan sebab tak menemukan lokasi yang dia tuju.


Tidak lama berselang mereka melanjut perjalanan menyusuri luasnya kerajaan Langit. Tiba-tiba muncul sekelompok pasukan menghalangi jalan mereka dari berbagai sisi, lengkap dengan baju perang serta senjata masing-masing di tangan mereka. Pria paruh baya bernama Aron, terkesiap kaget dengan kemunculan para prajurit.


"Tidak tanggung-tanggung dia langsung mengerahkan prajurit sebanyak ini." Aron berdecak, antara kagum dan khawatir dengan siatuasi sekarang. Sebenarnya ia masih sanggup menghadapi semua pasukan itu, tapi akan sulit jika bertarung di tempat sesempit ini. Aron membutuhkan ruang yang besar agar serangannya tidak merusak bangunan apalagi sampai melukai dua anak muda yang menolongnya.


Berbeda dengan Aron, Azura justru terkekeh melihat para prajurit yang mengepungnya dari berbagai sisi. Mungkin Aron akan panik karena dia seorang manusia, tapi Azura, ck, jangan bercanda. Sekumpulan prajurit itu bahkan terlihat seperti sekerumunan semut di matanya. Tinggal dia pijak, maka semua semut itu akan mati, begitu pikirnya.


"Ppfftt ... aku pikir pemimpin kerajaan ini adalah manusia yang pintar. Ternyata aku terlalu berpikir tinggi, ia bahkan jauh lebih bodoh dari anjing peliharaanku," ucap Azura sembari menahan tawanya agar tidak semakin mengeras.


Karena perkataannya itu, Aron spontan menatap heran ke arah Azura. Dia jelas mendengar apa yang pemuda itu katakan, yang pastinya sebuah kata penghinaan. Yang Aron tidak sangka, pemuda itu masih bisa bersikap santai di saat situasi sedikit mencekik. Apalagi jumlah para prajurit yang tidak sedikit, ditambah basis kultivasi mereka lumayan tinggi. Jika terjadi pertarungan maka lorong kerajaan ini pasti akan hancur. Aron juga yakin ia akan mendapat luka lumayan parah dari pertarungannya ini. Jika saja benar terjadi.


"Dan hanya orang paling bodoh yang rela mengantar kematiannya begitu saja hanya untuk pemimpin yang bodoh." Lanjut Azura lagi. Oke, kali ini ia tak bisa menahan tawanya. Alhasil tawanya menggema keras di lorong itu. Para prajurit semakin menodong senjata mereka ketika mendengar tawa Azura.


"Diamlah. Kau berisik sekali hari ini. Tidak seperti biasanya," timpal Menma datar sambil memutar matanya malas. Malas melihat sikap Azura yang tak lagi dingin seperti dulu. Mungkin karena pemuda itu sudah tahu apa status Menma sekarang.


Tawa Azura mendadak berhenti dan terganti dengan seutas senyum menggoda. "Baiklah, Putriku."


Azura membuang wajahnya malu, entah malu karena pengakuannya yang tanpa sadar, atau malu karena Menma meledek dirinya. Intinya dia malu dan mengutuk mulutnya yang berbicara begitu saja. Tapi ada sedikit rasa senang di hatinya mengenai tanggapan Menma yang tak lagi irit seperti biasanya.


"Hanya kepadamu. Apa aku salah, Putriku?" balas Azura lirih.


"Jadi kau mulai menyukaiku sekarang?" Menma menaikkan sebelah alisnya. Menantang Azura untuk jujur atau berbohong. Anehnya, pemuda itu tanpa ragu mengangguk, yang artinya mengiyakan tebakan Menma. Nafas Menma seketika tertahan karena anggukan Azura. Bukannya apa, pria itu berterus terang mengakui perasaannya, padahal pertemuan mereka berdua masih belum begitu lama. Menma bahkan belum mengenal Azura sepenuhnya.


"Tentu. Kau wanita yang patut disukai oleh orang sepertiku," balas Azura narsis. Meski terkesan meninggikan diri sendiri, Menma tak merasa ucapan Azura tengah menghina dirinya. Ia justru terkekeh kecil karena perkataan tersebut. Dan ketahuilah, kekehan Menma menarik semua perhatian para pria, tak termasuk Aron meski ia sudah tua. Masing-masing dari mereka tengah berdecak dalam hati mengagumi kecantikan Menma yang tak biasa. Seperti memiliki nilai tersendiri.


Wajah Menma yang sejak tadi hanya datar memang terlihat sangat cantik, tapi berbeda lagi jika ia tersenyum dengan mata yang sedikit menyipit. Nilai karismatiknya naik beribu-ribu poin plus.


Damage-nya!


"Hem ... jadi, kau menyukai kecantikanku atau statusku?"


"Aku menyukai semua hal tentangmu."

__ADS_1


"Ppfftt! Kau lucu, Azura."


"Oh, ayolah. Situasi tidak mendukung untuk bercanda? Apa kalian sudah tidak sayang nyawa lagi?" Aron menyahut, tak tahan lagi melihat hal asmara dari dua anak muda di depannya. Kalian bisa melanjut pembicaraan romantis kalian nanti, begitu teriak Aron dari hatinya.


Semua prajurit juga kembali tersadar dari buaian mereka akibat ucapan Aron. Hampir mereka melupakan tugas mereka kenapa mereka bisa datang ke tempat ini. Karena karismatik Menma yang tak biasa, mereka terkesima tanpa sadar.


"Wanita itu pasti memiliki sihir pemikat." Begitu kata mereka dalam hati. Soalnya ketika melihat Menma tersenyum, mereka seakan melupakan dunia dan lebih terfokus pada kecantikan alami Menma. Seakan senyuman Menma adalah hal yang tak boleh dilewatkan sedetik pun.


"Wanita ular." Sebagian lagi berpendapat seperti itu. Berpikir Menma memanglah wanita ular yang memiliki daya pikat tak bisa dipungkiri.


Sring!


"Tahan. Kau tidak perlu turun tangan, Pak tua." Azura mengangkat tangannya, meminta Aron untuk menahan pedangnya yang tak lama lagi keluar dari sarungnya. Pedang itu adalah pedang pemberian Azura beberapa waktu lalu.


Aron mendengarkan perkataan Azura--berhenti menarik pedangnya--, tapi dia tetap bertanya, "Kenapa? Jumlah mereka sangat banyak. Kau tak mungkin mampu membunuh mereka semua seorang diri." Aron yakin akan perkataannya ini. Azura tidak mungkin bisa membunuh semua prajurit itu seorang diri. Jika pun bisa, pasti memakan waktu cukup lama. Sementara mereka harus mempercepat pekerjaan sebelum sosok yang mereka cari kabur.


Azura memutar sedikit wajahnya ke belakang, menatap Aron dari sudut pandangannya. "Sebanyak apapun mereka, di mataku mereka hanya sekelompok semut."


"Anak muda, kau memang kuat, tapi sombong bukanlah hal terbaik untuk saat ini." Aron tersenyum kaku. Sungguh tak percaya Azura memiliki keangkuhan setinggi itu di saat seperti ini.


"Tenanglah, Pak tua. Kali ini aku tidak akan melakukan apapun. Tapi dia."


"Maksudmu?" Aron mengeyit, sedikit tak paham siapa yang dimaksud Azura. Tak mungkin bukan dia mengatakan bahwa Menma lah yang akan maju kali ini? Aron menggeleng tak yakin. Pikirannya pasti salah. Ya, pasti sangat salah.


"Lihat saja apa yang akan terjadi."


"Hah? Ka-"


Bam!!


"Aakkhh!!"


Duak!


_________________

__ADS_1


A/N : Aku datang lagi 🙃


__ADS_2