
Ayo jangan lupa beri like ya 😄
___________________________
Kuda hitam perkasa berhenti tepat di depan sebuah gerbang kayu besar yang sudah hancur tak beraturan. Langkah kaki kuda melambat saat memasuki gerbang tersebut, terdengar suara tangisan pelan dari belakang Shua Xie, itu suara tangisan Xiao Mei. Shua Xie menghela nafas berat, di tatapannya satu persatu bangunan rumah warga yang sudah rubuh. Sedangkan di belakangnya Xiao Mei semakin menangis keras. Shua Xie mempercepat langkah kudanya ketika mengingat rumah Kepala keluarga Xiao yang berada di ujung jalan.
"Hiks! Kak Shua, bagaimana dengan Kakek dan Kakak Ming?" tanya Xiao Mei sambil menangis terisak.
Langkah kuda berhenti tepat di depan rumah Kepala keluarga Xiao, bangunan kayu sudah hangus menjadi abu bakar. Tampak bangunan itu hanya tersisa puing-puing kayu yang telah terbakar, melompat Xiao Mei dari kuda. Dia berlari sangat kencang menuju bangunan yang telah hangus itu sambil berteriak memanggil satu persatu nama keluarganya.
"Kakek! Kak Ming! Bibi! Paman! Kalian di mana?! Ini aku Xiao Mei sudah pulang! Keluarlah, kumohon keluarlah!"
Shua Xie turun dari kuda dengan perlahan, terdengar helahan nafas dari mulutnya saat Shua Xie melihat Xiao Mei yang terus berteriak keras. Shua Xie mendekati Xiao Mei lalu menepuk pundaknya, menggeleng pelan Shua Xie saat Xiao Mei menatapnya sendu.
"Kakak Shua! Apa mereka sudah mati!?" tanya Xiao Mei dengan suara serak, diperluknya Shua Xie ketika sentuhan tangan lembut jatuh di puncak kepalanya.
Xiao Mei semakin terisak, Shua Xie melihat ke sekitarnya mencari tahu barangkali ada mayat dari keluarga Xiao, "Kita tidak tahu apa mereka sudah mati apa tidak? Aku akan memeriksa di sekitar dulu, kau tunggulah aku di sini," balas Shua Xie sambil melepas pelukannya.
Shua Xie berjalan meninggali Xiao Mei di sana yang masih terus menangis. Satu persatu tempat Shua Xie periksa dengan detail, sejauh ini dia hanya mendapat mayat dari pengawal keluarga Xiao yang sudah membusuk, sedangkan nayat kepala suku dan keluarganya tidak ditemukan.
'Sepertinya keluarga Ye membawa pergi keluarga Xiao, dengan menyandera keluarga Xiao Mei mereka pasti akan menawar Xiao Mei agar mau ditukar dengan keluarganya.' Terdengar suara Burung Phoenix merah di otak Shua Xie.
"Aku sudah tebak itu," balas Shua Xie dengan nada datar.
'Lalu apa yang akan kau lakukan?'
Shua Xie menoleh ke kiri saat mendengar suara dari kejauhan, "Mendatangi kediaman mereka. Lalu melenyapkan mereka semua."
'Lumayan, tapi kau seorang diri tidakkah itu membuat masalah bagimu? Maksudku, kau tidak akan bisa melawan mereka jika seorang diri.'
"Aku tidak sendiri, ada Xiao Mei yang akan membantu. Pastinya dia sangat ingin membalas dendam keluarganya, aku akan memberikan kepala keluarga Ye padanya dan membiarkan dia membunuhnya sendiri. Sisanya kita yang menyelesaikannya," jawab Shua Xie sambil melangkah menuju tempat Xiao Mei sebelumnya.
'Hah? Kau sudah ingin memanfaatkanku, padahal kita baru saja saling kenal,' keluh Burung Phoenix merah.
"Kita sudah terjalin kontrak darah seminggu yang lalu, lalu apa gunanya burung Phoenix sepertimu jika tidak digunakan?" sinis Shua Xie tajam. Teringat Shua Xie kejadian seminggu yang lalu saat ia bertemu pertama kali dengan burung Phoenix dan menjalin kontrak darah dengannya.
'Kekuatanku masih kurang, jadi aku belum bisa keluar dari tubuhmu. Kalau aku keluar kau akan mati sebab akan memakan banyak tenaga jika kau mengeluarkanku. Tapi aku akan membantumu dari dalam.'
Shua Xie tersenyum kecil, "Hah, baiklah, Phoe!"
'Phoe?'
"Itu nama khusus dariku, kenapa? Apa kau tidak suka?" tanya Shua Xie diiringi tawa kecil meledek.
__ADS_1
'Nama yang jelek, tapi tidak masalah dari pada kau memanggilku Burung Merah, nama itu lebih terkesan jelek. Sekarang apakah kau akan pergi ke kota tempat keluarga Ye tinggal?'
Shua Xie menatap Xiao Mei yang jauh darinya, melihat Xiao Mei mengingatkannya pada dirinya di kehidupan lalunya, "Tentu saja kita ke sana."
***
"Jadi menurut Kak Shua, Kakek dan lainnya masih hidup?" tanya Xiao Mei sambil melirik ke arah Shua Xie. Shua Xie membalas dengan anggukan pelan.
"Kalau benar, kapan kita menyelamatkan mereka?" tanya Xiao Mei lagi, tangannya menggoyang-goyang gelas di tangannya.
Saat ini mereka berada di salah satu kedai makan mie di kota yang sama dengan tempat keluarga Ye tinggal. 3 jam yang lalu, Shua Xie mengajak Xiao Mei mengunjungi suatu kota dengan alasan mencari tempat peristirahatan, sebab desa Bintang tidak layak untuk ditinggali lagi.
Setelah menurut Shua Xie waktu sudah tepat menjelaskan tujuan utama kemari, Shua Xie pun menceritakannya.
"Secepatnya, tapi tidak sekarang. Kita perlu menyusun rencana terlebih dahulu, keluarga Ye sangat berpengaruh di kota ini, kalau sampai kabar tentang penyerangan tersebar di kota ini, itu sangat berbahaya. Akan sulit bagi kita menyerang secara terang-terangan apalagi hanya kita berdua," jawab Shua Xie, pandangnya masih tertuju pada mangkuk mie yang sudah habis.
Wajah Xiao Mei menunduk memandangi kuah mie dalam mangkuknya, "Baiklah, Xiao Mei ikut rencana Kak Shua saja," lirihnya pelan.
Shua Xie menengok ke arah Xiao Mei lalu menepuk pelan kepalanya, "Aku pastikan kaulah yang membunuh kepala keluarga Ye. Jadi jangan sedih lagi, dendam keluargamu harus kau balaskan agar tidak ada keluarga lain lagi yang berani menyerang keluargamu. Saat mereka tahu anak kecil berumur sebelas tahun membunuh kepala keluarga Ye, pasti akan menjadi berita yang menggemparkan."
"Tapi sebelum itu, kita cari dulu sebuah penginapan untuk tinggal. Dan setelah itu aku akan mencari informasi tentang keluarga Ye." Lanjut Shua Xie sambil beranjak berdiri, tak lupa Shua Xie menaruh uang koin perak di meja makannya sambil berseru memanggil pelayan. Xiao Mei mengikutinya dari belakang meninggalkan kedai makan mie.
Shua Xie berjalan lamban di alun kota diikuti Xiao Mei di sampingnya. Dengan menggunakan jubah hitam dan cadar, membuat beberapa warga menatap mereka berdua aneh. Mungkin aneh bagi orang lain melihat dua orang gadis menggunakan pakaian tertutup seperti itu di kota yang terkenal damai dan aman, namun tidak aneh bagi Shua Xie karena ingin menyembunyikan identitasnya, apalagi Xiao Mei menjadi buronan keluarga Ye saat ini. Pasti banyak orang-orang suruhan keluarga Ye berkeliaran di kota Brotavia ini.
"Lihatlah dua gadis cantik itu, mereka menutup wajah mereka tapi tetap saja terlihat cantik."
"Apa salahnya kalau hanya menyebutnya cantik? Apa mereka berani menyerang saat berada di area lawan?"
"Ah, sudahlah. Lebih baik kita fokus, seminggu lagi keluarga Ye akan mengadakan pertandingan Kultivator muda, kudengar yang menang akan dikirim ke sekte Kilat."
"Sekte kilat? Bukankah itu salah satu anak cabang perguruan Menara Felix yang terkenal itu?"
"Benar, aku dengar pembukaan penerimaan murid ini hanya diadakan lima tahun sekali. Aku sebagai perwakilan keluargaku akan ikut pertandingan yang akan diadakan keluarga Ye."
"Hah, benarkah? Aku juga tidak mau kalah darimu. Aku akan mendaftarkan diri juga."
Shua Xie melirik 2 pemuda yang sedang bercengkrama, saat mendengar pembicaraan mereka Shua Xie menjadi tertarik.
'Tidak aku sangka keluarga Ye begitu cepat mengadakan pertandingan itu, padahal kerajaan Bora masih tiga bulan lagi,' ujar Shua Xie dalam hatinya.
Shua Xie mendekati dua pemuda itu, di belakangnya Xiao Mei sedikit bingung tapi tidak bertanya, dia mengikuti Shua Xie mendekati dua pemuda itu. Dua pemuda itu menatap Shua Xie sedikit takut, mengingat mereka membicarakan mereka berdua tadinya.
"Permisi, maaf. Aku dengar kalian menceritakan tentang pertandingan yang diselenggarakan keluarga Ye seminggu lagi? Apa itu benar?" tanya Shua Xie.
__ADS_1
Ke dua pemuda itu saling memandang cukup lama, "Benar, pertandingan itu akan diadakan seminggu lagi. Apa kalian berdua tertarik mengikutinya?" tanya salah satu pemuda berbaju hitam dengan nada sedikit bergetar.
Shua Xie melirik ke arah Xiao Mei yang sudah berdiri di sampingnya, lalu kembali lagi dia menatap 2 pemuda di depannya, "Aku tidak tertarik, tapi adikku ini tertarik," jawab Shua Xie membuat Xiao Mei terkejut, melirik Xiao Mei ke arah Shua Xie dengan pandangan penuh pertanyaan.
"Lalu yang menang akan mendapatkan apa?" tanya Shua Xie lagi, walau pun dia sudah tahu hadiah dari pemenang pertandingan itu tapi demi rencananya dia harus berpura-pura tidak tahu, alias ekting.
"Hadiahnya sangat bagus, yang menang akan menjadi perwakilan kota Brotavia menjadi murid sekte Kilat."
"Oh lumayan, hadiah cukup menggiurkan. Aku dengar sekte Kilat merupakan anak cabang dari perguruan Menara Felix yang terkenal ya?"
Pemuda berbaju hitam itu menganggukkan kepalanya, "Benar, akan sangat beruntung jika bisa masuk ke sekte Kilat."
"Terimakasih atas informasinya, kami pergi dulu." Shua Xie berbalik meninggalkan dua pemuda itu diikuti dengan Xiao Mei di sampingnya. Ketika mereka berdua sudah cukup jauh meninggalkan dua pemuda itu, Xiao Mei melemparkan pertanyaan.
"Kak Shua, kenapa Kakak mengatakan kalau aku akan ikut pertandingan itu? Aku kan tidak ingin masuk ke sekte Kilat," Xiao Mei mengerutkan bibirnya.
"Ini salah satu cara kita membunuh keluarga Ye. Saat pertandingan itu mulai, anak tertua paling jenius keluarga Ye pasti akan mengikuti pertandingan itu, dengan begitu kau akan muda membunuhnya saat di arena nanti," jawab Shua Xie, pandangan masih fokus ke depan.
Xiao Mei melihat ke arah Shua Xie, "Bukankah dengan begitu kita akan memancing keluarga Ye membunuh kita berdua?"
"Aku punya cara, kau cukup ikuti saja. Tenang saja aku pastikan tidak ada masalah nantinya," balas Shua Xie diiringi senyum kecil di balik cadarnya.
Xiao Mei kembali menatap ke depan, "Aku tidak mengerti jalan pikiran Kak Shua. Kak Shua terlalu hebat dalam berpikir," gumam Xiao Mei pelan sambil menghela nafas pelan.
Shua Xie menatap Xiao Mei lalu menepuk kepalanya, "Tentu saja anak kecil sepertimu tidak akan paham jalan pikiranku. Tidak penting kau paham jalan pikirku atau tidak, tapi yang jelas persiapkan dirimu selama seminggu ini berlatih keras. Walau pun kau memiliki tubuh spesial dan kekuatan langkah, tapi kau masih kurang pemahaman dalam bertarung. Aku akan mengajarkanmu teknik bertarung membunuh musuh dalam satu atau dua kali serangan," balas Shua Xie.
"Benarkah? Teknik hebat seperti itu pastikan akan aku kuasai dalam waktu cepat!" seru Xiao Mei penuh semangat, mereka berdua tertawa kecil bersama.
"Bagus, aku harap kau bisa bunuh anak kebanggaan keluarga Ye itu," balas Shua Xie sambil tersenyum kecil.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung