Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 74


__ADS_3

Semua orang langsung menatap ke sumber suara yang bersuara lumayan keras itu. Mereka semua dapat melihat seorang gadis tengah duduk santai di singgasana kerajaan dengan tatapan mematikan yang tertuju pada Xui Sukong.


Terbelalak semua orang melihat gadis itu adalah tahanan mereka sendiri yang seharusnya mereka persembahkan pada Raja mereka. Tapi entah kapan tahanan itu sudah melepaskan dirinya tanpa sepengetahuan orang-orang di sekitarnya. Mungkin karena Shua Xie ditaruh di pojok ruangan, banyak orang tidak terlalu memperhatikannya terlebih lagi saat datangnya Raja mereka. Tentu saja mereka akan terfokus pada Raja mereka dari pada Shua Xie.


Ingin para prajurit maju ke depan menangkap gadis itu, tiba-tiba satu tangan terangkat memberi tanda pada prajurit itu untuk tidak. Dan spontan prajurit itu tidak bergerak sesuai perintah.


"Xui Sukong, tahukah kau betapa memalukannya orang-orang di kerajaanmu ini?" tanya Shua Xie tajam dengan pandangan dingin.


Xui Sukong menundukkan kepalanya, kentara dia sangat malu menjawab pertanyaan Shua Xie. Pria paruh baya itu berlutut dengan satu tangan menyentuh lantai, dengan lirih pelan dia menjawab, "Hamba salah dalam menjalankan kerajaan. Hukumlah hamba atas kesalahan hamba."


Tercenganglah semua orang mendengar ucapan Xui Sukong yang tidak pernah mereka harap akan keluar dari mulut Raja mereka, berbeda dengan Sakura dan 3 pria di sampingnya mereka tampak tenang sambil menundukkan kepala. Melakukan hal sama seperti Raja mereka.


Shua Xie tertawa keras dalam hatinya, sejujurnya dia tidak tega mengatakan hal sekasar ini pada Xui Sukong yang seharusnya tidak perlu menanggung kesalahan, terlebih lagi Xui Sukong lebih tua darinya. Tapi sedikit lucu juga kalau mampu membuat semua orang terbelalak karena dirinya, itulah poin utama yang dia ingin tunjukkan.


"Si-siapa gadis itu? Ke-kenapa Raja menunduk bahkan berlutut di hadapannya. Tidak hanya itu Raja juga terlihat seperti budak yang baru saja melakukan kesalahan di mata Tuannya. Ada apa sebenarnya ini?"


"I-ini mataku yang buta, atau memang kenyataan? Raja kita berlutut di hadapan seorang gadis yang bahkan tidak memiliki etiket?"


"Apakah Raja sudah dikalahkan oleh gadis ini? Tapi bagaimana mungkin? Kapan mereka bertarung, dan juga tidak mungkin Raja kalah darinya, semua orang tahu Raja berada di tahap tertinggi di antara Raja lain di benua ini. Aku yakin bahkan gadis itu belum mencapai tahap Jenderal Emas."


Shua Xie turun dari singgasana dengan anggun menuju tempat di mana Xui Sukong berlutut, dengan langkah pelan Shua Xie mengitari Xui Sukong dengan raut wajah sangat dingin membuat siapa pun akan merinding melihatnya. Bahkan akan muncul di benak meraka.


Inikah aura dari seorang Pemimpin?


Setelah 3 kali memutari Xui Sukong, Shua Xie berhenti tepat di samping kanan Xui. Dengan suara sangat pelan, Shua Xie mengatakan sesuatu pada Xui Sukong membuat Xui Sukong terpenjat kaget, melihat reaksi Xui Sukong begitu terkejut semua orang memasang wajah penasaran.


Apakah yang dikatakan gadis itu sampai membuat Raja Xui Sukong mendadak terkejut.


Xui Sukong langsung berdiri setelah dia terkejut, dengan lantang dia memanggil nama Xui Lang membuat keponakannya itu terpenjat kaget seketika. Dengan raut wajah buruk Xui Lang menggigit bibir bawahnya, sambil mengingat ulang siapakah gadis itu sampai membuat Pamannya tidak sanggup melawannya. Xui Lang langsung memutar otak, mencari alasan bagaimana dia bisa selamat dari amukan Pamannya melihat Pamannya begitu patuh terhadap Shua Xie, menandakan dia tidak akan aman lagi.


"Xui Lang!!!" Sekali lagi terdengar suara teriakan keras memanggil. Terkejut semua orang karena suara Xui Sukong sangat besar dengan nada membentak, tentu saja semua orang tahu bahwa Xui Sukong sedang marah. Tapi tidak ada yang tahu, hal apa yang membuat Xui Sukong begitu marah.


Bisa dikatakan ini pertama kalinya mereka melihat Xui Sukong semarah ini, yang dulu mereka lihat dari Xui Sukong hanya ramah dan murah senyum. Selain itu mereka tidak pernah melihat Xui Sukong sangat marah, kalau pun marah Xui Sukong hanya bertindak dingin dan mengasingkan dirinya sendiri.


Xui Lang langsung bergegas mendekati Pamannya walau pun sangat enggan melakukannya. Siapa sih mau maju menghadapi amukan Raja perkasa? Tentu tidak ada, walau Xui Lang tahu Pamannya orang berhati lembut, tapi setelah mendengar teriakan keras itu. Xui Lang merasa seperti tengah di hadapkan seekor singa untuk siap dilahap kapan saja.


Shua Xie tersenyum manis pada Xui Lang ketika bocah itu sudah berdiri di samping Xui Sukong dengan wajah menunduk.


"Kau tahu apa kesalahanmu?" tanya Xui Sukong pelan namun masih kesan mengancam.

__ADS_1


Xui Lang semakin gugup di hadapkan situasinya, dengan lidah keluh dia menjawab, "Sa-saya mengaku salah telah membuat Nona Besar marah. Sa-saya siap menerima hukuman!"


"Bagus kalau kau sadar diri! Sekarang kau per-"


Belum sempat melanjutkan ucapannya, Shua Xie langsung mengangkat suara menyela ucapan Xui Sukong.


"Jangan terlalu keras, dia hanyalah anak kecil. Lagi pun tidak salah kalau dia tidak mengenalku. Hanya saja aku ingin bocah Xui Lang ini menjadi pelayanku selama tiga hari, sampai tiba acara pertandingan pemilihan calon murid sekte Kilat."


Xui Sukong melirik ke arah Shua Xie, Ingin berbicara namun tidak ada yang keluar. Merasa ucapannya tidak akan digubris Shua Xie mengingat Shua Xie memiliki temperamen yang lumayan buruk, Xui Sukong mengurungkan niatnya.


Di sisi lain Xui Lang ingin menjerit keras pada Shua Xie, yang benar saja dia menjadi pelayan selama 3 hari, tidakkah itu memalukan bagi seorang pangeran sepertinya. Namun apa kuasa, menolak hukuman dari Shua Xie sama saja membuatnya mendekati maut.


Shua Xie melihat ke arah Xui Sukong, "Beritahukan pada mereka semua, siapa sebenarnya aku? Aku yakin mereka sangat penasaran kenapa Raja mereka begitu tunduk di hadapan seorang gadis sepertiku," ungkap Shua Xie sinis menyinggung bagi siapa saja yang penasaran akan kebenaran kejadian saat ini.


Xui Sukong mengangguk pelan, lalu menatap semua rakyatnya sama, tanpa ragu Xui Sukong bersuara keras penuh semangat seolah titah yang baru saja keluar dari mulut Shua Xie ialah perintah agung baginya.


"Semuanya, aku harap kalian menganggap gadis ini sebagai Ratu. Bukan Ratu setara dengan istriku Sakura. Melainkan Ratu di atas kepemimpinanku, Ratu kita akan memimpin kerajaan ini menjadi berjaya selama beberapa waktu. Peraturan penting tidak boleh seorang pun berani menentang ucapan Ratu, atau bahkan tidak mempedulikannya. Jika saja aku menemukannya maka kalian akan keluar dari kota Bora. Percayalah! Ratu kita tidak akan mengecawakan, aku berani bersumpah."


Lagi-lagi semua orang hanya sanggup terdiam dengan wajah super terkejut, bahkan banyak dari mereka menganga lebar tanpa mereka sadari. Melihat Rajanya dengan mudahnya menurunkan jabatannya pada seorang gadis yang bahkan mungkin tidak berpengalaman menata kelompoknya sendiri. Mereka ragu akan ucapan Xui Sukong, yang benar saja menghormati gadis 16 tahun seperti Pemimpin mereka? Itu terdengar konyol di telinga mereka.


Berbeda dengan Shua Xie, dia hanya tersenyum tipis, tidak menunjukkan raut wajah senang atau pun marah. Ekspresi wajah Shua Xie bahkan terlihat seperti orang tidak memiliki beban besar, seolah semua yang terjadi tidak ada sangkut pautnya dengannya.


"Tapi, Raja kenapa harus memberikan gadis itu sebagai Pemimpin kita. Tidakkah Raja sadar telah membuat jabatan baru, Pemimpin di atas Pemimpin? Aku tidak cukup yakin akan gadis itu, dia terlihat masih muda dan pasti belum berpengalaman dalam menata kerajaan. Bagaimana mungkin anda yang Agung memberikan posisi tertinggi pada gadis tidak tahu etika itu? Masuk tanpa diundang lalu membuat kekacauan. Ini pasti tidak bisa dikatakan sebuah kebetulan, katakan pada kami alasan kuat yang mengharuskan kami tunduk padanya?" tanya seorang pria sesepuh yang merupakan salah menteri di kerajaan Bora.


***


Malam berbintang di temani keributan kegiatan manusia, menambahkan kesan kehidupan yang nyata. Di bawah pancaran sinar bulan pertama sebuah kerata bangsawan melaju dengan kecepatan sedang, ketika itu sudah sampai di depan gerbang istana, banyak prajurit dan petinggi kerajaan menyambutnya.


Dari dalam kerata keluar seorang gadis manis nan cantik berpakaian anggun, gadis itu terlihat seumuran dengan Shua Xie, namun tetap saja kecantikannya tidak setara dengan Shua Xie. Gadis itu memiliki warna mata yang unik, membuat siapa saja akan berpikir bagaimana bisa gadis semanis dia memiliki mata cantik berwarna jingga kecoklatan terang. Mungkin sebagian orang akan menerka warna mata gadis itu adalah warna jingga, namun ada juga sebaliknya menerka kecoklatan terang.


Gadis itu menatap keluar, dia dapat melihat yang menyambut kedatangannya ialah Jenderal Xiaotian dan beberapa pengawal, gadis itu mengerutkan keningnya dengan raut wajah sedikit tidak senang. Dia sedikit berharap bahwa dia akan disambut Xui Cuisha anak dari Cen Hui.


"Paman Xiaotian, di mana Sha gege? Kenapa dia tidak ada di sini? Apakah telah terjadi sesuatu padanya?" tanya gadis itu lembut namun terkesan menekan.


Xiaotian tersenyum canggung, sulit mengatakan tapi harus menyampaikan kenyataan bahwa keluarga bangsawan Xui sedang direnov ulang oleh Shua Xie. Semenjak kejadian Shua Xie diangkat sebagai Pemimpin mereka, Shua Xie banyak melakukan perubahan pada peraturan kerajaan. Bahkan tak segan Shua Xie mengusir beberapa orang yang menurutnya pantas diusir.


"Putri Lu Tianyu, maaf atas kelancangan saya. Tapi saya tidak bisa menjawab secara detail, singkatnya keluarga Xui sedang mendapat sedikit masalah keluarga. Saya harap Putri Lu Tianyu dapat mengerti, anda bisa bertanya nanti sama Pangeran Xui Cuisha," jawab Xiaotian penuh kehati-hatian takut menyinggung perasaan gadis muda di hadapannya ini. Karena dia tahu gadis ini memiliki temperamen tak jauh buruk dari Xui Lang.


Lu Tianyu ialah tunangan Xui Cuisha yang baru beberapa bulan dijodohkan. Secara kebetulan perjodohan itu terjadi ketika Lu Tianyu menghadiri perayaan di kerajaan Bora bersama Ayahnya dan Ibunya. Lu Tianyu juga memiliki gelar tidak jauh berbeda dengan Xui Cuisha, dia adalah Putri satu-satunya dari Raja Lu Tangwen dari kerajaan Bintang. Kerajaan yang terkenal memiliki kedudukan ke dua tertinggi di antara 5 kerajaan yang ada di daratan timur. Paling tidak di atas peringkat kerajaan Bora.

__ADS_1


Karena Lu Tianyu sangat tertarik akan ketampanan dan kebaikan Xui Cuisha, dia pun meminta pada Ayahnya untuk dipersunting dengan pria idamannya itu. Mungkin ini terdengar sedikit konyol, biasanya pria yang akan melamar gadis namun ini justru sebaliknya. Karena kerajaan Bintang memiliki posisi kerajaan satu tingkat lebih tinggi dari kerajaan Bora, mau tidak mau Xui Sukong hanya bisa menerima agar tidak terjadi konflik yang tak diinginkan. Xui Sukong tahu jelas Putri Lu Tianyu sangat terkenal di kalangan bangsawan wanita sebagai Putri paling manja dan suka bertindak semena-mena.


Lu Tianyu membuat bibirnya membulat mendengar jawaban Xiaotian, dengan cepat dia membalas, "Xiaotian, tolong bawakan barangku. Aku akan mendatangi sendiri keluarga Xui dan sekaligus menyapa mereka semua."


"Ta-tapi."


"Tapi?" Lu Tianyu mengulangi ucapan Xiaotian dengan wajah bingung.


"Ti-tidak Putri. Tapi saya sarankan, Putri sebaiknya jangan mengganggu reuni keluarga besar Xui."


Alis Lu Tianyu bertaut, "Apa maksudmu mengganggu? Jadi maksud aku ini pengganggu? Tidakkah kau ingat aku ini juga akan menjadi bagian keluarga Xui? Di mana letak aku akan mengganggu mereka?"


Xiaotian menjadi serba salah, melarang salah membiarkan lebih salah, mengingat perintah Shua Xie jangan membiarkan siapa pun masuk ke dalam ruangan itu. Tapi melarang Lu Tianyu sama saja menyulut api semakin besar, dengan sifat Lu Tianyu yang pemarah dan semena-mena mana mungkin Xiaotian bisa menghentikannya. Ditambah lagi kedudukan keluarga Lu Tianyu sangat di pandang tinggi.


"Aku akan mendatangi mereka, aku yakin mereka tidak akan marah."


***


Shua Xie berjalan beriringan dengan 3 orang pria di dekatnya, Chen Xui, Xui Lang dan Xui Cuisha. Mereka bertiga mengikuti Shua Xie menuju tempat pelatihan Kultivator kerajaan yang ada di belakang kerajaan. Ini adalah sebagai hukuman dari mereka karena bertindak seperti bangsawan yang tak seharusnya ada, lebih-lebih Xui Lang. Tapi Shua Xie lebih marah pada Chen Xui dan Xui Cuisha, sebagai pangeran lebih tua dari Xui Lang seharusnya mereka bisa menghentikan tingkah Xui Lang, namun nyatanya mereka lebih sibuk dengan urusan masing-masing.


"Tahukah kalian, pecahnya kekeluargaan bisa membuat keluarga Xui hancur bahkan lenyap dari dunia," gumam Shua Xie pelan tanpa menoleh pada 3 pemuda itu.


"Tidak tahu," jawab mereka serempak, mungkin enggan menjawab sebab takut akan kemarahan Shua Xie seperti di ruangan keluarga tadi.


"Heh, dasar bocah," dengus Shua Xie pelan namun dia tetap melanjutkan, "Kalian harus tahu. Aku ini hidup sendiri, tidak punya keluarga utuh seperti kalian. Nyatanya keluargaku semua musnah hanya karena kurangnya perhatian dari sesama. Kecemburan, keegoisan, dan kemarahan menyuluti hati mereka untuk bertingkah memberontak. Aku hanya tidak ingin keluarga Xui mengalami hal yang sama."


Ke tiga pemuda itu sedikit terkejut mendengarnya namun tidak satu pun berani membalas.


"Oh, gadis dari mana ini?" tanya Shua Xie sambil tersenyum tipis akan kemunculan gadis manis yang tidak jauh berbeda dengan umurnya. Nyatanya gadis itu mendatangi Shua Xie dengan raut wajah marah, jelas tidak terima melihat Xui Cuisha berjalan beriringan dengannya. Walau pun masih ada Xui Lang san Chen Xui di dekat mereka berdua, tapi melihat betapa cantiknya Shua Xie walau perawakannya saat ini seperti laki-laki namun tidak menutup kemungkinan kecantikan alaminya itu masih terlihat jelas.


Lu Tianyu menatap Shua Xie geram, lalu dia melayangkan tangannya hendak menampar wajah Shua Xie, tapi tidak dia sangka kalau tangannya itu akan dicegat Shua Xie sendiri.


Shua Xie yang sebelumnya tersenyum kini memasang tampang dingin, dia tidak paham kenapa gadis asing ini tiba-tiba muncul dan ingin menamparnya? Shua Xie ingat-ingat dia tidak pernah bertemu gadis di hadapannya ini apalagi sampai membuatnya tersinggung.


"Nona kecil, kalau mau main tangan pastikan tenagamu lebih besar dari lawan. Dan pastikan juga jangan sampai mencari masalah denganku," ucap Shua Xie dingin sambil menepis kasar tangan Lu Tianyu.


"Kau! Beraninya!? Dasar ******!"


***

__ADS_1


Maaf ya kalau ceritanya agak kurang nyambung, soalnya saya menulis dari jam 2**0 sampai jam 4 subuh, jadi buru-buru ngajar waktu, gak kerasa ama saya kelamaan memikirkan alur cerita ditambah lagi membaca novel jadi lupa waktu 😅**


jangan lupa like ya, vote jika berkenan tidak memaksa kok :) rate jangan lupa dan beri tip dikit bagi2 rezeki 😂 tapi gak maksa ya


__ADS_2