
"Bantuan? Maksudnya?" Kaisar Feng Kim menatap sosok bertopeng itu sedikit bingung, mungkin karena dia belum mengerti sepenuhnya maksud dari ucapan sosok bertopeng itu.
"Anda tidak akan tahu, tapi beberapa waktu dekat kalian akan bertemu," jawab sosok bertopeng itu, setelah itu dia segera melenggang pergi tanpa memperdulikan tatapan di sekitarnya.
Kaisar Feng Kim tidak lagi menghentikan sosok bertopeng itu karena dia tahu, percuma dia bertanya jikalau sosok bertopeng itu hanya menjawab dengan jawaban yang cukup membingungkan.
Di sisi lain, para penonton di podium menatap sosok bertopeng itu yang semakin jauh meninggalkan lapangan, setelah sosok itu menghilang barulah mereka tersadar.
"Siapa sosok bertopeng itu? Kenapa dia sangat kuat. Bahkan bisa mengalahkan Kaisar Feng Kim dengan mudahnya."
"Kekuatannya sangat mengerikan! Jika menyinggung sosok bertopeng itu kita pasti dalam masalah!"
"Aku tidak menyangka akan ada manusia sehebat itu, kecepatan dan kekuatannya jelas di luar nalar manusia!"
"Kesampingkan soal itu, lebih baik kita mengkhawatirkan keadaan Yang Mulia. Yang Mulia terluka!"
Para pejabat segera turun dari podium dan langsung mendekati Kaisar mereka. Jenderal Besar Feng pun melakukan hal sama, segera mendekati sosok kakaknya itu.
"Yang Mulia, bagaimana keadaanmu?" tanya Feng Xian ketika dia sudah berada di depan Kaisar Feng Kim.
Tampak Kaisar Feng Kim menyarungkan kembali pedangnya, sesaat Kaisar Feng Kim menatap para pejabat di sekitarnya dan Feng Xian, "Aku tidak apa-apa. Sekarang kalian seharusnya mengerti bagaimana kekuatan pasukan yang akan kita lawan nanti. Itu baru satu orang ... belum semuanya." Bisa dilihat semua orang terkejut. mendengar ucapan Kaisar Feng Kim. Pemimpin mereka mengatakan kekuatan musuh mereka seperti sosok tadi, dan lebih buruknya lagi tidak hanya satu, melainkan dalam jumlah besar.
Bukankah itu sama saja pembantaian yang tidak adil? Mereka hanya seorang pendekar, bukan Kultivator, apa yang bisa mereka lakukan?
Jika berbicara adil atau tidak, siapa bisa menjawab? Dunia itu kejam, dan sudah menjadi hukum alam yang kuat lah yang berkuasa, jika tidak ingin ditindas jangan salah mereka yang kuat.
***
Setelah merasa diri telah cukup jauh dari pandangan banyak orang, sesosok bertopeng melompat turun dari dahan pohon. Setelah bertarung dengan Kaisar Feng Kim, dia langsung melarikan diri ke tengah hutan, tidak tahu sebab apa yang membuat sosok bertopeng itu menjauhi kota Xuilin.
"Sudah mengikuti sejauh ini, kenapa tidak keluar?" Sosok bertopeng itu membuka suara sambil menatap pepohonan di sekitarnya.
Bersamaan dengan selesainya dia berbicara, tiga orang anak muda keluar dari persembunyiannya. Tampak ke tiga anak muda itu mendekati sosok bertopeng itu.
"Mengetahui kami bersembunyi, aku semakin yakin kau adalah seorang Kultivator tingkat tinggi," salah satu bocah paling muda berbicara dengan nada cukup datar. Tatapan tajam yang dilontarkannya membuat sosok bertopeng itu mengerutkan keningnya.
'Bocah itu, kenapa mirip dengan seseorang?' Sosok bertopeng itu merasa tidak asing dengan penampilan bocah itu, memiliki rambut putih dengan manik mata biru terang mengingatkannya kepada seseorang yang seharusnya dia lupakan.
Satu bocah laki-laki bermata hitam membuka kain yang menutup sebagian wajahnya, memperlihatkan sepenuhnya wajahnya yang bisa dikatakan tampan, "Katakan apa yang kau inginkan di kota Xuilin!?" tanyanya dengan nada menekan.
"Menutup identitas dengan jubah dan topeng, Kau membuat semua orang berpikir kau adalah penjahat." Bocah gadis bermata hijau ikut menambahkan.
Sosok bertopeng itu mengerutkan keningnya, merasa sedikit aneh mendengar ucapan ke tiga bocah itu, "Tidakkah kalian menyinggung diri kalian sendiri. Berpakain seperti itu, jangan pikie aku tidak tahu kalian seorang Kultivator muda." Pandangan sosok bertopeng itu semakin tajam, "Di usia muda berada tahap Jenderal Emas, aku cukup terkejut." Sosok bertopeng itu tentu bisa merasakan tahap pelatihan kultivasi ke tiga bocah itu sangatlah tinggi untuk di usia mereka yang masih belia.
Bocah yang paling tinggi mendengus kasar, "Bisa mengetahui tahap kultivasiku, kau semakin mencurigakan!" Bocah itu langsung menyerang sosok bertopeng itu tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu pada dua saudaranya.
__ADS_1
"Minghao!" teriak ke dua bocah lainnya tanpa sadar karena terkejut.
Bocah yang mereka panggil Minghao melayangkan tinjuannya dengan cepat ke sosok bertopeng itu, karena dia begitu tidak sabar mengetahui wajah di balik topeng itu, Minghao pun berinisiatif menyerang lebih awal.
Melihat sebuah tangan melesat dengan cepat, sosok bertopeng itu segera menghindar dengan melompat mundur. Sedikit terkejut sebab bocah tersebut tiba-tiba menyerangnya, "Aku rasa kita tidak pernah bermasalah, dan bahkan aku tidak mengenal kalian. Kenapa kalian menyerangku?" tanya sosok bertopeng itu dengan tenang, karena dia tahu lawannya hanyalah bocah yang bisa saja dia bunuh kapan saja, tapi sebelum itu dia ingin tahu alasan apa bocah itu menyerangnya.
Minghao menggertakkan rahangnya kuat, "Masih bertanya? Apakah kau tidak sadar kau telah melukai seorang Kaisar!" Minghao kembali menyerangnya, kali ini lebih cepat dari sebelumnya. Tapi, lagi-lagi sosok bertopeng itu bisa menghindarinya, membuat Minghao semakin geram sebab tidak bisa memukulnya.
"Aku melukai seorang Kaisar bukan urusan kalian! Lagi pula orang lemah memang pantas menerima luka!" balas sosok bertopeng itu cukup keras sambil terus menghindari serangan yang dilayangkan Minghao, "Jangan pikir aku tidak tahu kalian telah menyusup kerajaan tanpa izin dari siapapun, lebih baik pikirkan nyawa kalian dibandingkan memikirkan nyawa orang lain."
Kesal melihat sosok bertopeng itu terus menghindari serangannya, Minghao segera menarik pedang di punggungnya. Sebuah pedang berwarna hitam dan merah, mengeluarkan aura cukup kuat, membuat sosok bertopeng itu sedikit terkejut.
"Kau pikir kami akan mati semudah itu!? Bahkan kau belum tentu bisa membunuhku!" Minghao melesat dengan cepat, melompat ke udara sambil memutar tubuhnya sebanyak dua kali, "Teknik pedang-Macam Merah!" Minghao melayangkan serangannya dengan sekali tebas. Serangan berbentuk cakar segera melesat ke arah sosok bertopeng itu.
Dua saudara bocah itu terkejut melihat Minghao menggunakan jurus andalannya. Sangat jarang mereka lihat Minghao menggunakan jurus itu selain terdesak, tapi kali ini, sosok bertopeng itu mampu membuat Minghao menggunakannya.
Bersamaan dengan melesatnya sebuah serangan, sosok bertopeng itu mengeluarkan pedang Pembelah Langit miliknya dari cincin miliknya dan langsung menghalau serangan itu dengan pedangnya.
Bomm!
Suara ledakan menggema keras, menggetarkan tanah di sekitar begitu kuat. Debu melambung tinggi ke atas, dan disahuti dengan beberapa suara pohon tumbang membuat burung-burung di sekitar pohon berterbangan panik.
Minghao melompat mundur bersama ke dua saudaranya menghindari efek ledakan serangannya. Sedangkan di sisi lain, sosok bertopeng itu masih terdiam di tempat dia berdiri sebelumnya. Tampaknya sosok bertopeng itu menahan serangan Minghao dengan mudah.
"Dia bisa menahannya? Seberapa kuat sebenarnya dia!?" Minghao tidak bisa menutupi rasa terkejutnya, pasalnya sosok bertopeng itu bisa menahan serangan dan tidak menerima efek apapun.
Bocah paling muda terdiam untuk sesaat, dia merasa ada yang tidak beres dari pedang milik sosok bertopeng itu, jika memang sosok bertopeng itu kuat, bukan tidak mungkin sosok bertopeng itu seharusnya menerima sedikit efek, tapi bahkan baju yang dikenakan sosok bertopeng itu tidak mengalami kerusakan sama sekali. Bocah itu merasa pedang hitam milik sosok bertopeng itu, juga memiliki kekuatan spiritual.
"Minghao, Yihua, aku rasa pedang miliknya bukan sekadar pedang biasa. Mungkin saja pedang spiritual tingkat tinggi," ungkap bocah bermata biru setelah mencermati pedang milik sosok bertopeng itu.
Minghao sedikit terkejut, "Apa? Pedang spiritual tingkat tinggi! Pantas saja bisa menahan seranganku dengan mudah!" decak kagum dan khawatir bergabung, Minghao khawatir jika lawan mereka memiliki pedang spiritual maka kemenangan akan sulit mereka capai.
Bocah gadis bermata hijau bernama Yihua juga ikut terkejut, "Jika seperti ini, kita tidak bisa melawannya. Hanya Ayah yang bisa mengalahkannya!" tambah Yihua dengan nada sedikit panik.
"Jangan takut, kita bertiga, dia sendiri, seharusnya kita bisa bukan! Ayah mengirim kita karena Ayah percaya pada kita!" sahut Minghao sembari menatap Yihua yang mulai panik.
"Tapi-"
"Tidak ada tapi-tapi!" sela Minghao memotong ucapan Yihua, kemudian Minghao menatap adik bungsunya, "Jiazhen, Kau punya rencana?" Minghao berharap adiknya itu memiliki rencana mengalahkan sosok bertopeng itu.
Jiazhen menatap Minghao, terdiam untuk sesaat karena dia sedang berpikir, dan setelah beberapa detik dia mendapatkan cara, "Minghao, coba alihkan perhatiannya dengan cara menyerangnya terus-menerus." Lalu pandangannya teralihkan lagi ke Yihua, "Yihua, kau juga bantu Minghao, berkerja samalah dengan baik!" Sesaat kemudian Jiazhen menatap sosok bertopeng itu, pandangan tajam dari manik mata biru miliknya bersinar terang, "Aku akan diam-diam menyerangnya dari belakang!"
Minghao dan Yihua saling menatap, mereka berdua sudah mengerti rencana Jiazhen, "Baiklah!" sahut mereka berdua bersamaan.
Di sisi lain, sosok bertopeng itu masih berdiri di tengah debu yang tebal, setelah debu mulai menghilang barulah dia bisa melihat tiga bocah itu sedang merencakan sesuatu. Dan tidak lama kemudian ke tiga bocah itu menyerangnya lagi.
__ADS_1
'Mereka benar-benar ingin membunuhku?' sosok bertopeng itu cukup terkesan, tapi, lawan yang mereka hadapi bukan lawan sembarangan, 'Menarik ... biarkan aku mencoba seberapa kuat mereka.' Sosok bertopeng itu menyungging senyum sinis di balik topengnya.
Minghao segera melayangkan lagi pedangnya, namun dengan sigap sosok bertopeng itu menahan pedang Minghao dengan pedangnya. Tapi tidak butuh satu detik, muncul Yihua dari belakang Minghao melesat panahnya, tapi sosok bertopeng itu cepat tanggap dan langsung menghindar dengan memiringkan sedikit kepalanya. Minghao tentu tidak diam saja meski pedangnya telah ditahan, Minghao dengan cepat melesatkan tendangannya ke pedang hitam milik sosok bertopeng itu, membuat pedang hitam itu langsung menjauh dari pedang Minghao. Pertarungan kembali terjadi, Minghao dengan gesit memainkan pedangnya, berusaha melukai sosok bertopeng itu tapi sialnya sosok bertopeng itu begitu lincah membalas permaian pedangnya.
Yihua tiba-tiba muncul di udara setelah melompati di bahu Minghao, bersamaan dengan itu tiga panah dengan cepat melesat ke arah sosok bertopeng itu. Tapi entah mengapa insting sosok bertopeng itu cukup tajam sehingga dia menangkis tiga panah itu sekaligus dengan pedangnya.
Minghao melayangkan terus-menerus pedangnya, membuat tangan si sosok bertopeng itu terus tertuju pada pedangnya. Di sisi Minghao, Yihua melayangkan lima panah lagi dengan kecepatan lebih cepat lagi. Tapi meski pun begitu, sosok bertopeng itu bisa menghindarinya meski tanpa harus menepis semua panah itu.
'Dia sangat kuat!' pekik Minghao dalam hatinya.
'Keraguanku untuk menang semakin besar!' Yihua semakin khawatir dengan keadaannya sekarang.
'Kami mengandalkanmu, Jiazhen!' pekik Yihua dan Minghao bersama dalam hati.
Pertarungan semakin sengit, meski kelihatan sosok bertopeng itu mulai serius bertarung, tapi bahkan satu pun luka tidak dia terima, sedangkan Minghao dan Yihua sudah beberapa kali menerima pukulan bahkan tendangan.
'Mereka cukup kuat untuk seusia mereka, jika dibiarkan hidup akan menjadi masalah di masa depan. Tapi ... aku belum tahu apa tujuan mereka ingin membunuhku!' Sosok bertopeng itu sangat mengakui kemampuan Minghao dan Yihua, tidak hanya kuat tapi terlihat sangat gesit dan ahli dalam pertarungan. Seharusnya dua bocah itu memang sudah sering bertarung seperti ini. Memikirkan dua bocah yang menyerangnya, sosok bertopeng itu baru ingat jika bocah itu sebelumnya bertiga, lalu di mana yang satunya.
"Kyaaatt!" Minghao menebaskan pedangnya secara vertikal, bersamaan dengan itu Yihua melayangkan tiga anak panah.
Sosok bertopeng itu menepis serangan pedang Minghao dan dengan gesit menepis tiga anak panah yang datang dengan pedangnya.
"Jiazhen, sekarang!"
Sosok bertopeng itu cukup terkejut saat dua anak kecil yang melawannya tiba-tiba berteriak memanggil seseorang. Setelah sadar ada yang tidak beras, sosok bertopeng itu segera berbalik dan ....
"Heh! Kau kalah!" Jiazhen tersenyum sinis ke sosok bertopeng yang sudah dia tusuk dengan pedang miliknya.
"Jiazhen! Kau berhasil!" pekik Yihua senang.
"Sudah aku duga kita akan menang!" Minghao ikut menyahut.
Jiazhen tersenyum puas, matanya tidak teralihkan menatap sosok bertopeng di depannya yang terdiam setelah menerima tusukan pedang miliknya, "Aku penasaran siapa kau sebenarnya." Jiazhen dengan cepat meraih topeng sosok di depan dan langsung membuangnya ke sembarang tempat.
Mata Jiazhen membulat tatkala ketika dia sudah melihat wajah sosok bertopeng itu, begitu cantik dan masih mudah. Dan lebih mengejutkannya lagi, sosok gadis itu tengah tersenyum padanya.
"Maaf anak muda, aku mengecewakan keberhasilanmu!" ucap gadis itu sambil mengeluarkan tangan kirinya, di mana tangan kirinya sedang memegang pedang Jiazhen.
Pandangan Jiazhen langsung tertuju pada tangan gadis itu, bisa dia lihat tangan gadis itu memegang pedang miliknya cukup kuat dan membuat luka di tangan gadis itu. Darah kental merah mulai membasahi sedikit pedangnya, tapi tidak lama kemudian pedang itu patah menjadi dua bagian.
"Kau! Bagaimana bisa!?"
..._______________...
...A/N : si kecil jahil ya bun 😂...
__ADS_1
...uyyy! kalo ada waktu mampir ke ceritaku yang Ratu Kejam Untuk Raja Dingin, aku jamin gak kalah seru kok 🍁 aku tunggu kalian di sana ya...