Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 155


__ADS_3

"Hei! Apa yang terjadi!? Kenapa kalian bertarung!?" Qixuan melepas rangkulannya terhadap Shua Xie dan bergegas menghampiri para rekannya yang kini sedang bertarung. Qixuan tidak tahu apa yang terjadi selama dia meninggalkan para rekannya, namun yang pasti dia harus segera menghentikan pertarungan yang sedang terjadi.


Qixuan berlari ke arah Xiu An dan Kiseki yang kini sedang bertarung melawan Juan Yu, sembari dia berlari dia juga menarik pedangnya. Dan ketika dirinya telah dekat dengan mereka, Qixuan segera menangkis serangan yang hampir saja melukai Kiseki dan juga membalas serangan itu dengan tebasan yang kuat namun tidak mematikan.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya Qixuan setelah dia berhasil menahan serangan yang diluncurkan Juan Yu, dia berbalik dan segera mendekati Kiseki dan Xiu An.


"Ketua! Aku tidak apa-apa, tapi Kiseki, dia ...." Xiu An melirik lirih ke arah Kiseki yang sedang menahan sakit pada tangannya. Bisa dilihat lengan kanan Kiseki sudah hampir kehilangan separuh dagingnya sehingga memperlihatkan tulang putih yang telah berubah warna merah darah. Luka besar itu terjadi karena Juan Yu memakan sebagian daging tangan Kiseki.


"Ini!" Qixuan terkejut melihat kondisi Kiseki yang cukup naas, darah di lengan kanannya terus bercucuran membuat Kiseki mulai kehilangan kesadaran, "Bawa dia ke tenda, sedangkan Juan Yu biar aku yang urus," ucap Qixuan tegas sambil dia menatap Xiu An.


"Baik, Ketua!" balas Xiu An cepat dan dia pun segera merangkul Kiseki ke tenda secara perlahan.


Qixuan kembali berbalik, menatap Juan Yu yang kini telah bangkit selepas dia terpukul mundur oleh serangan Qixuan. Qixuan berdecak pelan, dia tidak pernah menyangka situasi seperti ini akan terjadi setelah mereka semua jauh dari guru pembimbing mereka.


"Juan Yu, sadarlah! Kau telah melukai Kiseki! Apa yang kau pikirkan!?" teriak Qixuan keras kepada Juan Yu. Namun apa yang dia dapat? Juan Yu justru berlari brutal ke arahnya sambil menghunuskan pedangnya, sikap Juan Yu ini tidak jauh berbeda dari sikap seseorang yang telah kehilangan kewarasannya.


"Makanan! Makanan! Makanan!"


Trraangg!


"Apa yang kau lakukan!? Kenapa kau menyerangku!?" Qixuan menatap tajam Juan Yu yang jarak antara mereka berdua tinggal menyisakan beberapa centimeter saja, senjata mereka berdua saling beradu kekuatan, tidak ada yang mau mengalah dalam situasi tercekik seperti ini. Salah sedikit mereka bergerak maka pedang berkilau milik mereka berdua bisa membelah tubuh salah satu dari mereka.


"Makanan! Makanan!" Juan Yu tidak hentinya mengatakan kalimat itu berulang kali dengan liur dan darah yang bercampur mengucur di pinggir bibirnya. Terlihat seperti binatang buas yang haus akan darah ketika melihat manusia.


"Tsk!" Qixuan berdecak pelan, dia tidak menyangka tenaga Juan Yu dua kali lebih kuat dari biasanya, entah apa yang terjadi pada Juan Yu tapi yang pasti sosok pemuda itu telah kehilangan kendali akan tubuhnya sendiri, "Maaf, kau membuatku harus melakukan hal ini padamu." Qixuan melayang tendangannya tepat di perut Juan Yu begitu kuat sebanyak 4 kali, membuat Juan Yu langsung terpental cukup jauh menabrak pepohonan. Tendangan itu adalah salah satu jurus terkuat yang Qixuan miliki, dan sangat jarang dia keluarkan terkecuali keadaan memaksakan dirinya. Tapi hari ini dia akan menggunakan jurus itu kepada sesama teman seperguruannya, padahal dia pernah berjanji tidak akan menggunakan jurusnya ini kepada sesama teman seperguruannya.


'Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Juan Yu tiba-tiba menyerang kalian?'


Namun meski Juan telah terpental dia tetap saja masih kuat seperti sebelumnya dan kembali menyerang Qixuan terus menerus meski tubuhnya terus terkena serangan dari Qixuan. Seakan Juan Yu tidak merasa serangan itu mampu membunuhnya.


Di sisi lain, Shua Xie sedang sibuk membantu Yue Jian pergi dari tempat pertempuran bersama Yurui. Namun Genji terus saja menyerang secara brutal kepada mereka, membuat Shua Xie geram karena tidak bisa berleluasa melawan Genji selama ia harus menjaga Yue Jian dan Yurui.


"Kau bawalah dia pergi, biar aku yang mengurus orang ini," ucap Shua Xie tegas tanpa mengalihkan pandangannya dari Genji yang juga tengah menatapnya tajam seperti sedang menatap mangsa.


"Tapi-"


"Keberadaan kalian hanya akan mengganggu konsentrasiku! Cepat pergi!" Shua Xie menyela begitu cepat, nada begitu tegas seperti raut wajahnya.


Yue Jian tertegun mendengar ucapan Shua Xie, kata-kata Shua Xie barusan teramat menyinggung perasaannya. Ya, meski dia tahu keberadaannya memang mengganggu, tapi ....


Yue Jian berbalik sembari dia merangkul Yurui, perasaannya berkecamuk, dia juga merasa perkataan Shua Xie ada benarnya, dia tidak berguna dan hanya akan mengganggu konsentrasi Shua Xie selama pertarungan. Akan lebih baik dia membawa Yurui pergi ke tempat yang lebih aman.


"Baiklah, berhati-hatilah, mereka sangat brutal seperti hewan buas," ujar Yue Jian lemah memberi peringatan sekaligus saran, setelah itu dia langsung melangkah meninggalkan Shua Xie.


"Heh, kau tidak perlu mengkhawatirkanku, aku tahu apa yang aku lakukan," balas Shua Xie pelan disertai dengan seringai tipis di wajahnya. Shua Xie meregangkan otot leher dan lengannya, pertarungan kali ini tidaklah sesederhana seperti biasanya, dia tentunya tidak boleh melukai Genji yang berarti dia harus melawan sepuluh kali lebih lembut dari biasanya.


"Hutan sialan! Berani-beraninya mereka membuat kekacauan di dalam kelompok-ku, tidak ... aku rasa aku terlalu berbaik hati pada penghuni hutan ini. Ku pikir mereka tidak akan mengganggu selama kami tidak mengganggu, tapi tampaknya, aku terlalu lembut pada kalian." Shua Xie tersenyum sinis, kakinya berjalan maju mendekati Genji di mana sosok pemuda itu merasa waspada pada dirinya. Bersamaan dengan itu Shua Xie mengaktifkan satu sajak Kutukannya, kekuatan besar pun bergejolak besar, membuat angin di sekitarnya bergerak cepat dan kencang tidak hanya menyapu dedaunan namun juga membuat beberapa pohon di sekitarnya tumbang.

__ADS_1


"Roh-roh jahat seperti kalian harusnya ada di neraka sejak awal, kalau begitu aku tidak akan sungkan mengantar ke peristirahatan terakhir kalian secara bersamaan." Shua Xie mulai menggerakan ke dua tangannya, melakukan pergerakan yang tidak bisa dimengerti, bersamaan dengan pergerakan tangannya terlihat sebuah formasi sihir berwarna ungu mulai terbentuk. Setelah pergerakan terakhir, Shua Xie menutup ke dua matanya, dia harus fokus saat menggunakan teknik sihir ini, sebab salah sedikit nyawanya lah yang menjadi taruhannya.


Shua Xie sudah tahu kalau hutan ini bukanlah hutan biasanya, meski terlihat sepi dan tenang tapi dia bisa merasakan aura jahat dari hutan ini. Shua Xie bisa menyadarinya setelah dia bertarung dengan monster spirit di sungai beberapa waktu yang lalu, Shua Xie tersadar karena kekuatannya yang besar mengintimidasi seluruh hutan ini secara keseluruhan. Shua Xie bisa merasakan ada aura jahat berada di tengah hutan, jaraknya cukup jauh sebab itu juga Shua Xie tetap merasa tenang, tapi setelah melihat dua rekannya telah menjadi korban, Shua Xie tidak bisa menahan gejolak marah di dalam benaknya.


Formasi sihir Shua Xie membesar, membentang cukup luas lalu terbang tinggi ke langit. Di langit malam formasi itu tiba-tiba mengeluarkan cahaya cukup terang, menyilaukan banyak mata yang kebetulan sedang menatap formasi sihir itu. Tepat setelah formasi itu bersinar terang, ribuan rantai berwarna ungu gelap keluar menyerang hutan begitu cepat. Tidak butuh waktu lama terdengar begitu banyak suara jeritan menggema di seluruh hutan.


"Wrooouuuuuu!"


"Aaaarrrrrrr!"


"Aaaakkkkkkk!"


"Kyyaaaakkkk!!"


Suara-suara jeritan itu semakin keras memikkan telinga yang tidak ingin mendengar suara teriakan mereka. Begitupun Qixuan menutup ke dua telinganya begitu kuat, telinganya terasa ingin pecah mendengar suara teriakan yang entah siapa memilikinya, bahkan dia sampai jatuh berlutut di tanah karena tidak kuat mendengar suara teriakan itu. Tidak hanya Qixuan, bahkan yang lain pun melakukan hal yang sama sepertinya, menutup ke dua telinga mereka masing-masing sambil memejamkan matanya.


'Kekuatan ini! Sebenarnya seberapa kuat dirinya itu?' pekik Qixuan dalam hatinya.


***


'Ugh, di mana aku?' Shua Xie meringis pelan ketika ia merasakan seluruh tubuhnya sakit seperti telah dihantam ribuan batu berukuran besar. Shua Xie mengedarkan pandangannya, yang dia lihatnya hanyalah tenda yang kurang cahaya.


'Aku di dalam tenda?' Shua Xie mengerutkan keningnya sembari dia berpikir sejenak apa yang telah terjadi pada dirinya, dan tidak butuh waktu lama dia langsung tersadar dan segera beranjak bangun, membuat Qixuan yang kebetulan tengah tidur dalam posisi duduk di dekatnya terbangun.


"Tidak aku harus mengecek yang lain!"


Shua Xie melirik ke kanan, terkejut mendengar suara menyahuti dirinya. Bisa Shua Xie lihat Qixuan bergerak mendekatinya. Kapan? Itulah yang menjadi pertanyaan Shua Xie di dalam benaknya, kapan Qixuan berada di sampingnya? Dan kenapa dia tidak menyadari keberadaan Qixuan.


"Qixuan, syukurlah kalian tidak apa-apa, ku pikir kalian-"


"Bodoh, lukamu masih belum sembuh total, rebahkan kembali tubuhmu!" Qixuan menyela tegas, tangannya meraih ke dua bahu Shua Xie lalu membaringkan Shua Xie secara pelahan kembali ke matras.


"Apa yang terjadi?" tanya Shua Xie setelah dia kembali berbaring, pandangannya tidak lepas dari Qixuan, menunggu gadis muda itu menjawab pertanyaannya.


"Kau pingsan setelah mengeluarkan jurus aneh, tapi karena jurusmu itu Genji dan Juan Yu kembali seperti semula. Sekarang mereka tengah dirawat di tenda sebelah," jawab Qixuan tenang, dia kembali duduk seperti posisi awalnya.


"Hem, baguslah, berarti aku berhasil mengalahkan roh jahat itu," gumam Shua Xie pelan disertai senyuman tipis lega. Namun beberapa saat kemudian senyuman tipis itu memudar, terganti dengan raut wajah tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Apakah aku pingsan setelah mengalahkan para roh jahat itu?" Shua Xie kembali bertanya setelah beberapa menit dia terdiam.


Qixuan menutup matanya, "Ya, begitulah, tampaknya kau telah menghabiskan cukup banyak Qi, mengeluarkan jurus aneh itu pasti menguras banyak tenaga," balas Qixuan masih dengan nada tenang. Seolah dia tidak mempermasalahkan kejadian yang baru saja terjadi pada dirinya dan kelompoknya.


Shua Xie kembali terdiam, dia mencoba mengingat-ingat sesuatu saat sebelum dia pingsan karena menggunakan jurus formasi sihir memanggil rantai dari alam neraka. Tepat saat Shua Xie menggunakan teknik jurus Iblis itu, Shua Xie merasakan sesuatu terjadi pada tubuhnya, hal itu juga yang membuatnya berakhir seperti sekarang.


"Apakah kau tidak ingin menanyakan sesuatu?" Shua Xie kembali bertanya, pertanyaan ini tidak aneh setelah dia mengeluarkan jurus kuat. Justru aneh jika Qixuan tidak menanyakan satupun tentang kejadian beberapa waktu yang lalu.


Terdengar suara helaan nafas, Qixuan membuka matanya memalingkan pandangannya ke sisi lain, "Sangat banyak namun seseorang telah menjelaskannya padaku," balas Qixuan tenang.

__ADS_1


"Seseorang?"


"Ya, pria tampan berbaju hitam dengan tanda aneh di dahinya. Dia muncul tepat saat kau pingsan, dan dia juga yang menutup jurus yang kau gunakan. Sepertinya seseorang yang cukup mengenal dirimu," jawab Qixuan. Meskipun sebenarnya dia merasa sedikit aneh, ketika Shua Xie berada di ambang batas kekuatannya tiba-tiba saja muncul pria tampan aneh di samping Shua Xie lalu menangkap Shua Xie yang kebetulan jatuh pingsan dalam pelukannya. Kemunculan pria itu, membuat Qixuan dan yang lain terkejut.


"Di mana dia sekarang?" Shua Xie kembali bertanya.


"Dia ada di luar menjaga tenda kita," jawab Qixuan.


Shua Xie langsung beranjak bangun ketika dia mendengar jawaban Qixuan, tentu kalian tahu apa yang akan dia lakukan. Tapi Qixuan langsung menggenggam tangannya begitu kuat membuat langkah Shua Xie terhenti.


"Kau masih terluka, istirahatlah, lagi pula pria itu juga menyuruhku menjagamu," ujar Qixuan tegas sambil dia menatap Shua Xie sedikit tajam.


"Aku sudah sembuh, kau tidak perlu khawatir." Shua Xie melepaskan genggaman Qixuan pada tangannya secara perlahan, "Tidurlah lebih awal, besok akan menjadi hari yang panjang bagi kita," ujarnya lagi disertai senyuman hangatnya. Selepas itu Shua Xie meninggalkan tenda tanpa memedulikan ekspresi yang dikeluarkan Qixuan.


Qixuan terdiam, perkataan Shua Xie barusan memang tidak ada yang spesial tapi, ada makna lain dari ucapan itu. Qixuan mendegus pelan sambil dia menutup kembali matanya.


'Dasar keras kepala!'


Di sisi lain, di waktu yang bersamaan Shua Xie telah keluar dari tenda, pandangannya mengedar ke segala penjuru mencari sesosok yang telah dia dengar dari Qixuan. Dan tepat saat dia menatap ke arah api unggun, Shua Xie menemukan sesosok pria tengah duduk membelakanginya. Dengan langkah tenang Shua Xie mendekati pria itu, namun langkahnya terhenti ketika dia mendengar suara menyeru padanya.


"Sudah ku duga kau akan ke sini, padahal kondisimu tidak prima, dasar keras kepala."


"Kau." Shua Xie mengangkat tangannya, ingin memegang bahu pria itu, tapi tiba-tiba saja pria itu berbalik dan langsung menangkap tangannya. Kecepatan pria itu tidak bisa Shua Xie lihat dengan jelas.


"Apa yang kau lakukan!" pekik Shua Xie kaget karena pria itu tiba-tiba saja menariknya ke dalam pelukannya. Tentu saja Shua Xie terkejut dan langsung merespon.


"Ssstt! Diamlah, aku sedang menghangati tubuhmu yang lemah ini," balas pria itu sembari dia menguatkan pelukannya agar Shua Xie tidak kabur dari dalam pelukannya.


"Bodoh, sikapmu ini hanya akan membuat yang lain salah paham!" balas Shua Xie tegas tapi dia tidak merontah dalam pelukan pria itu, justru Shua Xie mengulum senyum tipis disertai pipinya yang mulai memerah.


"Haih, jika mereka salah paham aku akan menjelaskan siapa diriku bagimu," balas pria itu lagi.


Sejenak terjadi hening antara mereka berdua, Shua Xie larut dalam pelukan hangat pria itu sedang sang pria tersenyum sembari dia menjatuhkan tangannya di puncak kepala Shua Xie.


"Terimakasih."


"Apa?" Shua Xie mengangkat kepalanya, menatap pria yang baru saja mengucapkan satu kalimat padanya. Shua Xie mendengar jelas suara pria itu, hanya saja dia ingin mendengar ulang dan membuktikan apakah dia tidak salah mendengar pria itu baru saja mengucapkan terimakasih padanya. Tidak seperti yang Shua Xie kenal, pria itu biasanya bersikap tinggi dan tidak ingin merendah.


"Aku tidak akan mengulanginya lagi, ku rasa kau telah mendengarnya." Pria itu menepuk pelan kepala Shua Xie, membuat Shua Xie meringis pelan sebab tubuhnya masih belum sembuh sepenuhnya.


"Ugh! Apakah kau ingin membunuhku?" sahut Shua Xie dengan nada kesal.


"Mana mungkin, kau adalah Adik yang berharga bagiku." Pria itu segera menjawab, sekilas wajahnya berubah hangat disertai senyuman tipis yang kembali merekah, "Tapi ... terimakasih telah membantuku." Pria itu kembali berbicara dengan nada lembut.


"Hah, jangan salah paham, aku tidak tahu kalau tindakanku tadi membantumu pulih. Tapi ... aku bersyukur kau bisa mendapatkan kekuatanmu kembali, Phoe," balas Shua Xie pelan.


_____________

__ADS_1


A/N : Phoe setampan apa ya?


__ADS_2