
Semua orang tersenyum sinis ke arah Shua Xie yang kini sudah terikat rantai di seluruh tubuhnya, tidak hanya itu, di lehernya pun sudah dipasang penyangga leher seolah siap melakukan persidangan memengal kepala. Shua Xie tersenyum tipis menatap mereka semua, skenario yang dia siapkan berjalan dengan lancar. Awalnya dia ingin melawan semua petinggi kerajaan Bora, tapi mengetahui hampir mereka semua merupakan Kultivator, Shua Xie mengurung niatnya. Jika dia melawan dia pasti keluar sebagai pemenang, tapi bukan itu yang dia inginkan, dia ingin keluar sebagai pemenang tapi harus membuat mereka semua terkejut padanya. Akhirnya Shua Xie memilih rencana membiarkan dirinya tertangkap meski mendapat beberapa serang telak, tapi untunglah sajak Kutukan melindunginya dari serangan semut seperti mereka. Shua Xie hanya pura-pura terlihat tak berdaya agar mereka semua percaya dengan skenario Shua Xie.
"Lihatlah gadis ini, awalnya dia datang dengan begitu percaya diri, tapi kenyataannya dia sudah berada di ambang kematian."
"Awalnya aku berpikir gadis naif ini sangat kuat sampai berani memberontak di kerajaan Bora, tapi ternyata hanya gadis kecil yang tak tahu aturan. Aku rasa dia kurang mendapat ajaran dari ke dua orang tuanya."
"Benar juga, dia sempat membuatku sedikit takut. Tidak disangka akulah yang terlalu memandang tinggi dirinya."
Berbagai cacian dan makian terus diluncurkan pada Shua Xie. Andai mereka tahu Shua Xie tidak mendengarkan mereka dan justru malah berbincang dengan Phoe di alam batin, kira-kira apa yang dilakukan orang-orang itu? Mungkinkah mereka geram dan langsung membunuh Shua Xie.
Itu pasti terjadi tapi ...
Itu mustahil.
Hanya kata itu yang Shua Xie ungkapkan pada mereka dalam benaknya, mereka pikir rantai yang mengikat Shua Xie mampu membuatnya tertekan? Hanya orang bodoh yang berpikiran seperti itu. Dengan sajak Kutukan, bukan tidak mudah membuat rantai itu putus. Andai Shua Xie tidak ingin bermain skenario terlebih dahulu, sudah pasti dia menghajar mereka satu persatu.
"Heh, bukankah ini terlalu berlebihan? Kau mengerjai mereka semua, tidak kau takut mereka semua kehilangan pekerjaannya di kerajaan ini? Mau bagaimana pun, Xui Sukong paling banyak memegang kekuasaan, menyingkirkan mereka semua bukanlah hal yang sulit." Phoe tidak mengerti kenapa Shua Xie mendadak jahil begini, tidak seperti biasanya yang selalu serius dan berpikir maju.
Shua Xie tersenyum kecil mendengar ucapan Phoe, memang benar seharusnya Shua Xie tidak bertingkah seperti ini mengingat statusnya sangat dijunjung tinggi Xui Sukong. Jika Xui Sukong melihat Ratunya diikat begini, sudah dipastikan Xui Sukong akan mengamuk.
"Usil sedikit seharusnya tidak masalah, lagi pun ini pelajaran buat petinggi kerajaan. Apa mereka tidak memperhatikan warganya? Di alun kota mungkin damai, tapi di sekitarnya mereka menutup mata tidak ada tindakan. Tidakkah kau ingat saat kita berkeliling kota Bora tadi? Melihat begitu banyak hal yang tidak Xui Sukong ketahui karena petinggi kerajaan tidak mengungkitnya, biarkan aku yang memperingati mereka untuk tidak bertindak semena-mena." Shua Xie memasang wajah datar nan dingin, tampak sekali dia tidak senang saat membahas kejadian siang tadi setelah berpisah dengan 3 pria bodoh, dan menyelidiki sedikit tentang kota Bora.
__ADS_1
Saat mereka berpisah, Shua Xie langsung menuju kota Bora melihat situasi sejenak. Mungkin Shua Xie akan mendapat info menarik mengenai pusat dunia Bawah, yaitu tanggapan tentang Pemimpin Besar atas penyerangan pasukan dunia Atas di kota Kekai.
Seharusnya berita penyerangan pada kota Kekai sudah tersebar di seluruh penjuru dunia Bawah mengingat kota Kekai tidak menutupi masalahnya terhadap dunia luar. Apalagi Rong Sui juga memberikan kabar buruk itu pada Pemimpin Besar. Karena Shua Xie lebih cepat meninggalkan kota Kekai, dia pun tidak sempat mendengar balasan dari Pemimpin Besar. Tapi seharusnya balasan dari Pemimpin Besar sudah ada dan tersebar di seluruh penjuru dunia Bawah. Sebagai tanda waspada akan penyerangan selanjutnya yang entah kapan akan terjadi, yang pasti waspada sebelum kemungkinan buruk terjadi tidak masalah bukan?
Alih-alih mendapatkan informasi tentang kota Kekai, Shua Xie justru mendapat kejutan lain. Kota Bora terkenal sebagai kota berjaya ke 2 di dunia Bawah, namun posisi kerajaan di peringkat ke 3. Semua kemakmuran itu berkat kerja keras Xui Sukong sebagai seorang Raja atau Kaisar, tidak hanya dia berkekuatan besar di antara semua pemimpin kerajaan lainnya, dia juga berperan penting tentang memajukan keterpurukan kota Bora yang pernah terjadi saat dia masih awal menjadi Raja. Untunglah berkat pengalaman dari Shujin Xian sebagai Raja kerajaan Langit, Xui Sukong banyak belajar dari Rajanya itu. Tak segan pun Shujin Xian mengajarinya tentang taktik mengatur kerajaan menjadi lebih baik.
Pengalaman Xui Sukong semua dia dapat dari Shujin Xian yang dengan baik hatinya mau mengajari Jenderalnya ini. Dan berkat semua itu, tidak bisa Xui Sukong pungkiri dia telah berjaya menerapkan semua yang Shujin Xian ajarkan padanya.
Namun kedamaian kota Bora tidaklah senyaman yang terlihat, buktinya masih banyak rakyat miskin kelaparan serta butuh perlindungan dari pemasaran budak ilegal. Tidak hanya itu, bahkan beberapa prajurit kerajaan menagih pajak pada rakyat pinggiran kota yang tak seharusnya mendapat pajak, semua itu ulah dari petinggi kerajaan, berpikir kalau Xui Sukong akan menyukai tindakan mereka. Alih-alih malah membuat mereka tidak akan pernah menyandang gelar petinggi kerajaan lagi, hanya saja mereka belum mengatakan semua itu pada Xui Sukong sebab mereka menunggu semua hasil mereka sudah berbuah banyak, dan tiba saatnya mereka akan membuka kedok mereka di hadapan Xui Sukong sebagai hadiah.
Terlebih lagi, banyaknya orang-orang kerajaan menggunakan nama kerajaan dalam bertindak, jika mereka menginginkan sesuatu, yang terjual adalah nama kerajaan. Layaknya Xui Lang bertindak sesuka hati menindas rakyat yang mana seharusnya dia lindungi.
Sebagian besar rakyat kota Bora memang hidup tentram dan bahagia, tapi itu hanya tergolong untuk mereka sang penjilat dan berkedudukan paling tidak cukup untuk melindungi diri. Lalu bagaimana dengan rakyat miskin, anak yatim? Mereka seharusnya menerima perlindungan serta bantuan keuangan dari kerajaan, tapi yang mereka dapat justru sebaliknya. Diperas dan ditindas.
Phoe juga mengakui, di balik nama berjayanya kota Bora, ternyata ada kepahitan bagi orang-orang tak berdaya menghadapi kekejaman keluarga bangsawan. Phoe sebagai Raja di kerajaannya, dia dapat mengerti itu, dia juga bahkan tersadar kenapa selama ini dia tidak memiliki pemikiran seperti Shua Xie.
Terbuka pada kenyataan pahit orang-orang lemah.
Phoe justru dulu hanya mementingkan kemajuan kerajaannya tanpa peduli apakah semua rakyatnya bahagia. Dia dulu hanya berpikir dengan membuat kerajaan berjaya maka rakyatnya pun juga akan ikut berjaya. Tapi nyata dia baru tersadar sekarang. Kekuatannya memang kuat, tapi dia tidak bisa melihat hati semua rakyatnya. Itulah kekurangannya!
"Ternyata Shua telah dewasa, tidak aku sangka kau sangat peduli dengan manusia lain." Phoe tidak bisa memungkiri bahwa dia takjub akan kebaikan hati Shua Xie, walau pun topeng Shua Xie tidak searah dengan kebaikannya.
__ADS_1
Di mata Phoe, Shua Xie hanyalah gadis yang menginginkan kekuatan dan berambisi besar merebut kembali haknya. Tapi di balik sisi itu ternyata masih ada rasa peduli terhadap orang lain yang bahkan tidak ada sangkut pautnya dengannya.
"Kau tidak paham, aku hanya tidak ingin Jenderalku terlihat buruk di mata rakyatnya. Mau bagaimana pun, rakyat yang dia pimpin haruslah bahagia. Kau tahukan, bahagianya seorang pemimpin adalah saat dia melihat pengikutnya bahagia. Tapi itu hanya dikategorikan buat Pemimpin yang bertanggung jawab," balas Shua Xie sambil tersenyum tipis.
Phoe tersenyum mendengar ucapan Shua Xie, 'Tidak salah aku mengakuinya sebagai Pemimpin ras Phoenix. Jika ras lainnya mengetahui bagaimana calon Pemimpin dari segala Pemimpin ini sepertinya sangat memperdulikan sekitar dari pada ambisinya sendiri. Aku yakin mereka pun akan berpikir sama denganku,' ucap Phoe dalam hati penuh rasa takjub.
***
"Kau tahu, apa yang akan kulakukan padamu jika Pamanku menyetujui permintaanku?" tanya Xui Lang diiringi nada arogan.
Shua Xie berdecak sinis dalam hatinya, rasanya dia tidak sabar menjambak rambut bocah di hadapannya. Mendengar betapa arogannya Xui Lang saat Shua Xie tertangkap oleh prajurit kerajaan, membuat Shua Xie sangat tidak sabar melihat reaksi apa yang akan Xui Lang keluarkan nanti jika dia tahu Pamannya itu sangat menjunjung tinggi gadis yang tengah dia tanya ini.
'Ayolah sedikit lagi. Sabarkan dirimu Shua Xie. Bukan Shua Xie namanya jika tidak membuat mereka terkejut hebat akan betapa agungnya dirimu ini di hadapan Raja yang mereka banggakan.'
Semua orang tengah menunggu kedatangan Xui Sukong, setelah berhasil menangkap Shua Xie mereka langsung melaporkan penangkapan mereka pada Xui Sukong. Tidak tahu reaksi bangga apa yang akan Xui Sukong berikan pada mereka sebagai pengikut berbakti, tapi itu hanya harapan mereka. Nyatanya mereka hanya tikus yang tidak punya gigi, tanpa tahu menahu membuat mereka akan tersulitkan sendiri.
Tidak butuh waktu lama, pintu besar berwarna coklat bertabur ukiran dari emas dan perak terbuka lebar, memperlihatkan 5 pria gagah dan 1 wanita cantik. 5 pria itu ialah Xui Sukong, Chen Xui, Jenderal Xiaotian, Penasehat Ming Yun dan prajurit yang dikirim untuk memanggil Xui Sukong beberapa menit yang lalu. Dan 1 wanita yang tak lain ialah Permaisuri atau Ratu kerajaan ini, Sakura Nayunxi.
Dengan langkah sigap mereka mendekati semua orang yang ada di ruangan aula utama itu. Semua orang menunduk memberi hormat akan kedatangan Raja dan Ratu mereka, berserta Pangeran Mahkota.
Xui Sukong tidak mengubris ucapan orang yang memberi salam padanya, dia fokus jalan menuju singgasana yang mana di singgasana itu tengah duduk seorang gadis dengan gaya angkuh. Mungkin semua orang tidak sadar kalau Shua Xie sudah melepaskan dirinya dari rantai saat mereka semua sibuk melihat kedatangan Xui Sukong Raja mereka.
__ADS_1
"Oh, akhirnya datang juga Jenderal Xui. Kau tahu berapa lama aku menunggumu? Membuat Ratumu menunggu tidakkah kau takut aku memenggal kepalamu?" Suara halus nan lembut namun terkesan mengancam dapat semua orang dengar dengan jelas.