
'Tapi, kau juga tidak bisa terlalu percaya diri. Sebenarnya tubuhmu bisa hancur kapan pun, saat kau tidak bisa mengontrol kekuatan sajak Kutukan. Jadi aku sarankan jangan pernah aktifkan sajak Kutukan lagi kecuali kau sudah mampu mengontrolnya. Kekuatan sajak Kutukan sangat besar, belum pernah ada manusia mendapat sajak Kutukan apalagi digunakan ditubuh manusia. Asal kau tahu saja, sajak Kutukan itu bukan sajak sembarangan, bisa jadi suatu saat sajak Kutukan melahap kultivasimu secara perlahan tanpa kau sadar, tapi bisa juga sebaliknya,' jelas Phoe, nada suara begitu serius membuat Shua Xie merinding.
Shua Xie menelan salivanya, mendengar penjelasan terakhir Phoe sedikit membuatnya merinding. Tapi ada satu hal yang mengganjal kepalanya, masih tentang Sajak Kutukan.
"Aku mendapat sajak Kutukan ini tanpa sengaja. Saat itu aku berada dalam labirin, dan tidak sengaja saja aku melihatnya. Tidak terduga juga kalau sajak Kutukan sendiri yang menempel di tubuhku," balas Shua Xie pelan.
Phoe sontak terkejut lagi, tapi dengan cepat dia sembunyikan rasa terkejutnya itu, 'Ternyata begitu ya. Karena sudah terlanjur memberitahu takdirmu, ke depannya aku tidak akan menceritakannya lagi.'
"Apa maksudmu, Phoe? Apa masih ada yang kau sembunyikan tentang sajak Kutukan?"
Phoe tersenyum kecil, kepalanya menggeleng pelan lalu kemudian dia menutup matanya, 'Aku tidak boleh menganggu takdir seseorang, lagi pun aku tidak punya hak mengurusi takdir manusia. Tapi yang jelas, takdirmu itu bukan takdir biasa, jauh di masa depan nanti, kau akan menjadi sosok hebat.'
***
Di hutan tak jauh dari kota Kekai, sekitar 10.000 KM dari kota, ada seorang gadis berjalan menyusurinya. Beberapa menit yang lalu dia melesat sangat cepat meninggalkan kota Kekai menuju hutan tanpa sepengetahuan orang-orang. Sesekali terdengar gadis itu berbincang sendiri tak jelas seakan dia sedang berdua dengan seseorang.
Dari awal dia berjalan, dia tidak berjumpa dengan satu pun monster spirit atau pun hewan spirit. Terheran-heran dia karena tak menemukan satu pun dari mereka. Padahal dia berniat ingin menghabisi monster spirit yang ditemuinya lalu mengambil batu spiritnya.
"Ini aneh, sejak awal aku masuk hutan ini, aku tidak menemukan adanya monster spirit. Padahal dari kabar yang aku dengar, hutan ini adalah hutan kematian sebab banyak monster spirit kuat di hutan ini. Apakah rumor itu palsu?" gumam Shua Xie pelan, terdengar helahan nafasnya beberapa kali sejak dia tidak berjumpa monster spirit. Padahal dia berharap bisa bertarung dengan monster spirit lalu.
"Padahal semua batu spiritku sudah habis. Aku butuh batu spirit mereka. Uangku sudah habis membeli tanaman herbal, pil, bahkan kau menyuruhku membeli bak mandi." Lanjutnya lagi dengan nada kesal, ketika mengingat semua batu spiritnya sudah habis hanya untuk membeli begitu banyak tumbuhan herbal serta pil.
__ADS_1
Sebelum Shua Xie mendatangi hutan ini, dia sempat mengunjungi paviliun penjualan pil dan tanaman obat. Phoe menyuruhnya membeli tanaman dan pil yang dia sebut, karena menuruti Phoe semua uangnya habis tanpa tersisa sepeser pun.
'Aku menyebarkan aura spirit-ku di hutan ini. Tentu saja mereka tidak berani mendekatimu,' balas Phoe.
Bibir Shua Xie berkerut, wajahnya seketika berubah masam, "Ah, sialan kau, Phoe. Kenapa kau menyebarkan aura spirit-mu? Kau tahukan semua uangku telah habis hanya untuk membeli barang-barang kau suruh!"
Shua Xie mendekap ke dua lengannya saat angin berhembus kencang, angin itu membuatnya kedinginan, aneh, padahal bulan ini sedang musim panas.
'Kau akan tahu nanti, kenapa aku menyuruhmu membeli semua itu. Masalah uang kau bisa mengesampingkan itu, kau hanya perlu meningkatkan kultivasimu saat ini. Masalah uang, setelah kau selesai berlatih kau bisa membunuh semua monster spirit di sini!'
"Sebenarnya di mana tempat yang kau maksud itu?" tanya Shua Xie jutek.
'Sebentar lagi akan sampai.'
Semakin lama Shua Xie melangkah ke depan, maka semakin dingin udara di sekitarnya. Shua Xie mendekap ke dua lengannya sambil berusaha menghangati bibirnya yang terasa sudah membeku. Shua Xie menatap ke depan, tidak jauh di depan mereka ada gua es besar, gua itulah yang mengeluarkan aura dingin yang begitu menusuk.
"Hei,hei, jangan katakan di gua itu kau akan melatihku?" ungkap Shua Xie sedikit keras. Shua Xie tidak bisa menebak jika yang dipikirkannya ini benar, maka dia akan menolak mentah-mentah. Di luar gua saja sudah dingin, apalagi di dalamnya?
'Itu adalah gua Es Sejati. Gua itu terbuat dari tekanan aura spirit Kakak Tertua. Dia phoenix Es Sejati. Untuk orang spesial sepertimu sangat bagus berkultivasi di dalamnya, energi Yin di dalam sana juga masih segar, sangat bagus membangunkan tato aura, dan juga menekan kekuatan sajak Kutukan. Masuklah.'
"Tunggu dulu! Apa kau sadar? Di luar saja sudah dingin, apalagi di dalamnya. Bisa mati membeku di sana!" Seusai tebakan Phoe, Shua Xie pasti menolaknya.
__ADS_1
'Menjadi abadi membutuhkan kerja keras, usaha dan tekad yang kuat. Bukankah kau ingin menjadi Dewi Abadi?'
"I-itu, tapi ... ya sudahlah. Aku akan ikuti saranmu." Shua Xie menghela nafas berat. Sebelum dia masuk, terlebih dahulu dia memakai 1 jubah lagi agar mengurangi rasa dingin dari gua itu.
Shua Xie kembali berjalan memasuki gua itu, udara dingin semakin menusuk kulit hingga ke tulangnya. Gua itu benar-benar dingin, Padahal Shua Xie sudah memakai jubah 2 lapis demi menahan dinginnya udara tapi masih tetap saja dingin, bahkan lebih dingin.
Langkah kaki Shua Xie semakin memberat tatkala gua itu semakin mengelurkan udara dingin yang kuat. Bibir Shua Xie berdecak pelan, dia sangat kesal kalau sampai tidak bisa memasuki dasar gua Es Sejati. Ini adalah tantangan besar baginya.
Phoe tersenyum kecil, dia juga dapat merasakan dinginnya gua itu, tapi rasa dingin itu tidak berarti apapun padanya. Sebab dia tahu aura dingin itu adalah aura spirit Kakak Tertua yang sudah mulai memudar baginya.
'Gua ini belum pernah dimasuki manusia. Pantas saja aura Yin di dalam gua ini begitu kuat,' gumam Phoe.
"Oy, Phoe. Apa kau bisa jelaskan kenapa gua ini bisa sedingin ini?" tanya Shua Xie di tengah-tengah perjalanan. Dia sempat mendengar gumaman Phoe tadi.
'Dulu, saat Kakak Tertua menerobos kultivasi dia melakukannya di sini, kebetulan saat itu dia sedang lewat dimensi sebelum dia memberikan pengetahuan ilahinya para Master alkemis di kota Kekai. Karena tekanan auranya sangat kuat, membuat tempat ini kaya akan energi es murni dan energi Yin,' jelas Phoe singkat, Shua Xie membalasnya dengan anggukan seolah dia sudah paham penjelasan Phoe.
Shua Xie melirik kiri dan kanan, kalau diperhatikan dengan jelas dinding es gua begitu bening. Bahkan saking beningnya Shua Xie bisa bercermin di dinding itu, layaknya dia sedang bercermin di depan cermin kaca. Shua Xie menatap wajahnya takjub, tidak lebih tepatnya takjub akan dinding es yang begitu bening.
'Saat burung Agung seperti kami melakukan penerobosan, aura kami akan keluar walau pun kami sudah menekannya. Aku yakin aura di gua ini hanya sepersepuluh aura Kakak Tertua.'
"Oh? Aku masih ada satu pertanyaan. Sebenarnya kalian bertiga berasal dari dunia mana?" tanya Shua Xie sambil terus melangkah ke depan.
__ADS_1
***
Bersambung