Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 180


__ADS_3

Sekejap mata, kerajaan Xuilin sudah diluluh lantakkan para prajurit perang dari dunia Atas. Darah dan mayat berserakan hampir di seluruh tanah kerajaan Xuilin. Dan kebanyakan korban perang berdarah tersebut adalah pria.


Pukulan telak yang didapat ini tidak pernah terjadi sebelumnya, dan ini kali pertamanya kerajaan Xuilin berada di ambang kekokohannya. Tanah kerajaan yang dulunya ramai, sekarang sepi layaknya tak berpenghuni. Bangunan penduduk bahkan tak lagi berdiri kokoh, selain kepulan asap yang terlihat menggumpal di mana-mana.


Tidak jauh dari kerajaan Xuilin. Dua orang pria bersama beberapa pasukan kecil mengamati kondisi kerajaan Xuilin dari kejahuan. Tampak sedikit terkejut melihat kondisi di sana tidak lagi sebaik yang mereka pikirkan. Mereka memang sudah menduga kerajaan Xuilin akan hancur, tapi menyangka akan sehancur ini. Tampaknya prajurit perang dunia Atas memang tak tanggung-tanggung merusak segalanya.


"Sekarang bagaimana?" tanya pemuda berambut biru malam. Dia menatap pemuda yang dia kenal sebagai Kakaknya.


"Cari sisa penduduk yang selamat. Aku yakin sebagian dari mereka sudah melarikan diri," balas pemuda bermata jingga.


"Aku tidak ingin berharap tinggi. Karena aku yakin sebagian yang selamat itu hanya berjumlah beberapa saja," sahut pemuda berambut biru malam.


"Tidak masalah, tugas kita hanya membantu bukan? Ini keinginannya."


Pemuda berambut biru malam itu bergidik bahu, acuh. Lalu dia berbalik menatap satu pasukan yang berjumlah 200 orang. Memang sedikit tapi kekuatan mereka, jangan sesekali meremehkannya. Karena pasukan ini merupakan pasukan elit ke 3 yang di milik kerajaan Pheonix.


"Kalian dengar apa katanya? Cari manusia yang masih selamat. Mungkin saja mereka tengah berlindung di suatu tempat. Dan aku yakin tidak jauh dari kerajaan itu."


"Siap, laksanakan!"


Para pasukan manusia bersayap itu berpencar menjadi 4 pasukan yang pergi ke 4 arah berbeda. Sengaja dipencar agar lebih cepat menemukan titik lokasi persembunyian manusia yang kabur dari penjarahan.


Sekarang tersisalah dua pemuda yang merupakan pemimpin pasukan kecil itu.


"Kau tahu, Tsakuya. Ini kali pertamanya aku membantu manusia," ucap pemuda bermata jingga itu.


Tsakuya, nama pemuda satunya mengangguk pelan. "Aku tahu tanpa perlu kau kasih tahu. Sikap tidak pedulimu pada manusia sudah mendarah daging, siapa yang tidak tahu itu? Tapi, sekarang? Ckckck ... aku yakin jika rakyat kerajaan Pheonix tahu. Mereka akan terkejut sempai mati," balas Tsakuya dengan nada meledek.


Dia tersenyum sinis, entah sedang mentertawai dirinya atau mentertawai perkataan Tsakuya. "Kau benar. Jika bukan karena permintaannya, aku mungkin tidak akan pernah melakukan hal ini."


"Hem. Bagaimana jika kita pergi ke kerajaan kecil itu? Mungkin saja masih ada beberapa manusia yang selamat?" Tsakuya memberi saran. Sedangkan yang dia ajak tampak sedang memikirkan ajakan Adiknya.


"Sepertinya tidak ada salahnya jika kita mengeceknya. Ayo lakukan."


***


"Wiuh ... rusak parah." Tsakuya geleng-geleng kepala melihat kerusakan perumahan warga kota Xuilin benar-benar tidak bisa diperbaiki. Setelah menginjakkan kaki ke tanah kota tak berpenghuni ini, yang mereka lihat hanya kerusakan parah akibat penjarahan tak berperasaan.


"Kau banyak bicara dari pada biasanya. Apa kau sadar itu?" sahut Zusami mulai terganggu dengan ocehan Tsakuya yang terus berkomentar. Kenyataannya, Tsakuya memang lebih banyak bicara dari pada biasanya yang selalu irit kata. Bahkan dulu Zusami sampai berpikir bahwa Tsakuya itu gagap dalam berbicara sejak lahir.


"Kau saja bisa berubah, kenapa aku tidak?" balas Tsakuya enteng dengan lirikan mata sekilas. Balasan telak itu membuat Zusami terdiam setelah mendengus kesal.


Mereka berdua terus berjalan santai, melewati setiap bangun yang tak lagi kokoh. Seperti biasa Tsakuya terus saja meracau, entah itu mengatakan kerusakan yang ia lihat atau beberapa mayat manusia yang berserakan di tanah dengan kondisi tak lagi utuh. Penjarahan prajurit perang dunia Atas benar-benar dahsyat, padahal mereka tak perlu sesadis itu pada manusia biasa yang bukan Kultivator. Menurut Tsakuya mereka terlalu buang-buang tenaga.

__ADS_1


"Eemm ...."


"Hei! Masih ada yang hidup! Masih ada yang hidup!" Tsakuya berseru keras antara senang dan tak percaya masih ada manusia hidup di tengah kekacauan parah ini. Sementara Zusami mendelikkan matanya melihat sikap Tsakuya yang teramat berlebihan--seperti bocah yang baru pertama kali melihat hal baru.


"Dari pada kau menjerit seperti bocah bodoh, lebih baik kau menyembuhkan dirinya," balas Zusami sinis sembari mendekati seorang manusia yang tampak tengah memanggilnya.


"Heh, bocah aku salut melihatmu masih bisa bernafas." Zusami berjongkok di depan seorang bocah laki-laki. Dilihat dari badannya, usia bocah itu berkisaran 12 tahunan.


"U-u-u ...." Bocah itu ingin berbicara, tapi seluruh tubuhnya terasa sangat sakit bahkan jika hanya untuk mengungkapan beberapa kata. Tsakuya mendekati bocah itu lalu memegang kepalanya.


"Diamlah bocah, lukamu sangat parah. Jika kau berbicara lagi, percayalah lima pembuluh darahmu akan pecah," tegur Tsakuya. Bocah itu menurut, tak lagi berbicara selain memandang dua pria dewasa di depannya.


"Bagaimana?" Tsakuya bertanya.


"Apa?" Zusami tak paham apa maksud pertanyaan Tsakuya.


"Maksudku apa kita harus menolong bocah ini?" Tsakuya menjelaskan.


"Terserah, karena aku tidak peduli. Mati atau hidupnya bocah ini tidak ada hubungannya denganku." Zusami membalas acuh.


"Ucapanmu menyakitkan sekali untuk bocah seusianya. Cobalah untuk bersikap ramah. Ketahuilah kalau dia menyukai pria yang lemah lembut." Tsakuya menimpali sinis. Dia merangkul bocah itu secara perlahan, kemudian melenggang pergi tanpa memedulikan racauan Zusami di belakang.


"Dia siapa yang kau maksud, hah?! Tutup mulutmu itu sebelum aku yang membuatnya tidak bisa berbicara untuk selamanya!!"


"Kau dengar tidak?!"


"Yayaya ... apa kau mau terus meracau seperti orang gila di sana?! Aku pikir kau juga lebih baik diam seperti dulu dari pada seperti sekarang!" balas Tsakuya tak kalah keras.


***


"Kami sudah menemukan lokasi yang diduga persembunyian para manusia. Mereka bersembunyi di gua yang tak jauh dari sini." Seorang prajurit yang sebelum pergi mencari keberadaan para penduduk kerajaan Xuilin yang masih selamat, telah datang membawa kabar.


"Gua tersebut ada di timur kerajaan Xuilin. Berjarak sekitar dua mil." Lanjutnya prajurit itu lagi.


Zusami mengangguk pelan. "Bagus, kita akan pergi ke sana setelah urusan Tsakuya selesai. Sekarang kalian beristirahatlah dulu." Prajurit itu mengangguk pelan lalu pergi setelah mendapat perintah selanjutnya.


Zusami berbalik dan menghampiri Tsakuya yang telah usai mengobati kondisi bocah yang mereka selamatkan, ralat, Tsakuya yang menyelamatkannya. Tampaknya bocah itu sudah bisa bergerak dan berbicara lebih leluasa tanpa harus menahan rasa sakit yang luar biasa menyakitkan. Tak salah, yang merawatnya adalah alkimia atau dokter terhebat di dunia Surgawi.


"Nah, bocah. Bisakah kau jelaskan kenapa kau masih selamat?" Zusami bertanya sarkatis membuatnya mendapat sikutan di betisnya.


"Apa? Aku hanya bertanya." Zusami menatap Tsakuya sok polos, padahal dia tahu perkataannya tadi mungkin sedikit kasar untuk bocah kecil.


"Bersikaplah ramah sedikit. Dia masih kecil," tegur Tsakuya tajam. Tsakuya memang sangat menyukai anak kecil, tak jarang dia selalu bertingkah ramah dan baik hati di depan anak kecil. Padahal aslinya ... Zusami yakin semua anak itu akan menjauhi Tsakuya jika tahu sisi lain Tsakuya.

__ADS_1


"Jangan pedulikan apa yang dia bicarakan." Tsakuya menepuk pelan pundak bocah di depannya, dan bocah itu hanya mengangguk. "Nah, sekarang ceritakanlah padaku apa yang terjadi hingga kau terluka begini?" Tsakuya Bertanya dengan nada seramah mungkin.


"Sebelum itu biarkan aku memperkenalkan diriku." Bocah itu menyetuh dada kirinya. Bersikap seperti anak bangsawan ketika memberi hormat formal. Dia lakukan kepada Tsakuya karena Tsakuya telah menolongnya. "Aku, Minghao. Aku berniat menghalang para prajurit perang dunia Atas dari rakyat yang mereka tindas. Tapi, mereka terlalu banyak."


Bocah bernama Minghao itu pun menceritakan kejadian yang menimpanya begitu serius. Sedangkan Tsakuya dan Zusami mendengarkannya antusias. Minghao berkata para prajurit perang dunia Atas terlalu banyak, apalagi mereka menyerang tanpa pandang bulu, siapa yang menghalangi akan dibunuh tanpa ampun. Minghao membuat para tawanan yang ditangkap prajurit perang dunia Atas kabur bersama dua adiknya. Khawatir para prajurit itu mendapat mereka, Minghao pun mengorbankan dirinya menghalang para prajurit. Sementara dia meminta dua adiknya untuk membawa pergi para rakyat.


Singkatnya, begitu.


Tsakuya terdiam, Mungkin sedang memikirkan sesuatu. Sementara Zusami hanya manggut-manggut seolah mengerti.


"Jadi kau ini Kultivator, ya?" tanya Zusami yang membuat Minghao terbungkam. Dilihat dari reaksinya pun sudah diduga tebakan Zusami benar.


"Aku rasa juga seperti itu. Kau memiliki Qi besar, dantian serta meredian semua telah terbuka, tak seharusnya bocah sepertimu bisa melakukannya." Tsakuya ikut menambahkan. Sebagai seseorang yang telah memeriksa kondisi Minghao, dia pun tahu jika Minghao seorang Kultivator. Hanya saja yang Tsakuya tak bisa percaya ialah potensi Minghao yang sangat tinggi, tidak sesuai dengan umurnya yang terbilang masi sangat-sangat muda.


Minghao tak sepandai Jiazhen sehingga dia tidak bisa menutupi respon alaminya ketika dicurigai. Dia pun dengan ragu mengangguk dan membalas, "Ya, aku memang seorang Kultivator."


Tsakuya mengeluh pasrah, takjub dengan bakat Minghao yang luar biasa baginya. Sementara Zusami memicingkan pandangannya pada Minghao. Dia mencurigai sesuatu.


"Tidak ada Kultivator di dunia Tengah. Jadi kau pasti bukan penduduk asli dunia ini, benar begitu bukan?" Zusami menyeringai tipis yang mungkin lebih terkesan semakin mencurigai.


Minghao bukan tipe pemuda berbohong saat ditanya, lagi pun dia tidak pandai berbohong seperti Yihua dan Jiazhen. Jadi jangan heran jika terkadang melihat Minghao sosok yang terlalu jujur tanpa memikirkan resiko dari ucapannya. Dia manusia yang selalu berpikiran positif dan sangat jarang berprasangka buruk pada seseorang. (Jarang bukan berarti tidak pernah). Tapi, bukan berarti juga Minghao tak pernah khawatir saat berbicara, apalagi mengenai sesuatu yang memang seharusnya dirahasiakan.


"Aku dari dunia Atas," jawab Minghao ragu.


"Ah, dunia Atas." Tsakuya mengangguk pelan, paham. Namun, beberapa detik kemudian ia menjerit seperti orang kesetanan. "APA?! DUNIA ATAS?!"


Zusami menepuk dahinya, pasrah. Malu melihat sikap Tsakuya yang tak lagi tenang seperti dulu. Sekarang terlihat seperti orang awam yang baru saja keluar dari dunia primitifnya.


"Oy! Reaksimu berlebihan sekali." Zusami menimpali. Lalu beralih pada Minghao. "Nah, bocah. Apa kau tidak sedang berbohong? Kau dari dunia Atas? Ck, kau pikir kami ini bodoh?" Zusami tak mempercayai ucapan Minghao. Jelas mana mungkin seorang bocah dari dunia Atas benar-benar ada di dunia Tengah. Kalau pun ada, tak mungkin juga mereka membantu dunia Tengah selamat dari penjarahan dunia Atas yang merupakan misi utama mereka.


"A-aku tidak berbohong." Minghao membantah. "Aku dan dua adikku memang dari dunia Atas. Kami diperintahkan menjaga Ibu kami yang ada di dunia Tengah." Minghao menjelaskan seserius mungkin. Tapi, di mata Zusami semua perkataan Minghao itu bohong!


Titik gak pake koma!


"Jadi Ibu kalian berasal dari dunia Tengah, sementara Ayah kalian berasal dari dunia Atas. Begitu bukan?" Tsakuya menerka. Minghao mengangguk, iya.


"Ah, aku paham. Jadi ini kisah cinta yang ironis, ketika dua insan tak bisa bersama karena perbedaan dunia? Ckckck, miris sekali kisah cinta orang tuamu." Tsakuya menggeleng pelan, bukannya merasa kasihan pada kisah cinta ke dua orang tua Minghao. Ia justru ingin tertawa meledak lalu berkata 'Manusia memang aneh, ya!'


"Eer ... aku tak bisa beranggapan seperti itu." Minghao berucap pelan, sangat pelan, nyaris tak ada suara.


"Oke, bagaimana jika kita pergi menemui Ibumu?"


"Sepertinya tidak bisa."

__ADS_1


"Kenapa tidak bisa?"


"Ibu tidak ditemukan. Firasatku mengatakan kalau Ibu sudah tertangkap."


__ADS_2