Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 102


__ADS_3

Kedatangan Kopral Fengying bersama para pasukannya membawa seorang gadis yang diikat dengan tali menarik banyak perhatian para warga sekitar. Mereka semua tahu Kopral Fengying adalah Kopral kerajaan yang paling terus terang kalau sedang menghukum penjahat, tidak hanya itu, dia juga terkenal paling percaya diri dan selalu bersikap sok kalem.


Wajah Fengying memang tidak terlalu buruk, memiliki alis tebal, bibir tipis, hidung mancung dan sorot mata yang hangat, apalagi Fengying tidak pernah bermain wanita. Dia memang memiliki sikap kurang baik mudah mengikuti apa yang disarankan padanya, tapi soal kepercayaan, Fengying sangat bisa dipercaya, kekuatannya pun juga bisa diandalkan. Sebenarnya dia pergi ke desa Kayu Manis atas saran Pejabat Perekonomian, Kaili. Yang secara langsung dititahkan oleh Kaisar padanya. Sebab Pejabat Kaili mengatakan kalau desa Kayu Manis sangat subur dan banyak menghasilkan hasil ladang.


Fengying menunggang kudanya dengan kalem, ingin terlihat tampil keren di hadapan banyak orang memang sudah menjadi kebiasaan dari kecil. Fengying anak yatim piatu, keponakan Kaisar Feng Kim dan sudah termasuk sepupuh Shua Xie. Dari kecil Fengying besar di istana kecil yang ada di barat perbatasan, bersama Pamannya menjaga perbatasan dari musuh. Di umur 18 tahun, Fengying kembali ke ibu kota sebab diangkat sebagai Kopral yang berkerja langsung di bawah kerajaan inti. Kaisar memberikannya posisi Kopral di kerajaan Xuilin sebagai bentuk rasa hormat akan pengabdian orang tuanya pernah berjasa, dan juga atas perjuangan serta keberhasilan Fengying.


Karena sudah terlatih sejak kecil oleh pamannya, ketangkasan dan kegesitannya saat bertarung tidak lagi diragukan. Banyak nyawa berakhir di ujung pedangnya, sebab itu dia lebih terkenal daripada Jenderal atau pejabat lainnya. Walau memiliki sikap kurang baik? Tapi percaya saja, dia bisa menjadi anjing paling setia pada majikan.


Shua Xie terus menengok kiri dan kanan tak berhenti, entah kenapa suasana hatinya menjadi sangat senang saat melihat kota Xuilin. Shua Xie ingat terakhir kali dia melihat kota ini, hanya sekali dan saat itu dia bertemu dengan Ogher. Berbicara tentang Ogher, Shua Xie jadi penasaran apakah Ogher sudah melatih Chi Su dengan baik atau tidak?


Dipenghujung pengamatannya, Shua Xie bisa melihat ke sisi gang yang sempit begitu banyak anak kecil bernaung di sana, ada yang sedang tidur dan ada pula yang sedang makan di tanah kotor. Gang sempit itu tidak hanya kotor tapi juga mengeluarkan bau yang tidak sedap, Shua Xie saja sampai sesak menciumnya walau jaraknya dari gang itu cukup jauh. Tapi ketajaman hidung Shua Xie mengendus bau, sangatlah kuat.


Shua Xie meringis dalam hati, dia mengalihkan pandangannya sebab tak sanggup melihat gang sempit itu yang banyak dihuni anak kecil. Bukannya Shua Xie tidak peduli, tapi dia tidak sanggup melihat mereka lama-lama, bisa-bisa api kemarahannya meledak dan menghajar semua pasukan yang menjaganya. Shua Xie ingat, walau pun dia hanya sekali saja berjalan di kota ini, tapi ingatannya tentang struktur kota ini masih sangat segar seakan baru kemarin dia mengelilingi kota Xuilin. Dan seingat Shua Xie, gang sempit itu tidak pernah dihuni oleh anak kecil gelandangan.


Apa yang terjadi dengan kota ini selama Shua Xie pergi?


Saat Shua Xie memalingkan wajahnya, tiba-tiba saja terdengar suara teriakan keras dari salah satu ruko kecil. Bersamaan dengan teriakan itu, seorang bocah kecil lari keluar dari dalam ruko itu sambil membawa satu kotak kecil berwarna coklat, bocah laki-laki itu berlari sangat cepat meninggalkan ruko, dan bersamaan dengan itu seorang pria berbadan kurus menyusul keluar dari ruko dengan membawa sebatang balok kecil.


Pria kurus itu berteriak keras, "Pencuri obat! Kembali kau bocah sialan!" Kemudian dia berlari mengejar bocah tersebut.


Saat bocah itu berlari melewati para pasukan Fengying tanpa menoleh sedikit pun, seakan tak sadar ada prajurit kerajaan sedang melintasi jalan besar. Fengying yang berada di atas kuda, menarik pedangnya bersama dengan sarungnya. Lalu membentangkan pedangnya itu tepat di depan bocah kecil itu.


Karena terlalu cepat berlari, bocah itu tidak sempat menghindari pedang Fengying dan langsung menabraknya. Spontan bocah itu jatuh ke tanah saat bertabrakan dengan pedang Fengying. Melihat bocah itu terjatuh, Fengying turun dari kudanya lalu menghampiri bocah tersebut.


Bersamaan dengan pria kurus yang membawa balok kecil datang dengan nafas tidak teratur. Pria kurus itu berniat memukuli bocah tersebut dengan balok miliknya sebab berani mencuri persediaan obatnya. Namun saat dia hendak melayangkan baloknya itu, sebuah tangan menghalang balok itu. Pria kurus itu cukup terkejut saat baloknya tertahan, dan lebih mengejutkannya lagi yang menahan balok itu adalah Fengying sendiri.


Fengying menahan balok itu dengan punggung lengannya, dia menatap tajam ke arah pria kurus itu lalu menyingkirkan balok itu dari punggung lengannya dengan cara melemparnya.


Di saat bersamaan juga, si bocah kecil sadar ada peluang untuk lari, melihat balok itu tidak jadi mendarat di tubuhnya. Bocah itu pun kembali berdiri kemudian bergegas berlari sekuat mungkin meninggalkan Fengying dan pria kurus itu.


Namun lagi-lagi dia terjatuh saat sebuah kaki menjegal kakinya dan dia terjatuh lagi di tanah. Seorang gadis yang masih terikat tali mendekati bocah itu lalu mengangkat kera baju bocah itu, hingga bocah itu kembali berdiri. Ah, sudah tidak asing lagi siapa gadis yang terikat tali, ya sudah pasti adalah Shua Xie.


Shua Xie menyeret anak itu ke hadapan Fengying dan pria kurus di samping Fengying. Ke dua sosok pria itu cukup terkejut melihat seorang gadis dapat menjegal kaki bocah itu dengan mudahnya.


Shua Xie berhenti tepat di depan dua sosok itu sambil menarik kera baju bocah itu hingga bocah itu berdiri tepat di sampingnya. Walau pun saat ini dia sedang terikat tali, tapi sejujurnya tali itu tidak akan sanggup menghentikannya. Shua Xie hanya ingin terlihat pura-pura lemah sebelum memainkan mereka.


"Bocah, cepat berterima kasih padanya. Dia sudah menolongmu dari maut, apakah kau tidak tahu terimakasih?" ucap Shua Xie dengan nada datar.


Fengying sadar yang dimaksud Shua Xie adalah dia, Shua Xie meminta bocah itu berterimakasih pada Fengying karena telah menolong bocah itu dari balok yang hampir saja melukai bocah itu.


Tapi bocah itu, bukannya menuruti perintah Shua Xie, dia justru memarahi Shua Xie, "Kalian! Kalian tahu apa tentang kami yang miskin! Buat apa aku berterimakasih pada pejabat yang bahkan tidak bisa membantu kami kaum miskin? Buat apa kerajaan ini berdiri kalau tidak bisa memberikan pada kami keadilan sebagai rakyat lemah. Cuih ... bahkan bila aku mati sekali pun. Aku tidak akan pernah berterimakasih pada pejabat kerajaan, bahkan jika itu Ka-"


"Bocah! Jangan ucapanmu!" Shua Xie memotong ucapan bocah itu tegas, bukan tidak peduli akan suara bocah itu, tapi dia lebih peduli akan nyawa bocah itu. Di dunia Tengah terkenal akan kekejaman Kekaisaran, di mana jika salah sedikit berbuat nyawa bisa melayang, apalagi jika tidak memiliki kekuatan untuk melindungi diri. Terlebih lagi bocah itu hampir saja merendahkan Kaisar, bisa habis nyawa bocah itu kalau berbicara sembarangan.


Shua Xie hanya tidak tega, anak kecil sepertinya mati cepat hanya karena kekejaman dunia. Shua Xie tidak akan sungkan menolong yang lemah, tapi tidak akan pernah peduli menolong orang yang salah. Shua Xie bisa menilai sendiri yang mana patut ditolong dan yang mana patut dibiarkan.

__ADS_1


Bocah itu cukup terkejut saat mendengar bentakan keras memotong ucapannya. Tidak hanya dia, Fengying dan lainnya pun sama terkejutnya, tidak pernah menyangka gadis manis itu akan berkata cukup kuat dan kasar.


"Kau! Berani menghina para pejabat, apakah kau sudah tidak sayang nyawa?" Fengying mengangkat suara, sangat marah saat mendengar bocah itu mengatai para pejabat.


"Benar! Sudah mencuri, tapi malah menyalahkan para pejabat! Apa orang tuamu tidak mengajarkan sopan santun?" Pria kurus di samping Fengying ikut menambahkan, ingin terlihat sebagai pendukung di hadapan Fengying selaku Kopral kerajaan.


Bocah itu berniat membalas ucapan Fengying, namun tangan Shua Xie langsung mencekat kera baju bocah itu, membuat leher bocah itu juga tercekat. Bocah itu membulatkan matanya menatap ke arah Shua Xie, tidak percaya gadis secantik itu memiliki kekuatan lumayan kuat.


'Cepat berterimakasih, setelah itu aku akan melepaskanmu,' ucap Shua Xie lewat telepati membuat bocah itu semakin membulatkan matanya. Dia menatap Shua Xie dengan banyak macam eksepsi. Bocah itu sangat kenal suara itu, suara yang sama dengan suara seperti kakak gadis di sampingnya.


'Cepat! Jangan banyak diam. Atau aku akan memberimu pada dua pria itu.' Sekali lagi Shua Xie berbicara lewat telepati masih tanpa menoleh ke arah bocah itu, pandangan Shua Xie tertuju ke depan menatap pria kurus dan Fengying. Seolah dia tidak sedang berbicara lewat telepati.


Sadar kalau Kakak gadis di sampingnya berniat menolongnya, bukan untuk menangkapnya. Bocah itu langsung membungkuk sambil berteriak keras, "Aku berterimakasih pada Kopral Fengying!"


Mendengar bocah itu berterimakasih secara mendadak, Fengying dan lainnya terkejut. Ada apa dengan bocah itu? Kenapa dia tiba-tiba saja berterimakasih? Bukankah sebelumnya dia menghina para pejabat, tapi sekarang justru berterimakasih, pikir Fengying. Dia tidak mengerti apa yang terjadi dengan bocah itu, sehingga berubah secepat itu.


Di sisi lain, Shua Xie tersenyum tipis mendengar ucapan bocah itu. Tanpa berbicara lagi, dia melepaskan genggaman di kera baju bocah itu lalu menyuruhnya pergi lewat telepati. Bocah itu langsung menuruti perintah Shua Xie, berlari sangat cepat meninggalkan Shua Xie dan lainnya.


Fengying dan pria kurus itu terkejut melihat bocah itu telah kabur dari genggaman Shua Xie.


"Kenapa kau melepaskannya?" tanya Fengying dengan nada tidak suka.


"Dia mencuri persedian obatku! Bocah itu harus dihukum sesuai dengan hukuman yang ada!" sahut pria kurus keras, sangat tidak terima obat persediaannya hilang begitu saja.


Pria kurus yang menerima koin emas pemberian Shua Xie menangkapnya gelagapan. Tidak pernah dia memegang koin emas selama ini hanya karena sekotak obat. Pria itu awalnya cukup terkejut melihat uang koin tiba-tiba saja muncul di tangan gadis itu setelah gadis itu mengibas tangannya, dia bahkan berpikir kalau gadis itu adalah seorang penyihir.


"Yayaya ... ini sudah cukup." Pria kurus itu menganggukkan kepalanya banyak kali mengiyakan ucapan Shua Xie.


"Kalau begitu pergilah!" balas Shua Xie. Setelah berucap demikian pria kurus itu langsung pergi terburu-buru dengan wajah gembira meninggalkan Shua Xie.


Fengying menghampiri Shua Xie, sejak tadi dia tidak suka sikap gadis itu begitu semana-mena seakan semua masalah telah diatasi dengan baik. Ya walaupun semua sudah diatasi tanpa ada kekerasan, tapi kesalahan Shua Xie adalah membiarkan bocah itu pergi. Padahal bocah itu sudah melanggar hukum yang ada, mencuri dan menghina para pejabat, bocah itu harus menerima hukuman sebagai bentuk hukum yang ada di ada kerajaan Xuilin. Membiarkan satu orang pergi setelah melakukan kejahatan tanpa menerima hukuman, akan membuat penjahat itu tidak akan jera melakukan kejahatan lagi.


Tapi di sisi lain, Fengying juga cukup terkejut Shua Xie bisa mengeluarkan koin emas entah dari mana seperti sedang melakukan trik sulap. Namun Fengying tidak berpikir lebih, dia hanya menganggap Shua Xie memiliki keterampilan tangan yang cepat.


"Nona, Kau adalah penjahat di sini. Dan kau membuat penjahat lainnya bebas, apa kau ingin menanggung kejahatan bocah itu?"


Shua Xie menghela nafas pelan, "Terserah, tapi kau harusnya sadar. Apa yang diucapkan bocah itu ada benarnya, bagaimana jika seluruh penduduk kota ini melakukan unjuk rasa atas ketidak adilan bagi kaum miskin dan lemah, apakah kalian para pejabat bisa menghentikan mereka? Kalian harus tahu, orang yang banyak berdiam bisa jadi lebih berbahaya daripada seekor singa. Apalagi jika mereka bergabung membentuk sekutu melawan kerajaan ini. Mereka sanggup meratakan kerajaan kecil ini."


***


Shua Xie tiba di kerajaan Xuilin, kerajaan yang masih dia sangat ingat. Walau pun Shua Xie hanya sekali saja berkunjung di kerajaan ini saat kedatangan 4 tamu besar dari negara besar, dan di tempat ini juga dia bertemu dengan para saudari kejamnya itu. 


'Ah ... berbicara tentang saudari kejam. Kira-kira apa kabar mereka saat ini? Apakah mereka bahagia menikah karena perjodohan.' Shua Xie tersenyum meledek, meledek betapa bodohnya mereka, demi tahta dan kekuasaan mereka rela menjual kebebasan mereka. Hanya satu kata yang Shua Xie bisa ucapkan.


Bodoh!

__ADS_1


Di saat bersamaan juga, seorang gadis muncul dari sisi lain. Gadis itu berpakain anggun, dikhawal dengan banyak pelayan di belakangnya. Gadis anggun itu berjalan menuju aula utama, namun sebelum itu, dia melihat Fengying kakak sepupunya telah tiba. Sontak gadis itu melebarkan senyumannya, lalu mempercepat jalannya ke arah Fengying. Kebetulan juga Fengying berniat masuk ke aula utama.


"Kakak sepupu!" panggil gadis itu.


Fengying mengalihkan pandangannya saat mendengar ada suara memanggil. Pandangan Fengying tertuju pada sosok gadis anggun bersama para pelayannya.


"Hormat Putri Mahkota." Fengying langsung memberi hormat pada gadis itu, ketika tahu suara yang menyapanya tak lain ialah putri mahkota. Tidak hanya Fengying saja memberi hormat, tapi para prajuritnya pun juga melakukan hal sama seperti pemimpin mereka.


Tapi berbeda dengan Shua Xie, dia hanya mengulum senyum sinis. Tidak menyangka posisi putri mahkota sudah dimiliki saudarinya itu.


"Kakak sepupu, tidak perlu sungkan. Kita adalah keluarga." Gadis itu tersenyum manis, sangat manis, seolah memberitahukan pada semua orang bahwa dia adalah gadis manis berhati baik. Pandangan gadis itu menyapu para prajurit Fengying, saat itu juga pandangannya langsung tertuju pada gadis cantik yang tersenyum ke arahnya.


Gadis itu sungguh terkejut saat melihat betapa cantiknya gadis yang terikat tali itu, apalagi saat dia mengumbar senyum padanya. Dia jadi merasa iri hati melihat kecantikan gadis bak Dewi itu. Dia kembali mengalihkan pandangannya ke arah Fengying dengan tatapan tidak suka.


"Kakak sepupu, siapa gadis itu?" tanyanya dengan nada ketus.


Fengying melirik ke arah Shua Xie, lalu kembali melirik ke arah gadis di depannya, "Dia mengakui dirinya sebagai Putri Shua Xie. Apa kau mengenalnya?" tanya Fengying.


Gadis itu mengejutkan keningnya, sungguh tidak menduga gadis cantik itu mengaku sebagai Shua Xie saudari tiri yang sangat dia benci, "Tidak! Dia tidak mirip dengan Saudari Shua Xie!" balas gadis itu tegas.


Gadis itu melangkah mendekati Shua Xie sambil menatapnya tajam, "Kau! Apakah kau tahu! Yang Mulia Kaisar sangat marah jika mengetahui ada yang mengaku sebagai saudariku?" ucapnya sinis penuh penekanan.


Shua Xie masih tersenyum, tidak membalas ucapan gadis di depannya. Sungguh Shua Xie sangat rindu cerca maki dari saudarinya ini.


Melihat gadis cantik itu hanya tersenyum, dia mengepalkan tangannya geram, "Kau! Masih berani tersenyum! Cepat bersujud padaku! Aku ini adalah Putri Mahkota!" pekiknya kesal, sangat kesal melihat kecantikan dan ketenangan gadis itu.


Fengying masih dia menyaksikan kemarahan Putri Mahkota. Tapi saat melihat Shua Xie tidak bergerak sama sekali, dia menjadi khawatir.


"Putri Mahkota, sebaiknya anda tidak perlu meladeninya. Biar Kaisar saja yang memberikan hukuman pantas padanya," sahut Fengying.


Mendengar Fengying bersuara, gadis anggun itu mengerucutkan bibirnya. Apakah Fengying membela gadis itu? Pikirnya.


"Kami harus segera melapor pada Kaisar, kami mohon pamit Putri." Fengying memberi hormat diikuti dengan para prajuritnya. Fengying sangat tidak ingin berlama-lama bersama Putri Mahkota. Tugasnya sekarang sangatlah penting. Setelah memberi hormat, Fengying kembali berjalan masuk ke dalam diikuti dengan para prajuritnya.


Shua Xie melewati Putri Mahkota masih dengan tersenyum. Namun senyumannya itu bukan senyuman sapa, tapi senyuman meledek. Sebelum Shua Xie benar-benar meninggalkan saudari tirinya itu, dia mengirim pesan suara lewat telepati.


'Wang Xinian, jangan pikir aku melepaskanmu.'


_______________


**A/N : Waduh Shua Xie ngancam! ternyata posisi Putri Mahkota telah dimiliki Wang Xinian. Ah, bagaimana kelanjutannya lagi, penasaran gak? Sama aku juga penasaran.


gaes bab ini masih bisa aku katakan awal mula pengenalan kerajaan Xuilin karena sebelumnya Shua Xie meninggalkan kerajaan ini demi menjadi kuat. Dan tiba sudah saatnya, dia kembali. Di bab inilah kalian akan mengenal semua tokoh kerajaan Xuilin, dan dunia Tengah. di sini juga, akan banyak muncul perjuangan besar Shua Xie. hihihi ikutin aja sampai habis ya :)


Gaes jangan lupa beri like ya 🙂 jangan pelit2 lah, makin banyak like saya jadi makin semangat. Vote juga ya, dukung cerita aku masuk peringkat besar 😅 gak ngarep sih bisa masuk 50 besar, tapi kalau bisa saya senang juga. gaes perjalanan Shua Xie masih sangat panjang, bahkan dia belum mendatangi 9 dunia berbeda. aku gak tahu berapa banyak bab cerita ini akan habiskan, bisa jadi 400 atau 500. intinya aku hanya minta dukungan kalian 💖😘**

__ADS_1


__ADS_2