
Setelah tubuh Mo Lang hancur tak berbentuk barulah Shua Xie berhenti mencabik tubuhnya. Mereka sebagian warga kota Kekai yang tinggal tidak jauh di wilayah kediaman klan Mo menyaksikan pembunuhan sadis hanya bisa menahan nafas mereka sambil bergetar, adapun manusia biasa langsung pingsan melihat kejadian itu. Sedang Tang Shan hanya membulatkan mata penuh keterkejutan sambil ke dua tangannya memeluk dan menutup mata sang adik.
Shua Xie terdiam di depan mayat tak utuh itu, kemudian matanya tertuju pada dinding formasi, lebih tetapnya menatap para penonton yang menyaksikan aksinya.
"Hehehe, bunuh semua," gumam Shua Xie pelan sambil tersenyum penuh makna di balik topengnya.
"Mo-monster itu melihat ke arah kita! Lari selamatkan diri!" teriak penonton ketika Shua Xie menatap mereka semua, tatapan itu membuat mereka merasakan bahaya besar. Mereka pun yang menonton langsung lari secepat dan sejauh mungkin, begitu pun dengan Tang Shan yang langsung menarik tangan Tang Rouyue menjauh dari kediaman klan Mo.
Baru tiga langkah Shua Xie berjalan menuju dinding Formasi tiba-tiba ada yang menyerangnya dari belakang. Tapi serangan itu tidak berefek apapun pada Shua Xie. Ketika Shua Xie melihat ke belakangnya, ada beberapa pasukan pengawal klan Mo menatapnya tajam.
Shua Xie menatap sekitar 50 orang di depannya, semakin tersenyum Shua Xie ketika dia berasumsi dia akan bermain lebih lama lagi.
Guwei Mo tidak melihat bagaimana Shua Xie membunuh 3 Kultivator elit dengan cepat sebab itu dia tidak takut berhadapan dengan Shua Xie. Karena dia berpikir dialah yang akan menang bersama 50 pengawalnya.
"Serang gadis itu, bagaimana pun kalian harus menangkapnya! Mati atau pun hidup! Daging dan darahnya sangat berarti untuk leluhur kita!" seru Guwei Mo keras.
"Daging dan darah? Apa kalian yakin bisa menyentuh bahkan melukaiku? Kuharap kalian tidak mengecewakan," gumam Shua Xie pelan sambil menjilat bibirnya yang sudah terasa kering.
5 di antara 50 pasukan itu langsung maju menyerang Shua Xie bersamaan. Rata-rata 50 pengawal Guwei Mo berada di tahap Bumi level awal dan menengah, walau pun tahap mereka belum terbilang tinggi namun kalau mereka bergabung akan membentuk kekuatan yang besar, dan Guwei Mo yakin bisa membunuh Shua Xie yang hanya seorang diri.
Shua Xie juga tidak diam di tempatnya, dia segera berlari menuju 5 pria yang berlari ke arahnya. Sambil memegang ke dua pedang andalannya, Shua Xie juga mengaktifkan sajak Kutukan di kaki dan kanannya, namun tidak menggunakan kekuatan penuh pada sajak Kutukan.
__ADS_1
3 di antara 5 pria itu langsung menyerang Shua Xie dengan pedang mereka yang sudah dialiri tenaga dalam. Dan Shua Xie menepis ke 3 senjata itu dengan 1 pedangnya hingga ke 3 senjata pria itu lepas dari tangan mereka. Tidak menyia-nyiakan kesempatan Shua Xie langsung mengibas pedangnya memotong ke 3 perut mereka dengan pedang yang satunya, pedang yang sudah dialiri tenaga dalam yang sangat banyak.
Sraasshhh ....
Dalam sekejap 3 tubuh pria itu langsung terputus, Shua Xie tersenyum kecil saat percikan darah 3 pria itu menempel di topengnya. Dari sisi kiri dan kanan 2 pria yang tersisa juga menyerang Shua Xie bersamaan sambil menghunus pedang mereka masing-masing. Shua Xie melompat ke udara ketika 2 pedang hampir menyentuhnya. Lalu Shua Xie mendarat di atas ke 2 pedang musuhnya, kemudian dengan cekatan Shua Xie memotong leher mereka berdua dengan ke dua pedangnya.
Semua itu terjadi begitu cepat, Guwei Mo dan para pasukannya terkejut melihat aksi serta teknik bertarung Shua Xie yang begitu berpengalaman. Bahkan Guwei Mo sampai sulit berbicara sepatah kata.
Sebagai mantan Mafia di kehidupannya dulu, Shua Xie sudah sering berkelahi walau pun statusnya sebagai anak wali kota dan sebagai seorang murid dari academy yang terkenal tidak mengharuskannya tunduk pada dunia. Di saat semua orang berlaku kejam padanya, dia pun akan membalas kekejaman itu dengan kekuatannya. Shua Xie pun sampai menjadi terkenal di geng mafia lainnya dengan julukan Dewi Mawar Hitam. Shua Xie juga memiliki geng dari beberapa pemuda-pemudi jalanan yang suka berkelahi. Nama gengnya ialah nama julukannya sendiri, Mawar Hitam.
Shua Xie melompat ke tanah kemudian berjalan menuju pasukan di depannya tanpa merasa gentar, padahal jumlah mereka lebih banyak darinya. Sekarang yang ada di pikiran Shua Xie adalah membunuh atau terbunuh, kata-kata yang sering dia dengar di kehidupan lalunya.
Di sisi lain Phoe terus memanggil Shua Xie untuk berhenti menggunakan kekuatannya sebab tenaga dalam dan QI Shua Xie tinggal sedikit. Jika dipaksakan lagi maka sesuatu yang buruk akan terjadi padanya. Namun sayangnya Shua Xie tidak menghiraukan larangan Phoe, seolah dia tidak mendengar apa yang Phoe ucapkan.
Mata semua orang di depannya melotot sempurna seakan tak yakin apa mereka sedang bermimpi atau tidak. Pedang biasa yang sebelumnya kecil kini sudah membesar di luar perkiraan mereka. Apa lagi ketika tanah melekat di pedang itu. Mereka pun berasumsi Shua Xie memiliki tato aura elemen tanah. Semua Kultivator tahu, tidak mudah membangkitkan tato aura, bahkan hanya sebagain Kultivator saja yang mampu mengaktifkan tato aura. Dan mereka yang bisa mengaktifkan tato aura akan disebut jenius. Apalagi Kultivator yang bisa mengaktifkan lebih dari satu tato aura.
Shua Xie berlari ke arah mereka sangat cepat, mereka bahkan tidak bisa melihat di mana Shua Xie sekarang. Seolah Shua Xie langsung menghilang di depan mata mereka.
Sraasshh ....
Tidak terduga oleh mereka, 10 orang di depan mereka langsung terbelah begitu saja di depan mata mereka, bahkan mereka tidak bisa melihat apa yang membuat tubuh 10 orang itu terbelah begitu saja. Tidak hanya 10 orang itu, 10 detik kemudian 10 orang lagi yang terbelah dua. Mereka yang tak melihat sebab apa teman mereka mati begitu saja segera berpencar agar mengurangi resiko pembantaian.
__ADS_1
Shua Xie berhenti di tengah-tengah mereka sambil menetap ke sekelilingnya.
"Menghindar ya? Percuma." Shua Xie mengalirkan energi QI-nya pada pedangnya sehingga ke dua pedang itu semakin kokoh dan membesar. Kemudian Shua Xie menancapkan pedangnya ke tanah membuat tanah di sekitarnya bergetar layaknya gempa bumi.
Kultivator di sekitar mulai terguncang tidak bisa menyeimbangkan tubuh mereka apalagi saat ada sebagain tanah terbelah dua bahkan bergeser ke atas sangat cepat membuat Kultivator di atas tanah itu terbang ke udara lalu jatuh ke bawah. Shua Xie tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan kecepatan dari sajak Kutukan, Shua Xie mulai membunuh satu persatu musuhnya. Namun ada sebagian juga musuhnya sudah mati karena tertelan bumi, atau tertimpa tanah-tanah yang melayang di udara kemudian menyimpan mereka.
Pada serangan terakhir, Shua Xie memukul keras kepala musuh di depannya yang sedang melindungi Guwei Mo hingga hancur. Semua Kultivator bawahan Guwei Mo sudah mati tak tersisa dalam waktu 2 menit saja.
Guwei Mo jatuh berlutut sambil bergetar hebat, melihat semua pasukannya mati begitu saja membuatnya hampir tidak bisa bernafas. Apalagi pasukannya mati dalam waktu cepat.
Tiba-tiba bayangan hitam berhenti tepat di depan Guwei Mo. Gadis bertopeng yang berlumur darah itu menatap Guwei tajam dan dingin, namun bibirnya tersenyum penuh makna di balik topengnya.
Guwei Mo semakin bergetar tatkala gadis pembantai bertopeng sudah berdiri di depannya.
"Ku-kumohon jangan bunuh aku. Akan kuberikan semuanya padamu asal kau tidak membunuhku!" teriak Guwei Mo ketakutan sambil bersujud.
Padangan Shua Xie terhadap pemuda di depannya semakin datar tak berperasaan, "Bunuh!"
Sraasshh ....
Dalam sekejap kepala dan tubuh Guwei Mo langsung terpisah. Padahal Guwei Mo baru ingin mengucapkan sesuatu saat dia mendengar balasan Shua Xie namun tak sempat mengutarakannya.
__ADS_1
Shua Xie berdiri di tengah puluhan mayat tak bergeming layaknya patung. Tidak lama Shua Xie berdiam di sana tiba-tiba saja dia langsung jatuh terkapar di tanah dalam keadaan pingsan. Inilah efek setelah menggunakan semua tenaga dalam apalagi sampai energi QI mengering.
Formasi aray yang melindungi kediaman klan Mo juga mulai menghilang tatkala terdengar suara dentuman keras di sisi lain, tepatnya di tempat Gong Chen bertarung.