
Aula utama kerajaan Bora terdengar begitu ribut dari biasanya, banyak suara-suara menyahut keras kepada sang Raja berserta penasehat dan Jenderal kerajaan. Keributan itu terpacu karena datangnya seorang gadis asing yang langsung menjadi pemimpin mereka.
Tentu saja mereka sangat sulit menerima kenyataan itu, sebagai pejabat yang sudah lama mengabdi pada kerajaan Bora mereka tidak akan menerima begitu saja. Sungguh konyol gadis tahap Raja Langit level 7 menjadi Pemimpin mereka yang mana para pejabat berada di atas tahapan pemimpin mereka sendiri.
Sungguh konyol tapi nyata!
"Yang Mulia sebaiknya anda bertindak tegas, jika gadis itu adalah keponakan atau bahkan anak anda. Menjadi pemimpin masih jauh darinya, mau bagaimana pun pemimpin lemah sepertinya tidak akan bisa memimpin kerajaan Bora. Sebagai kerajaan besar kita tidak bisa memilih pemimpin sembarang sepertinya!"
"Aku harap Yang Mulia berpikir lagi, menyerahkan kepemimpinan begitu saja pada gadis naif yang bahkan belum berumur dua dekade, ini sungguh konyol! Kerajaan Bora akan ditertawakan kerajaan lain!"
"Kami tidak tahu alasan apa kenapa Yang Mulia bisa menerimanya begitu saja, tapi kami masih tidak bisa menerimanya! Ini hanya ada dalam satu kali sejarah kerajaan Bora dipimpin oleh seorang gadis berumur enam belas tahun, yang bahkan masih lemah. Apa yang akan dikatakan leluhur kerajaan Bora jika dia melihat hal ini terjadi?!"
"Mohon kiranya Yang Mulia bertindak tegas, kami tidak setuju gadis itu menjadi pemimpin kerajaan! Sungguh sembarangan mengangkatnya menjadi pemimpin!"
"Benar! Tolong Yang Mulia pikir ulang lagi!"
Seruan demi seruan terus bersahutan, seruan keras itu membuat telinga siapa saja akan sakit mendengarnya, pasalnya mereka berbicara bersamaan begitu keras, walau seruan mereka terdengar keras tapi nyatanya terdengar tidak jelas sebab banyak suara bercampur. Inilah demo ketidak setujuan dari semua pejabat kerajaan!
Xui Sukong sejak masuk ruang rapat ini dan menjelaskan secara singkat bahwa jabatannya sebagai Pemimpin telah dia berikan pada gadis bernama Shua Xie membuat banyak seruan tidak setuju. Xui Sukong hanya diam mendengarkan pernyataan dari pejabat kerajaan tanpa membalas apapun. Mungkin dia menunggu sampai para pejabat itu berhenti bicara sendiri.
Namun nyatanya sudah 4 jam dalam ruang rapat masih tidak ada satu pun yang berhenti berbicara, terpaksa Xui Sukong harus mengambil tindakannya sendiri.
Seperti yang Shua Xie katakan beberapa jam yang lalu, 'Siapa saja yang ingin keluar dari kerajaan Bora jangan ditahan, biarkan saja mereka keluar sendirinya. Pada saatnya nanti mereka akan menyesal sendiri.'
Xui Sukong awalnya ragu mendengarkan ucapan Shua Xie, namun melihat tatapan tegas dan penuh kepercayaan tinggi, dia hanya bisa mengiyakan titah itu berharap tidak ada kesalahan atas tindakan Shua Xie.
Ditambah lagi laporan-laporan Shua Xie tentang kesalahan para pejabat yang dia sampaikan, tentu saja akan membuat para pejabat itu kehilangan jabatan mereka. Xui Sukong tidak tahu dari mana Shua Xie mengetahui semua itu, terlebih lagi Shua Xie hanya mengatakan dia hanya melihat sekilas saja. Tentunya akan sulit dipercaya, namun lagi-lagi Shua Xie menyatakan padanya untuk mengeluarkan siapa saja yang dia sebut.
Seorang gadis baru sepertinya bisa mengetahui nama para pejabat kerajaan Bora dengan cepat, tanpa pernah bertemu bagaimana bisa ada? Andaikan Shua Xie tidak dibantu Phoe, tentu saja dia tidak akan semudah itu mengetahui nama-nama para pejabat itu, tapi bagi Xui Sukong yang tak mengetahui dari mana Shua Xie mengetahui semua hanya bisa terkejut dan terpukau.
"Pejabat Lingju, apa yang anda dirikan di timur kota? Bangunan menjual senjata tapi nyatanya menjual manusia?" tanya Xui Sukong dingin sambil menatap pria berbaju hitam dan putih.
Mendadak ruangan menjadi hening, semua pandangan tertuju pada pria berusia 40 tahunan yang bernama Lingju. Lingju merupakan pejabat kementrian penghakiman kerajaan Bora, tidak Xui Sukong sangka hakim yang katanya mulia ini mendirikan gedung penjualan budak.
Inikah namanya hakim?
Lingju yang paling terkejut langsung kaku di tempat, keringat dingin mengucuri tubuhnya. Dengan susah payah dia meneguk salivanya sambil menatap Xui Sukong rapuh. Namun sebagai hakim dia akan tetap memasang wajah tenang agar tidak dicurigai.
"Yang Mulia, bangunan itu hanyalah penjualan senjata bukan penjualan budak."
"Benarkah? Tapi Lalu siapa orang ini?" Seorang pria berpakain rapi masuk ke ruangan bersama Jenderal Xiaotian. Pria itu adalah salah satu pekerja di gedung penjualan senjata milik Lingju.
__ADS_1
Lingju tidak bisa menutupi keterkejutannya melihat salah satu pekerjanya datang bersama Jenderal Xiaotian, tentu saja dia kenal pria itu, pria yang menjaga rahasia di antara mereka berdua.
'Tiaoten?! Tapi kenapa bisa? Kapan?' Lingju berdiri tanpa dia sadari, karena refleks terkejut melihat rekannya telah tertangkap.
"Dasar!"
Tiaoten yang awalnya menunduk kini menatap Lingju ketika mendengar suara yang sangat dia kenali, dengan raut wajah takut dia memanggil Lingju bergetar.
"Tuan Lingju! Tolong selamatkan aku, kita, kita ... tolong selamatkan aku Tuan. Aku masih punya istri dan anak, jika aku dihukum bagaimana dengan keluargaku?"
"Tiaoten, apa yang kamu katakan?" dalih Lingju dengan alis bertaut, tentu saja dia berdalih tidak memiliki kerjasama dengan Tiaoten.
Tapi hanya orang bodoh yang tak melihat reaksi Lingju, siapa pun tahu kalau Lingju memiliki hubungan dengan Tiaoten dari cara menyangkal Lingju yang begitu kentara. Jika saja Lingju lebih pintar lagi menyembunyikan kebohongannya, tentu saja dia tidak akan semudah itu diketahui.
"Yang Mulia, apa maksudnya ini? Kenapa anda memanggil Tiaoten?" tanya Lingju sedikit keras seolah bingung akan maksud Xui Sukong. Padahal dia sendiri sudah paham maksud Xui Sukong, hanya saja dia tidak menyangka bahwa Xui Sukong bisa mengetahui rahasia yang bahkan tidak seorang pun bisa mengetahuinya.
"Siapa pria itu, Lingju Menteri Penghakiman?"
"Dia, dia bawahanku. Dia berkerja di gedung penjualan senjata," jawab Lingju sedikit gelagapan.
Xui Sukong mengangguk pelan, "Lalu apa pekerjaan Tiaoten?"
Xui Sukong mengerutkan keningnya, "Masih bisa berpura-pura? Lebih baik jujur saja."
"Yang Mulia saya tidak mengerti maksud anda-"
Xui Sukong mengangkat tangannya mengisyaratkan pada Lingju untuk berhenti bicara, "Bukti telah ada, Lingju aku tidak akan menjatuhkan hukuman mati, tapi sebagai gantinya kau akan dipenjara seumur hidup dan status jabatanmu akan dicabut."
Tercenganglah semua orang mendengar ucapan Xui Sukong, apalagi Lingju dan Tiaoten. Tapi masih untung Xui Sukong tidak memenggal kepalanya. Namun masalahnya ....
Dipenjara seumur hidup? Sama saja dijatuhkan hukuman mati, lebih baik mati dari pada dipenjara seumur hidup, begitulah definisi Lingju.
Para prajurit bergerak menangkap Lingju yang awalnya berniat memberontak ingin kabur, tapi sayangnya hal itu tidak akan pernah bisa terjadi. Di ruangan yang mana banyak prajuritnya bagaimana mungkin dia bisa kabur?
Xui Sukong menghela nafas pelan, melihat Lingju telah pergi dibawa para prajurit, kembali lagi dia menatap para pejabat berat. Bagaimana mungkin dia tidak tahu tindakan para pejabat? Apa karena dia terlalu baik sebab itu para pejabat bertingkah sesuka hati? Masih berapa banyak pejabat lagi yang melakukan hal buruk di belakangnya? Bagaimana bisa Shua Xie menguak kejahatan mereka hanya dalam waktu 1 jam? Itu masih menjadi tanda tanya Xui Sukong yang tidak bisa dia ketahui.
"Hongli, Qiamei, Rui Le, Han Wei, dan Gofeng Yu, bagaimana dengan kalian? Apa kalian ingin mengaku sendiri atau aku mengatakan semua kelakuan kalian?" tanya Xui Sukong dingin tanpa menoleh pada mereka, jelas sekali dia sangat tidak sanggup melihat para pejabat yang mana sangat dekat dengannya punya aksi buruk tanpa sepengetahuannya. Dia bahkan sudah memberikan begitu besar kepercayaan pada mereka, tapi kenapa bisa mereka melalukan hal seperti itu?
"Yang Mulia kami ...."
***
__ADS_1
"Paviliun Bunga Putih? Nama yang lumayan, tidak terlalu buruk." Shua Xie menatap bangunan tak terlalu besar namun juga tidak terlalu kecil. Bangunan itu adalah Paviliun Bunga Putih.
Paviliun Bunga Putih terkenal sebagai paviliun berburu monster spirit, yang mana para Kultivator akan menerima misi membunuh monster spirit tergantung level monster spiritnya. Para Kultivator yang menjalan misi juga mendapatkan token kayu sebagai tanda pengenal dan juga levelnya, semakin banyak monster spirit serta semakin tinggi level kekuatan monster spiritnya maka level Kultivator tersebut akan semakin meningkat. Level Kultivator yang mengikuti misi berburu monster spirit dibedakan menjadi 5 level.
Level A bisa dikatakan level 1 atau level rendah.
Level B sama dengan level 2.
Level C sama dengan Level 3.
Level F sama dengan level 4.
Level S berarti level tertinggi.
Hanya Kultivator handal dan berpengalaman yang memiliki token level S, bahkan tidak banyak Kultivator bisa memiliki token level S. Biasanya pihak kerajaan akan merekrut Kultivator level S menjadi pasukan kerajaan untuk menambah kekuatan militer. Dan bahkan Kultivator level S juga dijadikan pasukan khusus yang saat ini tengah Xui Sukong dirikan sebagai PKBD atau dengan kata lain Pasukan Khusus Bunga Darah. Pasukan Bunga Darah ini dibawa pimpinan Raja Xui Sukong sendiri, sebagai bukti pasukan ini memang pasukan khusus ahli militer rahasia.
Shua Xie berbalik menatap Chen Xui dan 2 pemuda di sampingnya, terlihat 3 pemuda itu tampak lebih tenang, namun hanya Xui Lang sendiri yang tidak terlalu tenang. Mungkin dia masih ragu mengikuti Shua Xie berburu monster spirit, walau pun dia tahu ada Chen Xui dan Xui Cuisha ikut bersamanya tapi tidak menutup kemungkinan dia bisa saja mati di pegunungan Kukuzu nanti. Semua orang tahu hutan Kukuzu sangatlah terkenal akan hutan kematian.
"Bagaimana apa kalian siap?" tanya Shua Xie lembut tapi terkesan menekan.
Mereka bertiga langsung mengangguk mengiyakan ucapan Shua Xie, tidak ada satu pun dari mereka berani mengatakan tidak. Takut bila Shua Xie akan menekan mereka habis-habisan seperti di ruang keluarga jika menolak.
"Manis sekali jika kalian menurut begini," gumam Shua Xie pelan gemes melihat 3 pemuda itu begitu menurut seperti anak kecil.
Shua Xie mengajak mereka masuk ke dalam paviliun Bunga Putih, rasa tidak sabar bertarung dengan monster spirit nanti terus menyeruak ganas di benak Shua Xie.
Baru saja hendak masuk pintu, tiba-tiba sekumpulan pemuda berjalan keluar dari dalam dan langsung menyenggol keras Shua Xie dan lainnya. Xui Lang terjatuh karena kehilangan keseimbangan, sedangkan Chen Xui dan Xui Cuisha hanya mundur beberapa langkah.
Berbeda dengan Shua Xie hanya diam sambil mengerutkan kening, sedikit bingung kenapa rombongan pemuda itu menyenggolnya.
"Selalu saja ada kucing yang merasa dirinya singa, tidak bisakah aku tenang sebentar saja. Rasanya kehidupanku ini selalu bermasalah?" ucap Shua Xie tajam.
"Yo! Para sampah, apa kalian memang selalu tidak bisa tidak mencari masalah?"
***
Lagi-lahi saya merasa cerita ini hambar, sebenarnya ide banyak hanya saja cara menyampaikannya pada kalian yang sulit, saya harus memilih kata yang tepat agar pembacaannya teras nyambung! Tapi ternyata memang sulit, maaf jika akhir-akhir ini cerita agak kurang menarik. Karena saya menulis dari jam 9 sampe 1 malam jadi rasanya kepala penat, ngantuk dan blonk! Tapi saya juga tidak bisa menulis siang hari karena sibuk, jadi maaf cerita saya masih kurang menarik.
Mohon dukungannya dari kalian, jangan lupa like, rate, vote, dan share ke teman-teman kalian. Bye bye, mungkin besok saya istirahat dulu, tapi kalau kepala masih terasa nyaman tetep lanjut :)
Makasih atas dukungan kalian, membaca komentar kalian membuat saya semakin bersemangat. Yang memberi like juga terima kasih, bahkan yang membaca juga terima kasih walau gak like 😅 tapi untunglah lumayan banyak yang baca. Jangan kesehatan kalian dan jangan lupa tersenyum ....
__ADS_1