
"Apakah kau sudah dengar kabarnya?" tanya salah seorang pria berpakaian hitam pudar karena terlalu sering di bawa terik matahari membuat warna pakaiannya memudar. Pria itu menatap rekan kerjanya.
"Dengar apa?" Yang ditanya justru bertanya balik, membuat rekannya sedikit bingung, apakah temannya itu tidak mendengar kabar terpanas yang baru ini?
"Yang Mulia Kaisar Feng Kim, kembali bertakhta." Pria itu menjawab pertanyaan temanya dengan nada sedikit ketus.
"Hah? Yang benar kau!" Tidak bisa dipungkiri rekannya itu terkejut mendengarnya, "Apa kau tidak membual?!" Berpikir kalau rekannya baru saja membuat cerita bualan untuk menghibur suasana mereka yang sepi.
Semakin geram melihat sikap temanya, pria itu melayangkan pukulan di kepala rekannya itu sedikit kuat, "Apa aku terlihat seperti membual! Yang besar saja kau mengatakan aku membual tentang Yang Mulia!" ketusnya.
"Ugh!" Pria itu meringis tatkala rekannya baru saja memukul kepalanya. Sambil mengusap kepala botaknya, pria itu menatap rekannya sedikit kesal, "Apa sudah menjadi kebiasaanmu memukul kepalaku terus?" cetusnya sambil memanyunkan sedikit bibirnya. Tidak tahu kenapa dia berpikir bahwa akhir-akhir ini rekannya yang satu ini sering memukul kepalanya.
Alih-alih merasa bersalah, justru pria itu tertawa cukup lantang dan keras membuat rekannya menatapnya bingung, "Hahaha ... siapa suruh kau memiliki kepala botak, tanganku jadi tidak bisa jika tidak memukul kepala botakmu setiap saat!" gelakanya sambil menyeka air mata tawa yang keluar. Benar-benar mengharukan.
"Ck! Tertawa di atas penderitaan orang lain, kau sungguh ahlinya," sinis pria itu dan tanpa sadar tangannya mengusap kepala botaknya, "Berbicara tentang botak, kesampingkan dulu hal itu. Aku mau bertanya, apa benar Yang Mulia Kaisar Feng Kim kembali bertakhta? Bukankah Yang Mulia sudah memundurkan dirinya setahun yang lalu?" Pria botak mengalihkan topik pembicaraan, menurutnya lebih penting membicarakan tentang Kaisar Feng Kim daripada kepala botaknya.
Seketika tawa dari pria itu lenyap, seakan tawanya barusan hanyalah tawa yang dibuat saja. Raut wajah serius pria itu tergambar jelas, membuat rekannya semakin penasaran, "Ya. Akupun baru mendengarnya hari ini, kemarin adalah hari kenaikan Yang Mulia," jawabnya dengan nada cukup serius.
"Wajar saja jika kita baru mendengarnya hari ini, kita berada di perbatasan, akan sulit mendengar berita pusat kota tanpa kiriman pesan dari pemerintah di sana." Pria botak tidak berdalih, karena dia dan teman lainnya bertugas menjaga perbatasan membuat kabar-kabar terbaru di pusat kota akan sulit mereka dengar.
"Tidak hanya itu, aku dengar, Yang Mulia mengirim surat pertemuan darurat dengan seluruh pemimpin lainnya." Tambah pria itu lagi.
Pria botak terbelalak, "Seluruh pemimpin? Kenapa? Apakah terjadi keributan?!" tanyanya cukup keras sebab terkejut.
Namun karena kurangnya informasi, dan juga jarak mereka yang terlalu jauh dari pusat kota, pria itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu, tapi bisa jadi memang terjadi keributan."
"Mungkinkah akan terjadi perang?"
***
Di depan kerajaan Xuilin, di depan mimbar, berbaris ratusan pasukan berzirah perak terang akibat pantulan cahaya matahari. Ratusan pasukan itu telah berdiri hampir satu jam menunggu kedatangan pemimpin mereka, Kaisar.
Di podium dekat lapangan para prajurit berdiri. terlihat para pejabat maupun bangsawan berada di sana, karena hari ini turun titah semua--pejabat dan bangsawan--harus berkumpul, mengharuskan meraka datang.
Suara riuh terus terdengar, ada yang mengeluh adapun yang sedang bertanya-tanya. Namun ketika sesosok pria mengenakan bordir keemasan, dan mahkota di kepalanya, semua suara seketika lenyap. Seakan datangnya sosok itu, adalah sosok yang tidak boleh diusik dengan suara mereka.
Pria puluhan tahun itu berjalan keluar dari istana menuju mimbar berpermadani merah. Di dekat sosok pria itu, ada dua orang mengawalnya meninju mimbar. Ketika sosok pria itu telah naik di atas mimbar, dia berbalik menatap semua orang yang ada. Pandangan tajam dan hidup, membuat sebagian orang mengerti, sosok itu kini telah berubah dari yang dulu, terlihat tegas dan berwibawa.
Sebelum pria itu mengangkat tangannya, semua orang yang ada menyerukan hormat kepadanya dengan lantang, "Hormat kepada Yang Mulia Kaisar!"
Sosok yang dipanggil Kaisar hanya bisa mengangkat tangannya dengan tampang wajah datar, membuat semua pejabat dan bangsawan yang berdiri kembali duduk ke kursi mereka.
Sejenak pria itu menatap ratusan pasukan di depannya, dan tidak lupa juga menatap para pejabat dan bangsawan yang ada, "Aku akan mengumumkan satu hal penting hari ini." Walaupun pria itu hanya berucap dengan suara pelan, tapi suaranya menggema sampai ke penjuru podium. Sedikit mengejutkan semua orang, Kaisar mereka memiliki keahlian yang luar biasa.
"Seperti kabar yang kalian dengar, tidak lama lagi kita akan berperang." Kaisar menatap semuanya, "Dan peperangan ini bukanlah peperangan biasa. Aku menyatakan status siaga tingkat tinggi pada Kerajaan Xuilin!"
Terbelalak semua orang ketika mendengar pengumuman Kaisar Feng Kim, meskipun ada beberapa orang yang sudah tahu kalau peperangan akan terjadi, hanya saja mereka tidak menduga, Kaisar Feng Kim mengatakan status siaga tingkat tinggi pada semua orang yang ada, seakan mengatakan bahwa perang yang mereka akan hadapi bukan perang bisa, namun perang yang sebenarnya bisa dikatakan perang neraka.
__ADS_1
Meskipun mereka terkejut, namun tidak ada seorang pun berani bersuara apalagi mempertanyakan alasan Kaisar Feng Kim mengatakan status siaga tingkat tinggi.
"Aku akan menjadi pemimpin kalian dalam peperangan kali ini," tegas Kaisar Feng Kim yang lagi-lagi membuat semua orang terkejut. Tidak akan menyangka lagi, bahwa pemimpin mereka yang akan turun tangan memimpin pasukannya.
"Ini apa tidak berlebihan?" tanya salah satu bangsawan.
"Yang Mulia Kaisar sampai ikut berperang, aku menjadi semakin yakin perang itu memang bukan perang bisa.'
"Sungguh mengejutkan, Yang Mulia Kaisar akan ikut turun tangan. Seharusnya dia hanya perlu duduk dan menunggu kabar."
"Mungkin memang benar, perang ini tidak sesederhana apa yang kita pikirkan."
Ungkapan demi ungkapan mulai mengambang di udara, masih berpikir bahwa tidak seharusnya juga seorang Kaisar sampai harus turun tangan, apalagi meninggalkan kerajaan? Tapi melihat betapa seriusnya Kaisar Feng Kim berkata, siapa bisa memaksa sosok pemimpin itu harus duduk tenang di singgasananya sambil menunggu kabar kemenangan dari para prajuritnya. Tampak bukan Kaisar Feng Kim sangat meragukan mereka, sehingga dia harus turun memimpin?
Bersamaan dengan munculnya pertanyaan keraguan dan ungkapan keterkejutan semua orang kalau Kaisar Feng Kim yang akan memimpin pasukan peperangan, datang satu sosok asing berjubah hitam memakai topeng tanah liat berwajah iblis dengan dua tanduk dan taring, serta mata merah tajam melotot dan lidah yang menjulur keluar. Kedatangan sosok itu mendekati Kaisar Feng Kim mengejutkan semua mata yang melihatnya, tapi tidak untuk Kaisar Feng Kim sendiri.
Kemunculan sosok bertopeng itu membuat banyak orang geram terhadapnya sebab berani memakai topeng seperti itu di depan seorang Kaisar. Di mana rasa hormat sosok bertopeng itu ketika menghadap Kaisar dia tidak membuka identitasnya!
Jenderal Besar Feng memegang pedangnya, siap menyerang sosok yang tidak tahu sopan santun itu dengan senjatanya. Namun baru saja dia menyentuh pedangnya, Kaisar Feng Kim langsung bersuara.
"Dia adalah seseorang yang membawa berita peperangan kepadaku. Kalian harus menghormatinya sama seperti kalian menghormatiku," ungkap Kaisar Feng Kim membuat semua orang membeku di tempat dengan pandangan melotot seakan bola mata meraka akan keluar dari songketnya.
"Astaga apa aku tidak dengar!? Sosok itu adalah pembawa kabar peperangan!"
"Yang Mulia menyatakan kedudukannya sama dengan sosok itu!"
"Siapa! Siapa sosok bertopeng itu!? Apa dia pendekar hebat!? Sepertinya sosok itu sangat Yang Mulia hormati!"
Suara pertanyaan kembali keluar dari sekian banyak mulut yang mendengarkan ucapan Kaisar Feng Kim barusan. Tidak tahu harus berekspresi bagaimana lagi, mereka benar-benar terkejut dalam diam. Bagaimana bisa sosok misterius yang baru tiba bisa setara dengan Kaisar, dan mengejutkannya lagi Kaisar Feng Kim mengakuinya sendiri. Serasa para pejabat, bangsawan, maupun prajurit ingin mengeluarkan pertanyaan pada Kaisar Feng Kim, tapi siapa berani menanyakannya?!
Berbeda dengan Jenderal Besar Feng, ketika dia mengetahui sosok bertopeng itu adalah pembawa berita, tentu dia sudah tahu siapa sosok di balik topeng itu.
'Heh, menutup diri agar terhindar dari banyak tatapan dan pertanyaan. Kau cukup cerdik juga,' celetuk Feng Xian dalam hatinya sambil menatap sosok bertopeng yang kini tengah memandang sekian banyak orang.
Kaisar Feng Kim memperhatikan sosok bertopeng di sampingnya, terlihat diam dan tenang, seakan tidak peduli akan gunjingan-gunjingan para pejabat dan bangsawan. Padahal Kaisar Feng Kim sudah memaksanya untuk tidak muncul di depan layar cukup dirinya yang dipersulit banyak orang dengan munculnya pengumuman perang mendadak, tapi kekerasan kepala sosok bertopeng itu tidak bisa dibantah, apalagi sosok itu beralasan ingin membantu pasukannya. Meskipun Kaisar Feng Kim tidak tahu bagaimana caranya sosok itu membantu, tapi mengingat betapa hebat dan cerdiknya sosok itu membuatnya harus berpikir dua kali jika menolak.
'Sekarang apa yang akan dia lakukan?' tanya Kaisar Feng Kim dalam hatinya.
Melihat sosok bertopeng itu hanya diam, membuat semua orang yang ada di sana bingung namun tidak berani berkata apapun. Mimbar sekarang milik sosok bertopeng itu, jika dia diam berarti ada yang sedang dipikirkan sosok itu.
Lama suasana hening menyeruak, Kaisar Feng Kim berniat membuka suara agar tidak terjadi kecanggungan. Lagi pun Kaisar Feng Kim sadar, sepertinya sosok itu tidak ingin menyampaikan apapun.
Namun siapa sangka, saat Kaisar Feng Kim membuka mulut, sosok bertopeng itu berbicara dan mengejutkan semua orang yang mendengarnya, termasuk Kaisar Feng Kim sendiri.
"Pasukan sangat lemah, tidak akan bisa menang," ungkap sosok itu datar. Tidak ada angin tidak hujan, tiba-tiba petir datang mengagetkan, itulah pepatah cocok untuk sosok bertopeng itu.
Semua orang pun tahu apa maksud dari sosok bertopeng itu jika bukan merendahkan para ratusan prajurit di depannya, apa lagi? Mengatakan secara terang-terangan dan keras, membuat api kemarahan berkobar dari semua orang. Katakan padanya, siapa yang tidak marah jika tiba-tiba direndahkan tanpa alasan?
__ADS_1
Kaisar Feng Kim sebagai pemimpin meraka merasa kesal mendengarnya, pandangannya yang sebelumnya berbinar dan penuh harapan kini berganti gelap dan kesal. Bisa dilihat pelipis Kaisar Feng Kim berkedut, urat-urat lehernya juga muncul meski dirinya masih menahan emosinya.
Berbeda ekspresi yang Jenderal Besar Feng keluarkan, dia tampak menutup wajahnya malu, entah malu mengakui kelemahan prajurit atau malu ... mengakui betapa tidak beruntunglah dia mengenal sosok bodoh seperti sosok bertopeng itu. Tidakkah dia tahu dia telah menyinggung kerajaan Xuilin secara keseluruhan?
Alih-alih merasa bersalah dengan ucapannya, sosok bertopeng itu kembali berkata, "Sebaiknya tidak usah ikut berperang dari pada mati." Percaya atau tidak semua orang yang mendengarnya semakin berekspresi gelap.
Kaisar Feng Kim mengepalkan tangannya semakin kuat, tampak urat-urat semakin menonjol, bahkan aura yang Kaisar Feng Kim keluarkan semakin suram dan mencekam.
Hanya Jenderal Besar Feng yang bisa memaklumi ucapan sosok bertopeng itu, dia ingin bergerak mendekati sosok itu dan berkata untuk menyindir secara lebih halus lagi agar aura suram yang dikeluarkan Kakaknya tidak semakin merembes. Tapi ... apalah daya, bahkan untuk melangkahkan kaki saja Feng Xian tidak berani, aura Kakaknya sungguh menakutkan untuk membuat dirinya melangkah.
'Astaga apa yang dia lakukan! Apa dia sengaja memancing singa keluar?!' pekik Feng Xian keras dalam hatinya sambil menatap sosok bertopeng itu dengan pandangan sulit diartikan.
Sosok bertopeng itu mendengus pelan, "Tidak hanya prajuritnya yang lemah, pemimpinnya pun sama!" Oke kali ini sosok bertopeng itu memang sungguh keterlaluan. Mengatakan Kaisar Feng Kim lemah, percaya atau tidak sosok yang dia katakan itu lama tidak lama lgi akan meledak.
"Apa-apaan orang ini! Sudah bersikap sok misterius sekarang malah menghina! Dasar tidak jelas!" umpat salah satu pejabat yang tidak tahan lagi mendengar penghinaan demi penghinaan keluar.
"Berani mengatakan prajurit kerajaan Xuilin lemah! Apa dia tidak tahu, bahkan empat negara lain juga menyegani kekuatan pasukan kerajaan Xuilin!" sahut Menteri Shen geram.
"Dia pikir dia sehebat apa? Begitu sombong mengatakan pasukan kerajaan Xuilin lemah! Aku yakin, melawan lima puluh prajurit pun dia tidak akan sanggup!"
Siapapun juga akan memaki sosok bertopeng itu, tidak hanya bersikap tidak sopan dan begitu sombong, tapi juga berlaga hebat. Jika saja setiap makian dari semua orang adalah pedang, sudah dipastikan makian dari setiap orang akan menyayat tubuh sosok bertopeng itu secara kasar.
Sosok bertopeng itu mengulum senyum tipis di balik topengnya seraya berbalik menatap Kaisar Feng Kim yang sedang menunduk dengan aura mencekam yang mengelilingi tubuhnya. Alih-alih takut Kaisar Feng Kim akan marah dan menghajarnya, sosok bertopeng itu justru menambah panaskan suasana.
"Aku tidak sangka, kalian lebih lemah dari yang aku pikirkan. Mungkin akan lebih baik, kalian bersembunyi saja dari pada ikut berperang," ungkap sosok bertopeng itu lagi dengan nada sinis, bahkan di akhir ucapannya dia mendengus pelan, menunjukkan betapa dia merendahkan Kaisar Feng Kim berserta pasukannya.
Tapi, sebagai pemimpin dan panutan banyak masyarakat, Kaisar Feng Kim masih menahan emosinya tidak ingin kewibawaannya hancur hanya karena ocehan. Jika saja dirinya tidak menghargai sosok bertopeng itu, percaya atau tidak, Kaisar Feng Kim pasti sudah memberikannya serangan.
Kaisar Feng Kim mengangkat pandangannya, melebarkan senyuman yang begitu ... mengerikan, "Aku tidak tahu apa maksud anda mengatakan hal seperti itu?" balas Kaisar Feng Kim berpura-pura polos, mungkin masih ingin memaklumi sosok bertopeng itu sebab dirinya lebih tua dan dewasa dari pada sosok itu.
"Kau tidak mengerti?" sinis sosok itu, tangannya dengan cepat menarik sesuatu dari dalam jubahnya dan melesatkannya kepada Kaisar Feng Kim, "Aku sedang merendahkan harga dirimu sebagai Kaisar!" tegas sosok itu dengan kalimat cukup mengejutkan.
Kaisar Feng Kim menerima satu buah belati dengan tangan kanannya, melihat sikap dan gelagat sosok bertopeng itu semua orang tahu bahwa dia menantang Kaisar Feng Kim dan pasukannya untuk bertarung. Tapi bukankah tidak adil bila satu melawan lima ratus pasukan bersama pemimpinnya?
Apa yang diinginkan sosok bertopeng itu?!
Berpikir Kaisar Feng Kim akan menolak tantangan dari sosok bertopeng itu sebab dia menghormati sosok itu sebagai pembawa kabar sekaligus penyelamat mereka-sebab tidak tahu perang akan terjadi. Tapi siapa sangka, Kaisar Feng Kim justru memberikan senyuman mengerikan, membuat semua orang bisa menebak Kaisar Feng Kim menerima tantangan sosok bertopeng itu.
"Bagaimana, aku menantang pemimpin bodoh dan para prajuritnya. Jika tidak berani melawanku seorang diri, berarti kalian tidak jauh berbeda dengan anjing-anjing di hutan," sinis sosok itu sambil bergaya angkuh.
Jenderal Besar Feng berniat menghentikan Kakaknya itu, bukannya apa, hanya saja, bukankah buruk sesama rekan saling bermusuhan apalagi sampai harus berkelahi. Namun sesaat dirinya ingin menghalang pertengkaran, sosok bertopeng itu malah memberikannya sebuah tanda untuk tidak ikut campur. Seketika Jenderal Besar Feng merasa rohnya ingin keluar melihat betapa keras kepalanya sosok itu.
'Mereka berdua sudah gila! Padahal Anak sama Ayah, tapi malah mau bertarung! Di mana kewarasan mereka?! Sebenarnya apa yang mau dilakukan bocah itu!' pekik Feng Xian dalam hatinya.
____________________
**A/N : Gggrrr!! Othor pun yg hanya nonton di podium ikut kesel pen tabok kepala seseorang 😬 songong amat lu nyet! Anak siapa sih nih? Udah gak jelas tiba-tiba ngajak gelut!
__ADS_1
likeee!!! komen apa kek biar Othor seneng! Hehehe Shua Xie dah runding ama Othor PMD, kalo rangking (200) naik up juga jadi 2 bab tiap hari 😁**