Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 120


__ADS_3

Laila menatap pedang hitam yang berada di depannya penuh keyakinan, tujuh puluh persen dia yakin bisa mencabut pedang itu, dan sisanya dia ragu bisa melakukannya setelah melihat pria berbadan kekar tadi tidak sanggup menggerakkan sedikit pun pedang itu.


Dengan perlahan, Laila menggenggam gagang pedang, mengambil ancang-ancang dengan cara melemaskan jarinya di gagang pedang itu.


Semua mata pengunjung tampak fokus pada satu titik, yaitu Laila yang siap menarik pedang hitam itu kapan saja. Mata mereka menatap dengan berbagai macam tatapan, mulai dari merendahkan, meremehkan, percaya dan merasa tidak peduli. Sebagian tamu berharap Laila bisa mencabut pedang itu, jangankan mencabut, menggerakkan padang itu apa bisa Laila melakukannya?


Semua akan terjawab setelah Laila akan mencabut pedang itu.


Laila tampak berhati-hati, pandangannya pada pedang itu kini berbeda tatkala ketika ia merasakan sedikit sengatan dari pedang itu. Keraguan mencabut pedang semakin besar, tapi ... melihat para tamu seakan menaruh harapan padanya, Laila menguatkan keyakinannya. Jangan sampai dia membuat malu dirinya sendiri.


Di pojok ruangan, gadis yang masih mengenakan jubah tampak menyeringai pelan, mata indahnya itu menatap Laila sedikit merendahkan sekaligus kasihan. Dia yakin Laila hanya akan mempermalukan dirinya karena keangkuhannya sendiri.


"Bodoh." satu kata lolos dengan lembut dari mulut gadis berjubah itu, dia memaki kebodohan Laila, tapi ada sedikit rasa senang melihat Laila akan mempermalukan dirinya.


Perempuan berjubah lainnya, di samping gadis baru saja mengeluarkan kata hinaan menatap gadis itu. Raut wajahnya mengeluarkan kerutan bingung.


"Nona, siapa yang anda katakan bodoh?" tanya perempuan itu cukup pelan.


Ketika mendengar suara pertanyaan, gadis berjubah hitam itu menengok ke kirinya, melihat pelayan pribadinya tengah menatapnya, siapa lagi kalau bukan Chi Su.


Gadis itu tersenyum singkat kemudian menjawab, "Siapa lagi jika bukan dia?"


Chi Su tercenung, tapi tidak dalam waktu lama. Beberapa detik kemudian, Chi Su menatap Laila, masih melihat gadis itu belum mencabut pedang yang dia genggam.


Pandangan Chi Su kembali menatap gadis berjubah yang tak lain majikannya, Shua Xie. Dia bisa melihat Shua Xie sedang menyeringai, tampak sekali Shua Xie seperti sedang merendahkan sesuatu.


Sikap Shua Xie benar-benar berubah, tidak lagi selembut dan sebaik yang dulu. Mungkin benar, gudang tempat di mana Chi Su menyelamatkan Shua Xie dulu benar-benar mengubah sifat Shua Xie menjadi dingin dan kejam.

__ADS_1


Kembali ke awal, Laila menghela nafas untuk terakhir kalinya. Dia sudah bertekad akan menariknya sekarang dan memperlihatkan pada semua orang, bahwa dia bisa.


Laila mengabah-abahkan dirinya dalam hati, dan pada saat yang tepat, dia langsung menarik pedang itu. Tenaga Laila makin meningkat, tatkala dia merasakan betapa beratnya pedang yang dia genggam.


Berusaha dan terus berusaha!


Lama Laila berusaha mencabut pedang itu, dia pun melepaskannya dan jatuh terduduk di lantai dengan nafas terengah-engah. Laila menatap pedang di depannya lekat sambil mengatur nafasnya yang tidak beraturan, melihat tampang Laila yang berkeringat dan keletihan, orang yang tahu pasti akan beranggapan bahwa Laila baru saja lari keliling kota Xuilin sebanyak 5 putaran.


"Bagaimana? Apakah sudah cukup membuktikan, Nona Laila?" Terdengar suara menggema, suara lemah namun terdengar senang. Sosok yang tadinya berdiri dengan tenang kini mengulurkan tangan pada Laila, membuat gadis muda itu tersipu malu. Malu mengakui kalau dia telah meremehkan ucapan Master Gu.


Laila menerima uluran tangan dari Master Gu, rona malu membias wajah cantiknya. Setelah berhasil berdiri, Laila langsung kembali ke tempat duduknya sambil menunduk. Dia baru saja mempermalukan dirinya di depan banyak orang.


Pria di samping Laila mendekati Laila dan bertanya keadaannya, tapi Laila tidak menjawab. Bagaimana dia bisa menjawab keadaannya kalau dia baru saja membuat dirinya malu, tentu saja keadaannya tidak baik-baik saja.


Melihat Laila hanya diam menunduk, Tu Mo menyerah. Dia memberi sedikit jarak pada Laila, agar Laila bisa menghimpun lagi kepercayaan dirinya.


"Senior bagaimana sekarang? Bukankah tujuan kita kemari untuk membeli pedang tepaan baru Master Gu yang Guru kita maksud?" tanya Tu Mo dengan suara pelan.


Sosok yang tadi masih tenang dan diam, kini mulai mengeluarkan reaksi, Kun menunjukkan ekspresi tidak tenang. Melihat Laila tidak bisa mencabut pedang itu, Kun merasa cemas.


"Jika Laila saja yang Pendekar tingkat Jenderal Perak saja tidak mampu mengangkat, aku yakin di antara kita semua tidak akan ada yang sanggup mengangkatnya selain Master Gu," tutur Kun pelan.


Sesuai dengan prediksinya, di dalam ruang khusus hanya ada beberapa orang saja, yang rata-ratanya Pendekar tingkat Jenderal Perak, sedangkan Kun berada satu tingkat di atas Laila dan rombongannya. Kun yakin, dirinya sendiri pun tidak akan sanggup mengangkat pedang itu.


Kun butuh strategi baru, mau bagaimana pun, Gurunya menginginkan pedang itu.


"Apa tidak ada lagi yang ingin mencobanya?" Master Gu melontarkan pertanyaan sambil menatap para tamu yang semuanya merupakan anak muda.

__ADS_1


"Aku akan mencobanya," sahut Kun, dia beranjak berdiri. Raut wajah yang di papar Kun terlihat sangat serius, seakan mengatakan pada semua orang dia pasti akan berusaha mencabut pedang itu.


"Lebih baik jangan, atau kau hanya akan mempermalukan dirimu seperti rekanmu itu." Suara lain menyahuti Kun, membuat semua sorotan pandangan tertuju padanya.


Suara itu adalah suara milik Shua Xie. Dia juga telah berdiri, menatap Kun cukup serius seakan mengatakan bahwa dia sungguh serius memperingati Kun.


"Kau?" Kun tertegun.


"Apa hak-mu melarang Senior Kun? Dasar tidak tahu diri, jika bukan karena Senior Kun baik padamu, tentu kau tidak akan bisa berada di sini!" Laila yang tadinya menunduk malu, kini bersuara saat mengetahui pemilik suara yang melarang Kun adalah gadis di lantai dua tadi.


Shua Xie tersenyum sinis. Tapi dia tidak menggubris ucapan tajam dari Laila, dia justru berjalan dengan santai menuju pedang hitam itu tertancap. Tampak di dekat pedang itu, Master Gu menatapnya tajam.


"Tidak akan ada yang bisa mengangkatnya selain Master Gu, jadi sebaiknya kalian menyerah daripada mempermalukan diri," jelas Shua Xie terhenti sejenak, "Tapi ... jika kalian memang sangat menginginkan pedang ini, aku bisa memberikannya pada kalian," ujar Shua Xie tenang sambil memberikan ekspresi serius.


"Hah?! Kau ingin membantu kami!? Mustahil! Aku saja yang berada di tingkat Jenderal Perak saja tidak sanggup apa lagi kau, yang bahkan bukan seorang Pendekar!" sahut Laila cukup keras dengan nada akhir yang menghina. Laila sendiri telah mengukur tingkat bela diri Shua Xie, dan sejauh yang dia tahu, Shua Xie hanya manusia biasa.


Shua Xie tersenyum sinis, keinginannya untuk sombong semakin mencuat, "Aku sangat suka menyombongkan diri di hadapan orang sombong sepertimu." Dan tanpa perlu aba-aba ataupun kuda-kuda, Shua Xie langsung menarik pedang hitam itu dengan tangan kirinya lalu mengibaskan di udara selayak mananya ahli pedang bermain pedang.


Semua pandangan melotot kepada Shua Xie, ada sebagian orang ternganga lebar melihat atraksi Shua Xie melainkan pedang itu. Sangat hebat dan bergaya.


"Ka-kau, kau bisa mengangkatnya!?" kejut Laila tidak bisa terbendung.


"Diam bukan berarti lemah, aku sudah cukup puas diam dan berpura-pura lemah. Sekarang saatnya aku unjuk diri agar kalian patuh padaku!" balas Shua Xie tajam dengan sorotan mata dingin. Bersamaan dengan itu aura dingin keluar meruak ke mana-mana membuat banyak tamu terkejut.


"Pe-penyihir!" pekik salah satu tamu sambil menjaga jarak dari Shua Xie. Tidak hanya satu tamu itu saja yang menjaga jarak, Kun dan Master Gu pun melakukan hal sama.


_____________________

__ADS_1



__ADS_2