
"Yang Mulia Ratu Dunia, maafkan kami!"
"Untuk apa?"
"Kami membuat anda kesulitan."
"Jangan bercanda. Dengan keberadaan kalian saja aku merasa sangat terbantu. Hanya kalian yang bisa ku percaya saat ini."
"Tapi karena kami anda menjadi menderita. Penyakit nadi dingin membuat anda kesulitan."
"Tidak apa, bukankah yang terbaik pasti memiliki resiko? Penyakit ini akan sembuh pada waktunya."
"Sebenarnya ada seorang yang bisa membantu anda sembuh, Yang Mulia Ratu Dunia."
"Siapa?"
"Dia sangat hebat. Kami yakin dia bisa membantu anda. Dia ...."
Perlahan netra indah itu terbuka, menatap sekitarnya yang tampak asing baginya. Bergerak pelan tubuhnya saat dirasakannya posisi tidurnya sedikit tidak nyaman. Dia beranjak duduk dan sedikit terkejut ketika melihat sekitarnya. Pasalnya dia berada di tengah kubangan lahar lava panas. Meski lava itu tidak menyetuh kulitnya, tapi dia yakin lava itu sangat berbahaya jika mengenai sedikit saja kulitnya.
"Sial! Aku bahkan belum mendengar nama seseorang itu. Sedangkan akhir-akhir ini aku sulit berkomunikasi dengan mereka." Gadis itu mengumpat.
Dia beranjak berdiri, tubuhnya sudah pulih sepenuhnya. Sepertinya karena sembilan pemimpin ras itu memberinya tambahan Qi lagi. Selain itu, dia juga jadi mengerti satu hal, terlalu menggunakan banyak Qi sangat berdampak pada penyakitnya. Semakin banyak Qi keluar maka semakin tersiksa tubuhnya.
"Penyakit sialan!" Sekali lagi gadis itu mengumpat kesal. Memaki penyakitnya yang harus membuatnya lebih hemat dalam mengeluarkan separuh kekuatannya. "Kenapa juga harus ada penyakit semenyulitkan ini?!"
"Menma!!"
Seketika dia melirik ke pinggir kubangan lava, yang berjarak sedikit jauh darinya ketika mendengar teriakan memanggil namanya. Tampak di pinggir sana seorang gadis berjingkrak-jingkrak memanggilnya.
"Xingxing?" gumamnya pelan.
Dia pun melangkah mendekati Xingxing, bersamaan dengan langkah kakinya. Kubangan lava itu perlahan tertutup tanah kemudian tertelan ke dasar bumi. Dialah yang membuat semua itu dengan sebagian kekuatannya.
"Tampaknya kamu baik-baik saja. Sukurlah." Xingxing tanpa malu memeluk Menma. Melepaskan rasa syukur dan bahagianya melihat Menma telah baik-baik saja.
Menma sempat tertegun karena sikap Xingxing. Diingatnya lagi dia sempat berpikir tidak akan mempercayai siapapun lagi selain 9 roh yang ada di tubuhnya. Bahkan pada Tsakuya dan Zusami. Menma tidak membalas pelukan Xingxing, namun dia juga tidak melepaskan pelukan gadis itu. Egonya memang keras saat ini, tapi dia akan tetap bersikap baik pada orang yang baik padanya.
"Ya, sepertinya aku merepotkan kalian," balas Menma.
"Tidak!" Xingxing melepaskan pelukannya. Menatap Menma begitu berbinar. "Kamu tidak merepotkan, tapi justru sebaliknya. Karena kamu aku tidak dibawa pria jahat itu," timpalnya bersemangat.
"Ah, begitukah. Tapi sial, dia berhasil kabur. Jika bertemu lagi aku pasti akan membunuhnya lebih cepat." Menma mendengus pelan. Kesal karena Lou Zhou berhasil kabur darinya. Jika saja King Lan tidak muncul dan menepis serangannya, maka sudah dipastikan Lou Zhou sekarat karenanya.
"Tidak masalah, asal kamu selamat itu lebih baik dari pada kematian pria itu," timpal Xingxing dengan senyuman hangat. Entah kenapa Menma merasa Xingxing menjadi lebih perhatian serta terbuka padanya. Ada yang aneh, tapi dia tidak ingin ambil pusing memikirkan hal itu.
"Lalu di mana yang lain?" Menma baru sadar, Xingxing tinggal sendiri di sini. Lalu ke mana tiga pria itu? Bagaimana mungkin mereka bisa semudah itu meninggal Xingxing seorang diri tanpa perlindungan.
"Mereka pergi. Aku tidak tahu ke mana, tapi mereka bilang ke tempat yang cukup jauh karena alasan mendesak. Bahkan Azura juga ikut bersama Tsakuya dan Zusami, padahal sebelumnya mereka tampak bermusuhan," jelas Xingxing ambigu.
'Memang sudah saatnya. Mereka sudah terlalu lama berkeliaran.' Menma mendesah pelan. Lagi-lagi dia ditinggal sendiri. Ah, mungkin memang sudah menjadi takdirnya menjalani apapun dengan kesendirian.
"Baiklah, mari aku antar kamu pulang ke rumahmu."
Xingxing menatapnya bingung. "Caranya?"
"Mudah saja." Menma memegang pergelangan tangan Xingxing, lalu tangan kirinya mengibas udara kosong. Sebuah lorong dimensi berwarna hitam muncul. Sempat membuat Xingxing panik. Teringat Xingxing bahwa lorong dimensi itu pernah mengeluarkan begitu banyak senjata berkekuatan dasyat yang membuat bulu kuduknya mendadak berdiri ketika mengingatnya lagi.
Menma bisa menyadari ketakutan Xingxing, pasalnya tangan gadis itu mendadak bergetar. Menma menguatkan pegangannya. "Tenanglah, aku ada bersamamu."
__ADS_1
***
Brak!!
"Bagaimana mungkin kalian tidak bisa menemukan jejak Putri Xingxing?!" Seorang pria berpakaian mewah yang dikenal sebagai Kaisar Wexin, memukul meja dengan keras. Marah dan panik ketika mendapat kabar bahwa Putri semata wayangnya hilang di hutan antara kota Tiangkong dan Haiyang. Buruknya, tidak ada yang mengetahui ke mana jejak perginya Putrinya. Menurut penyelidik, kereta kuda serta seluruh prajurit pengawal Putrinya juga menghilang seakan lenyap ditelan dunia.
"Maafkan kami, Yang Mulia. Kehilangan mereka benar-benar tanpa jejak, bahkan kami tidak bisa menemukan sedikit pun jejak," sahut seorang pria yang dikenal sebagai Jenderal Luis.
"Mungkinkah diculik?"
"Aku rasa tidak. Jika diculik, untuk apa meraka menculik semuanya? Bahkan tidak meninggalkan sedikit pun jejak. Meski hanya baunya saja."
"Ditelan hantu hutan?"
"Apa kamu waras? Mana ada hantu hutan!"
"Ya, mungkin saja ada. Tidak ada yang bisa menemukan jejak Putri Xingxing saat ini. Mungkin hantu hutan menyembunyikan mereka."
"Pemikiranmu sesat sekali."
Kaisar Wexin mengeraskan rahang wajahnya kesal. Telinganya bisa menangkap pembicaraan beberapa pejabat di sekitarnya dengan jelas, bukannya memberi solusi mereka justru berbicara yang tidak masuk akal. Ah, mungkin faktor kehadiran Xingxing tidak pernah di harapan mereka. Apa yang bisa diharapkan dari Putri cacat sepertinya?
"Kapan terakhir kali kalian kehilangan jejaknya?" tanya Kaisar Wexin pelan. Nada bicaranya terdengar mulai mereda.
"Sekitar setengah jam yang lalu, Yang Mulia," balas Jenderal Luis.
Kaisar Wexin memijit keningnya yang mulai terasa pusing. "Selain itu apa kalian tidak menemukan jejak lain?"
"Ada, Yang Mulia. Namun kami tidak yakin itu jejak milik Tuan Putri," jawab Jenderal Luis sedikit ragu.
Kaisar Wexin tertarik untuk mendengarnya. Mana tahu jika jejak itu mungkin berhubungan dengan Putrinya. "Jelaskan."
Sekejap suasana hening.
Para pejabat yang tadi sibuk membicarakan penyebab hilangnya Xingxing menjadi diam sambil saling berpandangan satu sama lain dengan pandangan tak percaya. Mendengar penjelasan Jenderal Luis mengenai lokasi pertarungan yang begitu kacau membuat mereka saling bertanya dalam diam. Setahu mereka tidak ada Kultivator sehebat itu di benua barat, kalau pun ada hanya sesepuh tua yang kini hidup mereka mengabdi pada negara. Jadi bisa dikatakan pertarungan itu tidak mungkin dilakukan sesepuh hebat yang mereka kenal tanpa sepengetahuan pihak kerajaan karena pergerakan mereka dijaga ketat.
Jika bukan mereka, lalu siapa?
Kaisar Wexin juga ikut terdiam mendengar penjelasan Jenderal Luis. Dia bukannya tidak percaya, melainkan menjadi panik ketika mengingat bahwa dunia bukan hanya ada satu. Yang dia takutkan jika para Kultivator dari dunia lain datang dan menjarah dunia Bawah.
"Terus telusuri lokasi pertarungan itu. Jika menemukan jejak apapun, segera laporkan," ucap Kaisar Wexin sedikit tegas.
"Baik, Yang Mulia!"
Kaisar Wexin beranjak berdiri. "Baiklah, rapat kali ini telah selesai. Mengenai penyerangan dari suku primitif semua akan diurus Jenderal Luis dan Menteri pertahanan."
Semua pejabat di dalam aula itu berdiri lalu berkata, "Baik, Yang Mulia. Panjang umur dan sehat selalu untuk Yang Mulia Kaisar Wexin."
Kaisar Wexin hanya mengangguk pelan membalas perkataan mereka. Kemudian setelah itu dia bergegas meninggalkan aula tersebut menuju kediamannya.
***
"Kita sampai." Menma melepaskan genggaman tangannya. Membiarkan Xingxing menelisik kediaman yang mereka masuki tanpa izin sang pemilik.
"Bukankah ini kediaman, Ayah? Bagaimana kamu tahu?" Xingxing menatap Menma bingung sekaligus tajam. Pasalnya Menma justru membawanya langsung ke kediaman Kaisar yang tidak banyak orang bisa mengetahuinya, karena Kaisar terus berpindah-pindah kediaman demi menghindari hal yang tak diinginkan.
"Instingku sangat tajam. Aku rasa Kaisar Wexin akan ke kediaman ini," balas Menma apa adanya. Tidak berniat berbohong mengenai kenapa ia dan Xingxing bisa berada di paviliun ini.
"Emang bisa ya mengetahui semua dari insting?"
__ADS_1
"Bisa, asal kepercayanmu pada dirimu kuat," jawab Menma. 'Dan ditambah sedikit kekuatan tentunya.' Lanjutnya lagi dalam hati.
"Selain itu, aku juga memiliki alasan lain kenapa aku langsung mempertemukanmu dengan Ayahmu. Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan, Kaisar Wexin." Tambah Menma lagi.
"Apa itu?"
"Nanti juga akan kamu tahu."
Brak!
Seketika semua pandangan teralihkan pada pintu ketika mereka berdua mendengar suara bantingan cukup keras. Di sana, seorang pria berusia 50 tahunan berdiri dengan ke dua mata membulat sempurna. Xingxing yang mengenal pria itu juga membulatkan netranya.
"Ayah!!"
"Xing'er!!"
Xingxing yang tidak tahan melihat sang Ayah langsung berlari lalu menghambur pelukannya. Seakan mereka berdua telah berpisah untuk waktu yang cukup lama. Bahkan tanpa bisa ditahan, air mata jatuh membasahi pipinya. Xingxing menangis haru di pelukan Ayahnya. Mungkin, menurut sebagian orang sikap Xingxing terkesan lebai, tapi bagi Xingxing tidak yang lebai atas kerinduan seorang anak pada orang tuanya. Terutama Xingxing hanya memiliki Ayah yang mau mengakui dirinya.
"Ayah! Aku pikir aku tidak akan bisa bertemu Ayah lagi!" ungkap Xingxing keras.
"Ayah juga berpikir demikian. Ayah pikir Ayah akan kehilangan Putri kesayangan Ayah ini," balas Kaisar Wexin tak kalah bahagia.
"Hiks! Aku rindu, Ayah!" adu Xingxing dengan nada manja. Tidak seperti biasanya, nada yang selalu tegas.
"Ayah juga merindukanmu." Kaisar Wexin menatap lekat putrinya itu. Lalu mengusap air mata yang terus mengalir di pipi gadis itu. "Sudahlah, jangan menangis lagi. Kamu terlihat jelek jika menangis."
"Ayah!" Spontan tangannya melepaskan pukulan untuk ayahnya. Diikuti dengan bibir yang mengerut.
"Ugh ... maafkan Ayah. Sekarang jelaskan pada Ayah, kamu dari mana saja, Xing'er? Kenapa kamu dan rombonganmu bisa menghilang? Ayah sangat panik ketika mendapat kabar tentang hilangnya dirimu!"
Xingxing mengusap air matanya lagi yang berhasil jatuh. "Aku juga tidak tahu jelas apa yang terjadi pada rombongan serta kereta kudaku. Kami diserang pria jahat, dia berkata menginginkan diriku padahal aku tidak mengenalnya. Dia mengatakan aku memiliki tubuh Bulan. Aku tidak mengerti apa maksudnya."
"Lalu?"
"Terjadi pertarungan dahsyat. Tapi untunglah Kak Menma bisa mengalahkan pria jahat itu." Xingxing beralih menatap Menma lalu tersenyum padanya. Kaisar Wexin juga ikut menoleh kepada seorang gadis yang sepertinya bernama Menma itu.
Kaisar Wexin menghela nafas pelan. "Xing'er, kamu kembalilah ke kediamanmu."
Xingxing sedikit terkejut. "Kenapa? Padahal aku masih rindu pada Ayah?"
"Kamu basah, jika tidak segera berganti baju, kamu bisa masuk angin. Ingat kamu memiliki tubuh yang lemah. Sementara itu ada hal yang harus Ayah bicarakan pada gadis bernama Menma itu," jelas Kaisar Wexin. Xingxing mendengus pelan mendengar alasan Ayahnya.
"Apakah ini suatu kebetulan? Ayah dan Menma sama-sama ingin berbicara." Xingxing menelisik Ayahnya dan Menma bergantian. Entah kenapa dia merasa ada yang aneh pada ke dua orang tersebut. Bagaimana bisa mereka sama-sama memiliki pembicaraan padahal ini pertemuan pertama mereka.
"Xing'er, dengarkan Ayah," tegur Kaisar Wexin. Xingxing mendengus lagi.
"Baiklah! Aku pergi!" balasnya kasar sembari menghentakkan kaki pergi. Kaisar Wexin hanya geleng-geleng kepala melihat sikap putrinya. Sementara Menma hanya tersenyum tipis.
'Baru kali ini aku melihat dia bertingkah sesuai umurnya,' ungkap Menma dalam hatinya. Ya, memang ini kali pertamanya dia melihat sikap Xingxing yang berbeda, terlihat manja dan kekanak-kanakan. Sedangkan di depan publik Xingxing merupakan Putri tegas, dewasa dan sedikit angkuh.
"Apa kita bisa berbicara, Nona Menma?" Kaisar Wexin menghampiri Menma sambil tersenyum ramah, tapi raut wajahnya jelas tampak serius. Menma tahu apa yang akan dibicarakan pria itu padanya.
"Ah, tentu saja, Yang Mulia Kaisar Wexin. Kebetulan saya juga ingin membicarakan sesuatu pada, Yang Mulia." Menma mengulum senyum ramah.
"Tidak perlu sesungkan itu. Kamu bisa memanggilku paman atau dengan nama saja." Meski sempat terkejut dengan ucapan Kaisar Wexin, Menma tetap mengiyakannya. Baru kali ini Menma bertemu pemimpin seramah Kaisar Wexin. Biasanya kebanyakan para pemimpin selalu bersikap angkuh di hadapan siapapun. Dan selalu ingin dipandang tinggi.
"Ah ... baiklah, Paman Wexin."
__________
__ADS_1
A/N : Dikit lagi💣