Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 173


__ADS_3

BACA DI BAWAH 👇 ada pemberitahuan penting!


_________________________


Menma masih bisa bersikap tenang meski dia duduk berhadapan dengan seorang pria berstatus tinggi. Kaisar Wexin berdecak kagum melihat ketenangan Menma, karena pada umumnya semua orang yang berhadapan dengannya selalu merasa gugup dan takut.


"Baiklah, aku akan langsung ke intinya saja. Sepertinya kamu sudah mengetahui rahasia Putriku," ujar Kaisar Wexin langsung pada intinya. Inilah yang ingin dia sampaikan ketika Xingxing menyebut 'tubuh Bulan' secara terang-terangan, dan melihat respon Menma biasa aja, dia yakin Menma memang sudah tahu rahasia yang ada pada tubuh Xingxing.


"Tubuh Bulan sekaligus kekuatan dari leluhurnya. Aku kagum sekaligus ngeri mengetahui hal itu," balas Menma yang membuat Kaisar Wexin terkesiap kaget.


"Kamu juga mengetahui hal itu?" sahut Kaisar Wexin sedikit panik. Mungkin tidak ingin rahasia Putrinya yang satu ini diketahui sembarang orang.


Menma mengangguk pelan, lalu menatap Kaisar Wexin serius. "Kenapa?"


"Kenapa?" Awalnya Kaisar Wexin bingung dengan pertanyaan Menma. Namun beberapa detik berikutnya dia langsung paham maksud pertanyaan itu.


"Karena aku tidak ingin dia diincar para penjahat. Seharusnya kamu tahu betapa istimewanya tubuh Bulan ditambah lagi mewarisi kekuatan dari leluhurnya," jawab Kaisar Wexin lemah. Menma terdiam sejenak. Sedikit setuju dengan ucapan Kaisar Wexin. Xingxing tidak hanya memiliki tubuh Bulan, tapi juga kekuatan warisan dari leluhurnya. Yang mana seluruh tubuh Xingxing sangatlah berharga, sekali pun itu hanya air keringatnya saja.


"Lalu apa Paman tidak berniat membuka segel meredian di tubuhnya? Aku lihat dia cukup menderita dianggap sebagai Putri cacat, sedangkan keluarga Xin terkenal keluarga bangsawan yang selalu melahirkan anak-anak jenius dan hebat." Meski pun begitu, Menma masih tidak tega membiarkan Xingxing dipandang rendah.


Kaisar Wexin menghela nafas pelan mendengar ucapan Menma. Pundaknya menurun seakan ada beban berat di sana. "Sebenarnya aku juga turut bersedih melihatnya dianggap seperti itu, orang tua mana yang senang melihat anaknya dipandang rendah? Tapi, demi kebaikan dirinya, mau tidak mau aku harus melakukannya. Itu lebih baik dari pada dia diincar banyak Kultivator jahat."


Menma terdiam lagi. Perkataan Kaisar Wexin memang ada benarnya. Tapi, Menma sedikit tidak terima melihat Xingxing dipandang rendah seperti itu oleh beberapa orang.


"Sebenarnya kedatanganku kemari untuk membahas tentang ini. Aku ingin membuka segel meredian di tubuhnya, tapi semua tergantung dari Paman. Paman adalah orang tuanya, aku tidak bisa bertindak begitu saja tanpa izin dari orang tuanya," ucap Menma tenang. Kaisar Wexin justru terkejut mendengar ucapannya.


"Tidak boleh! Aku tidak mengizinkannya!" tolaknya langsung dengan nada tegas. Menma sudah menduga dia pasti akan mendapat jawaban ini dari Kaisar Wexin. Sudah jelas dari awal membahasnya tadi.


"Aku menerima jawaban, Paman. Aku tidak akan memaksa atau mempertanyakannya lebih jauh lagi." Menma beranjak berdiri. Kaisar Wexin terkesiap melihat Menma berdiri, spontan dia juga ikut berdiri.


"Kalau begitu, aku pamit," ucap Menma lagi.


Kaisar Wexin membuka mulutnya, ingin berbicara tapi tenggorokannya seperti tercekat sesuatu. Dia pun menutup kembali mulutnya.


"Oh, ya." Menma hampir melupakan satu hal. Kembali ia menatap Kaisar Wexin. "Paman sudah dengar bahwa ada yang mengincar Xingxing. Pria itu sangat kuat, bahkan anda bukanlah saingannya. Aku bukan menakut-nakuti, aku hanya ingin Paman lebih siaga lagi menjaga Xingxing. Aku yakin pria itu akan kembali mengincar Xingxing."


Kaisar Wexin membuka mulutnya. "Ah ... begitu. Terima kasih telah membantu Xing'er selamat dari pria itu. Apakah kamu tidak ingin beristirahat barangkali sehari di sini?" Kaisar Wexin tahu kalau Menma sangat berjasa ketika Putrinya hilang. Sebagai seorang Ayah dari Xingxing, dia juga tahu bahwa dia harus berterima kasih. Mungkin dengan menjamu Menma malam ini.


Sejenak Menma terdiam, ingin mengiyakan tapi dia teringat dengan kondisi dunia Tengah yang tidak lagi aman. "Sepertinya tidak, mungkin lain kali bisa," balas Menma disertai senyuman singkat.


"Ah, baiklah. Jika kamu datang lagi jangan sungkan mampir, kerajaan Hou akan selalu terbuka untukmu."


"Tentu saja, aku tidak akan sungkan lagi. Terimakasih atas sambutannya, Paman Wexin." Menma tersenyum sekilas. Lalu berbalik, bersamaan dengan itu muncul sebuah pintu dimensi. Menma masuk begitu saja, kemudian pintu dimensi hilang pun menghilang.


Kaisar Wexin terdiam melihat hal itu. Dia sedikit tahu tentang pintu dimensi yang bisa mengantar penggunanya ke mana pun penggunanya mau. Namun dia tidak pernah melihat secara langsung, tapi hari ini, Menma memperlihatkan padanya.


"Luar biasa. Ternyata dia sangat kuat, sosok sepertinya tidak boleh disinggung. Kekaisaran Hou harus bisa mendapatkan pendukung sepertinya," decak Kaisar Wexin kagum.


***


"Ini sudah hampir seminggu Ibu pergi. Apa dia tidak akan kembali?" Yihua menghela nafas berat entah yang ke berapa kali. Sejak ditinggal Shua Xie, dia menjadi lebih murung dari biasanya.


"Tenanglah, Ibu pasti pulang. Mungkin besok?" sahut Minghao berusaha menghibur Adiknya itu agar tidak sedih lagi.


"Firasatku mengatakan ada yang terjadi pada, Ibu," timpal Jiazhen membuat Minghao dan Yihua beralih menatapnya. "Mungkinkah Ibu sedang dalam kesulitan?" lanjutnya lagi.


"Jangan berkata seperti itu! Kau semakin membuatku khawatir!" sahut Yihua kesal. Bibirnya semakin cemberut ketika mendengar ucapan Jiazhen.


"Kau tidak boleh berkata seperti itu, Jiazhen! Apa kau tidak ingat apa tujuan kita kemari?"

__ADS_1


"Menjaga Ibu bukan?" jawab Jiazhen santai. Minghao mengangguk membenarkan jawaban Jiazhen.


"Ayah ingin kita menjaga Ibu. Tapi Ibu pergi tanpa membawa kita," sahut Yihua kesal. Sangat kesal jika mengingat kejadian seminggu lalu, di mana dia bertanya pada Chi Su mengenai keberadaan Shua Xie. Ternyata Shua Xie pergi bersama Ogher entah ke mana. Yang mengesalkannya ialah Shua Xie pergi tanpa memberitahukan pada Yihua dan yang lain. Seolah Shua Xie tidak menganggap mereka penting.


"Sudahlah, kita hanya perlu menunggu kedatangan Ibu. Jangan cemberut lagi," balas Minghao sambil menepuk pelan pundak Yihua. Yihua hanya mendengus membalas perkataan Minghao.


Sementara itu, Chi Su datang begitu tergesa-gesa, bahkan lupa mengetuk pintu kediaman tiga anak ini. Tentunya kedatangan Chi Su membuat mereka bertiga ikut panik. Mereka berpikir telah terjadi penyerangan atau sebagainya terhadap kerajaan Xuilin. Soalnya ekspresi Chi Su sangat cocok mengambarkan situasi itu.


"Bibi Chi Su, kenapa panik? Apa terjadi sesuatu?" tanya Minghao yang sudah berdiri di samping Chi Su ketika melihat Chi Su datang.


"Itu!"


"Apa?!" sahut Yihua penasaran.


"Datang!"


"Siapa?" timpal Jiazhen.


"Dia sudah datang!" jawab Chi Su keras. Tapi tiga anak itu tidak mengerti apa yang sedang Chi Su bicarakan.


"Siapa? Sebut namanya, Bi!" sahut Minghao tak kalah keras, kesal ditambah penasaran karena perkataan Chi Su tidak jelas.


"Nona sudah pulang!"


"Benarkah?!" sahut ke tiga anak itu bersamaan. Chi Su mengangguk keras membalas perkataan mereka.


Tanpa babibu, mereka bertiga langsung berlari keluar, mencari sosok yang begitu mereka rindukan. Entahlah, meski mereka hanya anak angkat, perasaan mereka terhadap Shua Xie teramat dalam dari sejak pertama kali mereka bertemu. Apakah Shua Xie juga memiliki perasaan yang sama?


Secara kebetulan, di saat mereka bertiga berlari menuju kediaman Shua Xie. Tampak terlihat seorang perempuan berjalan menuju kediaman Shua Xie, yang mereka bertiga yakini sosok itu adalah Shua Xie. Sementara jauh di belakang, ada Chi Su ikut berlari mengejar mereka bertiga.


"Ibu!!"


Minghao dan Yihua langsung memeluk Shua Xie dari belakang. Melepaskan kerinduan mereka dengan pelukan. Semantara Jiazhen berdiri terdiam, tidak berniat memeluk Shua Xie atau pun berkata apapun.


Sosok yang mereka peluk berbalik. Tampaklah wajah cantik yang begitu mereka rindukan. Bahkan wajah itu terlihat semakin cantik dari sebelumnya. Shua Xie tersenyum tipis melihat dua anak yang memeluknya.


"Minghao, Yihua, kalian apa kabar?" tanya Shua Xie ramah disertai senyuman yang semakin mengembang.


Minghao melepas pelukannya. Ikut tersenyum membalas Shua Xie. "Kami baik-baik saja. Tapi tidak untuk Yihua. Dia begitu merindukan Ibu," balas Minghao riang.


Yihua mengeratkan pelukannya, seakan membenarkan apa yang dikatakan Minghao. "Ibu kenapa pergi tanpa memberitahu kami? Apa Ibu tidak sayang pada kami?" tanya Yihua pelan dengan nada terdengar sedih. Masih kecewa karena Shua Xie meninggalkan mereka bertiga tanpa pamit.


Shua Xie berjongkok di depan Yihua lalu menghapus air mata Yihua yang telah keluar. "Maafkan Ibu. Ibu hanya tidak ingin kalian ikut, di sana sangat berbahaya. Tapi lain kali Ibu akan membawa kalian ke mana pun Ibu pergi."


"Benarkah?" sahut Yihua sambil menatap sendu Shua Xie. Shua Xie mengangguk pelan mengiyakan perkataan Yihua.


Spontan Yihua memeluk Shua Xie lagi. Turut senang Shua Xie tidak akan meninggalkan dirinya lagi. Shua Xie membalas pelukan Yihua, seakan ikut senang dengan kebahagiaan Yihua.


'Jadi begini rasanya dirindukan seseorang?' Shua Xie tersenyum sedih. Mengingat kembali bagaimana susahnya dia dulu, tidak ada seorang pun yang menginginkan kehadirannya, bahkan untuk Ayahnya sendiri. Sampai akhirnya, Shua Xie lain muncul merenggut tubuhnya. Tapi sekarang, dia sudah bisa kembali dengan keadaan yang lebih baik.


"Nona!" panggil Chi Su yang baru datang. Chi Su diam sejenak, mengatur nafasnya agar kembali tenang. Karena berlari terlalu cepat pacuan jantungnya pun juga ikut bertambah cepat. Ini semua karena rasa senangnya mendengar kabar kepulangan Shua Xie.


"Chi Su!" Shua Xie melepaskan pelukannya dari Yihua. Lalu beranjak mendekati Chi Su dan memeluknya. Chi Su sempat terkejut karena sikap Shua Xie. Tidak biasanya Shua Xie memeluknya seperti ini. Tapi Chi Su tidak mau ambil pusing, dia lantas membalas pelukan Shua Xie.


"Nona, bagaimana kabar anda? Saya sempat khawatir Nona pulang lebih lama seperti dulu."


"Aku baik-baik saja, Chi Su. Kau harus tahu, betapa bahagiannya aku bisa bertemu lagi denganmu," balas Shua Xie sedih.


Chi Su terkekeh mendengarnya. "Nona bisa saja. Saya juga sangat merindukan Nona."

__ADS_1


Shua Xie melepaskan pelukannya sambil tersenyum bahagia. Betapa rindunya dia dengan Chi Su, sosok yang menemaninya dari sejak ia kecil. Jika saja tidak ada Chi Su dan Ibunya, mungkin Shua Xie benar-benar akan kesepian di dunia kejam ini. Ah, mengingat semua itu membuat mata Shua Xie perih dan ingin menangis.


"Oh, ya, Nona. Di mana Ogher? Bukannya dia ikut bersama, Nona?" Chi Su celingak-celinguk, bertingkah seolah sedang mencari keberadaan Ogher. Shua Xie terkekeh karena tingkahnya.


"Aku memerintahkan dia melapor pada Kaisar atas kedatanganku," jawab Shua Xie.


"Ah, begitu rupanya. Pantas aku tidak melihat dirinya." Chi Su mengangguk paham.


"Jiazhen, bukankah kau juga merindukan Ibu? Kenapa kah tidak memeluknya?" Minghao mengernyit heran melihat sikap Jiazhen berbeda dari biasa. Jiazhen nampak seperti tidak mengenali Shua Xie. Mendengar hal itu, Shua Xie menatap ke arah Jiazhen lalu mendekatinya.


"Jiazhen."


"Jangan mendekat." Jiazhen melangkah mundur ketika Shua Xie mendekatinya. Semua orang terheran melihat sikap Jiazhen yang aneh.


"Ada apa denganmu, Jiazhen? Kenapa kau bersikap seperti itu kepada Ibu?" timpal Yihua.


"Jiazhen, apa kau marah pada Ibu karena Ibu pergi tanpa memberitahukan kalian? Maafkan Ibu. Ibu hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian." Shua Xie memandang Jiazhen sendu. Cukup sedih melihat sikap Jiazhen tidak ingin dia dekati.


"Jiazhen, maafkan Ibu. Kau tidak boleh seperti itu," sahut Minghao yang berniat membantu Shua Xie. Dia tidak tega melihat raut wajah Shua Xie sedih karena sikap dingin Jiazhen.


"Jiazhen ...."


Jiazhen menggeleng pelan sambil melangkah mundur ketika Shua Xie mendekatinya lagi. "Bukan seperti itu. Maaf, hanya saja kamu bukan Ibuku."


_______


**A/N : Paslu ya? eh, palsu maksudku.


Gaes karena babnya udah buanyak, Author yang kece ini mau bikin Q&A, kalian bebas mempertanyakan apa saja tentang cerita ini. Bisa juga nanya langsung ke tokoh ceritanya.


AYO RAMAIKAN Q&A PART 1 INI!! 😆


Silakan tanya apa apa aja, pada siapa aja:



Author Kece 😎


Menma (Shua Xie dari masa lalu)


Shua Xie (Shua Xie asli)


Lou Yue


Lou Zhou


Chi Su?


Minghao


Yihua


Jiazhen


Dan lainnya ....



Sekali lagi kalian bebas nanya apa aja, ntar dijawab di bab berikutnya. 😆 Selain itu, aku juga mau bikin Funfact, tunggu saja 💣**

__ADS_1


__ADS_2