Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 156


__ADS_3


**Contoh visual Zusami (Phoe)


ckckck Sugar Daddy gaes 😂**


____________________


"Phoe, bisakah kau menceritakan bagaimana kau bisa mendapatkan kembali kekuatanmu? Aku cukup terkejut di saat terakhir aku tidak sanggup menahan kekuatanku sendiri, kau muncul membantuku, aku pikir saat itu yang ku lihat hanyalah khyalanku." Shua Xie menatap lurus ke arah Phoe yang saat ini sedang duduk tepat di sampingnya.


Phoe yang dalam wujud manusia benar-benar terlihat sempurna untuk seorang pria, Shua Xie tidak bisa tidak mengakui kalau Phoe sangatlah tampan dari apa yang dia pikirkan selama ini. Bahkan ketampanan Phoe mengalahkan ketampanan seseorang yang tidak ingin Shua Xie sebutkan namanya. Hidung mancung, bibir tipis, bentuk mata yang tajam serta alis yang eksotis, ditambah lagi Phoe memiliki kulit yang putih dan juga lembut, tidak salah jika ras Pheonix memiliki kecantikan yang berbeda, anggun dan juga berkarisma, terlalu cantik untuk seorang pria.


Kalian bisa membayangkan sendiri seperti apa rupanya Phoe menurut sudut pandang Shua Xie.


"Sebelum aku menceritakannya, biarkan aku memperkenalkan nama asliku, kau memanggilku Phoe dalam wujud manusia terdengar sedikit aneh." Phoe tersenyum tipis, matanya menyipit memunculkan kerutan yang membuat wajahnya semakin tampan, Shua Xie yakin jika Phoe hidup di dunia modern Phoe pasti akan sering muncul di majalah-majalah anak muda trendi, menjadi artis papan atas dengan ketampanan yang membuat wanita akan menjerit keras.


Sayang, sayang sekali setampan apapun Phoe saat ini, Shua Xie tidak memiliki perasaan lebih selain menganggapnya sebagai Kakak. Ya, begitulah memang sejak awal Shua Xie bertemu dengan Phoe.


"Zusami, itu namamu bukan?" sahut Shua Xie dengan senyuman bangga, seakan bangga bisa menebak nama asli Phoe sebelum pria tampan itu menyebutkan identitasnya lebih awal, "Zusami, Raja ke Dua di kerajaan Pheonix. Aku sudah mengetahui identitas aslimu," ungkap Shua Xie lagi.


Phoe, tidak, maksudku Zusami terdiam mendengar Shua Xie menyebutkan identitasnya yang selama ini tidak pernah Zusami beritahukan. Zusami tidak terkejut jika Shua Xie dapat mengetahuinya, karena dia tahu Shua Xie memiliki pengetahuan yang lebih luas dari dirinya, hanya saja gadis itu berpura-pura merendah agar dia tidak membuat harga diri Zusami jatuh sebagai Raja ke Dua ras Pheonix, dan juga sebagai pria.


Jadi kalian bisa menganggap kebodohan Shua Xie selama ini karena dia telah menipu banyak orang, termasuk pembacanya.


Dari awal Zusami terbangun kembali dia sudah dapat merasakan kekuatan Shua Xie meningkat pesat dari sebelumnya, awalnya Zusami terkejut karena kecepatan Shua Xie dalam menaikan tingkat kultivasinya terlalu cepat untuk seorang manusia. Namun setelah mengetahui 9 Sajak Kutukan telah aktif, Zusami juga dapat merasakan keberadaan Kakak Pertamanya sangat dekat dengannya, yang mengartikan Shua Xie dapat meningkatkan kekuatannya karena Sajak Kutukan telah diaktifkan secara permanen.


Meski Zusami telah mengetahuinya, dia tidak juga mempermasalahkan kenapa Shua Xie bertingkah seolah Shua Xie masih membutuhkan pengetahun dari Zusami, padahal dengan pengetahuan yang dia dapat dari 9 ras yang ada di Sajak Kutukan-nya, pengetahuan Shua Xie saat ini tidak jauh berbeda dengan pengetahuan Tuhan.


"Akan aneh jika kau tidak mengetahui identitasku setelah kau mendapat kekuatan serta pengetahuan dari Sajak Kutukan di tubuhmu." Zusami tertawa kecil, merasa sedikit malu karena kekuatan dan pengetahuannya saat ini kalah dengan seorang manusia rendah yang sejak dulu tidak pernah Zusami pandang keberadaannya. Tapi sejak pertemuan pertama antara dirinya dan Shua Xie, dirinya terpaksa harus mengganggap tidak semua manusia itu rendah seperti apa yang dia pikirkan. Buktinya sekarang Shua Xie yang merupakan salah satu manusia biasa yang telah menjadi calon Ratu Dunia yang akan dia hormati nantinya. Hanya tinggal menunggu waktu maka semua itu akan terjadi.


"Hehehe ... Pho-, tidak, maksudku Zusami. Meski kau sudah tahu identitasku, kau harus tetap bersikap sama, jangan pernah merubahnya hanya karena status yang membedakan kita." Shua Xie tersenyum tipis, menatap api unggun yang masih membara menghangati ke dua tubuh yang sedang mengharapkan hangat darinya.


"Haih, aku adalah mahkluk Agung. Makhluk Agung sepertiku tidak mungkin merendah ke sembarangan manusia." Zusami menyahut membanggakan dirinya sendiri, namun sesaat kemudian dia menunduk menatap api unggun, "Tapi khusus untukmu, tidak ada alasan bagiku aku tidak merendah kepadamu, Yang Mulia Ratu Dunia." Lanjut Zusami melemah diiringi dengan senyuman tipis yang hangat.


'Ku pikir legenda itu hanyalah bualan, tapi tidak ku sangka aku akan menyaksikannya sendiri. Di mana semua ras di dunia ini akan tunduk kepada seorang manusia. Heh ... betapa naifnya aku.' Zusami melirik tipis ke kiri, menatap secara diam-diam seorang gadis yang dia maksud dalam ucapannya tadi, gadis muda yang terlihat masih naif dan bodoh, tapi tidak ada yang tahu kalau gadis itu memiliki keahlian menipu cukup baik sekaligus memiliki sikap yang rendah hati meski posisinya saat ini jauh di atas segala makhluk hidup.


Tiba-tiba Shua Xie mengangkat wajahnya lalu menepuk ke dua pipinya cukup keras hingga meninggalkan bekas merah di ke dua pipi putihnya itu. Zusami sampai terkejut melihat tindakan Shua Xie, dan secara tidak sadar dia menghentikan tangan Shua Xie untuk tidak memukul pipinya sendiri lagi.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Zusami cukup tegas, dia tidak tahu apa yang dipikirkan gadis itu selama dia berada di luar, jika saja Zusami masih di dalam batin Shua Xie mungkin dia bisa mendengar suara hati gadis itu.


"Beginilah caraku menguatkan diriku dengan rasa sakit, dengan begitu aku akan mengerti kenapa dunia ini memilihku," jawab Shua Xie tenang.


Ke dua matanya bertemu dengan manik mata cantik milik Zusami, untuk beberapa waktu mereka berdua saling bertatapan tanpa mengatakan apapun. Namun beberapa waktu kemudian Shua Xie kembali tersadar, "Oh, iya ... lupakan masalah ini. Sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi padamu setelah aku menginjakkan kaki di Daratan Alam Abadi. Aku tidak berpikir kau sengaja tertidur, apakah ada terjadi?" tanya Shua Xie mengalihkan topik pembicaraan.


Zusami melepaskan genggamannya dari tangan Shua Xie, pandangannya kembali menatap api unggun yang masih membara, "Akan ku ceritakan apa yang terjadi setelah kita tiba di Daratan Alam Abadi. Pada saat kau tiba di dunia ini, aku ...."


***


"Hoam ... selamat pagi." Xiu An membuka pintu tenda lalu berdiri tepat di depan tendanya, dia meregangkan tubuhnya yang terasa lemas, sebagian raganya masih belum terkumpul, semalam adalah waktu yang sangat melelahkan baginya sehingga dia merasa tidak cukup dengan waktu tidurnya.


"Selamat pagi juga, Xiu An," sapa Shua Xie membalas Xiu An.


Xiu An membuka matanya secara keseluruhan, menatap Shua Xie yang tengah duduk membelakangi di depan api unggun yang sedang membakar seekor daging ikan berukuran besar. Selain besar, ikan itu juga memiliki bentuk tubuh yang cukup mengerikan.


Selepas menatap Shua Xie, Xiu An melirik sedikit ke kiri tepat pada seorang pria yang duduk tidak jauh dari Shua Xie. Secara kebetulan pria itu juga sedang menatap ke arahnya sambil tersenyum manis, tak lupa juga pria itu mengedipkan mata kepadanya. Mendadak semua rasa lemas Xiu An menghilang tergantikan dengan semangat yang membara.


"Woah! Pria tampan dari mana ini!?" sahut Xiu An tanpa sadar, tapi dia langsung menutup mulutnya saat tersadar kalau ucapannya barusan terlalu berlebihan.


Shua Xie segera berbalik ketika dia mendengar suara teriakan dari belakang, tepatnya dari Xiu An. Shua Xie melihat wajah Xiu An memerah malu, sangat jelas gadis itu terpesona dengan ketampanan yang dimiliki Zusami, tentu saja! Gadis mana yang tidak akan jatuh cinta setelah melihat ketampanan yang dimiliki Zusami, terkecuali beberapa gadis seperti Shua Xie.

__ADS_1


Shua Xie mendengus pelan, dia tahu kejadian ini pasti akan terjadi. Shua Xie sudah menyarankan agar Zusami menutup wajahnya dengan topeng jika dia tidak ingin kembali masuk ke dalam alam batin Shua Xie, semua itu demi menjaga keamanan. Tapi Zusami menolak memakai topeng dengan alasan tidak masuk akal, dia ingin menebar ketampanannya kepada gadis-gadis di dunia manusia.


Tidak masuk akal bukan!


'Cih! Narsis sekali!' umpat Shua Xie dalam hatinya sembari dia menatap Zusami yang masih tebar pesona kepada Xiu An. Tapi belum sampai sedetik, Zusami sudah berpindah tempat tepat di samping Xiu An sambil memeluk serta mengigit mawar yang entah kapan munculnya. Shua Xie sampai ternganga melihat sikap narsis Zusami.


'Gila! Aku gak tahu dia adalah burung sanarsis ini!' pekik Shua Xie lagi.


"Halo, Nona cantik. Siapakah gerangan namamu wahai Nona cantik?" tanya Zusami dengan nada lembut, tak lupa juga dia mengedipkan lagi matanya, membuat Xiu An mendadak lemas dalam pelukannya.


"Aku, aku, aku Xiu An," jawab Xiu An lemah. Wajahnya semakin memerah, jantungnya


berdetak semakin kancang, tidak lama lagi jantungnya akan meledak jika terus berdekatan dengan Zusami.


Di sisi lain Qixuan membuka pintu tenda, dia keluar lalu melemaskan tubuhnya di depan tendanya. Bersamaan dengan itu Qixuan juga melirik ke arah Xiu An yang tengah melemah di dalam pelukan seorang pria. Qixuan membuang pandangannya, tidak ingin berlama-lama melihat adegan yang membuat matanya rusak. Tepat setelah itu, hidungnya mencium aroma wangi daging panggang, sekejap saja pandangan Qixuan langsung tertuju pada Shua Xie.


"Selamat pagi, Shua Xie," sapa Qixuan sembari dia melangkah mendekati Shua Xie dengan perasaan lapar yang menggerogoti perutnya.


Shua Xie menengok ke arahnya ketika mendengar suara yang tidak asing lagi di telinganya, "Senior Qixuan, selamat pagi juga. Mau daging bakar?" Shua Xie menyodorkan satu tusuk daging ikan yang telah dia pisahkan dari tempatnya.


Qixuan menerima satu tusuk daging bakar yang telah matang tanpa sungkan, "Tentu saja, kebetulan aku juga sedang lapar," balas Qixuan sambil dia duduk di samping Shua Xie.


Shua Xie tersenyum tipis, dia kembali fokus pada daging yang sedang dia bakar. Sedangkan Qixuan fokus melahap daging yang diberikan Shua Xie dengan perasaan senang, seumur hidupnya ini kali pertamanya dia merasakan lapar selepar sekarang.


"Um ... pria itu." Qixuan membuka suara meski mulutnya masih penuh dengan daging ikan bakar. Dia hanya penasaran apa yang terjadi antara Xiu An dan pria aneh itu.


Shua Xie tidak memalingkan pandangannya dari api yang membakar ikan hasil buruannya semalam sambil menusuk-nusuk bara api, "Dia tidak waras, anggap saja seperti itu," balas Shua Xie seadanya.


"Oh, benarkah?"


"Tentu saja tidak! Mana mungkin pria tampan sepertiku tidak waras!" Tiba-tiba saja terdengar suara sahutan, siapa lagi jika bukan Zusami. Zusami duduk di samping kanan Shua Xie sambil dia menatap gadis yang baru saja mengatakan dirinya tidak waras. Bisa dilihat alis kanan Zusami berkedut keras pertanda tidak senang.


"Ck! Narsis sekali!" sahut Qixuan membalas, seketika saja pandangan Zusami tertuju padanya.


"Apa yang kalian katakan! Apakah kau tidak lihat bahwa gadis ini tergila-gila padaku?" Zusami menunjuk gadis di belakangnya yang tidak lain ialah Xiu An, gadis itu menunjukkan reaksi sama seperti yang Zusami katakan. Tampak tergila-gila melihat ketampanan seorang Zusami.


"Oh? Lalu?" balas Shua Xie dan Qixuan bersamaan dengan ekspresi datar tak berdosa.


"Apa-apaan ekspresi kalian itu!" Zusami geram melihat ke dua ekspresi mereka. Bagaimana mungkin dua gadis itu tidak tergila-gila dengan ketampanannya yang bahkan bisa dikatakan cantik.


"Kalian-"


"Kyaaa!!!" Tepat saat Zusami ingin protes kepada dua gadis itu, terdengar suara teriakan yang membuat mereka semua terkejut.


"Ada apa?!" sahut Shua Xie cepat sambil dia mengalihkan pandangannya ke asal suara teriakan yang membuatnya terkejut.


Shua Xie beranjak berdiri, kemudian berlari menuju tenda pria di mana asal suara itu terdengar. Dan setiba di tenda itu, Shua Xie langsung membuka pintu tenda dan tertegun melihat Yue Jian berada di dalam tenda itu.


"Yue Jian, ada apa?" tanya Qixuan yang kebetulan juga berdiri di belakang Shua Xie.


"Itu, tangan mereka!" Yue Jian menunjuk ke arah Yurui dan Kiseki yang sedang terbaring tidak sadarkan diri. Bukan itu yang mengejutkan Yue Jian, melainkan lengan Kiseki yang terluka, daging di lengan Kiseki bergerak sendirinya seperti ulat yang menggeliat.


"Tadi aku ingin memeriksa keadaan mereka, tapi luka mereka ...."


"Ini! Berbahaya!" Shua Xie segera melangkah maju, diikuti dengan Zusami di belakangnya. Yue Jian melangkah mundur lalu memeluk Xiu An yang kebetulan juga ikut bersama Shua Xie sebelumnya.


"Mereka telah terinfeksi ulat buah, jika tidak segera ditangani tubuh mereka akan segera diambil alih oleh ulat yang ada di dalam tubuh mereka," ujar Zusami serius, dia telah menebak apa yang terjadi pada tubuh dua pemuda yang terbaring tidak sadarkan diri.


"Ulat buah ini mulai menyebar melewati urat-urat mereka." Shua Xie duduk di samping Kiseki, merabah daging di atas luka yang dimiliki Kiseki, bisa dia rasakan daging itu menggeliat seperti daging hidup, "Dilihat dari bentuk lukanya dia tergigit oleh sesuatu, namun yang mengigit bukanlah hewan buas bisa dilihat dari robenkan daging yang begitu dipaksa." Pandangan Shua Xie beralih ke bawah, "Lalu bekas cengkeraman di  pergelangan tangan kanan dan lengan kiri adalah bekas cengkeraman tangan manusia. Sudah dipastikan yang mengigit mereka adalah manusia." Shua Xie menatap serius ke arah Zusami kemudian mereka berdua mengangguk pelan mengerti sesuatu.

__ADS_1


"Ya! Semalam Genji dan Juan Yu tiba-tiba mengigit mereka berdua! Bekas gigitan itu miliki Yue Jian!" sahut Xiu An keras, menjelaskan bahwa pelaku dari luka yang dimiliki Yurui dan Kiseki adalah Genji dan Juan Yu.


"Apa? Berarti merekalah yang menyebarkan ulat di tubuh Kiseki dan Yurui! Jika itu benar, maka mereka-"


"Adalah inang dari ulat buah," sahut Shua Xie menyela ucapan Qixuan. Shua Xie kembali fokus pada Kiseki, menatap luka yang cukup besar yang terus menggeliat, "Sepertinya saat mereka dirasuki roh jahat, mereka memakan buah ulat secara tidak sadar. Inilah juga yang menjadi faktor lain kenapa mereka begitu ganas semalam. Ulat buah akan mengambil alih tubuh mereka dalam waktu lima belas jam, masih tersisa satu jam sebelum mereka benar-benar diambil alih."


'Sedangkan jika ingin mengeluarkan ulat buah dari tubuh Genji dan Juan Yu yang sudah menyebar luas harus melalukan penyucian tubuh. Tapi teknik penyucian tubuh hanya diketahui para Master alkimia senior dan para ras Qilin karena teknik ini menggunakan teknik sihir dan memerlukan mana yang banyak, aku tidak yakin Zisami bisa menangani mereka.' Shua Xie memejamkan matanya, segera berpikir keras bagaimana cara dia akan menyelamatkan ke empat pemuda yang sama-sama mendapat penyakit yang sama. Menyembuhkan Kiseki dan Yurui tidak terlalu memakan banyak waktu, hanya perlu melakukan sedikit pembedahan pada luka mereka sebelum ulat buah menjalar ke seluruh tubuh mereka. Tapi untuk Genji dan Juan Yu, mereka berdua juga harus segera disembuhkan karena tubuh mereka sudah menjadi inang dari ular buah.


Bagaimana sekarang?


Shua Xie beranjak bangun, matanya kembali terbuka, tampak kobaran membara di ke dua bola matanya, "Zusami, pergilah ke tenda sebelah bersama Xiu An dan Qixuan, keluarkan Genji dan Juan Yu dari tenda lalu baringkan di tanah lapang pastikan cahaya matahari menerpa tubuh mereka, gunanya memperlambat gerakan ulat di tubuh mereka."


"Kau memerintahku?" sahut Zusami datar sembari dia memandang Shua Xie tenang.


"Mohon bantuannya, Oni-Chan," balas Shua Xie dengan senyuman tipis, seketika saja telinga Zusami memerah. Dia memang tidak tahu apa arti dari ucapan Shua Xie barusan, tapi dilihat dari cara Shua Xie menyampaikannya, perkataannya itu pasti memiliki makna lebih.


"Oke, oke ... hanya untuk kali ini saja." Zusami segera meninggalkan tenda sambil mempertahankan wajah angkuhnya, tidak ingin terlihat tersipu karena perkataan Shua Xie. Meski pun begitu, Shua Xie tahu pria itu sedang tersipu mendengar ucapannya.


Setelah Zusami pergi bersama Xiu An dan Qixuan, pandangan Shua Xie kembali fokus kepada Kiseki. Perlahan Shua Xie mengangkat tangan Kiseki dengan tangan kirinya, bersamaan dengan itu dia juga mengeluarkan satu baskom yang terbuat dari logam, di dalam baskom logam itu terdapat beberapa pisau bedah serta sarung tangan karet benda lainnya. Kemunculan benda itu secara tiba-tiba membuat Yue Jian terkejut hebat.


"Dari mana munculnya benda-benda aneh ini?" tanya Yue Jian tanpa sadar karena terlalu terkejut.


"Mereka adalah barang yang sudah ku persiapkan," jawab Shua Xie tenang. Dia tidak ingin menjelaskan secara rinci karena tidak ada waktu menjelaskan semua itu di saat seperti ini, singkatnya benda-benda medis itu sudah Shua Xie persiapkan pada saat dia berada di dunia Tengah. Shua Xie meminta Master Gu membuatkan alat bedah, sedangkan untuk masker serta kaus tangan karet dibuat oleh Chi Su dengan keahlian merajutnya.


Shua Xie sudah memperkirakan, meski dia hidup di dunia di mana Qi menjadi penentu segalanya terlebih lagi di dalam dunia medis, bukan berarti alat medis seperti yang dia punya tidak diperlukan, ada masanya di mana alat medis lebih berguna dibandingkan Qi yang belum tentu bisa menyelamatkan nyawa seseorang.


Dan hari ini membuktikan, luka yang diderita Kiseki dan Yurui tidak hanya membutuhkan Qi, namun juga pembedaan secara insentif untuk mengeluarkan ulat buah yang ada di tubuh mereka.


"Kau datang ke tenda ini untuk memeriksa kondisi mereka, tampaknya kau paham sedikit tentang ilmu medis. Benar bukan tebakanku, Yue Jian?" tanya Shua Xie tanpa mengalihkan pandangannya. Ini juga bukan sekadar tebakan, tapi sebuah intuisi. Shua Xie bisa merasakan Yue Jian telah mempelajari sedikit ilmu medis.


"Ya-yah ... aku pernah mempelajarinya sebelum masuk ke dalam sekte Kunlun. Tapi Ayahku tidak ingin aku menjadi alkimia, dia ingin aku menjadi Kultivator hebat yang bisa membanggakan keluarga," jawab Yue Jian lemah.


"Kalau begitu pakailah masker dan kaus tangan ini." Shua Xie menyodorkan masker berwarna hijau dan kaus tangan kulit kepada Yue Jian setelah dia memasang masker dan kaus tangan miliknya.


Yue Jian menerima dua benda yang diberikan Shua Xie, namun belum memakainya karena dia masih belum mengerti apa yang diinginkan Shua Xie darinya, "Untuk apa?"


"Untuk apa?" Shua Xie menatap Yue Jian dengan pandangan bingung, tidak berpikir jika Yue Jian masih tidak paham apa yang diinginkan Shua Xie darinya, "Tentu saja membantuku mengobati mereka, bukankah kau ingin menyembuhkan mereka juga?" jelas Shua Xie sedikit tegas.


"A-apa? Ta-tapi, aku, aku masih kurang pengetahuan, dan aku juga tidak tahu bagaimana cara menyembuhkan mereka. Aku belum mempelajari cara mengatasi penyakit seperti ini," balas Yue Jian gugup. Dia memang pernah mempelajari dunia medis, hanya saja pengetahuan dan pengalamannya masih kurang.


Shua Xie mengeluarkan satu jarum akupuntur dari cincin Ruang-nya, lalu menatap jarum akupuntur itu secara intens untuk memastikan kesterilan dari alat bedahnya.


"Kau hanya perlu membantuku saat aku memerintahmu," balas Shua Xie seadanya. Kemudian dia menusuk jarum akupuntur ke leher Kiseki dengan cepat, tidak hanya di leher, namun di wajah dan juga di lengan yang terluka pun juga dia tusuk dengan jarum akupunturnya.


Kecepatan Shua Xie dalam menggunakan akupuntur membuat Yue Jian ternganga lebar. Yue Jian pernah mendengar salah satu teknik penyembuhan menggunakan jarum perak atau jarum emas, tapi menggunakan teknik akupuntur tidaklah mudah seperti mempelajari teknik pedang. Bahkan guru yang mengajar Yue Jian ilmu medis pun belum bisa menggunakan teknik akupuntur.


Setelah selesai menusuk beberapa bagian tubuh Kiseki, Shua Xie memasukkan kembali jarum akupunturnya ke dalam cincin Ruangnya, tentu saja mengejutkan Yue Jian yang kebetulan terus memperhatikannya. Tapi meski begitu, Yue Jian tidak berani mempertanyakan bagaimana caranya Shua Xie menghilang munculkan benda sesuka hatinya.


"Yue Jian, bisakah kau membawa Yurui keluar? Tenda ini terlalu kecil untuk mereka berdua. Aku butuh ruang yang besar," ujar Shua Xie tenang.


ya, tenda ini memang terlalu kecil untuk 4 orang. Shua Xie tidak bisa melakukan pengobatan di ruang kecil seperti ini. Pergerakannya akan sedikit terganggu.


"Ya, aku bisa!" balas Yue Jian tegas bersemangat. Setelah melihat keahlian Shua Xie tidak hanya sebagai Kultivator juga sebagai alkimia membuat Yue Jian takjub, di mata Yue Jian sekarang Shua Xie adalah idolanya.


"Bagus, mohon kerja samanya."


Yue Jian mengangguk pelan, kemudian dengan sigap dia mengangkat tubuh Yurui keluar dari tenda dan membawanya ke tenda sebelah. Dengan sangat hati-hati Yue Jian membawa tubuh Yurui, setelah berhasil memindahkan dan membaringkannya di matras, Yue Jian segera kembali ke tenda di mana Shua Xie dan Kiseki berada. Namun ketika Yue Jian membuka pintu tenda, dia dikejutkan Shua Xie sedang memegang satu tangan manusia yang telah terpotong. Sontak saja dia langsung berteriak karena terkejut.


"Kkyyaaaa!!! Ka-kau, kau memotong tangannya!"

__ADS_1


__________


A/N : Ckckck! tangan siapa tuh Shua Xie. Kamu membedah apa membunuh 😏🙄


__ADS_2