
Kota Kekai dalam sekejap berubah menjadi kota peperangan. Gerbang utama kota Kekai berhasil diterobos para pasukan Dunia Atas, peperangan tidak lagi dapat dihindarkan. Klan Tang, klan Nara dan semua Kultivator kota Kekai berkerjasama melindungi kota mereka. Bahkan alkemis juga dikerahkan untuk menolong Kultivator yang terluka akibat bertarung.
Semua para penduduk hampir diungsikan keluar kota Kekai, karena penyerangan mendadak tidak banyak penduduk sempat menyelamatkan diri, akibatnya mereka pun jadi korban perperangan.
Hampir setiap sisi kota terjadi pertempuran, hujan darah, lautan api terjadi di mana-mana. Tidak ada yang bisa menghindari perkelahian sebab pasukan penyerang lebih banyak dari pada Kultivator kota Kekai.
Tang Shan dan Nara Qin bertarung sama-sama melindungi warga yang akan meninggalkan desa. Mereka para generasi muda klan Tang mau pun Nara diperintahkan mengamankan penduduk biasa dari pasukan penyerang.
"Tang Shan! Belakangmu!" teriak Nara Qin keras. Tang Shan langsung merespon dan menghujam pedangnya ke belakang mengenai musuh yang hendak menyerangnya.
"Terimakasih Qin," ujar Tang Shan setelah membunuh pria yang menyerangnya dari belakang. Tang Shan menghampiri Nara Qin dan tersenyum padanya.
Nara Qin anak Tetua Pertama klan Nara, dia terkenal paling cantik dan paling jenius di klan Nara. Nara Qin juga memiliki kelembutan hati membuat banyak pemuda kota Kekai mengaguminya dan menyebutnya sebagai Dewi Kecil Nara. Ketenaran Nara Qin di kota Kekai tidak bisa lagi ditutupi di sisi mana pun kau berada, selama kau masih di kota Kekai kau pasti akan mendengar tentang Dewi Kecil Nara.
"Sama-sama," balas Nara Qin pelan dengan suara gugup.
Tang Shan menarik Nara Qin ke dalam pelukannya dengan cepat, bukan karena ingin memeluknya tapi karena ada musuh yang ingin menyerang Nara Qin dari belakang. Tang Shan langsung menancapkan pedangnya tepat di perut musuhnya.
Di pelukan Tang Shan, pipi Nara Qin memerah seperti tomat, dia dapat merasakan detak jantung Tang Shan yang begitu jelas. Pelukan hangat dari tangan Tang Shan merangkul pinggangnya. Nara Qin mengangkat wajahnya dan melihat wajah Tang Shan begitu dekat dengannya membuat jantungnya semakin berdetak kencang.
Selama ini Nara Qin selalu mengagumi Tang Shan secara sembunyi-sembunyi. Dia telah mengagumi Tang Shan setelah Tang Shan pernah menolongnya dari serang monster spirit dulu, saat itu Nara Qin masih berumur 9 tahun. Saat itu perguruan Kultivator kota Kekai mengadakan lomba berburu monster spirit level 1 dan 2 yang mereka telah siapkan. Dan saat itu Tang Shan datang menolongnya saat dikejar monster spirit level 2.
Tang Shan melepaskan pelukannya dan menatap ke arah Nara Qin. Dia dapat melihat wajah Nara Qin begitu merah seperti orang sakit. Tang Shan langsung menyentuh pipinya membuat Nara Qin semakin salah tingkah.
"Apa kau sedang sakit Qin?" tanya Tang Shan.
Nara Qin langsung memalingkan wajahnya sambil menggelengkan kepala, "Ti-tidak," jawab Nara Qin gugup. Tanpa disadarinya tangannya memegang erat bajunya.
Tang Shan menggaruk kepalanya sedikit bersemu malu, melihat tingka Nara Qin yang begitu menggemaskan di matanya membuatnya malu sendiri. Selama ini Tang Shan juga mengagumi Nara Qin tapi dia hanya bisa mengagumi saja sebab Guwei Mo sering mengancamnya akan menghancurkan klan Tang jika berani merebut Dewinya. Tapi karena klan Mo telah musnah seharusnya tidak ada lagi yang menghalanginya selain para penggemar Nara Qin.
"Ma-maaf aku tadi memelukmu. Tadi ada yang menyerangmu dari belakang, sebab itulah aku memelukmu agar kau tidak terkena serangannya."
"Aku mengerti. Terimakasih," balas Nara Qin langsung.
***
Rong Sui telah mencari gadis itu ke segala tempat di mana pertempuran terjadi tapi sampai saat ini dia masih belum menemukan gadis yang dia mimpikan itu. Rong Sui sampai berpikir apakah gadis itu hanya mimpinya saja atau memang ada.
__ADS_1
Selama pencariannya, dia juga sering bertarung melawan musuh yang telah berhasil masuk ke kota Kekai. Rong Sui hampir pergi ke gerbang kota memastikan apakah di sana baik-baik saja atau tidak, sebab sudah banyak para musuh memasuki kota Kekai. Namun mengingat dia harus mencari gadis itu, dia membatalkan niatnya. Tapi jika dalam beberapa menit lagi dia tidak menemukan gadis itu maka dia akan pergi ke gerbang kota.
Bomm!!!
Tiba-tiba saja terdengar suara dentuman keras dari sisi lain yang tak jauh dari Rong Sui. Rong Sui langsung melihat ke arah sumber suara, dari kejahuan dia bisa melihat kepulan asap bercampur debu melambung tinggi ke udara. Rong Sui langsung mempercepat langkahnya menuju asal suara itu, dia yakin pertarungan besar telah terjadi di sana.
Tidak membutuhkan waktu lama dia sampai di tempat asal suara dan melihat begitu banyak lubang-lubang di mana-mana. Namun pandangannya lebih tertuju pada gadis berambut hitam yang terikat benang merah di udara.
Mata Rong Sui membulat sempurna saat melihat wanita itu, tapi lebih terkejut lagi melihat pria yang satunya. Pria yang di dalam mimpinya membuat kotanya hancur dalam sekejap.
"Pe-pemuda itu! Tidak salah lagi dialah yang akan membuat kota ini hancur!"
Di sisi lain Shua Xie mengumpat keras sambil menatap Shu Chin geram. Shua Xie sudah banyak mendapat luka akibat terus berbenturan dengan tanah, dan untungnya dia telah mengaktifkan semua sajak Kutukan membuat tubuhnya terlindungi walau masih mendapat luka tidak terlalu parah.
Darah menetas dari kepala Shua Xie ke bawah. Tetesan darah itu jatuh ke tanah dengan cepat. Shua Xie menghentikan pendarahan pada kepalanya.
Shu Chin sedikit terkejut melihat Shua Xie tidak terluka parah setelah mendapat banyak pukulan keras darinya. Padahal tanah-tanah di bawah banyak berlubang karenanya, tapi kenapa Shua Xie masih sadar sampai saat ini.
"Hebat juga kau masih bisa sadar, tidak diragukan klan Langit memang berbeda dari manusia biasa," ujar Shu Chin sedikit takjub, tapi pandangannya masih datar.
Shua Xie tersenyum sinis dengan posisi tubuh terbalik, "Kau terlalu meremehkanku," balas Shua Xie tajam.
Shu Chin kali ini merubah penyerangnya, dia meliliti seluruh tubuh Shua Xie dengan benang kemudian menguatkan benangnya hingga membuat Shua Xie berteriak keras.
"Aakkhh!!!"
Shua Xie meringis keras saat benang-benang yang meliliti tubuhnya menjadi lebih kuat seakan siap memotong tubuhnya menjadi potongan kecil. Andaikan tidak ada sajak Kutukan yang melindungi tubuhnya, sudah pasti tubuh Shua Xie sudah terpotong sejak tadi.
Shu Chin semakin menguatkan benang namun tetap saja tidak bisa memotong tubuh Shua Xie. Shu Chin sangat terkejut melihat tubuh Shua Xie begitu keras seperti baja, bahkan benangnya tidak bisa memotongnya.
Semakin lama benang itu semakin kuat, perlahan tubuh Shua Xie mulai teriris kecil, darah segar mengalir dari kaki sampai wajahnya. Shu Chin tersenyum melihat Shua Xie mulai terluka, berarti pertahanan tubuh Shua Xie sudah tidak sanggup menahan kekuatan benangnya.
Shua Xie sendiri dia semakin berteriak keras saat benang itu seperti tengah menyayat tubuhnya.
"Aaakkkhh!!!"
'Bertahanlah, Shua!' Phoe berteriak dari dalam sana karena tak sanggup melihat Shua Xie begitu tersiksa.
__ADS_1
Shua Xie tersenyum kecut dengan susah payah, "Dasar payah! Aku tidak akan mati semudah itu!"
Traangg!!!
Tiba-tiba saja benang yang meliliti tubuh Shua Xie putus. Bersamaan dengan putusnya benang itu, seseorang langsung menyambut tubuh Shua Xie yang melesat jatuh ke bawah.
Shu Chin sendiri terpukul mundur saat merasakan sesuatu yang kuat memukul dadanya dengan keras. Bahkan membuat Shu Chin muntah darah.
Seorang pria sesepuh menurunkan Shua Xie ke tanah kemudian menyentuh kepalanya. Dalam beberapa detik saja seluruh luka Shua Xie langsung sembuh tanpa bekas.
Rong Sui menghampiri pria sesepuh itu bersama gadis yang terbaring di tanah. Sebenarnya Rong Sui ingin menyelamatkan gadis itu tapi seseorang sudah mendahuluinya dengan cepat.
"Sesepuh Feng Xian," sapa Rong Sui setelah melihat jelas pria sesepuh yang menyelamatkan gadis itu ternyata adalah Feng Xian.
Feng Xian menatap Rong Sui serius, "Ada apa sebenarnya ini? Kenapa kota Kekai diserang oleh pasukan tidak dikenal? Apa kota Kekai membuat masalah?"
Rong Sui menggelengkan kepalanya kemudian menjelaskan bahwa pasukan yang datang menyerang kota Kekai adalah pasukan dari Dunia Atas yang ingin mengambil bulu Phoenix Agung dan juga gadis yang terbaring di tanah itu. Feng Xian mengelus dagunya paham, kemudian meminta Rong Sui untuk bersiap-siap bahwa musuh baru saja dia pukul mundur sangatlah kuat, bahkan mereka berdua saja belum tentu bisa mengalahkannya.
Di udara Shu Chin kembali melesat ke arah 3 orang di bawah sana. Shu Chin mendarat di tanah kemudian menatap 2 pria di dekat Shua Xie.
"Pergilah, aku akan mengampuni nyawa kalian jika kalian pergi sekarang juga," ujar Shu Chin dingin.
"Apa kau mau gadis ini?" tanya Feng Xian tanpa mengubris ucapan Shu Chin.
"Bukan urusanmu," balas Shu Chin datar dengan wajah tanpa ekspresi.
Shua Xie meringis pelan, saat dia merasa tubuhnya sudah mulai membaik. Hanya saja tenaganya masih belum pulih sepenuhnya. Shua Xie beranjak bangun dan melihat ada Shu Chin, Feng Xian dan Walikota.
"Nona sebaiknya kau kejar orang yang membawa bulu Phoenix Agung, biar kami berdua yang mengurus pemuda ini." Terdengar suara Rong Sui setelah dia melihat Shua Xie telah sadar.
"Anda, tapi ... Dia bukanlah lawan yang mudah." Shua Xie menolak sebab dia tidak yakin 2 pria paruh baya ini tidak akan bisa menang melawan Shu Chin yang begitu kuat.
"Jangan meremehkan kami, walaupun kami sudah tua. Pergilah ... selagi kami bisa menahannya." Feng Xian menambah membuat Shua Xie tidak bisa menolak.
"Aku akan kembali setelah merebut bulu Phoenix, percayalah."
***
__ADS_1
Ayo jangan lupa dukungannya ;)