Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 145


__ADS_3

Langkah kaki tegas keluar dari sebuah bangunan sederhana, di belakang gadis berbaju merah hitam itu, ada gadis berumur lebih muda dari gadis itu mengikutinya. Tampak raut wajah gadis itu terlihat sedikit khawatir, pasalnya hari ini dia akan melihat sahabat yang lebih tepatnya dia anggap seperti saudara akan mengutarakan tantangan kepada para murid dalam, terutama murid dalam berperingkat.


Karena masih khawatir, gadis itu segera melontarkan pertanyaan, "Kak Shua, apa tidak seharusnya Kak Shua pertimbangkan dulu. Maksudku, lawanmu tidak sesuai dengan-"


"Kemapuanku, bukan?" Shua Xie menyela cepat ucapan gadis itu, tentu dia tahu inti sebenarnya ucapan gadis itu. Shua Xie tersenyum tipis, "Kau terlalu meremehkanku, Xingxing," ungkapnya dengan nada sedikit lemah, sengaja agar Xingxing tidak terus mendesaknya.


Xingxing menjadi salah tingkah, bukan ini yang dia maksud. Xingxing hanya tidak ingin Shua Xie terluka sebab itu dia terus mendesak Shua Xie untuk mempertimbangkan lagi syarat yang diberikan Tetua Besar padanya. Namun, alih-alih membuat Shua Xie paham, justru membuat Shua Xie menjadi salah paham. Xingxing memang tidak meragukan kekuatan Shua Xie, namun tetap saja pada akhirnya basis kultivasi Shua Xie tidak setara dengan murid yang akan dia tantang nanti.


"Kak Shua, kau salah paham. Aku bukan maksud meremehkanmu, aku hanya khawatir," sahut Xingxing cepat agar Shua Xie tidak salah paham akan maksud ucapannya.


Shua Xie mendengus dalam hati, tapi tetap mempertahankan ekspresi sedihnya itu agar Xingxing semakin tidak tega padanya, "Tapi pada intinya kau khawatir aku terluka karena ragu dengan kekuatanku. Seharusnya itu sudah jelas." Shua Xie terus berjalan seakan membuat dirinya sedang kecewa dengan gadis itu, meskipun ini hanya intrik agar gadis itu tidak terus mendesaknya tapi tetap saja gadis itu merasa terluka.


Pada akhirnya Xingxing tidak lagi membantah ucapan Shua Xie, sekalipun dia menggunakan beribu kata kiasan sedih tetap saja tidak akan melunturkan tekad Shua Xie. Tampaknya Shua Xie memang benar-benar percaya diri bisa memenangkan persyaratan dari Tetua Besar.


Tidak butuh waktu lama, Shua Xie tiba di arena pertarungan murid. Biasanya arena itu dipakai untuk ujian akhir murid, atau praktir murid dalam teknik ilmu bela diri. Terkadang juga digunakan murid untuk menantang murid lain, tapi jelas peraturan arena itu sangat ketat, tidak mengijinkan membunuh sesama murid bahkan jika memiliki dendam pribadi.


Tidak perlu banyak basa-basi Shua Xie melompatkan dirinya ke tengah arena berbentuk lingkaran yang terbuat dari beton. Di tengah arena terlukis gambar naga dan pheonix tengah merebut sesuatu benda berbentuk bulat. Shua Xie mendaratkan kakinya dengan mulus di tengah arena itu.


Sekejap saja semua pandangan tertuju padanya, wajar saja karena Shua Xie naik ke arena tanpa persetujuan ataupun pemberitahuan siapapun. Bisikan-bisikan ingin tahu segera memenuhi udara.


"Siapa gadis itu? Sepertinya aku tidak pernah melihat?"


"Dia pasti murid baru, dilihat plakat di pinggangnya sudah cukup jelas dia murid yang baru masuk. Berani juga dia naik ke arena, kira-kira siapa yang ingin ditantang gadis itu?"


"Ckckck! Sombong sekali, hanya karena wajahnya cantik mungkin dia berpikir lawannya akan luluh padanya."


"Tunggu dulu, apa kalian ingat berita kemarin? Diqiu murid dalam di kalah oleh seorang murid luar, dan lebih menariknya lagi murid luar itu seorang perempuan."


"Ah, aku ingat! Aku sempat melihat Diqiu dipermalukan di depan umum! Jika tidak salah gadis itulah yang mempermalukan Diqiu murid dalam."


"Wah ... jangan-jangan dia naik ke arena karena ingin menantang Diqiu lagi. Dari yang kudengar gadis itu mempermalukan Diqiu karena Diqiu menginginkannya menjadi wanitanya."


"Hum, sepertinya akan ada tontonan menarik!"


Tidak jauh dari arena, ada satu bangunan bertingkat. Bangunan itu terkenal dengan bangunan kediaman para murid dalam yang mendapat peringkat, jadi bisa dikatakan 20 murid dalam berperingkat sering berkumpul di sana. Memang benar, ketika sebagian murid dalam melihat Shua Xie naik ke arena tanpa ragu, mereka menaruh perhatian besar kepada Shua Xie.


"Oh, bukankah itu gadis yang memukul Diqiu?" Pemuda itu tersenyum sinis, memperlihatkan seringai tertarik sekaligus meledek, bagaimana mungkin Diqiu seorang murid dalam kalah dengan seorang murid luar yang baru saja masuk, lebih parahnya lagi yang melakukannya seorang perempuan, benar-benar membuat malu para murid dalam, "Bagaimana Senlin, apakah kau akan melepaskannya?" Pemuda itu melirik pemuda di sampingnya yang sedang memasang ekspresi geram, kentara dari rahang wajahnya yang mengetat.


Senlin mengepalkan tangannya lalu memukul kayu yang menyanggah tangannya, "Perempuan atau laki-laki dia telah mempermalukan murid dalam, mau bagaimana pun harus tetap menerima pelajaran," tegasnya tanpa memalingkan pandangannya dari sosok gadis di tengah arena itu.


"Oh, jadi apa yang akan kau lakukan, Senlin? Turun dan menyatakan tantangan kepada gadis itu, aku rasa kau sama saja akan mempermalukan dirimu sendiri. Melawan wanita bukanlah cara murid dalam menyelesaikan masalah." Pemuda bermata coklat itu melemparkan tatapan cukup tajam, memperingatkan kepada Senlin untuk tidak gegabah dalam mengambil suatu keputusan.


Senlin paham itu, dan tentu saja dia tidak akan turun langsung melawan gadis itu terkecuali keadaan mendesaknya harus turun, "Tidak perlu mengingatkanku, aku juga tahu dalam bertindak," balas Senlin sedikit ketus.


Pemuda di samping Senlin tertawa kecil, tidak dapat menahan lagi melihat ekspresi yang dikeluarkan Senlin, jelas pria itu ingin membalas perbuatan gadis itu namun karena statusnya yang tinggi tidak memungkinkannya harus turun secara langsung membasmi hama yang ada. Selagi masih ada bawahan, buat apa pemimpin turun tangan? Bukankah begitu istilahnya.

__ADS_1


***


"Siapa gadis itu? Berani-beraninya dia naik ke arena tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu dengan Tetua pengurus arena?" Suara lembut menyapu udara, membuat beberapa orang di dekatnya tergerak.


"Dia adalah murid luar yang baru-baru ini terkenal setelah mengalahkan Diqiu dengan sekali tendangan, jika tidak salah ingat namanya adalah Shua Xie. Tidak banyak identitas tentang gadis itu, namun kabarnya dia hanyalah murid luar dari keluarga biasa," jelas seorang pemuda berbadan cukup kekar dengan nada serius.


Gadis itu menyetuh bibirnya, sedikit tertarik mengetahui identitas gadis itu lebih mengejutkan dari apa yang dia duga, "Oh ... sepertinya seseorang yang tidak tahu diri." Dia berpaling menatap tiga pemuda di dekatnya, "Aku penasaran apa yang akan dia lakukan di arena itu."


"Senior Qixuan ...."


"Aku tidak tertarik padanya, tapi lebih tertarik dengan teman gadis itu." Gadis bernama Qixuan itu segera mengalihkan pandangannya, melihat ke sisi arena di mana seorang gadis kecil menatap penuh rasa khawatir kepada gadis di arena, cukup mudah semua orang bisa tahu gadis itu mungkin saja memiliki hubungan dengan gadis di arena, "Dia adalah Putri dari Kaisar Wexin. Kabarnya dia tidak memiliki teman, dan terlahir dengan meredian cacat. Aku cukup kasihan dengan nasibnya, sayang sekali dia terlahir di keluarga bangsawan yang hanya memedulikan kekuatan."


Qixuan, seorang murid dalam peringkat pertama. Murid yang paling dihormati dan disegani, bahkan setiap kali dia menampakkan diri, murid rendah di bawahnya tidak akan segan memberi hormat padanya. Memang begitulah peraturan di sekte Kunlun, yang lemah harus menghormati yang kuat, namun yang kuat tidak boleh menindas yang lemah.


Qixuan berumur kurang lebih 14 tahun, tapi karena memiliki bakat yang bagus membuatnya berada di puncak seluruh murid di sekte Kunlun. Meski dia hanyalah gadis kecil, tapi soal pengetahuan dan kekuatan, bahkan Tetua memujinya murid paling jenius. Qixuan berasal dari keluarga cukup terpandang, jadi wajar saja gadis itu cukup terlatih dan berpengetahuan.


Tiga pemuda di dekatnya sedikit menunjukkan ekspresi terkejut, sebab baru mengatahui gadis di bawah sana adalah anak dari Kaisar Wexin. Meski mereka tahu kabarnya putri Kaisar Wexin hanyalah Kultivator cacat, tapi tetap saja mereka tidak bisa tidak menghormati gadis itu mengingat Ayah gadis itu adalah pemimpin negara mereka.


"Lalu perlukah kita menyambutnya?" tanya salah satu pemuda di dekatnya Qixuan. Berpikir, mungkin Qixuan ingin putri Kaisar Wexin naik ke atas dan berbincang beberapa hal dengannya.


Qixuan terdiam sejenak, namun beberapa detik kemudian dia berbicara, "Ya, panggil gadis itu naik. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padanya."


***


Shua Xie mengedarkan pandangannya, seperti sedang mencari seseorang. Namun setelah dia melihat seorang pria tua pendek melompat ke arahnya, Shua Xie mundur selangkah.


Sebelum Shua Xie menyampaikan niatnya, dia memberikan hormat terlebih dahulu kepada pria tua itu, "Tetua, aku ingin menantang seseorang. Bisakah anda membantuku?"


"Siapa yang ingin kau tantang, Nona?" Pria tua itu mengerutkan keningnya, sedikit tidak menyangka gadis ini cukup berani menantang murid lain sedangkan Tetua itu bisa melihat plakat murid itu adalah plakat murid luar.


"Aku ingin menantang murid dalam peringkat dua puluh, Senior Senlin!" tegas Shua Xie keras, sengaja dia keras kan agar seseorang yang dia sebut itu merasa tersindir dan segera menunjukkan dirinya.


Shua Xie tidak perlu basa-basi lagi, jadi lebih baik dia memberitahukan dengan jujur maksudnya naik ke atas arena.


Tetua itu sendiri terkejut, "Nona, apakah kau tidak salah bicara?" tanyanya memastikan kemungkinan saja gadis itu tidak mengetahui sesuatu sehingga salah berbicara. Bagaimana bisa seorang murid luar memiliki keberanian menantang murid dalam, sedangkan murid dalam yang tidak berperingkat saja tidak berani melawan murid berperingkat.


Shua Xie menyeringai tipis sembari pandangannya tertuju ke paviliun bertingkat tiga dengan sebuah papan nama besar bertuliskan 'Paviliun Xionglue'. Tepat Shua Xie mantap pavilun itu, dia melihat seorang pria berdiri tegap menatap ke arahnya, jika tidak salah tebak seharusnya pria itu adalah orang dia cari. Shua Xie melempar seringai kepada pemuda itu, tentunya ingin memprovokasi agar pemuda itu segera turun dari pavilun itu.


"Tentu aku tidak salah, aku ingin menantang Senior Senlin. Jika dia tidak segera turun, maka dia kuanggap kalah!" balas Shua Xie tegas, semakin membuat para murid di sekitar arena ribut membicarakan dirinya.


Jika tidak menggunakan cara ini, tidak mungkin Shua Xie bisa menantang para murid dalam dengan cepat, target Shua Xie kalau bisa sepuluh murid dalam berperingkat itu harus dia kalahkan pagi ini juga. Meskipun tindakannya terlalu sembrono, mau tidak mau Shua Xie harus mengambil resiko itu, besok Daratan Alam Abadi telah dibuka tidak mungkin Shua Xie melewatkan kesempatan langka begitu saja.


"Sebaiknya pikirkan lagi ucapanmu, aku tidak yakin kau akan berakhir baik." Tetua itu memberikan kesempatan pada Shua Xie, barangkali gadis itu masih ada keinginan menarik kembali ucapannya. Tapi melihat seringai di wajah Shua Xie, Tetua itu paham dia tidak akan bisa menahannya lagi.


"Senior Senlin, kuharap kau segera memunculkan dirimu, jika tidak maka kau akan kunyatakan kalah dan peringkatmu akan kurebut." Shua Xie menegaskan lagi. Sekadar memancing kemarahan pria itu agar segera turun, jika tidak Shua Xie akan merasa sedikit kesulitan.

__ADS_1


Tidak perlu waktu lama, tiba-tiba saja seseorang melompat ke tengah arena dengan raut wajah mengetat kentara sedang menahan amarah. Pemuda berbawakan pedang itu menatap tajam ke arah Shua Xie, gadis yang terus memprovokasi kemarahannya, ditambah lagi menyangkut pautkan dengan peringkatnya.


"Beraninya seorang murid luar berkata tidak sopan seperti itu, apakah orang tuamu tidak mengajarkanmu sopan santun?" Pemuda yang tidak lain Senlin berjalan mendekati Shua Xie.


Shua Xie mendengus pelan, "Tebakanmu benar Senior Senlin. Orang tuaku tidak pernah mengajariku sopan santun," balas Shua Xie dengan nada meledek.


Senlin mendengus kasar, seumur hidupnya ini kali pertamanya dia dipermalukan secara jasmani oleh seorang perempuan. Senlin melemparkan tatapan tajam kepada Tetua di samping Shua Xie, mengisyaratkan kalau dia menerima tantangan gadis itu.


Tetua itu hanya bisa menghela nafas pasrah, sekarang dia benar-benar tidak bisa menghentikan pertarungan. Dengan berat hati dia turun dari arena namun sebelum dia turun dia sempat mengingatkan Shua Xie bahwa langkah yang diambil gadis itu sangatlah salah.


'Salah atau benar, semua akan kalian lihat nanti,' ungkap Shua Xie dingin di dalam hatinya, merasa tidak senang kenapa begitu banyak orang meremehkannya.


"Kuharap kau tidak menarik kembali ucapanmu." Senlin menegaskan, "Telah membuatku turun jangan harap aku akan berbelas kasih meski kau seorang perempuan."


Shua Xie tersenyum kaku, "Karena Senior adalah pria, maka aku juga tidak akan sungkan."


"Kau!" Senlin ingin memaki tapi sadar, dia berada di arena lebih baik mengajari sopan santun kepada gadis itu dengan kekerasan agar gadis itu bisa sadar sedikit. Senlin dengan cepat melayangkan pukulan ke arah gadis di depannya, meski pukulan itu tidak sepenuhnya kuat tapi dia yakin cukup membuat gadis itu menyerah untuk sombong.


Faktanya situasi berkata sebaliknya, ketika Senlin melayangkan pukulannya Shua Xie telah mengaktifkan sajak Kutukan di kakinya kanan, membuat penampilan gadis itu sedikit berbeda. Bersamaan dengan pukulan yang melayang, Shua Xie menangkis pukulan itu dengan tendangan kaki kanannya tanpa menggunakan kekuatan spirit sedikit pun.


Berpikir gadis itu melakukan tindakan yang salah sebab menangkis pukulannya yang mengandung setengah kekuatannya, ternyata salah. Ketika kaki gadis itu menendang tangannya, suara patah terdengar dari tulangnya, dalam sekejap saja Senlin berteriak keras sembari memegang tangan kanannya yang telah patah.


"Aaarrggg! Tanganku sakit sekali! Tanganku patah!"


Shua Xie tentu tidak diam begitu saja, dia  kembali melayangkan tendangannya ke punggung pria itu sedikit lebih kuat membuat pria itu terpental jauh keluar arena dengan keadaan tulang belakangnya yang patah. Dan lagi-lagi membuat pria itu menjerit kuat.


"Aaarrggg! Sakit sekali! Sakit!"


Melihat Senlin telah keluar arena, Shua Xie tidak lagi menghajar pria itu. Meski pertarungan baru saja dimulai, tapi tampaknya Shua Xie telah menyelesaikannya tidak lebih dari dua menit.


Semua orang terbelalak melihat Senlin terpental sangat jauh, bahkan mendapat serangan telak yang memulai murid berbakat itu berakhir cukup sadis. Bahkan mereka yakin, Senlin tidak akan bisa menggunakan lagi tangan kanannya dengan baik. Dibandingkan dengan memikirkan Senlin, mereka lebih terpukau dengan gadis di arena, gadis itu memasang wajah datar tampak tidak peduli dengan penderitaan yang Senlin alami.


"Senior Senlin kalah? Mustahil!" pekik murid yang menonton.


"Ya, Senior Senlin telah kalah! Kita semua bisa tahu itu!"


"Wah ... menarik! Tampaknya gadis itu lebih kuat dari apa yang kita bayangkan!"


"Hebat! Hebat! Gadis itu hebat! Tontonan ini akan semakin menarik!"


Shua Xie tidak memedulikan ucapan para murid yang menonton, dia kembali fokus menatap pavilun Xionglue di mana dia bisa melihat para penghuni pavilun itu menatap ke arena dengan pandangan terkejut. Tentu saja terkejut, Shua Xie baru saja mengalahkan Senlin dengan tendangan tanpa kekuatan spirit, bagaimana tidak mengejutkan para penghuni pavilun Xionglue itu. Sebenarnya jika Senlin tidak meremehkan Shua Xie dan bertarung lebih serius, mungkin saja pertarungan masih akan berlanjut sampai sekarang, tapi pria itu terlalu ceroboh dan memandang rendah seseorang. Sekarang yang terpenting adalah ....


'Aku telah berhasil menarik perhatian mereka. Tinggal melawan dan memenangkan, rasanya cukup menarik juga.'


_____________

__ADS_1


A/N : 😨


__ADS_2