Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 167


__ADS_3

Para murid yang masuk ke dalam Daratan Alam Abadi telah pulang, mereka semua disambut gembira oleh orang-orang yang menunggu mereka. Ada pun yang bersedih karena tidak semua Kultivator muda berhasil keluar dengan selamat.


Rombongan Qixuan langsung disambut gembira Tetua Biming. Selain itu mereka juga langsung diajak ke penginapan untuk beristirahat. Tetua Biming sangat senang melihat para murid kembali dengan selamat, meski ada seorang yang harus kembali dengan dengan tubuh buntung, siapa lagi jika bukan Kiseki.


Di penginapan mereka juga langsung disuguhi banyak hidangan lezat, kebetulan mereka juga sangat lapar, mereka pun memakan hidangan itu dengan penuh nafsu. Tapi suasana sedikit berbeda kali ini, tidak seperti biasanya mereka saling bercengkrama satu sama lain, namun semenjak kejadian di Daratan Alam Abadi, kerenggangan mulai terjadi.


Tetua Biming menyadari kecanggungan suasana. Dia pun menatap Qixuan lalu bertanya. "Apa yang terjadi selama kalian berada di Daratan Alam Abadi?"


"Kami mengalami banyak hal tidak terduga, Tetua." Qixuan tersenyum kaku, antara mau membahas tapi juga merasa tidak enak dengan lain, terutama Juan Yu, Xiu An dan Yurui.


"Benarkah? Tapi kenapa aku merasa kedekatan kalian terasa merenggang." Perkataan Tetua Biming membuat Xiu An tersedak, Yue Jian segera memberi Xiu An segelas air, awalnya Xiu An ragu mengambilnya namun karena pandangan Yue Jian begitu lekat mau tidak mau dia pun mengambilnya.


Sementara itu Tetua Biming merasa kalau tebakannya benar, bisa dia tebak dari sikap Xiu An yang begitu panik karena perkataannya. Apalagi Yurui dan Juan Yu langsung berpaling dari tatapannya.


Tetua Biming meletakkan sumpitnya kembali ke meja, lalu menatap semua muridnya serius. "Jelaskan padaku apa yang telah terjadi?"


Qixuan menatap yang lain, semua tampak tidak ingin berbicara, sedangkan Shua Xie tetap makan seakan tidak memedulikan apa yang terjadi. Helaan nafas terdengar, jadi Qixuan lah yang harus menjelaskan sekarang.


"Begini Tetua. Selama kami di Daratan Alam Abadi, mereka ...."


***


Pak!


"Aahh! Sial!" Seorang gadis melenguh kesal sembari dia meletakkan gelas arak yang telah kosong ke meja. Gadis itu sudah menghabiskan tiga kendi arak berukuran sedang, sedangkan dua pria di dekatnya sudah sejak tadi melarangnya meminum banyak arak.


"Apa kau mabuk?"


"Aku?" Gadis itu menunjuk dirinya sendiri lalu menyengir lebar seperti seseorang yang sudah tidak waras. "Aku tidak mabuk." Bantahnya sambil tertawa kecil.


"Kau mabuk," sahut pria satunya datar.


"Aku tidak mabuk, Tsakuya." Gadis itu membantah lagi. Dirangkulnya pria bernama Tsakuya itu cukup kuat.


"Lihatlah, jika kau menempel terus padaku jangan salahkan aku melakukan sesuatu padamu," ancam Tsakuya datar. Spontan gadis itu melepaskan rangkulannya sambil mendekap tubuhnya dengan ke dua tangannya sendiri.


"Kau ... jangan macam-macam! Aku ini-"


"Hais! Sebaiknya kita membawanya pergi sebelum dia semakin menggila di sini." Tsakuya beranjak diikuti dengan Zusami yang sudah meletakkan sekantung uang di meja. Mereka berdua menarik paksa gadis itu keluar dengan merangkul tangan gadis itu, Tsakuya sebelah kiri dan Zusami sebelah kanan. Namun sang gadis tampaknya belum ingin meninggalkan kedai arak, dia menjerit keras membuat pengunjung lain menatap bingung mereka bertiga.


"Aku tidak ingin pergi! Lepaskan aku! Aku masih ingin meminum arak itu!"


"Lepaskan!!"


"Huaa!! Lepaskan!!"

__ADS_1


Bahkan setelah keluar kedai pun gadis itu masih saja menjerit sambil merontah, tentu saja menarik banyak perhatian di sekitarnya. Tsakuya dan Zusami mulai kewalahan memegang gadis itu, siapa sangka gadis itu akan semabuk ini setelah meminum arak.


"Lepaskan!!"


"Baru kali ini aku melihat dia sangat lemah terhadap arak." Zusami berkata sambil terus menarik gadis yang dia rangkul.


"Heh, kenapa kau tidak curiga dia tiba-tiba meminum arak?" Tsakuya tersenyum sinis, seakan meledek ketidak pekaan Zusami terhadap gadis ini.


"Apa maksudmu?"


"Bukankah kau tahu penyakitnya kambuh dalam lima jam sekali, jadi dia memilih metode ini sebagai penghilang rasa sakit selama penyakitnya kambuh. Karena penyakitnya ini dia jadi seliar ini, sebenarnya dia sedang menahan rasa sakit ... tapi efek arak mampu membuatnya tahan terhadap rasa sakitnya. Cara yang bagus tapi dia tidak akan bisa bertahan lama dengan cara seperti ini," jelas Tsakuya.


"Ah ... pantas saja dia bersikap tidak seperti biasanya. Lalu ke mana kita akan membawanya?"


"Ke suatu tempat yang cukup jauh dari kota ini."


Di saat mereka bertiga menjadi pusat perhatian karena gadis yang mereka bawa terus menjerit dan merontah seperti orang gila, tiba-tiba mereka bertiga hilang, tentu saja membuat semua orang yang sedang menatap mereka kebingungan dan kaget. Tiba-tiba menghilang di tengah keramaian tentu saja membuat terjadinya keributan.


***


"Um? Apa yang terjadi?" Gadis itu mengedarkan pandangannya. Melihat segala sisinya sepi, namun saat matanya tertuju pada satu sisi, dia melihat dua orang pria sedang duduk sambil menatap ke arahnya. Gadis itu mengernyit heran karena jaraknya dengan pria itu terbilang sangat jauh, sekitar 20 meter darinya.


"Apa yang-"


"Apa yang terjadi?" tanya gadis itu setelah dia mendarat di tanah. Dia menatap serius ke dua pria di depannya, sangat penasaran apa yang telah terjadi padanya sehingga dia bisa berada di dalam danau.


"Apa kau lupa?"


"Apa? Aku tidak ingat apa-apa. Bisakah kalian jelaskan padaku apa yang telah terjadi padaku?"


"Kau mabuk dan pingsan, lalu penyakit nadi dinginmu meluap hampir membekukan semua yang di sekitarmu. Untuk mencegahnya, kami merendammu di air danau yang sudah kami panas, tapi sekejap mendingin karena dirimu," jelas Zusami. Gadis itu mengerutkan kening sambil mencoba mengingat ulang, terakhir kali yang dia ingat dia masuk ke dalam kedai arak dan meminum banyak arak, hingga gelas ke 10, setelah itu dia tidak tahu apa yang terjadi.


"Ini baru kali pertamanya aku mabuk berat karena arak. Padahal aku sudah sering minum ...," lirih gadis itu pelan sambil mengusap dagunya tak percaya. Sungguh dia tidak percaya seorang ahli minum sepertinya bisa mabuk berat sampai lupa apa yang terjadi saat dia mabuk.


"Dan kau memilih meminum arak sebagai penghilang rasa sakit ketika penyakitku kambuh. Apakah tebakanku salah?" Tsakuya menyahut sambil berkacak pinggang. Dia ingin memarahi kebodohan gadis ini sebab memilih meminum arak sebagai penghilang rasa sakit, memang minum arak memang bagus sebagai obat penghilang rasa sakit, tapi arak juga bisa berakibat fatal jika tidak bisa dikendalikan.


"Beruntung kau sudah sering meminum arak sehingga tidak membawa dampak besar bagimu selain mabuk sambil berteriak, lepaskan aku! Lepaskan aku! Aku ingin meminum arak!"


"Berhenti! Kau membuatku malu, jangan bahas hal memalukan apa yang aku perbuat selama mabuk." Gadis itu menyela dengan satu tangan terangkat. Meminta Tsakuya untuk berhenti berbicara.


"Tsakuya jangan menggodanya." Zusami menegur dan hanya balas anggukan serta senyuman nakal dari Tsakuya. "Sekarang bagaimana keadaanmu?" Zusami beralih pada gadis itu, ingin tahu seperti apa perasaan gadis itu sekarang, siapa tahu mungkin dia merasa mual atau pusing karena meminum arak begitu banyak.


"Aku baik-baik saja."


"Sungguh?" Gadis itu mengangguk dua kali. Zusami merasa lega jika memang benar gadis itu tidak apa-apa, sebagai seorang Kakak wajar bukan jika dia khawatir kepada adiknya.

__ADS_1


"Ini kali pertamanya aku melihat penyakitku meluap cukup besar." Gadis itu berbalik menatap danau yang masih mengeluarkan uap dingin. Sedikit kaget melihat danau itu hampir membeku.


"Ini masih belum seberapa, akan ada saatnya kau akan merasakan sakit yang sakit karena penyakit nadi dingin. Aku sarankan secepatnya kau menyembuhkan penyakitmu," timpal Tsakuya yang juga ikut menatap ke danau.


"Apa kau sedang menakutiku, Tsakuya?" Gadis itu beralih menatap Tsakuya. Namun pria yang dia tatap hanya mengulum senyum tipis penuh niat buruk, buruk bagi pandangan gadis itu.


"Aku tidak menakutimu, tapi kau sendiri tahu bagaimana rasanya menderita karena penyakit itu." Gadis itu terdiam karena dia tahu jawaban Tsakuya bukanlah sebuah ancaman, namun sebuah realitas yang dia rasakan sendiri. Dan dia tahu bagaimana menderitanya memiliki penyakit nadi dingin.


"Lalu apa tujuanmu sekarang? Apa perlu kita melalukan perjalanan mencari sembilan raga para pemimpin ras, sekaligus untuk mempercepat penyembuhanmu. Jika Raja Iblis King Huan bisa kembali ke raganya, aku yakin dia bisa menyembuhkan penyakitmu."


"Masalah itu bisa nanti. Sekarang aku harus mencegah seseorang mengusai dunia Tengah. Setelah itu, barulah perjalanan kita dimulai." Pandangan gadis itu berubah serius.


"Lalu kau tetap ingin membantu gadis yang hampir membunuhmu itu?"


"Apa maksudmu, Tsakuya?" Zusami menyahut cepat, tidak mengerti apa yang dibicarakan Tsakuya tadi. Menusuk? Siapa?


Tsakuya tertawa kecil, sekilas dia melirik gadis di depannya, dia ragu menceritakan sebab tidak ingin menyinggung perasaan gadis itu. Bagaimana jika Zusami tahu gadis itu hampir mati karena kembarannya sendiri? Pasti dia akan sangat terkejut, tapi bukan di situ inti kenapa Tsakuya ragu menjelaskannya. Intinya perkataannya ini bisa saja menyinggung perasaan gadis itu.


"Kau harusnya lebih tahu apa yang terjadi pada gadis bernama Shua Xie itu setelah dia sadar?" Zusami masih mengernyit mendengar ucapan Tsakuya.


"Langsung ke intinya saja," balas Zusami.


"Dia itu hampir membunuhku." Gadis itu yang menyahuti perkataan Zusami. Spontan pandangan Zusami tertuju padanya. "Kami bertemu di alam batin yang tidak bisa kau jangkau. Di sana terjadi sesuatu yang tidak kau ketahui. Dan penyebab kenapa aku bisa memiliki tubuh ini."


Meski telah dijelaskan Zusami tetap tidak mengerti, jangan dia, Tsakuya yang sedikit tahu jelas kronologi kenapa gadis itu terluka juga masih belum mengerti. Tapi mereka berdua sedikit paham kalau gadis ini hanyalah roh yang menumpang di tubuh gadis itu. Dan terpukul keluar karena keinginan sang pemilik tubuh asli.


"Sebenarnya siapa kau?" Tsakuya bertanya dengan nada serius. Seketika suasana sedikit berubah, atmosfer seakan mengeluarkan aura yang membuat ke dua pria itu tampak ragu akan pertanyaan mereka sendiri. Sementara gadis itu masih terdiam dan belum menjawab.


"Aku, Shua Xie. Tapi sejak saat ini aku akan mengganti namaku menjadi Menma, jadi kalian harus memanggilku Menma," balas gadis.


"Bukan itu yang ingin aku tahu, tapi aku ingin tahu siapa sebenarnya dirimu? Dari mana kau berasal?" Tsakuya menegaskan lagi pertanyaannya yang menurutnya belum terjawab. Jangan salahkan dia ingin tahu banyak, jika dia ingin mengikuti seseorang maka dia harus tahu jelas siapa orang itu.


"Kalian akan tahu pada waktunya." Menma itu tersenyum ramah kepada Tsakuya dan Zusami. "Masalah aku membantu dia kalian pasti tahu jelas, aku dan dia ibarat air dan minyak, tidak akan bersatu." Menma mengembalikan topik pembicaraan.


"Lalu untuk apa kau peduli dengan masalah dunia Tengah?"


"Karena aku ingin membalas seseorang yang telah mengambil keuntungan dariku," balas Menma datar, seketika raut wajahnya berubah datar, jelas menandakan bahwa seseorang yang dia maksud sangatlah dia benci, dan sangat ingin dia balas.


Pertanyaan Zusami dan Tsakuya ialah, siapa seseorang yang dimaksud Menma?


_________


**A/N : Siapakah seseorang itu? Ada yang bisa tebak?


Btw nama Menma Author ambil dari film naruto 😂 entah kenapa aja tiba-tiba terbesit nama itu. (mungkin faktor Authornya penggemar anime 😂) untuk pertanyaan kalian aku rasa hanya bisa aku jawab dengan satu jawaban, semua akan terjawab pada bab berikut (waktunya). so tunggu aja 😉**

__ADS_1


__ADS_2