Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 123


__ADS_3

Kerajaan Xuilin dihebohkan dengan kembalinya Kaisar Feng Kim ke takhta Kaisarnya, Feng Xian sebagai Kaisar juga menyatakan dirinya mundur dari jabatannya dan kembali menjadi Jenderal Besar kerajaan. Pengumuman ini membuat pihak mana pun terkejut mendengarnya.


Di aula utama, Feng Xian melepas mahkotanya lalu meletakkan kembali ke kepala Kakaknya, Feng Kim. Walaupun perbuatan Feng Xian terlalu merendah, tapi siapa bisa menghentikan keinginan Kaisar itu sebelum dia melepas jabatannya.


Setelah mahkota dan jubah Feng Kim kenakan, semua pejabat terdiam, kejadian ini terlalu cepat dan membingungkan. Alasan apa Feng Xian mengundurkan dirinya dari jabatannya? Padahal mereka tahu, Feng Xian cukup baik menjalankan pekerjaannya.


Salah satu kasim mendekati Feng Kim, dia adalah Kasim Lu, Kasim yang dulunya berada di samping Feng Xian selama menjadi Kaisar. Kasim Lu datang bersama salah satu pelayan, yang mana pelayan itu membawa satu mapan berisikan baju perang perak dan pedang.


Kasim Lu dan pelayan itu berhenti tepat di hadapan Kaisar, bersujud dan memberikan hormat atas keagungan sosok di depannya.


Feng Kim mengambil baju perang perak itu lalu memberikannya pada Feng Xian, "Dengan ini, aku menyatakan, Feng Xian kembali menjadi Jenderal Besar." Tidak ingin mengatakan bahwa adiknya itu turun dari jabatan, melainkan berpindah jabatan. Feng Xian menerima baju perang dengan satu lutut menyetuh lantai, sebagaimana hormat para kesatria kepada pemimpinnya.


Melihat Feng Xian menerima baju perang itu, semua pejabat maupun yang menyaksikannya terkejut sambil menutup mulut mereka, seakan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Seorang Kaisar turun takhta tanpa penjelasan pasti? Bukankah itu akan menjadi pertanyaan sepanjang sejarah?


Tapi, tidak satu pun dari mereka berani berbicara, bahkan setelah menyaksikan turunua Feng Xian dari takhtanya. Mereka akan menunggu penjelasan apa yang akan Feng Kim lontarkan.


Setelah mengenakan baju perang, Feng Xian menerima pedang dari Feng Kim lalu mengangkatnya tinggi ke udara. Raut wajah yang dikeluarkan Jenderal Besar itu begitu tegas dan tenang, seakan tidak menunjukkan masalah setelah dia turun takhta.


"Sekarang aku ada Jenderal Besar! Bukan lagi Kaisar!" tegas Feng Xian.


Setelah penurunan jabatan yang mendadak itu, Kaisar kembali duduk ke singgasananya, sedangkan Feng Xian masuk ke dalam barisan Jenderal Besar seharusnya berada. Semua orang terbingung-bingung, masih sangat tidak mengerti sebab apa yang menjadikan Kakak dari Feng Xian naik kembali takhtanya setelah mengundurkan dirinya setahun yang lalu.


Salah satu pejabat keluar barisan, lalu membungkuk memberi hormat. Pejabat itu adalah menteri pembangunan, Li Hou. Tampak semua mata tertuju pada Li Hou ketika dia membuka suara.


"Hormat kepada Yang Mulia, maaf atas kelancangan saya. Apakah yang membuat Yang Mulia Kaisar kembali bertakhta?" tanya Li Hou dengan tenang, meskipun dia tahu pertanyaannya itu bisa menyebabkan kemurkaan dari Kaisar, tapi pertanyaannya itu memang patut diajukan.


Semua pejabat dan rakyat pasti akan bertanya, kenapa Feng Xian kembali menyerahkan jabatannya pada Kakaknya, Feng Kim?


Raut wajah Feng Kim masih tenang seperti air, tidak ada riakan yang menunjukkan sang Kaisar itu marah atas pertanyaan Li Hou. Feng Kim sendiri tahu, kembalinya dia menjadi Kaisar pasti menjadi pertanyaan besar.


"Kembalinya aku ke posisi Kaisar bukan semata ingin berkuasa kembali," jelas Feng Kim singkat. Meski beberapa orang tidak paham akan maksud Feng Kim, tapi Li Hou mengerti.


Li Hou kembali bertanya, "Maaf Yang Mulia, apakah telah terjadi sesuatu hingga membuat Yang Mulia kembali berkuasa?" Pertanyaannya ini membuat seluruh mata menatap Li Hou cukup terkejut sekaligus terkesan, Li Hou begitu berani mempertanyakan hal seperti itu.


"Anda benar, Menteri Li Hou. Aku kembali karena situasi darurat, dan Adikku Jenderal Besar Feng sudah setuju turun dari tahktanya. Apakah kalian keberatan aku kembali ke posisiku?" tanya Feng Kim dengan pandangan sedikit tajam.


Mendadak punggung Li Hou terasa dingin, pandangan tajam dari Feng Kim mampu membuatnya bergetar, seakan mengandung aura menakutkan di sana, "Ti-tidak Yang Mulia," jawab Li Hou bergetar sambil memberi hormat lebih rendah lagi.


Melihat Li Hou sedikit takut padanya, Feng Kim segera mengangkat tangannya, meminta Li Hou kembali masuk ke barisan. Li Hou tidak ingin berkelebat lagi, dari pada bermasalah lebih baik Li Hou menyimak terlebih dahulu keadaannya yang terjadi.


Feng Kim beranjak dari singgasananya, memasang wajah cukup serius, seakan apa yang akan dijelaskannya sangat, sangatlah serius.


"Kita akan berperang lagi," jelas Feng Kim singkat sambil menatap semua pejabat, dia bisa reaksi terkejut dari pada pejabat, "Kali ini bukan perang biasa, perang ini adalah perang terbesar sepanjang sejarah." Lanjut Feng Kim.


Terkejut? Sudah pasti mereka semua terkejut, tapi bagi Feng Xian yang sudah mengetahui hal itu, tentu  dia hanya bersikap tenang. Keributan mulai terjadi, para pejabat saling bertanya satu sama lain mengenai ucapan Feng Kim.

__ADS_1


Di sisi lain mereka terkejut, di sisi lainnya lagi mereka tidak percaya jika akan terjadi lagi peperangan sedangkan mereka merasa tidak ada pihak mana pun menyatakan perang kepada kerajaan Xuilin. Tapi, Feng Kim mengatakan peperangan kali ini tidak sesederhana yang mereka pikirkan. Buktinya Feng Kim sampai harus kembali ke takhtanya.


"Yang Mulia! Hormat dari pejabat Wa Jing." Satu pejabat keluar, Wa Jing adalah Menteri Keamanan, "Yang Mulia dengan siapakah kita akan perang?" tanya Wa Jing dengan wajah cukup panik.


"Yang Mulia! Hormat dari pejabat Wei Eri." Pejabat lain ikut keluar dan memberi hormat, "Apakah peperangan kali ini akan sangat besar, sampai Yang Mulia mengatakan peperangan bersejarah besar?" tanya Wei Eri.


"Yang Mulia!"


"Yang Mulia!"


"Yang Mulia!"


Suara tanya terus bersahutan, membuat telinga Feng Kim perih mendengarnya. Hal seperti ini sudah menjadi hal biasa di kerajaan Xuilin jika terjadi keributan besar, apalagi bersangkutan dengan perang. Namun, reaksi mereka kali ini sungguh berlebihan.


Melihat Feng Kim tampak sedikit kesusahan menjelaskan, Feng Xian segera keluar barisannya dan segera berteriak, "Semuanya harap tenang! Bagaimana Yang Mulia ingin menjalakan jika kalian berbuat keributan?!" Mata tajam bak elang itu menatap semua pejabat, seakan ingin menerkam mereka saat ini juga jika mereka masih saja membuat kegaduhan.


Seketika suasana hening, mendengar teriakan dari Jenderal Besar berarti peringatan besar bagi mereka. Tidak ada yang ingin bermasalah dengan Jenderal Besar yang pastinya.


Melihat semua tenang, Feng Xian menghela nafas pelan, "Tenang dan dengarkan, Yang Mulia akan menjelaskan." Setelah berucap demikian, Feng Xian menatap Kakaknya mempersilakan Kakaknya itu bersuara.


Sebelum Feng Kim bersuara, dia menghela nafas sejenak sambil menutup mata, ketika merasa tenang, dia kembali membuka matanya, dengan pandangan yang tegas, "Seperti yang aku katakan sebelumnya, Perang ini bukanlah perang biasa. Maka dari itu aku kembali ke posisiku dan akan ikut bersama kalian dalam perang." Pernyataan Feng Kim kembali mengejutkan mereka, separah itukah perang yang dihadapi hingga membuat Feng Kim harus ikut dalam peperangan, Feng Kim melanjutkan, "Peperangan kali ini bukan dipicu karena keributan antar kekuasaan. Tapi karena pihak dari luar, mereka akan menjajah seluruh wilayah Dunia Bawah untuk menguasai dunia Bawah, termasuk daratan kita."


Bagai disambar petir, para pejabat memasang wajah begitu buruk. Namun tidak satu pun dari mereka berani membuka suara sebelum Kaisar mempersilakan mereka. Tidak baik mereka menyela penjelasan Kaisar sebelum selesai dan dipersilakan bertanya.


Feng Kim terdiam sejenak, terdengar dia menghela nafas lagi, "Dan aku ingin kalian semua mengungsikan para rakyat ke tempat aman. Tidak hanya rakyat kota Xuilin, tapi seluruhnya." Feng Kim berhenti sejenak, memikirkan sesuatu cukup lama, kemudian dia menatap pejabat Shen, "Menteri Shen, beritahukanlah kabar kepada tiga kerajaan lainnya, bahwa aku mengundang pertemuan mendadak untuk mereka. Dalam dua hari aku ingin mereka segera ke sini."


Feng Kim mengangguk pelan, tapi dia masih memikirkan sesuatu, cara mengamankan seluruh penduduk dunia Tengah dari peperangan. Jika saja ada tempat yang bisa mengamankan mereka, tapi di mana? Feng Kim tidak tahu. Tapi bukan berarti dia akan diam saja, semua ini akan diputuskan setelah Feng Kim melakukan pertemuan darurat dengan pemimpin negara lainnya.


Feng Kim kembali menatap para pejabat, cukup lama sampai dia menemukan perintah baru lagi, "Wakil Jenderal Chang Lui, aku ingin para prajurit  segera membuat tembok dari kayu besar mengelilingi kota Xuilin. Pastikan ukuran kayunya adalah yang terbesar!" tegas Feng Kim sambil menatap pria 25 tahun yang kini keluar dari barisan.


"Baik, Yang Mulia," balas Chang Lui tegas.


Feng Kim segera melirik ke arah adiknya, "Jenderal Besar Feng, kau ikutlah membantu. Kirim seluruh pasukan ke seluruh wilayah daratan Xuilin, mau desa kecil atau besar, bangunkan mereka tembok raksasa dari kayu. Jangan sampai ada satupun wilayah yang terlewat, apa kau paham?" tanya Feng Kim penuh kepercayaan, sangat percaya Adiknya itu bisa melaksakan tugasnya dengan baik.


Feng Xian segera berlutut memberi hormat, "Baik, Yang Mulia, akan saya jalankan!" balas Feng Xian tegas.


Masih, masih ada yang kurang. Feng Kim kembali berpikir keras, tapi rasa kekhawatirannya terlalu besar sehingga mengganggu kepalanya untuk berpikir. Feng Kim tampat  bolak-balik di tempat, terlihat sangat memaksakan dirinya untuk berpikir.


Setelah menemukan sesuatu, Feng Kim segera menatap We Jing, sebelum Feng Kim berbicara tampaknya dia menimbang-nimbang kembali pikirannya sebelum dia keluarkan, "Menteri We Jing, pergilah bersama beberapa prajurit ke perbatasan antara Dilie-Xuilin, Cuzzia-Xuilin, dan Moa-Xuilin. Tingkatkan keamanan di sana, dan ... pastikan semua perintahku terlaksanakan. Setelah itu kembali lah, dan tunggu perintah baru dariku," jelas Feng Kim.


"Baik, Yang Mulia. Perintah segera dilaksanakan!"


***


Walaupun rapat yang diadakan Kaisar Feng Kim dan para pejabat sangatlah tertutup, namun kabar tentang naiknya kembali Kaisar Feng Kim menyebar ke seluruh kota Xuilin dengan cepat, bahkan sampai di luar wilayah. Banyak rakyat dari kalangan rendah maupun tinggi bertanya-tanya apakah yang membuat Kaisar Feng Kim kembali bertakhta disinggasananya.

__ADS_1


Kabar itu tersebar dari pengumanan Pejabat Pembangunan Li Hou bersama prajurit di alun kota. Banyak rakyat berbondong-bodong ke sana hanya untuk mendengar pengumuman itu. Li Hou sendiri tidak menjelaskan secara rinci alasan Kaisar Feng Kim kembali naik menjadi Kaisar, sebab tidak ingin membuat para rakyat merasa khawatir dan takut.


Peperangan besar akan terjadi!


Tidak hanya menggemparkan kalangan rakyat namun juga kalangan bangsawan yang belum mengetahui masalah yang terjadi. Di kerajaan terjadi sedikit keributan dari beberapa bangsawan kecil. Sedangkan di kota, para rakyat hanya kebingungan, Kaisar Feng Xian memberikan kedudukannya dan kembali menjadi Jenderal Besar kerajaan, hal itu memang tidak terlalu berdampak buruk bagi mereka, tapi yang menjadi pertanyaan, kenapa?


Kenapa? Jawaban itu belum bisa mereka tahu sebab Kaisar menutup erat alasan itu kepada para rakyat.


Di sebuah kediaman, yang dikenal sebagai kediaman Putri ke Lima, juga terjadi keributan dari beberapa pelayan, termasuk Chi Su sendiri. Dirinya baru saja pulang dari Paviliun Wûkì bersama Shua Xie, tiba-tiba saja mendapat kabar dari Ogher bahwa Kaisar turun takhta dan digantikan oleh Kaisar terdahulu.


Hal itu mengejutkan  Chi Su ketika mendengarnya, "Ini mendadak! Kenapa Yang Mulia kembali bertakhta? Bukankah aneh?" tanya Chi Su sambil memandang Ogher penuh pertanyaan.


Ogher sendiri tidak bisa menjelaskan secara rinci, statusnya hanyalah perajurit kediaman Shua Xie, tidak ada yang dia tahu selain Feng Kim kembali bertakhta. Lagi pun Ogher tahu berita itu setelah Jenderal Besar mengumumkannya kepada semua prajurit istana. Walaupun pengumuman itu terlalu mendadak, tapi Ogher tidak bisa mengajukan pertanyaan pada pemimpin mereka. Tidak sopan bukan seorang prajurit menanyakan alasan pada Jenderal Besar?


"Alasannya belum diketahui, tapi katanya, akan terjadi peperangan besar. Yang Mulia berkata peperangan itu ialah peperangan terbesar dalam sejarah," jelas Ogher seperti dari kabar yang dia dengar.


Chi Su tidak bisa menutup keterkejutan, walaupun ekspresinya terlihat begitu berlebihan, "Apa! Perang? Dengan kerajaan mana? Mungkinkah ...." Chi Su segera menatap Shua Xie, bisa dia lihat Shua Xie begitu tenang sambil meminum teh di meja.


Tahu kalau Chi Su berpikir peperangan terjadi karena keributan Putri Laila di Pavilun Wûkì, Shua Xie langsung membenarkannya, "Jangan berpikir terlalu jauh, tidak mungkin perang terjadi begitu cepat sedangkan mereka baru beberapa waktu yang lalu bermasalah dengan kita." Shua Xie meletakkan gelas ke meja, lalu meraih kue berbentuk bungai teratai dan melahapnya dengan anggun.


"Bermasalah?" Ogher mengerutkan kening, "Dengan siapa?" lanjutnya lagi sambil menatap Chi Su, berharap pelayan itu akan menjawab pertanyaannya.


Tampak raut wajah dari Chi Su begitu menakutkan, entah sejak kapan gadis berwajah imut itu memiliki perangai seperti itu. Chi Su menjawab dengan ketus, "Putri Laila, dari kerajaan Dilie."


"Putri Laila? Bagaimana bisa?" Ekspresi Ogher terlihat sangat terkejut. Mungkin tidak menduga kalau Shua Xie bermasalah dengan Putri yang satu itu.


"Wanita liar itu tidak hanya menghina Nona Shua Xie, tapi dia juga menghina Kerajaan Xuilin. Tidakkah dia pikir dia sedang berada di mana? Seandainya ... seandainya saja Nona tidak melepaskannya, aku akan menjadi orang pertama yang membunuh wanita liar itu!" Terlihat Chi Su menjelaskan dengan begitu kesal dan geram, namun tidak bisa berbuat apa-apa jika sudah Shua Xie yang berkehendak.


Mendengar Chi Su begitu kesal, Shua Xie tersenyum tipis, "Apakah kau menyalahkan aku, Chi Su?" tanya Shua Xie tanpa menoleh pada pelayannya itu.


"Ti-tidak Nona! A-aku hanya." Chi Su segera berlutut di hadapan Shua Xie, mau bagaimana pun dia tetap salah sebab menyalahkan Shua Xie melepaskan Laila begitu saja tanpa memberi pelajaran, "Ha-hamba tidak berniat menyalahkan Nona. Hamba hanya tidak rela membiarkan wanita itu pergi dengan tenang setelah menghina Nona dan Kerajaan Xuilin," jelasnya sambil menunduk di lantai.


Tampaknya Shua Xie tidak peduli dengan apa yang Chi Su lakukan, meskipun Chi Su telah bersujud di lantai seperti budak, ekspresi tenang Shua Xie tidak hilang. Seakan tidak ada lagi belas kasih di sana.


"Berdirilah, siapa yang memintamu bersujud?" balas Shua Xie dengan nada datar.


"Tapi Nona, hamba bersalah, hukumlah hambamu ini!" Chi Su masih bersujud tidak ingin bangkit sebelum dirinya menerima hukuman. Bagaimana mungkin seorang pelayan menyalahkan majikan? Apapun alasannya, pelayan tetap harus dihukum!


Tapi, sayangnya Shua Xie bukan orang sejahat itu, apalagi tidak mengingat budi seseorang. Terlebih Chi Su telah berjasa besar pada Shua Xie terdahulu, tidak ada hak bagi Shua Xie yanh sekarang untuk menghukum pelayan itu. Shua Xie pun yakin, Shua Xie yang dulu pasti tidak akan tega menghukum pelayan sekaligus orang terdekatnya.


"Jika kau tidak bangkit jangan harap pernah menjadi pelayanku lagi."


___________


A/N: maaf kemarin 2 gak up, paket data aku habis. Jadi ke depannya selama 7 hari aku up setiap jam 03:00 WITA.

__ADS_1



Jika ada kesempatan mampirlah ke karya othor yg satu ini 😁aku tunggu kalian di sana


__ADS_2