
Wajib tekan like sebelum baca gays 😑
Mau aku update terus jangan pelit like lah, okey!
 
 
____________
 
"Ksatria Lang Yun. Kau masih saja sama seperti dulu, Anda sangat agresif." Lou Yue masih tersenyum kemudian menepis pedang itu dengan tangan kosong.
Lang Yun bersalto di udara dan mendarat dengan baik di samping Pangeran Oz. Oz terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya.
"Ksatria Lang Yun, bukan kah sudah kukatakan tidak perlu serius?"
Lang Yun menunduk sekilas. "Maaf, tapi saya tidak bisa menahan diri jika bertemu pria biadab itu." Lang Yun menatap Lou Yue tajam. Sangat tajam. Jika tatapan itu adalah sebuah pedang, mungkin dengan tatapan saja mampu melukai Lou Yun.
"Aku tahu kebencianmu pada Kakakku sangatlah besar, tapi bertindak terburu-buru dalam melakukan sesuatu, hasilnya pasti tidak akan sesuai harapanmu." Oz memberi kalimat nasihat. Dia hanya ingin Lang Yun tahu, dalam pertarungan jangan pernah mengedepankan perasaan. Tetap lah tenang dan tenang. Karena perasaan hanya akan membawa dampak negatif pada pertarungan.
Lang Yun tahu tentang larangan itu, bahkan Guru yang mengajarinya dulu hingga ketahap sekarang juga sering berkata demikian. Namun, jika dendam sudah dan benci sudah mendarah daging, perasaan marah dan kesal pasti akan sulit ditahan ketika kita bertemu dengan seseorang yang tidak disukai. Seperti itu juga yang terjadi pada Lang Yun. Terlebih dendam Lang Yun terhadap pada Yue sangat lah besar, tidak bisa ditahan apalagi dibiarkan.
"Maafkan saya, Pangeran Oz." Lang Yun membuang wajah geram, berusaha menahan amarah. Ke dua tangannya mengepal kuat, menimbulkan urat-urat di ke dua tangannya itu.
Di sisi lain, Lou Yue tampak sangat terhibur dengan reaksi yang dikeluarkan Lang Yun ketika bertemu dengannya. Dan reaksi seperti ini lah yang selalu Lou Yue dambakan jika berhadapan dengan Lang Yun. Lou Yue suka membuat Lang Yun emosi.
Berbeda dengan Wei Jingyu, ia memang pernah satu perguruan dengan Lang Yun, tapi perbedaan kekuatan di antara mereka berdua sangat lah jauh. Di perguruan, Lang Yun merupakan murid terkuat ke dua setelah Lou Yue. Jelas bukan tandingan Wei Jingyu. Jadi Wei Jingyu hanya bisa berdiri diam menahan takut, demi majikannya Lou Yue..
Dulunya Lou Yue dan Lang Yun adalah sahabat dekat, saking dekatnya mereka sudah saling menganggap seperti saudara. Namun, sejak hari mengerikan itu tiba, ketika Lang Yun harus kehilangan adik perempuannya karena Lou Yue menentang perintah Sky Emperor, apalagi ketika saat itu Lou Yue malah meninggalkan adik perempuan Lang Yun dan pergi entah ke mana. Lang Yun tidak mungkin bisa memaafkan Lou Yue begitu saja, setelah semua perbuatan Lou Yue telah merugikan adik perempuannya. Karena Lou Yue, Lang Yun harus kehilangan adik perempuannya, satu-satunya keluarga yang Lang Yun miliki.
Lang Yun telah bersumpah, dia lah yang akan membunuh Lou Yue dengan tangannya sendiri. Sumpah itu pasti akan dia wujudkan untuk kematian adiknya.
"Yang Mulia, apa yang akan Anda lakukan?" Melihat Lou Yue tersenyum aneh, Wei Jingyu yakin Tuannya itu sedang merencanakan hal yang tak baik. Mungkin tidak terlalu berefek pada Lou Yue, tapi pasti berefek besar pada sekitarnya.
"Tidak ada apa-apa selain menyambut tamu-tamu spesialku," balas Lou Yue tanpa mengalihkan pandangannya dari Oz dan Lang Yun.
"Yo! Kakak ... lama tidak berjumpa! Bagaimana kabarmu?" Oz menyapa dengan nada ramah, tidak berniat merusak suasana yang menurutnya jarang bisa bertemu lagi dengan sang kakak. Oz melangkah, ingin mendekati Lou Yue, tapi kemunculan formasi pelindung langsung menghalanginya. Oz terhenti, kemudian terkekeh sambil menatap Lou Yue lucu.
"Oh, aku tidak menyangka kau begitu menjaga jarak dariku." Oz menatap Lou Yue remeh.
Lou Yue mendengus pelan. "Hanya bocah ingusan, sebaiknya kau pulang dari pada aku memukul bongkongmu."
"Ohoho ... kau meledekku?"
"Jadi kau merasa begitu? Padahal aku hanya mengutarakan rasa sayang sebagai Kakak kepada Adik." Lou Yue menggeleng sedih. Bersikap seolah merasa tertampar mendengar ucapan Oz barusan.
"Ah, begitu kah?" Oz berpura-pura tidak merasakan apa yang dikatakan Lou Yue barusan.
"Tentu, lalu kau pikir kenapa aku menyambutmu?"
Oz berpikir sejenak. "Ahaha ... benar juga. Ternyata kau masih sama seperti Kakak yang dulu. Menyebalkan." Oz melebarkan senyuman yang artinya berbeda dengan tujuan senyuman itu.
Lou Yue hanya tersenyum. Singkat. Lalu kembali memasang wajahnya yang datar dan dingin. Kilatan mata yang penuh kebencian dan kemarahan tampak jelas di ke dua netra biru itu. Seketika suasana berubah dratis, tegang dan dingin. Angin berembus dari barat, meniup dedaunan, menghasilkan suara gemersik yang tenang.
'Perasaanku berkata tidak enak. Sesuatu yang buruk pasti terjadi.' Wei Jingyu meneguk ludah. Tengkuknya terasa dingin mungkin karena embusan angin.
'Oh, Nona Nushen ada baiknya jika kau ada di sini.'
 
 
***
 
__ADS_1
 
"Siapa dia, Tu Mo?" tanya seorang gadis di samping pria jenjang bernama Tu Mo.
Tu Mo menoleh kemudian menjawab dengan suara pelan. "Dia kiriman Putri Shua Xie."
Terkejut gadis itu mendengar nama Shua Xie. Tidak ia duga perempuan yang pernah ia permalukan di paviliun Wuki malah mengirim bantuan ke kerajaan Dilie. Perasaan malu dan khawatir pun mulai mengusai diri. Gadis itu menunduk, tidak lagi bertanya.
Dia adalah Laila. Aku tak yakin kalian masih ingat dengannya. Dia putri angkat dari Kaisar kerajaan Dilie, yang kemudian mendapat gelar sebagai Putri ke 3. Laila pernah datang ke kerajaan Xuilin untuk membeli senjata yang baru ditepa Master Gu, dan kedatangannya di sana membuatnya bertemu dengan Shua Xie. Mereka sempat bertengkar, tidak, mungkin lebih tepatnya Laila yang sengaja mengajak Shua Xie bertengkar, tapi Shua Xie seakan enggan menanggapinya.
"Kenapa? Apa kau merasa bersalah sekarang?" Tu Mo tersenyum mengejek. Lantas membuatnya mendapat pukulan.
"Aw! Kenapa kau memukulku." Tu Mo menatap Laila kesal sambil mengusap kepalanya yang baru saja mendapat pukulan.
"Mulutmu bau!" Setelah berkata ketus, Laila berjalan lebih cepat meninggalkan Tu Mo. Mengejar Kun yang berjalan beriringan dengan Menma.
Tu Mo segera mengeluarkan nafas dari mulutnya, mencoba mencium aromanya. Alisnya perlahan berkerut dengan mimik wajah berubah kecut.
"Ini pasti karena memakan daging monster itu."
Di sisi lain, Kun dan Menma berjalan beriringan. Namun, tidak satu pun dari ke duanya berniat membuka pembicaraan. Menma sibuk memikirkan apa yang terjadi pada 4 kerajaan lainnya, sementara Kun sibuk mencermati sesuatu yang ada di diri Menma.
'Rambut biru muda perak dan mata merah yang terang. Aku tidak pernah tahu ada perempuan sepertinya. Seharusnya perempuan secantik dia ini akan menjadi sangat terkenal.'
Kun hanya penasaran kenapa dia tidak pernah tahu kerajaan Xuilin memiliki perempuan seperti Menma. Bukannya Kun tertarik pada kecantikan Menma, memang iya Menma menarik dan cantik, tapi bagi Kun masih ada perempuan yang jauh lebih menarik di matanya. Perempuan yang selalu berusaha menarik perhatiannya.
'Apa mungkin kerajaan Xuilin sengaja menyembunyikan perempuan ini demi mencegah hal buruk?' Kun merasa kecantikan Menma sangat di luar nalar. Jika pria bernafsu dan tidak bisa menahan hasrat, Kun yakin Menma tidak akan bisa hidup tenang.
Nyatanya hidup menjadi perempuan cantik itu tidak semudah yang kalian pikirkan. Di luaran sana, banyak wanita-wanita berpikir, jika mereka cantik maka kehidupan mereka akan jauh lebih mudah, setidaknya mereka tidak perlu bersusah payah mencari pria. Memang benar, tapi jangan pernah lupakan berapa banyak kasus pelecehan, pemerkosaan hingga pembunuhan yang terjadi pada wanita cantik. Jangankan yang cantik, yang buruk rupa pun bisa mati.
'Atau mungkin dia dari negara lain?' Kun menerka lagi. Diam-diam melirik Menma penasaran.
"Apa kau tahu kecemburuan itu jauh lebih mengerikan dari pada berhadapan dengan ratusan pendekar." Tiba-tiba Menma bersuara. Membuat Kun terkesiap sebab tidak mengerti.
"Maksudmu?"
"Lihat ke belakang," imbuh Menma.
Kun melihat ke belakang. Tampak seorang gadis tengah menatapnya dan langsung buang pandangan ketika Kun menangkap basa dirinya. Ternyata Laila sejak tadi menatap mereka berdua dengan pandangan aneh, ada siratan kebencian, ketidak sukaan, dan kesedihan. Tampaknya gadis cantik itu cemburu melihat Kun berjalan beriringan dengan perempuan lain.
"Aku paham." Kun terkekeh dalam hati. Jadi ini lah yang dimaksud Menma tadi. Kecemburuan yang lebih mengerikan dari pada berhadapan dengan seekor macan.
"Cemburu merepotkan orang lain, tetapi menyiksa diri mereka sendiri," ucap Menma lagi bak seorang pepatah. Kata-kata yang pernah ia baca sewaktu di academi dulu. Milik seorang berinisial W.P.
"Ahaha, baik lah, aku paham." Kun memperlambat langkahnya. Membiarkan Menma berjalan di depan, sementara ia menyesuaikan langkahnya dengan Laila.
 
 
***
 
 
Di kerajaan Dilie, hanya beberapa orang saja yang bisa Menma temukan. Sementara yang lain, Kun berkata kemungkinan besar sudah tidak selamat. Ketika Menma bertanya bagaimana dengan Kaisar dan pejabat lainnya, Kun hanya menggeleng. Ia tidak tahu bagaimana keadaan Kaisar dan para pejabat, karena setelah diperiksa, para pejabat negara tidak satu pun ditemukan mayatnya.
"Mereka pasti ditangkap dan dipenjara." Meski hanya deduksi, Menma yakin bahwa memang benar begitu nyatanya.
Lou Yue mungkin sengaja menangkap mereka untuk memancing Menma datang kepadanya.
"Menma! Menma!"
Azura datang dari arah gerbang masuk. Berlari cepat bersama beberapa anak kecil. Ada pun satu anak kecil dalam gendongannya. Melihat raut wajah panik Azura, membuat Menma ikut panik.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" Menma lekas mendekati Azura. Kun dan rekannya yang melihat kedatangan Azura ikut mendekat.
__ADS_1
"Siapa dia?" tanya Kun pada Menma.
"Prianya." Bukan Menma yang menjawab, melainkan Azura.
Kun tersentak kaget, begitu pun dengan teman-temannya. Ternyata Menma sudah memiliki pasangan.
'Biarkan saja.' Menma menghela nafas. Malas berdebat. Ia segera mendekati bocah laki-laki yang Azura baringkan ke tanah. Melihat bocah laki-laki itu terluka, Menma langsung menatap Azura.
"Dia terluka, jangan bilang kau-"
"Tidak. Bukan aku. Ketika bertemu dengannya dia memang sudah seperti ini." Azura mengklarifikasi.
"Ugh! Ahh ...." Bocah itu meringis ketika Menma menekan perutnya.
"Patah tulang belakang?" Menma sedikit terkejut.
"Ya. Dia hebat masih bisa bertahan hingga saat ini."
Menma kembali memeriksa bocah itu. Setelah tahu apa yang terjadi, ia pun segera mengeluarkan sebotol pil dari cincin Ruang. Karena kemunculannya begitu tiba-tiba, di mata orang awam seperti Kun dan yang lain, Menma terlihat seperti baru saja melakukan ilmu sihir.
"Telan." Menma memasukkan pil ke dalam mulut bocah itu. Si bocah langsung menelannya.
"Kau beruntung bertemu denganku, jika tidak, siapa lagi yang akan menyelamatkanmu di saat seperti ini? Ingat dan balas budi suatu saat nanti." Menma masukkan kembali botol pilnya.
'Muncul dan hilang begitu saja. Bagaimana bisa dia melakukannya?' Kun memandang Menma takjub. Belum pernah ia melihat ilmu sihir seperti itu.
"Kenapa kau berkata seperti itu padanya?" timpal Azura. Tak percaya Menma malah meminta balas budi atas pertolongan yang dia berikan.
"Aku bukan lah manusia yang baik. Tidak ada barang gratis di dunia ini. Selain itu, bocah ini telah menarik perhatianku."
 
 
#Bersambung
A/N : jangan-jangan kau kasih minum pun kau tagi juga_-
@Menma
@Lou Yue
@Azura
@Oz
@Lang Yun
@Shua Xie
Kalian dukung yang mana? Komen gan!
Terus kalian setuju gak Menma ada cowoknya? Kalau iya sama siapa? Kalau enggak komen alasannya.
Oke, sampe bertemu di episode berikutnya 💙
Lop yuu, sarangek, aisiteru!
 
 
 
 
 
__ADS_1