Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 118


__ADS_3

Chi Su menatap kepergian Shua Xie dengan tatapan bingung, bingung mengartikan ucapan Shua Xie barusan. Mengenai para pemuda itu akan menjadi prajuritnya suatu hari nanti.


Kenapa Shua Xie berbicara seperti itu? pikir Chi Su. Tapi dia tidak ingin berkelebat panjang dengan pikirannya. Chi Su pun mulai berjalan mengikuti Shua Xie yang berjalan sudah cukup jauh darinya.


Ketika langkah kaki Shua Xie sudah menginjak lantai atas, Shua Xie mengedarkan pandangannya menatap suasana lantai tiga cukup damai dari lantai satu dan dua. Atau mungkin Shua Xie bisa mengatakan cukup sepi dari dugaannya.


Shua Xie terus mengikuti langkah rombongan pemuda Kun yang dia ikuti, sampai akhirnya rombongan itu berhenti tepat di sebuah bangku kayu. Mereka semua duduk di kursi itu, Shua Xie juga sama, tapi Shua Xie memilih kursi lain yang berada di pojok ruangan. Dia tidak ingin bergabung dengan rombongan itu apalagi ada Laila si perempuan cerewet. Lagi pun Shua Xie butuh ketenangan. Bersama rombongan pemuda itu hanya akan membuat keadaan ribut.


Chi Su mendaratkan bongkongnya di samping Shua Xie sambil mengamati sekitarnya.


"Apa yang Nona cari di lantai ini? Bukankah lantai satu dan dua juga menjual senjata?" tanya Chi Su dengan suara berbisik, tidak ingin ucapannya didengar banyak orang. Karena menurutnya omongannya bersama Shua Xie adalah privasi.


Shua Xie tidak mengalihkan pandangannya, tampak ke dua sorot matanya itu menatap tajam sebuah pintu bertirai merah yang di jaga dua pengawal.


"Apa kerajaan Xuilin terlihat kekurangan senjata sampai kita harus membeli di pavilun ini?" balas Shua Xie singkat. Seharusnya Chi Su paham dari awal, kedatangan Shua Xie ke Paviliun Wûkì bukan untuk senjata, melainkan sesuatu yang lebih bermanfaat.


Chi Su terdiam sejenak memikirkan balasan Shua Xie barusan. Yang dikatakan Shua Xie memang benar, kerajaan Xuilin tidak akan kekurangan senjata mengingat kerajaan Xuilin memiliki tambang tembaga dan emas yang dirahasiakan.


Lalu buat apa Shua Xie pergi ke Paviliun Wûkì? Apa sebenarnya tujuan Shua Xie?


Chi Su menatap Shua Xie cukup intens sambil mendalami sendiri pikirannya. Berusaha menebak apa yang telah terjadi pada Shua Xie, semenjak kejadian Shua Xie dihukum di gudang belakang. Shua Xie menjadi beruba drastis, tidak lagi lemah dan berpikir rendah. Dan sekarang Shua Xie seperti memiliki rencana sendiri di luar pikiran banyak orang.


Apa pun yang terjadi pada Shua Xie, Chi Su tidak bisa menebaknya. Tapi satu hal yang menjadi keyakinannya, rasa patuhnya pada Shua Xie tidak akan pudar.


"Lalu apa tujuan Nona datang kemari?" tanya Chi Su dengan raut wajah cukup serius.


Shua Xie mendengus pelan sambil beralih menatap Chi Su, tak lupa pula Shua Xie memberikannya senyuman khasnya.


"Kau akan tahu nanti," balas Shua Xie.


***


Kedatangan Zhang Ziyi berserta dengan pasukannya bersama Bupati Qionglin membuat sedikit kegaduhan gerbang pusat Biro Keamanan . Salah satu ketua Biro Keamanan lainnya datang mendekati Zhang Ziyi dengan wajah penuh pertanyaan.

__ADS_1


"Kenapa ada Bupati Qionglin bersamamu? Apa yang telah dilakukan Bupati Qionglin?" tanya pemuda seumuran Zhang Ziyi. Dia adalah Su Ho dari Keluarga Ho.


Zhang Ziyi berhenti ketika Su Ho menghentikannya. Raut wajah Zhang Ziyi masih sangat dingin seperti saat dia meninggalkan tempat awal dia menangkap Bupati Qionglin.


Zhang Ziyi menatap Su Ho tenang, "Sudah seharusnya pelaku kejahatan di bawa kemari bukan?" balas Zhang Ziyi penuh penekanan, seakan menekankan bahwa Bupati Qionglin telah melakukan kejahatan yang tidak seharusnya Su Ho ketahui.


Su Ho terdiam, tidak memberikan ekspresi apapun. Terlihat cukup santai seakan dia sudah mengetahui masalah Bupati Qionglin. Namun nyatanya dalam hati dia bertanya cukup keras.


Kesalahan apa yang telah dilakukan Bupati Qionglin?


Su Ho beralih menatap Bupati Qionglin, dia dapat melihat Bupati Qionglin datang dengan keadaan cukup memalukan untuk seorang Bupati. Su Ho bisa pastikan, luka yang dialami Bupati Qionglin sangat parah, terlihat dari bercak darah di bajunya, serta kaki dan tangannya yang patah.


"Apa kamu memukul Bupati Qionglin?" tanya Su Ho setelah melihat kondisi Bupati Qionglin sangat menyedihkan. Dia yakin seseorang baru saja menghajar Bupati Qionglin.


Tatapan Zhang Ziyi menjadi tajam terhadap Su Ho. Sangat tidak suka Su Ho terlalu banyak bertanya, "Seorang petugas tidak ada hak memukul tersangka terkecuali tersangka telah melakukan tindak kejahatan besar. Apa kau paham sampai di situ, Su Ho?" balas Zhang Ziyi dingin.


Sekali lagi Zhang Ziyi menekankan, apapun yang terjadi pada Qionglinitu karena kesalahannya sendiri.


Tidak ingin membuat masalah, Su Ho mempersilakan Zhang Ziyi dan rombongannya masuk ke dalam membawa Qionglin ke penjara.


Zhang Ziyi pun kembali berjalan masuk bersama para pasukannya yang membawa Bupati Qionglin menuju penjara. Selama perjalanan mereka, banyak petugas lainnya menyaksikan Zhang Ziyi bersama rombongannya dengan berbagai macam tatapan.


Namun pertanyaan mereka semua sama, kenapa Bupati Qionglin dibawa ke penjara? Kejahatan apa yang telah dilakukannya?


Zhang Ziyi membawa Qionglin ke penjara tingkat rendah, atau penjara yang mana masih mendapat layanan baik dari para petugas Biro Keamanan. Paling tidak Qionglin masih mendapat belas kasih setelah membuat Putri ke Lima marah.


Setelah membuka salah satu pintu jeruji besi, Zhang Ziyi memerintahkan para pasukannya membawa masuk Bupati Qionglin dan membaringkannya di sebuah kasur kayu.


Setelah membaringkan Bupati Qionglin, Zhang Ziyi meminta para pasukannya menunggu di luar sel.


"Petugas Zhang, uhuk ... uhuk." Qionglin menatap Zhang Ziyi lemah diiringi dengan batuk darah yang semakin parah, "Aku akan berikan apapun yang kau mau, asalkan kau mau membebaskanku," lanjutnya dengan suara pelan sehingga petugas lainnya tidak mendengarnya.


Pandangan Zhang Ziyi beralih menatap luar sel, sedikit terkejut ketika Bupati Qionglin mengatakan hal tersebut, bagaimana jika ada petugas lain yang mendengarnya? Bisa terjadi kesalah pahaman nantinya. Setelah memastikan tidak ada yang mendengar ucapan Bupati Qionglin barusan, Zhang Ziyi kembali menatap Qionglin.

__ADS_1


"Bupati Qionglin, apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan?" balas Zhang Ziyi dingin.


Qionglin mengukir senyum kecil, sorotan mata yang mulai memudar itu menatap Zhang Ziyi penuh harapan. Berharap kalau Zhang Ziyi mau menerima tawarannya. Qionglin telah mengeluarkan kartu yang sering ia pakai menyogok aparat pemerintah lainnya.


"Aku telah melakukan banyak kesalahan, aku yakin Putri ke Lima pasti ingin membalaskan dendam masalah lalunya," gumam Qionglin di akhiri dengan senyuman pahit.


Zhang Ziyi diam tidak memberikan tanggapan apapun, pandangannya terhadap Qionglin semakin dingin. Seakan tidak peduli dengan ucapan Qionglin barusan.


Melihat Zhang Ziyi diam, Qionglin kembali berbicara, "Aku akan memberikan apapun yang kau mau, tapi dengan syarat kau harus bisa membantuku keluar."


Qionglin terus memaparkan tatapan penuh harapan pada Zhang Ziyi, sangat berharap Zhang Ziyi mau membantunya.


Zhang Ziyi berjongkok di hadapan Qionglin dengan senyuman tipis yang memberikan harapan, "Bupati Qionglin, aku sangat senang akan tawaranmu. Apa kau yakin akan mengabulkan semua permintaanku?" balas Zhang Ziyi dengan seringai kecil.


Qionglin tersenyum mendengar jawaban Zhang Ziyi.


"Tentu saja, uang, jabatan, semua bisa kuberikan. Aku bisa merekomendasi dirimu pada Kaisar menjadi salah satu Ksatria terbaik." Qionglin menambahkan tawarannya.


Zhang Ziyi semakin tersenyum mendengar tawaran Qionglin, "Aku cukup terkesan. Tawaranmu sangat membuatku bersemangat."


Senyuman penuh harapan Qionglin semakin lebar. Sungguh tidak dia sangka Zhang Ziyi akan semudah itu tertarik dengan tawarannya. Di luar dugaannya ternyata Zhang Ziyi mudah dihasut dengan keuangan dan kekuasaan.


"Tapi." Raut wajah Zhang Ziyi kembali dingin, telapak tangannya menyapu pundak Qionglin dengan pelan. Sampai sapuan tangannya itu berhenti lalu menepuk beberapa kali pundak Qionglin, "Anda salah orang. Aku bukanlah aparat kotor sepertimu." lanjut Zhang Ziyi lagi sambil memberikan senyuman singkat pada Qionglin, senyuman yang mengartikan sebuah penghinaan.


Menghina kerja Qionglin selama ini selaku kotor dan curang.


Setelah berucap seperti itu, Zhang Ziyi beranjak berdiri. Lalu meninggalkan Qionglin yang kini tengah mengumpati dirinya.


"Dasar anak muda bedabah! Kau akan menyesal menolak tawaranku! Percayalah kau akan menyesal! Akan kubuat keluargamu hancur! Ingat itu!" teriak Qionglin menggila sambil menunjuk-nunjuk Zhang Ziyi geram karena telah mempermainkan dirinya.


__________________


A/N : Menyuap seseorang bukanlah hal yang mudah? Terkadang harta dan kekuasaan tidak menjamin kebebasan. Bener bukan?

__ADS_1


__ADS_2