
Suara teriakan seorang gadis mengetuk banyak telinga, memanggil banyak mata memandang ke arahnya. Dan setelah banyaknya mata melihat pemilik suara teriakan sebelumnya, seketika mereka semua bangkit dari tempat mereka duduk sembari memasang ekspresi terkejut.
Mielan jatuh duduk ke lantai sambil memangku Wang Xinian yang semakin sekarat, nafas Putri itu terdengar tercekat seakan ada sesuatu yang menahan di tenggorokannya. Bersamaan dengan itu beberapa cairan merah kental keluar dari mulutnya. Tatapan Wang Xinian terhadap Mielan tidak lepas, tampak sedang mengatakan sesuatu lewat tatapannya itu.
'Mielan, kau ... akan menyesal!' pekik Wang Xinian dalam hatinya melihat Mielan tengah menangisinya, tangis kepalsuan demi menarik perhatian. Wang Xinian memaki drama yang dibuat Mielan.
Racun di tubuh Wang Xinian sudah menyebar, tentunya gadis itu tidak bisa menahan rasa sakitnya lagi. Dan secara perlahan, matanya itu mulai sayu, terbuka tertutup seperti sedang mengantuk berat. Padahal Wang Xinian bisa saja menutup matanya sekarang juga menghilangkan rasa sakit yang dia derita, tapi karena kebenciannya terhadap Mielan, membuat Wang Xinian tidak ikhlas meninggalkan dunia. Namun, pada akhirnya, sosok Putri itu pun menutup matanya.
Kaisar Feng Kim yang sebelumnya duduk di singgasananya penuh kebahagiaan merayakan keberhasilannya menjalin hubungan baik dengan empat pemimpin negara, kini turun dari singgasananya itu, bergegas mendekati Mielan yang diikuti beberapa orang di belakangnya.
"Apa yang terjadi?! Kenapa Putriku memuntahkan banyak darah?" Kaisar Feng Kim duduk jongkok di samping Mielan lalu meraih pergelangan tangan Wang Xinian. Setelah dia merasakan nadi Putrinya itu, Feng Kim membulatkan matanya terkejut, "Racun!? Siapa yang berani meracuni Putriku!" pekiknya keras.
Mendengar teriakan Kaisar Feng Kim bahwa Wang Xinian terkena racun, mereka semua tidak bisa menutupi rasa terkejutnya lagi. Bersamaan dengan itu, beberapa mata segera beralih memandang sesosok gadis yang masih duduk manis di depan meja jamanuannya. Seingat mereka, Wang Xinian masih baik-baik saja sebelum meminum anggur dari gadis itu.
Mielan terisak, tangannya terus menyeka air matanya, "Yang Mulia, sebelumnya Putri Utama tidak seperti ini, namun setelah meminum anggur dari Putri ke Lima, hal buruk ini terjadi." Mielan tidak bisa menuduh secara langsung, namun cukup menggunakan penjelasan itu semua orang bisa tahu, Wang Xinian terkena racun setelah meminum anggur dari Putri ke Lima, Shua Xie.
Semua orang juga bisa berpikir seperti itu, termasuk Kaisar Feng Kim sendiri.
Kaisar Feng Kim tersadar, memang benar, sebelumnya Wang Xinian tidak kenapa-kenapa. Tapi setelah berhadapan dengan Shua Xie, hal buruk ini terjadi. Hanya saja, Kaisar Feng Kim tidak percaya Shua Xie melakukan hal seperti ini. Kaisar Feng Kim memang tahu Shua Xie pasti membenci para saudarinya mengingat bagaimana cara saudarinya dulu memperlakukannya, tapi mengingat temperamental gadis itu, Shua Xie tidak mungkin menggunakan cara seperti ini. Jika gadis itu mau, dia bisa saja membunuh Wang Xinian dengan tangannya sendiri apalagi Shua Xie memiliki kemampuan cukup membunuh Kakaknya.
Pandangan Kaisar Feng Kim beralih menatap Shua Xie, bisa dia lihat Putrinya itu sedang duduk manis sembari memakan makanan di meja. Tampaknya Shua Xie tidak terganggu sedikit pun oleh kejadian yang terjadi telah menyangkut pautkan reputasi gadis itu.
"Yang Mulia, tolong berilah keadilan untuk Putri Pertama. Putri Pertama adalah sahabatku. Aku tidak rela Putri Pertama mati dengan cara seperti ini." Terdengar suara lirihan gadis gadis pemangku Wang Xinian, Mielan.
Bersamaan dengan itu, datang seorang wanita berusia 30 tahunan berlari cukup cepat mendekati Mielan, lebih tepatnya mendekati Wang Xinian. Wanita itu adalah Wenli, Selir Pertama Kaisar Feng Kim, Ibu dari Wang Xinian. Wenli segera meraih tubuh Wang Xinian dari pangkuan Mielan ke pangkuannya, beriringan dengan suara tangisan keras.
"Wang'er! Wang'er! Wang'er bangun! Jangan tinggalkan Ibu Nak!" Tangan Wenli menepuk keras pipi anaknya itu, tapi tidak ada respon apapun, "Wang'er! Bodoh! Bangun! Apa kau ingin meninggalkan Ibu sendirian!" Semakin keras teriakan Wenli ketika dia merasa tubuh Putrinya itu mulai mendingin dan pucat.
"Ibu tidak mengizinkanmu pergi!" pekik Wenli lagi.
__ADS_1
Lirihan Wenli mengundang banyaknya tatapan sedih, turut berduka calon Putri Utama telah meninggalkan dunia. Tidak disangka juga Putri itu akan mati dengan cara tragis seperti ini.
Sadar kalau Wang Xinian sudah tidak ada, Wenli semakin menangis, bersamaan dengan itu pandangannya langsung tertuju pada Shua Xie. Dengan cepat Wenli menaruh tubuh Wang Xinian ke lantai lalu berlari ke arah Shua Xie, tidak sabar ingin mencabik-cabik gadis itu sebab telah membuat Putrinya kehilangan nyawa. Namun sebelum benar-benar Wenli menyetuh Shua Xie, seorang pria langsung menghadangnya bersama dengan munculnya seorang gadis, mereka adalah Ogher dan Chi Su.
"Lepaskan aku! Aku ingin membunuh jalang kecil itu! Dia sudah membuat Putriku meregang nyawa dengan cara seperti itu!" pekik Wali seperti seseorang yang sudah sakit jiwa. Di dalam halangan Ogher, Wenli memberontak gila.
"Nyonya Pertama! Anda tidak bisa menuduh Putri ke Lima begitu saja, aku sudah bersama Putri sejak tadi dan tidak melihat Putri menyentuh sedikit pun anggur atau pun gelas." Chi Su segera melontarkan pembelaan terhadap majikannya, tentu tidak senang mendengar majikannya dituduh dengan perbuatan yang majikannya saja tidak melakukannya.
"Aku tahu kalian berdua telah sepakat merencanakannya! Majikan sama bawahan sama saja, sama-sama wanita jalang!" balas Wenli sembari menatap Chi Su tajam penuh kebencian.
Chi Su semakin geram, ingin rasanya dia menampar mulut wanita busuk itu, tapi mengingat statusnya di sini hanya seorang pelayan, Chi Su juga tidak bisa berbuat banyak selain membela. Tapi, jika Shua Xie memintanya menghajar wanita itu, Chi Su tidak akan sungkan.
Suasana semakin menegang, drama keluarga kerajaan Xuilin tidak seorang pun berani ikut campur, meski Asha dan tiga pemimpin lainnya ingin membantu, tapi mereka sadar mereka tidak ada hak ikut campur masalah yang tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.
Kaisar Feng Kim, segera mendekati Wenli, dan sisi lain juga Feng Xian juga mendekati adik iparnya itu, tentunya ingin menghentikan kekacauan yang terjadi.
"Wenli, hentikan. Apa kau tidak sadar di mana sekarang kau berada?" Kaisar Feng Kim menatap wanita itu cukup tajam, dirinya malu melihat wanitanya bertindak seliar ini. Dia tahu Wenli sedang marah tidak terima Putrinya mati begitu saja, tapi mau bagaimana pun Wenli juga harus bisa menjaga sikap di hadapan para tamu yang ada.
"Cukup! Jaga sikapmu di hadapan para tamu. Siapa yang menjadi Pemimpin di sini?! Apa kau tidak menghargai aku sebagai Kaisar sekaligus suamimu di sini?!" balas Kaisar Feng Kim tegas, "Biarkan aku yang menangani semua ini! Kematian Wang Xinian tentu juga menyakiti perasaanku, dia Putrimu, dia juga Putriku!" Emosi Kaisar Feng Kim semakin tidak terkendali, mungkin terkejut dengan kematian Wang Xinian yang tiba-tiba sekaligus tindakan Wenli yang begitu liar.
Feng Xian mendekati Kaisar Feng Kim lalu menepuk bahunya, "Yang Mulia jaga emosi anda. Ingat di mana anda sekarang." Feng Xian hanya ingin mengingati Kakaknya itu untuk mengendalikan emosionalnya agar tidak meluap di hadapan banyak orang. Sebagai Pemimpin, Kaisar Feng Kim harus bisa menjaga citranya.
Mendengar nasihat dari Feng Xian, Kaisar Feng Kim segera menghela nafas sembari memegang keningnya yang mulai terasa pening, hampir dia lupa di mana dia sekarang. Setelah merasa cukup tenang, Kaisar Feng Kim segera menatap Putri bungsunya, Shua Xie.
Melihat Shua Xie masih bisa bersikap begitu tenang, Kaisar Feng Kim hanya bisa menghela nafas lagi, "Shua Xie, apa benar kau yang meracuni Wang Xinian?"tanyanya masih dengan nada tenang.
Shua Xie mengangkat pandangnya, menatap Kaisar Feng Kim dengan pandangan tenang, "Dia membunuh dirinya sendiri," jawab Shua Xie.
Jawaban Shua Xie membuat semua kening berkerut, tentu tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Shua Xie. Sadar kalau mereka tidak paham akan maksudnya, Shua Xie beranjak bangun lalu berkata, "Wang Xinian sebenarnya tahu di gelas itu ada racun, tapi karena dia takut kehilangan posisinya sebagai Putri Utama, dia rela meminum anggur itu. Lagi pun dia juga tidak mungkin mengakui rencananya." Shua Xie berjalan mendekati Wenli, memberikan tatapan dingin pada wanita itu, "Dibandingkan rencananya diketahui, Wang Xinian lebih memilih merasakan sendiri rencananya. Bukankah sangat ironi?" lanjut Shua Xie lagi dengan nada terdengar meledek.
__ADS_1
Wenli tentu paham dengan perkataan yang Shua Xie lontarkan tengah menyinggung betapa bodohnya Wang Xinian. Meski pun Wenli sependapat dengan Shua Xie, tapi tetap saja dia tidak terima Putrinya itu mati begitu saja.
"Kau wanita jahat! Kau telah membunuh Putriku! Terkutuklah kau Shua Xie mati seperti Ibumu si jalang itu!" pekik Wenli diakhiri dengan ludah yang dia terjunkan ke depan Shua Xie. Sebagai bentuk dia telah menyumpahi Shua Xie.
Mendengar penghinaan Wenli, tangan Shua Xie langsung mencekik leher wanita itu. Tatapan tajam penuh kemarahan tergambar jelas di mata Shua Xie, "Wenli! Aku mungkin bisa sabar jika kau menghinaku, tapi jika kau sudah menghina Ibuku. Bahkan jika Kaisar Feng Kim sendiri menolongmu, nyawamu tidak akan selamat." Tidak perlu berpikir panjang lagi, Shua Xie segera menghantamkan tubuh Wenli ke lantai, membuat kepala Wenli pecah berserakan dengan percikan darah yang mengenai sedikit wajah Shua Xie. Shua Xie tidak hanya sekali menghantamkan tubuh Wenli, tapi berkali-kali sampai seluruh tubuh Wenli terpisah dengan begitu mengerikan.
Sebagian penonton pembunuhan itu segera memuntahkan isi perut mereka, terutama para bangsawan wanita yang tidak biasa melihat pembunuhan, kalau pun pernah, mereka tidak pernah melihat pembunuh sesadis ini. Benar-benar mengerikan dari seekor singa memakan manusia.
Bahkan Kaisar Feng Kim dan Feng Xian tidak bisa berbuat apa-apa, Shua Xie terlalu kuat untuk mereka hentikan, jika pun mereka menghentikan gadis itu sudah terlambat. Wenli sudah menjadi segumpalan daging yang tak berbentuk.
Chi Su menutup mulutnya dengan ke dua tangannya, sembari beberapa kali melangkah mundur. Tatapan pelayan itu membulat, kepalanya menggeleng pelan, menatap kekejaman majikannya yang tidak pernah Chi Su lihat seumur hidupnya membuatnya terkejut hebat. Aura membunuh yang dikeluarkan majikannya terlalu mengerikan untuk didekati.
'Nona ... apakah ini masih seperti Nona?' tanya Chi Su dalam hatinya.
Sebagian orang memilih menutup mata melihat pembunuhan itu, tidak sanggup melihat pembunuhan tersadis dibanding dengan memenggal kepala. Bagi mereka sekarang, Shua Xie tidak jauh berbeda dengan algojo pencabut nyawa.
Setelah merasa cukup puas membunuh Wenli, Shua Xie segera melepaskan sebatang tulang di tangannya yang tidak lain ialah leher Wenli. Kemudian Shua Xie berbalik, menatap beberapa orang yang kini juga menatapnya penuh ketakutan. Wajah Shua Xie benar-benar hampir penuh darah, matanya terang seperti predator liar, dan ekspresi wajah datarnya seperti tidak merasa bersalah setelah merengut nyawa seseorang.
Sejenak Shua Xie menutup matanya, berusaha menghayati pembunuhan yang baru saja dia lakukan. Setelah sekian lama Shua Xie tidak pernah segila ini membunuh seseorang, padahal ucapan Wenli hanya cercaan untuk seorang wanita yang bahkan bukan Ibu sesungguhnya, melainkan untuk Ibu dari pemilik tubuh yang dia tumpangi. Tapi, entah kenapa hati Shua Xie terasa terbakar mendengar makian itu.
'Pada akhirnya, aku memang selalu kejam dan kejam. Jika mengingat kejadian ini, mengingatkanku kembali pada kehidupan pertamaku.' Shua Xie kembali membuka matanya, membuat banyak mata yang menatapnya sedikit terkejut.
"Ogher, segera bawa ke sini, Bupati Qionglin." Shua Xie berbalik, menatap seorang gadis yang terduduk seperti tidak bernyawa di lantai dekat mayat Wang Xinian. Mielan, gadis itu memandang gumpalan daging yang tidak jauh darinya dengan pandangan bulat namun kosong. Shua Xie berjalan menuju Mielan, membuat gadis itu tersadar dan langsung terkejut.
"Kau dalang dari semua ini. Bagaimana? Apa sudah puas?" Shua Xie hendak membelai rambut Mielan, tapi Mielan langsung menghindar, "Setelah mengorbankan nyawa sahabat sendiri demi balas dendam, apa lagi yang akan kau lakukan?" tanya Shua Xie dengan nada cukup tenang, namun terdengar mengerikan di telinga Mielan.
Mielan tidak bisa menutupi rasa takutnya, kaki dan tangannya bergetar hebat, "Ka-kau! Apa yang kau katakan?" Mielan mengelak ucapan Shua Xie.
"Jangan kira aku tidak tahu rencanamu, kau memanfaatkan kebencian Wang Xinian terhadapku untuk membalas dendam Ayahmu yang kupenjara bukan? Jika saja aku tidak melihatmu tadi, mungkin aku tidak akan tahu dari siapa Wang Xinian mendapat ide seburuk ini?" Shua Xie menarik rambut Mielan, membuat gadis itu menjerit kesakitan, "Ayah sama anak sama saja, suka memanfaatkan orang sekitar demi kepentingan pribadi."
__ADS_1
Mielan menutup matanya menahan rasa sakit di kepalanya, tangannya juga memukul tangan Shua Xie berharap gadis itu segera melepaskan jambakannya, "Lepaskan, kau wanita jahat, setelah membunuh Putri Pertama, Selir Pertama, sekarang kau ingin membunuhku juga?! Apa kau tidak takut Yang Mulia akan menghukummu!?" ujar Mielan dengan suara cukup keras.
Mendengar ucapan Mielan, seringai tipis mulai menghiasi wajah Shua Xie, "Aku menunggu saat-saat itu terjadi, jika Kaisar Feng Kim sendiri sanggup melakukannya. Dibandingkan membela seorang wanita sepertimu, lebih baik dia membela wanita pembunuh sepertiku."