Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 158


__ADS_3

"Kenapa dia belum sadarkan diri juga?"


"Dia mungkin sedang melewati sesuatu yang tidak kita ketahui."


"Melewati sesuatu?" Qixuan mengernyit bingung, tidak paham maksud ucapan Zusami barusan.


Zusami terus menatap Shua Xie yang masih menutup ke dua matanya. Gadis itu tidak lagi pernah bangun setelah berhasil melakukan penyucian terhadap Genji dan Juan Yu. Zusami yakin telah terjadi sesuatu di alam roh Shua Xie, mungkin gadis itu terluka karena terlalu memaksakan diri atau sedang melewati sesuatu yang tidak dia ketahui. Tidak ada yang tahu, yang bisa Zusami lakukan saat ini hanyalah menunggu kesadaran Shua Xie.


"Bagaimana keadaan teman-temanmu?"


"Mereka sudah sadar, keadaan mereka sudah membaik," jawab Qixuan rendah. Dia menatap Shua Xie yang masih tertidur, "Semua berkat, Shua Xie." Qixuan ingat bagaimana Shua Xie berjuang keras menyelamatkan ke empat pria yang sedang sakit itu, tidak beristirahat akhirnya membuat Shua Xie drop. Sekarang gadis itu tengah tertidur tapi tidak tahu kapan dia akan bangun. Bahkan hari sudah malam, belasan jam telah terlewat tapi dia masih saja tertidur.


"Dia memang terlihat acuh tak acuh dengan yang lain, suka bertindak sendiri dan berpikir sendiri. Berlagak dingin seakan tidak membutuhkan manusia lain, padahal dia masihlah gadis kecil yang lemah." Qixuan melirik Zusami saat pria tampan itu mulai berbicara tentang Shua Xie. Pandangan Zusami tidak pernah lepas dari Shua Xie, seakan dia takut jika dia memalingkan wajahnya sedetik saja gadis itu akan pergi meninggalkan dirinya selamanya.


"Dia ceroboh, bodoh dan naif. Tidak pernah berpikir panjang saat ingin melakukan sesuatu."  Zusami tersenyum pahit, tampak menyesali sesuatu yang tidak Qixuan tahu, "Tapi meski pun begitu, dia adalah manusia yang paling baik yang pernah ku temukan. Paling tidak dia tidak pernah meninggalkan seseorang yang kesulitan dan membutuhkan bantuannya."


"Sepertinya kau cukup mengenalnya?" sahut Qixuan lemah. Dari semua yang Zusami ucapannya semua pasti akan berpikir bahwa pria itu sangat mengenal Shua Xie. Qixuan tidak tahu apa hubungan Shua Xie dengan Zusami, tapi tampaknya bukan hubungan yang biasa.


Zusami tersenyum tipis, "Dia itu Adikku, sudah pasti aku sangat mengenalnya. Dia sering memanggilku dengan panggilan, Oni-chan. Meski aku tidak tahu apa arti panggilan panggilan itu, tapi aku bisa merasakan dia sangat tulus saat mengucapkan nama itu."


"Pantas saja." Qixuan tersenyum canggung, sedikit malu dia sempat mencurigai hubungan Shua Xie dan Zusami bukan hubungan biasa. Ya, kalian mungkin bisa tebaklah apa yang dipikirkan Qixuan tentang hubungan Shua Xie dan Zusami.


"Dia-"


"Hah!! Tidak!"


Zusami dan Qixuan terkejut hebat, saat sedang asik berbincang tiba-tiba saja Shua Xie bangun dengan keadaan nafas tak beraturan. Seolah dia baru saja terbangun dari kematian.


"Shua Xie!"


"Shua Xie kau sudah sadar! Syukurlah!"


"Di mana? Ini di mana?" Shua Xie menatap ke segala penjuru. Dia tahu tempatnya sekarang pasti di dalam tenda. Dia menghela nafas lega.


"Sekarang kau berada di dalam tenda," sahut Qixuan menjawab pertanyaan Shua Xie, "Shua Xie, apa yang terjadi? Kenapa kau tiba-tiba tertidur begitu lama? Kau tahu kau membuatku khawatir."


"Aku?" Shua Xie menarik nafas panjang lalu mengembuskannya lagi secara perlahan. Dia harus menetralkan deruh nafasnya yang masih tidak beraturan, "Aku tidak apa-apa. Aku hanya kehabisan mana." lanjutnya membalas pertanyaan Qixuan.


"Benarkah?" Zusami memandang curiga Shua Xie, tampak tidak percaya dengan alasan Shua Xie.


"Kau tidak percaya, Zusami? Apa aku terlihat berbohong di matamu?" Shua Xie membalas tatapan Zusami tajam. Tentunya sedikit mengejutkan Zusami. Baru kali ini dia melihat Shua Xie memandangnya setajam itu.


"Ah, baiklah aku percaya padamu," balas Zusami sembari dia mengalihkan pandangannya menghindari tatapan Shua Xie.


"Shua Xie, apa tidak ada yang terjadi?" Qixuan merasa sedikit ada yang aneh dari Shua Xie. Shua Xie terlihat lebih dingin dan waspada dari biasanya. Pasti telah terjadi sesuatu saya gadis itu tertidur.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, Qixuan." Shua Xie tersenyum manis membalas Qixuan.


"Benarkah?" Shua Xie mengangguk pelan membalas pertanyaan Qixuan.


"Ah, sepertinya kau memang tidak apa-apa." Qixuan membalas senyuman Shua Xie dengan senyuman sedikit kaku. Dia hanya merasa sedikit aneh dengan sikap Shua Xie.


***


"Apa kau yakin ingin melanjutkan kembali perjalanan? Aku rasa Kiseki dan Yurui-"


"Semakin lama kita berada di dalam Daratan Alam Abadi, semakin banyak ancaman menghampiri kita. Untuk itu aku sudah memutuskan kalau kita harus segera keluar," sela Shua Xie cepat dan tegas memotong ucapan Qixuan.


Qixuan terdiam. Sebenarnya apa yang diucapkan Shua Xie sangat benar, semakin lama mereka berada di dalam Daratan Alam Abadi semakin besar potensi ancaman menghampiri. Untuk itu satu-satu cara agar terhindar ya segera keluar dari Daratan Alam Abadi. Namun meski pilihan itu cukup benar, Shua Xie juga harus memikirkan keadaan Kiseki dan Yurui yang masih belum pulih sepenuhnya setelah menjalankan operasi bedah yang Shua Xie lakukan.


"Tidak apa, Qixuan. Kami masih bisa melanjutkan perjalanan, lagi pula apa yang diucapkan Shua Xie ada benarnya," sahut Yurui menengahi pembicaraan.


"Ya, kau dengar bukan? Kalau begitu ayo kita lanjutkan." Shua Xie berjalan duluan meninggalkan Qixuan yang terdiam sedikit kesal dengan sikap Shua Xie.


Xiu An mendekati Qixuan lalu menepuk bahunya, "Sepertinya suasana hati Shua Xie sedang tidak baik. Kita ikuti saja dia ...."


Qixuan menoleh ke samping menatap Xiu An, "Ya, mungkin seperti itu."


Xiu An berjalan duluan menyusul Shua Xie bersama Yue Jian. Begitu pun yang lain mulai mengikuti Shua Xie berjalan. Zusami berjalan paling belakang, berjaga jika tiba-tiba saja ada sosok tamu tak diundang menyerang. Zusami menatap punggung Shua Xie, gadis itu masih terus berjalan tegas tanpa menoleh ke belakang. Zusami yakin bukan hanya dirinya yang merasa ada perubahan dengan Shua Xie.


***


Bang!!


Duar!!


"Tuan Muda, awas!!"


Duar!!


"Akh!!"


"Tuan Muda!!"


Pemuda berpakaian cokelat tua berlari menghampiri pemuda seumuran dengannya. Tidak peduli badannya juga baru saja menerima serangan telak dari Monster spirit semut raksasa.


"Tuan Muda, anda tidak apa-apa?" tanya pemuda itu setelah dia menghampiri dan membantu Fang Xin, sang Pangeran ke Tiga berdiri kembali.


"Ugh! Aku tidak apa-apa, tapi mereka ...." Fang Xin memegang dadanya yang sakit setelah terkena serangan dari Monster spirit semut raksasa. Dia menatap para mayat rekannya, mereka semua sudah mati menjadi sarapan pagi semua semut-semut raksasa itu.


"Tuan Muda, kita harus segera pergi ... masalah harta itu kita bisa mengabaikannya. Keselamatan Tuan Muda lebih utama." Pemuda itu bersiap membawa pergi Fang Xin. Fang Xin mengikuti saja, lagi pula dia tidak akan bisa mengambil harta pusaka yang ada di dalam sarang semut raksasa itu, dia juga tidak bisa melanjutkan lagi karena hanya dia dan pemuda ini yang tersisa, jika dilanjutkan mereka pasti akan bernasib sama seperti yang lain.

__ADS_1


Bang!!


"Tuan Muda!" Pemuda itu melempar Fang Xin ke sisi kanan ketika menyadari semut raksasa itu kembali melayangkan serangan Qi yang cukup kuat. Tidak bisa menghindar naas dia yang menjadi korban serangan, nyawanya pun langsung tercabut dengan cepat.


"Tidak!!!" Fang Xin terkejut hebat. Pemuda itu baru saja mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan Fang Xin, padahal dia sendiri tidak minta untuk diselamatkan, tapi kenapa pemuda itu justru rela mengorbankan nyawanya untuk Pangeran tak berguna sepertinya? Kenapa? Itulah yang dipertanyakan Fang Xin pada dirinya sendiri mengenai kenapa mereka semua rela mati demi dirinya.


Sekumpulan semut raksasa berwarna hitam itu mulai berjalan menuju Fang Xin, tentu saja mereka tidak akan melepaskan semua manusia yang telah mengusik ketenangan mereka. Semua manusia yang mengusik pantas mati.


Fang Xin terdiam tak berdaya, bukan pasrah untuk mati tapi seluruh tubuhnya sudah mati rasa untuk berjalan, bahkan untuk berdiri saja dia sudah tidak sanggup.


"Kit!!"


"Kit!!"


"Kit!!"


Semua semut itu sudah mengerumuni Fang Xin dalam hitungan detik saja, jumlah mereka yang hampir puluhan mustahil bagi Fang Xin bisa kabur apalagi melawan. Tidak ada pilihan, sekarang dia hanya bisa pasrah mati menjadi sarapan pagi semua semut raksasa seperti rekan-rekannya.


Satu semut yang memiliki tanda merah di kepalanya mengangkat satu kakinya ke atas, lalu menjatuhkannya dengan kecepatan tinggi ke arah Fang Xin. Fang Xin menutup matanya, dia benar-benar telah pasrah karena keadaannya juga tidak mendukung untuk melawan apalagi kabur. Tapi jauh di hatinya, meski hanya secercah kecil, dia berharap ada seseorang segera menolongnya. Semoga saja ada.


Srash!!


"Bodoh! Sejak kapan seorang Pangeran pasrah mati ditangan monster spirit?!"


Fang Xin kembali membuka matanya, terkejut ada suara menghina dirinya. Tapi dia bersyukur juga ada seseorang yang datang membantunya.


"Qi-Qixuan?" Fang Xin terkejut, antara percaya dan tidak, Qixuan datang menyelamatkannya. Tidak hanya Qixuan, tapi juga beberapa rekan seperguruan Qixuan yang kini tengah bertarung melawan sekawan semut raksasa itu.


Bang!!


Duar!!


Srash!!


"Fang Xin, sampai kapan kau akan duduk di situ? Apa kau benar-benar ingin menjadi sarapan semut-semut ini?" Qixuan mengulurkan tangannya, dia tahu Fang Xin pasti tidak bisa berdiri. Awalnya Fang Xin diam, bingung sendiri dengan keadaannya sekarang. Tapi sekejap dia kembali sadar karena Qixuan tengah menunggu balasan darinya. Dengan senang hati Fang Xin menerima uluran tangan Qixuan. Sekejap saja tempat mereka sudah berbeda, Qixuan membawa pergi Fang Xin ke tempat yang cukup jauh dari pertarungan.


"Kau tunggulah di sini. Kami harus membereskan semua semut-semut itu."


"Qixuan, tunggu-" Belum selesai dia berbicara Qixuan telah menghilang, "Dulu ... padahal ada sesuatu yang ingin ku bicarakan padamu." Fang Xin menurunkan tangannya kembali yang sebelumnya terangkat ingin menghentikan kepergian Qixuan. Tapi sepertinya dia memang harus menunggu, Qixuan dan yang lain harus membereskan semua semut-semut itu. Baru setelah itu dia dan Qixuan bisa berbicara lebih leluasa tanpa gangguan.


Di sisi lain, di waktu yang bersamaan, Qixuan dan yang lain sibuk bertarung melawan sekawan semut raksasa itu. Semua bertarung cukup serius tanpa menurunkan sedikit pun kewaspadaan mereka. Hanya satu orang saja yang tidak ikut membantu, dia Zusami, dia sibuk memperhatikan pertarungan Shua Xie dan semut-semut raksasa itu. Sebenarnya Zusami bisa saja mengakhiri semua semut itu dengan mudahnya, bahkan cukup menebar aura spiritnya semua semut itu pasti akan kabur terbirit-birit dari pada harus berurusan dengan Raja Pheonix. Tapi, Zusami memiliki alasan lain kenapa dia tidak ingin membantu mereka.


Shua Xie bertarung cukup mengerikan dari biasanya, dia tidak menggunakan perasaan lagi saat bertarung, dia bertarung tanpa pandang bulu. Semua dibantai habis dengan cepat, tidak seperti biasanya Shua Xie pasti akan lebih memilih menikmati pertarungannya dari pada mengakhiri semuanya dengan cepat. Lebih lagi, pandangan Shua Xie hari ini sangat berbeda dari biasanya.


"Bocah itu ...." Zusami masih belum melepaskan pandangannya dari Shua Xie, "Bukan dirinya. Lalu siapa?"

__ADS_1


___________


A/N : Mampir gaes ke novelku berjudul Crazy Empress 👑 diriku maksa 📍 aku dan Huanran nunggu klean di sana 😆 plus novel Bukan Antagonis.


__ADS_2