
Shua Xie keluar dari kediamannya, bersamaan dengan Chi Su dan Ogher. Shua Xie sudah selesai berkemas diri, kini dia memakai pakaiannya dari zaman modern, sebuah baju minim berwarna hitam dengan sarung tangan hitam. Gaya Shua Xie sudah sangat mirip dengan mafia sebenarnya, ditambah lagi dia mengikat tinggi rambutnya panjangnya.
Di dunia Shua Xie mungkin gaya itu sangat keren atau modis, tapi di dunia Kultivator terutama zaman dinasti pakaian seperti itu ialah pakaian aneh atau terlarang sebab memperlihatkan perut, kaki jenjang, dan bodi tubuh, sangat melanggar adat pakaian wanita.
Tapi yang memakainya ialah Shua Xie, siapa bisa menghentikannya?
Shua Xie berbalik menatap Ogher dan Chi Su bergantian, tampak ke dua pemuda itu memalingkan wajah sambil menutup hidung mereka yang memerah saat Shua Xie menatap mereka berdua. Ke dua pemuda itu tidak berani menatap Shua Xie karena pakaian Shua Xie sungguh terbuka di mata mereka.
Sebelum Shua Xie akan memakai baju Chi Su sempat menghentikannya, sebab dia tidak ingin Nonanya itu mendapat masalah karena menggunakan pakaian itu. Dan juga, Chi Su merasa pakaian itu juga sangat tidak layak untuk Shua Xie.
Tapi balasan Shua Xie hanya sekali, dan setelah dia membalas ucapan Chi Su, pelayan itu pun langsung terdiam. Chi Su sudah merasa dia tidak akan bisa menghentikan Shua Xie. Begitu pun dengan Ogher.
"Ada apa dengan reaksi kalian itu?" Shua Xie melipat ke dua tangannya di depan dadanya, sambil mengelengkan kepala pelan, Shua Xie merasa aneh dengan reaksi mereka.
'Kalian terlalu ketinggalan jaman, bagaimana jika mereka pergi ke Amerika atau Bali terutama pantainya? Mungkinkah mata mereka akan keluar dari tempatnya?' gumam Shua Xie dalam hatinya.
Chi Su memberanikan dirinya menatap Shua Xie, walau pun dia malu untuk melihat Shua Xie, tapi dia tidak ingin mengabaikan majikannya itu. Berbeda dengan Ogher, dia tetap memalingkan wajahnya, sebagai prajurit sangat tidak sopan menatap seorang Putri terlebih lagi pakaian Shua Xie sangat terbuka. Dia bisa mendapat masalah jika menatap Shua Xie lebih dari 3 detik saja.
"Nona, bukankah sebaiknya anda tidak memakai pakaian itu? Aku rasa Nona akan mendapat masalah dari Kaisar," ucap Chi Su dengan sangat hati-hati.
Shua Xie mendengus pelan, dia memutar bola matanya sambil menunjukkan ekspresi malasnya itu. Shua Xie malas jika mengingat Kaisar atau siapa pun yang akan melarangnya atau memarahinya karena pakaiannya.
Siapa mereka? Ibu bukan, Ayah bukan, apa berhak mereka melarang Shua Xie sang gadis liar.
"Chi Su, kau tidak perlu cemas. Masalah Kaisar, bahkan jika dia mengirim ribuan pasukan untuk menghentikanku maka itu hanya percuma. Aku adalah gadis bebas dan liar, kehidupanku biarkan aku menjalaninya. Masalah mereka, biar aku yang lawan," balas Shua Xie.
Chi Su semakin menundukkan kepalanya, mendengar jawaban Shua Xie barusan adalah sebuah jawaban dan kalimat terakhir bagi Chi Su. Berarti tidak ada lagi perdebatan selanjutnya tentang pakaian Shua Xie. Chi Su hanya bisa menghela nafas sabar, sambil berharap dalam hati semoga Shua Xie tidak mendapat masalah besar karena pakaiannya sendiri.
Shua Xie berbalik, kemudian berjalan meninggalkan kediamannya. Chi Su ikut bersama Shua Xie, sedangkan Ogher berjaga di sekitaran kediaman Shua Xie selama Shua Xie pergi. Shua Xie yakin, saat dia pergi nanti, akan ada tamu tak diundang datang membawa keributan.
Chi Su menatap Shua Xie yang berjalan di depannya dengan santai, di dalam hati Chi Su dia terus mempertanyakan pertanyaan yang sejak satu setengah tahun yang lalu terus dia pikirkan, setelah Shua Xie menerima hukuman dari Selir ke Tiga dan Putri Shan Qiayu. Pertanyaan tentang perubahan sifat Shua Xie yang sangat jauh berbeda dengan yang dulu, Chi Su juga merasa kalau Shua Xie sekarang bukanlah Shua Xie yang dulu seakan Shua Xie dulu telah mati dan digantikan lagi dengan Shua Xie baru dengan sifat yang berbeda.
'Sebenarnya, apakah Nona Shua Xie masih sama seperti dulu atau tidak? Apa yang membuat Nona berubah seperti sekarang?' ucap Chi Su dalam hatinya penuh rasa gundah.
Di sisi lain Shua Xie sibuk dengan pikirannya sendiri, simpel saja Shua Xie hanya memikirkan cara menyiapkan senjata kuat untuk menghentikan pasukan Lou Zo nantinya. Dari informasi yang Shua Xie dapatkan, Lou Zo memiliki banyak pasukan hebat dan kuat, terlebih lagi para pasukannya itu berada di tahap yang berbeda dengan manusia atau Kultivator dunia Tengah. Dan lebih buruknya lagi, jika Lou Zo ikut menyerang dunia Tengah, sudah Shua Xie bisa pastikan kehancuran dunia Tengah pasti akan terjadi.
Shua Xie mendapat informasi tentang akan datangnya pasukan Lou Zo ke dunia Tengah ialah dari Shu Chin. Sebelum Shu Chin benar-benar mati, dia sempat mengirim dua 2 kalimat singkat yang sempat membuat Shua Xie kebingungan. Namun setelah memikirkannya dalam beberapa menit saja, Shua Xie sudah paham akan maksud Shu Chin.
'Dunia Tengah.' Kata-kata itu mungkin akan membingungkan siapa saja, pasalnya Shu Chin hanya menyemat dua kata itu tanpa penjelasan lagi. Shua Xie pun sempat dibingungkan akan dua kalimat itu, namun setelah dia jelajahi lagi. Shua Xie sudah mengerti, target ke dua Lou Zo setelah dunia Atas ialah dunia Tengah.
Kenapa Shua Xie berpikiran seperti itu?
Itu karena menurut Shua Xie, dunia Tengah sangat mudah ditaklukkan. Di dunia Tengah, lebih banyak ditinggali oleh manusia biasa ketimbang pendekar atau Kultivator, kalau pun ada pendekar, kekuatan mereka tidak sekuat para Kultivator dunia Bawah. Bukan Shua Xie meremehkan kekuatan dunia Tengah, tapi memang begitulah kenyataannya.
Sebab itulah juga, kenapa Shua Xie sangat ingin cepat-cepat pergi ke dunia Tengah setelah dia selesai mengikuti lomba di kota Yufeng. Shua Xie khawatir sebelum dia tiba di dunia Tengah, ternyata dunia Tengah sudah diserang oleh pasukan dunia Atas. Tapi untunglah, kekhawatiran Shua Xie tidak terjadi.
Sekarang kembali ke topik sebelumnya, Shua Xie ingin membuat senjata maka dia harus bisa membimbing para pendekar di dunia Tengah terutama kota Xuilin sendiri. Di dunia Tengah mereka para orang-orang ahli bela diri lebih disebut pendekar di banding Kultivator tidak sama seperti di dunia lainnya.
Dan masalahnya, membimbing para pendekar di dunia Tengah tidaklah mudah apalagi kalau mereka tidak mau dijadikan bawahan Shua Xie. Tentu saja, akan ada saja yang menolak Shua Xie dan bahkan tidak percaya dengan omongan Shua Xie.
Pasukan dari dunia Atas menyerang mereka? Itu konyol untuk mereka para pendekar kekaisaran.
'Perlukah aku mengunjungi semua Kekaisaran, lalu menaklukan mereka agar mau berlatih menjadi senjata kuat?' Shua Xie berucap dalam hatinya sambil memikirkan secara matang, 'Tapi, dunia dinasti, sangatlah ketat. Mereka memang akan mudah ditaklukkan, tapi aku khawatir mereka lebih memilih mati daripada mendengar perintahku.' Shua Xie mendengus pelan, sambil memijit keningnya yang pusing.
"Paviliun Wûkì," gumam Shua Xie pelan.
Pavilion Wûkì ialah paviliun yang paling terkenal di kota Xuilin. Tempat di mana banyak para pendekar di sana, sebab paviliun itu ialah paviliun tempat penjualan berbagai jenis senjata pendekar.
Shua Xie berpikir akan mengunjungi pavilun Wûkì yang ada di barat kota Xuilin, dan menjalin kerjasama dengan paviliun itu untuk mengumpulkan banyak informasi. Shua Xie bukan ingin membeli senjata, lagi pun Shua Xie masih memiliki segudang senjata yang bahkan lebih berkualitas daripada senjata paviliun Wûkì. Shua Xie hanya butuh informasi.
Shua Xie mengibas tangan kanannya di atas tangan kirinya, lalu muncullah dua jubah berwarna hitam di telapak tangannya itu. Shua Xie berhenti kemudian berbalik menatap Chi Su yang baru saja berhenti.
Shua Xie menyodorkan jubah pada Chi Su, tapi tampaknya Chi Su tidak paham akan maksud Shua Xie.
"Gunakan," ucap Shua Xie singkat menjelaskan maksud dia memberikan jubah itu pada Chi Su.
Chi Su meriah jubah tersebut, "Nona, darimana anda mendapatkannya?" tanya Chi Su. Dia penasaran kapan dan bagaimana Shua Xie bisa memegang jubah padahal sebelumnya Chi Su yakin Shua Xie keluar kediamannya tanpa membawa jubah hitam itu.
"Pakai saja, kau tidak akan paham kalau aku menjelaskannya sekali saja," balas Shua Xie lalu dia juga memakai jubah satunya.
Chi Su tidak lagi bertanya, dia sudah paham maksud Shua Xie barusan. Kalau jubah itu berasal dari tempat yang tidak bisa Chi Su mengerti. Walau pun dugaan ini Chi Su merasa ganjal tapi dia yakin kalau dugaannya pasti benar.
Setelah dua gadis ini memakai jubah hitam, barulah mereka melanjutkan lagi jalan mereka menuju gerbang kerajaan. Selama mereka berjalan menuju gerbang, mereka berdua banyak bertemu dengan para prajurit yang terus memberi hormat pada Shua Xie. Bahkan dari kejauhan mereka sudah menundukkan kepala ketika melihat Shua Xie berjalan menuju mereka.
Shua Xie tidak memperdulikan tingkah para prajurit itu, tapi berbeda dengan Chi Su, dia sangat peduli kenapa para prajurit bersikap demikian pada Shua Xie? Bukankah itu aneh?
***
Feng Kim masih menatap Kim Furong dengan tatapan datar, masih tidak berpindah dari tatapan sebelumnya. Kim Furong mulai merasa risih akan tatapan Kakaknya itu, akhirnya dia pun menyerah menatap Feng Kim sambil mengeluh.
"Aahh ... baiklah. Aku kalah, bukankah kau sangat kejam Kak menatapku seperti itu?"
Feng Kim merubah tatapannya menjadi lebih santai, dia meraih gelas kecil di meja lalu memainkannya, "Aku sudah katakan, sampai kapan kau mau bermain terus? Bukankah sebelumnya kau hanya ingin menjadi Kaisar sementara?"
__ADS_1
Kim Furong mengerucutkan bibirnya bagaimana seperti ekspresi anak kecil kalau lagi merajuk pada Kakaknya. Kim Furong, mungkin di depan banyak orang dia akan bersikap dewasa, tegas, dan bijaksana, namun jika sudah di hadapan Kakaknya Feng Kim, dewasanya itu akan hilang begitu saja. Terlebih lagi jika hanya mereka berdua di ruangan tanpa ada seorang pun bersama mereka berdua.
"Kakak, kau kejam sekali. Apakah aku ada kesalahan menjadi Kaisar? Ya, aku tahu aku salah tidak menyambut anak gadismu Putri Shua Xie. Itu karena aku tidak mengenalnya, kau tahukan aku baru saja tiba dari medan perang melawan suku manusia gunung. Lagi pun kau terus menyembunyikan putrimu itu di kuil, aku bahkan tidak pernah bertemu dengan keponakanku sendiri. Jadi jangan salahkan aku jika aku tidak mengenalnya," balas Kim Furong dengan nada dibuat seperti suara anak kecil memberi penjelasan dengan gaya imut.
Feng Kim merasa jijik melihat ekspresi adiknya itu, dia tidak yakin apakah adiknya ini masih Kaisar yang biasanya bersikap tegas di depan banyak orang atau bukan? Pasalnya adiknya ini memiliki sisi sifat yang berbeda kalau sedang berdua dengan Feng Kim.
"Kim Furong, kau ... tidak boleh terus menyembunyikan identitas aslimu. Kau adalah wanita, sampai kapan kau mau menyamar menjadi pria? Apalagi sampai menjadi Kaisar. Untunglah tidak ada rakyat menyadari kenekatanmu ini."
Kim Furong membulatkan matanya saat mendengar Feng Kim membuka identitas aslinya. Sontak dia menutup mulut Kakaknya itu dengan tangannya.
"Ssstt! Kakak bicara yang pelan saja. Apa kau ingin mereka mendengar ucapan Kakak?" bisik Kim Furong.
Feng Kim menurunkan tangan Kim Furong dengan raut wajah sedikit kesal, "Berhentilah bertingkah seperti ini. Apa kau masih memikirkan pria sialan itu?" balas Feng Kim kesal.
"Kakak, apa maksudmu pria sialan. Aku tidak mengenalnya." Seketika ekspresi Kim Furong berubah menjadi lebih datar dari sebelumnya.
Feng Kim sampai terkejut melihat sikap Kim Furong yang begitu cepat berubah - benar-benar mudah merubah sikap dalam sekejap.
"Jika kau tidak mengenalnya, lalu buat apa kau melakukan semua ini? Apakah karena kau hanya tidak ingin dikenal oleh pria bajingan itu?" balas Feng Kim sambil mendengus pelan.
Ekspresi Kim Furong semakin berubah, sekarang dia memasang wajah murung dalam waktu cepat, "Kak, tolong jangan ungkit masalah itu lagi."
Melihat Kim Furong mulai berbeda, Feng Kim menghela nafas kasar. Dia menjambak rambutnya sendiri cukup kuat. Feng Kim tahu, jika dia membahas tentang ini, maka adiknya ini akan bersikap begitu terpukul. Semua itu hanya karena cinta, dan pria.
Kim Furong dulunya ialah seorang perempuan cantik, baik, dan bersikap terbuka pada semua orang. Dia juga seorang pendekar wanita yang cukup terkenal hampir di seluruh daratan. Karena sikapnya begitu terbuka pada semua orang, dan dia juga memiliki wajah lumayan manis, banyak pria mengagumi bahkan melamarnya. Tapi Kim Furong tidak menerima lamaran mereka sebab masih ingin menikmati masa mudanya dengan berkelana dan menemukan cintanya sendiri.
Setelah cukup lama dia terkelana dari desa ke kota, dari kota ke daratan lainnya. Dia bertemu banyak pengalaman baru, teman baru dan suasana baru. Dan pada saat dia berada di kota cukup terkenal di daratan barat, Kim Furong mengikuti sebuah lomba pertandingan para pendekar. Dan di situlah awal dia bertemu dengan pria tercintanya. Kim Furong memenangi pertandingan urutan ke dua, sedangkan urutan pertama dimenangkan oleh pria bernama Chang Lui. Sosok pria tampan, bersikap terbuka seperti Kim Furong dan baik pada siapa saja.
Kim Furong bisa mengenal Chang Lui sebab Chang Lui terus mengikutinya ke mana pun dia pergi. Kim Furong sempat risih akan sikap Chang Lui, dan dia bahkan berniat menghajar pria itu. Namun setelah Chang Lui menjelaskan maksudnya mengikuti Kim Furong, akhirnya Kim Furong sadar kalau Chang Lui hanya ingin berteman dengannya.
Sejak saat itu Kim Furong mulai berteman dengannya, berpetualang bersama sampai mereka tiba ke kota Xuilin tempat kota kelahiran Kim Furong. Kim Furong banyak memperkenalkan tentang kota kelahirannya itu pada Chang Lui, dan bahkan memperkenalkannya pada Kakaknya Feng Kim.
Setelah hampir sebulan Chang Lui menetap di kota Xuilin. Dia pun melamar Kim Furong tepat di hadapan Feng Kim dengan alasan dia mencintai Kim Furong apa adanya. Awalnya Feng Kim ingin menolak pria itu, sebab Feng Kim merasa Chang Lui ialah pria hidung belang melihat dari wajah dan sikapnya. Sebagai sesama pria, Feng Kim cukup yakin bahwa Chang Lui memang pria hidung belang. Namun, karena Kim Furong begitu memaksa Feng Kim karena dia juga mencintai Chang Lui, dengan terpaksa Feng Kim menerima lamaran Chang Lui dan tak lupa berpesan untuk tidak pernah menyakiti perasaan Kim Furong.
Awalnya semua berjalan baik-baik saja, namun seiring waktu berjalan. Ada yang berubah dari Chang Lui, dan singkatnya saja, Kim Furong memergoki kekasihnya itu sedang bercinta dengan sahabatnya, Lei La. Semua itu bisa Kim Furong sadari berkat Kakaknya Feng Kim. Feng Kim terus memata-matai pergerakan Chang Lui sebab dia masih tidak yakin menitipkan adik tersayangnya pada pria sembarangan.
Setelah dia mengetahui semua kelakuan bejat Chang Lui di belakang Kim Furong, Feng Kim pun mengutus langsung Kim Furong ke sebuah penginapan dan memperlihatkan betapa buruknya kekasihnya itu.
Singkat cerita, itulah kenapa Kim Furong berubah seperti sekarang. Menyamar menjadi pria untuk menutupi Rasa sakitnya sebagai wanita, Kim Furong merasa jika dia menjadi pria dia tidak akan merasakan sakit hati seperti itu lagi. Dan walau pun begitu, sampai sekarang Kim Furong masih belum bisa melupakan semuanya.
Melupakan kenangan indah bersama dia yang dicintai begitu lama, tidaklah mudah bahkan setelah kita mengetahui semua keburukannya. Nyatanya proses penyembuhan hati lebih lama dari pada penyembuhan luka bakar.
"Sudahlah, kalau kau bersikap seperti ini terus. Kau pun sama seperti si pria buruk itu," ucap Feng Kim.
Melihat reaksi Kim Furong begitu berlebihan, Feng Kim langsung menjentik kening adiknya itu lumayan kuat membuat Kim Furong meringis pelan sambil memegang keningnya yang mulai memerah.
"Bodoh, kalau kau tidak sama, lalu buat apa kau bermain wanita di rumah bordil. Jangan kau pikir aku tidak tahu kulakuanmu selama ini. Memainkan perasaan wanita, tidakkah kau pikir kau juga sama saja seperti Chang Lui?"
"Kakak kau kejam sekali, aku hanya senang melihat gadis penjilat seperti mereka. Lagi pun aku tidak melakukan apapun pada mereka selain meminta mereka menemaniku menonton hiburan," balas Kim Furong dengan suara merendah.
Feng Kim menghela nafas lagi, dia sudah tidak sanggup menghadapi kelakuan adiknya ini. Dia tahu Kim Furong sedang merasa sakit hati, tapi kenapa sakit hatinya begitu terlihat baik-baik saja padahal di dalam sana dia begitu rapuh. Haruskah Kim Furong bersikap seperti itu? Oke, berpura-pura tegar itu boleh agar tidak seorang pun menganggap dia lemah, tapi ada kalanya dia harus menceritakan semua bebannya kalau dia sudah tidak sanggup lagi menahannya. Hati penuh bisa membuat pikiran menumpuk, perasaan tidak nyaman, dan akan berakhir depresi. Tentu saja Feng Kim tidak ingin adiknya itu jadi gila hanya karena seorang pria buruk.
"Kim Furong, sekarang ada yang lebih penting dari pada kau bermain menjadi Kaisar. Tidak lama lagi, kita akan kedatangan musuh besar, dan kau tidak akan sanggup menghentikan mereka."
Alis Kim Furong berkerut, "Musuh besar? Apa maksudnya, Kak?"
"Musuh yang pernah membuatku berakhir buruk," jelas Feng Kim singkat dan tentunya Kim Furong pasti paham akan maksud Kakaknya itu.
Sontak mendengar jawaban Kakaknya, Kim Furong bereaksi cukup berlebihan. Dia menatap Feng Kim begitu dalam sambil bertanya cukup banyak, ini dan itu.
"Bagaimana bisa? Apa si Lou Zho yang Kakak maksud?! Lalu apa yang akan kita lakukan! Bagaimana jika dia menghancurkan kerajaan Xuilin! Apakah dia datang untuk membunuh Kakak!? Mungkinkah dia tidak puas melihat Kakak masih hidup! Kita harus bagaimana Kak! Bagaimana dengan nasib para rakyat biasa!"
Feng Kim merasa pusing mendengar berbagai macam pertanyaan adiknya itu, "Kim Furong! Bisakah kau bertanya satu persatu! Apa kau pikir aku bisa menjawab semua pertanyaanmu langsung? Singkat saja! Kau harus turun tahta dan kembali menjadi Jenderal wanita kerajaan! Siapkan para prajurit tempur, dan jangan beritahu siapa pun kabar ini! Paham?" jelas Feng Kim dengan wajah sangat kesal.
Kim Furong mengangguk paham sambil menutup mulutnya. Jujur saja, dia takut melihat Kakaknya marah karena dia sudah pernah merasakan bagaimana Kakaknya itu marah karena masalah Chang Lui. Dan Kim Furong tidak ingin melihat Kakaknya itu marah lagi.
"Tapi, belehkah aku bertanya satu hal saja? Dari mana Kakak tahu Lou Zo akan datang ke dunia Tengah. Padahal kekuatan Kakak masih belum pulih sepenuhnya? Tidak mungkin Kakak bisa tahu dengan sendirinya bukan?" tanya Kim Furong sambil menurunkan tangannya yang menutupi mulutnya itu.
Feng Kim tersenyum sinis mendengar pertanyaan adiknya. Dia pun menjentikkan jarinya, lalu muncullah api kecil di atas jari telunjuknya, spontan Kim Furong terkejut melihat hal itu, Kim Furong menutup mulutnya sambil menatap Feng Kim dengan tatapan tak percaya.
"Aku sudah kembali seperti semula, semua ini karena Shua Xie."
"Apa? Shua Xie? Bagaimana bisa?" balas Kim Furong langsung cukup terkejut mendengar penjelasan Kakaknya.
***
Shua Xie bersin cukup keras sambil menutup mulut dan hidungnya.
"Hatchim! Ugh, apakah ada seseorang yang sedang membicarakanku?" gumam Shua Xie pelan sambil menggosok hidungnya yang gatal.
"Nona, apakah anda tidak apa-apa? Seperti anda masuk angin, bahkan hidung anda sampai merah begitu." Chi Su mendekati Shua Xie lalu memegang bahu Shua Xie. Dia khawatir kalau Shua Xie masuk angin karena memakai pakaian minim.
"Aku tidak masuk angin. Aku yakin ada seseorang sedang menceritakan kehebatanku, atau mungkin mereka iri padaku," balas Shua Xie menurut pemahamannya sendiri, karena dari komik yang pernah Shua Xie baca, biasanya tokoh dalam karakter cerita bersin karena ada yang menceritakan sosok tokoh itu.
__ADS_1
Chi Su menggaruk belakang telinganya sambil menatap Shua Xie dengan raut wajah bingung. Dia bingung maksud Shua Xie barusan, Shua Xie bersin karena ada yang menceritakan dirinya? Pemahaman aneh dari mana lagi itu?
_______________
A/N : Gak tahu mau ngomong apa lagi, langsung aja deh. Semoga kalian makin penasaran dengan kelanjutannya.
Show Author dan Para Pemeran 👑🎤
Chi Su : "Nona, tempat apa ini? Kenapa banyak benda-benda aneh di sini?"
Shua Xie : "Itu namanya kamera, mereka yang berpakain hitam tak terlihat para pembaca ialah kameramen."
Author : "Please deh, jangan bikin malu. Kita lagi Show 😏 Lo tumbenan bawa pelayan Lo."
Shua Xie : "Suka guelah, Dia kan pelayan gue 😏 lo aja yang jadi presdir perusahaan gak punya pelayan."
Author : "Nantangin lu ya, bahkan Dubai pun berserta isinya bisa gue beli."
Shua Xie : "Haha! Paling beli dalam cerita doang lu kan Author miskin 🙄"
Chi Su : "Hei, gak baik bertengkar kita kan lagi Show dibaca banyak orang."
Author : "Wah sepertinya Chi Su lebih bisa diandalkan dibanding dengan si ayam hutan." 😏
Shua Xie : "😕 Lu nyinggung gue ya nyet?"
Author : "Wah ada ayam hutan yang merasa nih? 🙄"
Shua Xie : "Kambeng, gue buang juga Bang Andi baru luh tahu rasa 😐"
Author : "Bang Andi gue mau kau bawa ke mana nyet! Gue botakin ayam lu baru lu nangis darah dah!"
Chi Su : "Jangan bertengkar, bukankah kita mau mengumumkan pemenang event ke bab 100? 😄 sebaiknya kalian berhenti bertengkar!"
Shua Xie : "Nyet dengerin tuh 😌😒"
Author : "Lu kali, kambeng!" 😑
Chi Su pun menabok kepala mereka berdua sampai benjol. Akhirnya Author dan Shua Xie memilih pura-pura baikan agar gak ditabok lagi. Sungguh Chi Su galak banget kalau marah walau pun masih tersenyum.
Chi Su : "Hore 🎉 baiklah kita akan umumkan pemenang event! Jeng! Jeng! Jeng! Pemenangnya jatuh pada ... selamat kepada!"
1. 🎉 **ASTRO☆AROHA 🎉👏👏
2. Pencinta Time Trevel 🎉🎉
3. Giserin Putri Loka 🎉🎉👏
4. Melody Hujan 🎉👏
Matcha Luca 🎉🎊
Putri Handita 🎉🎊
Gabrina 🎉🎖
Mohon maaf buat yang tidak menang, aku harap kalian tidak meninggalkan cerita ini karena tidak terpilih atau merasa tersinggung karena aku (Ica). jangan berkecil hati walau pun tidak terpilih menang. Event ini hanya untuk meramaikan saja, hadiahnya juga tidak besar-besar amat.
mungkin kalau ada event ke dua saya pengen memberi. hadiah lebih unik lagi :)
buat ASTRO☆AROHA tolong konfirmasi saya 😄 chat akun saya yah 😄👏🎉**
Chi Su : "Hore selamat buat kamu Artro☆Aroha! Buat yang gak terpilih jangan berkecil hati. Masih ada kok event lainnya, kalian bisa ikutan barangkali kalian akan memenangkan hadiah 🎉😊😄"
Shua Xie : "(berbisik) Kok dia yang kayak bos ya di sini?"
Author : "(berbisik) Enaknya kita apain?"
Shua Xie : "Lu kira makanan enak?!" 😒
Author : "Kan istilah aja nyet 😒"
Chi Su mendengar bisikan dua sosok itu langsung menunjukkan wajah mengancam walau pun masih. tersenyum. Sontak Shua Xie dan Author nya mundur sambil melipat kaki mereka dan saling memeluk satu sama lain.
Chi Su : "Kalian bicara apa tadi?" 😄
Shua Xie : "Hahaha 😅 kami menceritakan ayam dan monyet, benar bukan Thor?"
Author : " 😅 Be-benar, ayam si Shua Xie tadi gelut ma anak tetangga."
__ADS_1