Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 190


__ADS_3

"Hei, Nak. Apa kau diserang sesuatu?" Tsakuya berjongkok, memandang sedikit iba pada bocah kecil yang terluka di depannya. Perlahan tangannya menyentuh lengan bocah itu, dan secara ajaib luka-luka yang dialami bocah itu mulai menutup, sembuh.


"Ugh." Bocah itu meringis pelan tatkala cengkeraman Tsakuya semakin menguat.


"Lukamu lumayan parah." Tsakuya memandang bocah itu. Rasanya rupa bocah itu terlihat tidak asing, tapi Tsakuya lupa di mana ia pernah melihat wajah seperti bocah itu. "Tapi kau sanggup bertahan sampai sekarang, aku takjub." Tsakuya tersenyum manis setelah memuji. Sementara yang dipuji hanya terdiam bisu dengan raut wajah menahan sakit.


Tsakuya melepaskan genggamannya, lalu berdiri. "Ikutlah denganku, kau masih membutuhkan sedikit penyembuhan. Sampai di tempatku nanti kau akan mendapat pengobatan," ujar Tsakuya sembari menyodorkan tangannya pada bocah itu. Namun, apa yang ia dapat? Alih-alih sikap baik atau ucapan terimakasih setelah memberikan pertolongan, bocah itu justru menepis tangannya dengan kasar.


"Aku tidak butuh bantuanmu, Tuan. Mana tahu Anda adalah orang-orang jahat yang menyerang tanah ini?" Bocah itu memandang Tsakuya tajam. Kemudian berdiri dengan bantuan dirinya sendiri. Namun, karena luka-luka yang dideritanya belum pulih sepenuhnya, ia hampir terjatuh kembali, tapi untunglah Tsakuya cepat sigap menangkapnya.


"Apa yang-lepaskan tanganmu, Pak Tua!" Bocah itu terbelalak dengan tindakan Tsakuya. Pasalnya Tsakuya malah menarik kerah belakang bajunya ke atas, hingga membuat ke dua kakinya tidak lagi menyentuh tanah. Seolah dia dianggap seekor kucing.


Tsakuya tersenyum amat manis, tapi tampak mengerikan di mata sebagian orang yang paham. "Hei, Nak, menolak kebaikan orang tua itu tidak boleh. Apa ke dua orang tuamu tidak mengajarimu dengan baik?"


Namun, yang diceramahi tidak terlalu mendengarkan ucapannya. Bocah itu terus menggeliat agar terlepas dari gendongan memalukan itu, tapi percuma, sekuat tenaga apapun ia berusaha, tetap saja ia tidak bisa melepaskan diri.


"Pak tua! Lepaskan aku, atau Anda akan menyesal nantinya! Aku kalau marah tidak pernah memandang usia, tua atau pun muda! Jadi segeralah lepaskan aku!"


"Lepaskan aku, Pak tua! Lepaskan!"


"Ayo cepat lepaskan!"


"Berisik!" Tsakuya menggeram kesal. "kamu ini pria atau perempuan? Belum pernah aku melihat pria secerewet kamu."


"Kau yang perempuan! Seluruh anak laki-lakimu perempuan! Jika kau tidak cepat lepaskan aku, maka aku akan membunuhmu!" Tak mau kalah, bocah kecil membalas lebih keras dari pada Tsakuya.


Tsakuya memutar mata malas sambil menutup sebelum telinganya. "Bla, bla, kau akan berterima kasih padaku nanti anak cerewet."


***


"Jiazhen?"


"Minghao?"


Jiazhen dan Minghao saling bertatapan kaget, tidak menyangka akan bisa bertemu lagi. Setidaknya, dua orang anak muda ini berpikir akan bertemu dalam waktu cukup lama mengingat situasi sekarang lumayan buruk. Namun, tampaknya ada seseorang dari mereka yang nekat keluar dari tempat persembunyian.


Minghao mendekati Jiazhen, memandangi adik bungsunya penuh ketelitian. "Kau terluka? Ada yang menyerangmu? Bukankah sudah kukatakan jangan mencariku sebelum situasi membaik! Kenapa kau keras kepala sekali, Jiazhen?!" Minghao membentak marah, sebenarnya ia sedang khawatir, tapi karena Jiazhen sangat bersalah saat ini, memarahi adik bungsunya ini lebih baik agar Jiazhen tidak mengulangi lagi kesalahannya.


Minghao bukan tidak tahu kejadian seperti ini pasti terjadi mengingat watak Jiazhen yang lebih keras kepala dari pada Minghao ketika sedang khawatir. Minghao menghela nafas berat, melihat Jiazhen hanya mampu tertunduk dengan perasaan bersalah membuat Minghao merasa sedikit bersalah.


"Kau pasti bertengkar lagi dengan, Yihua, kan?" Jiazhen mengangguk pelan, tanpa sadar membuat tangan Minghao refleks menepuk keningnya. "Pasti, Yihua, sudah kalang kabut mencarimu. Kenapa kau meninggalkan, Yihua? Bukankah kau paham kenapa aku meninggalkan, Yihua, padamu, karena aku hanya percaya padamu."


Jiazhen mengangkat kepalanya. "Tapi, ada Kakek dan Paman di sana. Mereka pasti bisa menjaga, Yihua. Aku juga khawatir padamu," balas Jiazhen membela diri, tapi kembali menunduk karena tatapan tajam Minghao. Jiazhen tahu ia yang bersalah di sini, tapi apakah salah jika dia khawatir dan ingin menyelamatkan Kakaknya?


Minghao menjambak rambutnya, frustasi. "Aku tahu kau khawatir padaku, tapi sikapmu ini ... aku kecewa. Baru kali ini aku melihat, Jiazhen, yang tenang dan cerdas bersikap bodoh," ucap Minghao nyelekit.


"Hei-hei, Nak. Kata-kata kalian sedikit lebih dewasa dari usia kalian. Tidak sebaiknya kalian berkata seperti itu." Tsakuya yang tidak tahan lagi melihat perdebatan Minghao dan Jiazhen, menyahut. Atau mungkin lebih tepatnya teguran dari seorang kakak kepada adiknya. Meski memang sudah seharusnya dilakukan, tapi kata-kata Minghao terdengar sedikit lebih kasar untuk Jiazhen yang masih kecil.


"Tidak apa, Pak Tua. Ini salah, aku pantas ditegur." Jiazhen membalas ucapan Tsakuya, lemah, tidak ingin lagi membela diri lagi. Dia sudah sangat sadar apa yang dilakukannya ini sangat berbahaya. Selain membahayakan dirinya, juga membahayakan Yihua dan yang lain.


Minghao mendengus pasrah. "Kau sadar bukan? Kepergianmu bisa saja membuat pasukan Kakek menemukan, Yihua, dan yang lain."

__ADS_1


"Pasukan Kakek?" Tsakuya menatap ke dua bocah itu dengan alis berkerut. Tentu saja meminta penjelasan dari mereka berdua. "Tunggu dulu, jadi kalian berdua ini cucu dari manusia bernama, Gu Zou?"


"Lou Zou." Minghao membenarkan.


"Ya, maksudku, Luo, Lou Zou. Ah, tidak penting siapa namanya, tapi apa benar kalian berdua ini cucu dari manusia naif itu?"


"Naif?" Alis Jiazhen naik sebelah mendengar satu kalimat itu.


"Ya." Minghao tanpa ragu mengangguk, mengiyakan pertanyaan Tsakuya. Lantas Tsakuya dibuat terkesima oleh anggukannya.


"Astaga. Jadi apakah aku menolong manusia yang salah?" Tsakuya mendramatis, entahlah, ia hanya merasa niat baiknya membantu Jiazhen dan Minghao bukan lah pilihan yang benar.


"Tidak juga."


"Zusami? Kau?" Tsakuya menatap Zusami yang tampaknya telah mendengar perbincangan mereka bertiga. Minghao dan Jiazhen menoleh bersamaan, menatap Zusami. "Apa maksudmu berkata 'tidak juga?' Kau tahu bukan dua bocah ini siapa? Mereka cucu manusia naif itu!" ucap Tsakuya menggebu-gebu.


Zusami terus berjalan masuk dan berhenti tepat di depan Jiazhen. Pandangannya yang dingin membuat Jiazhen membuang pandangan. Zusami mendengus pelan sembari menolehkan pandangannya pada Minghao. Seketika membuat Minghao menunduk. Bagaimana tidak, pasalnya pandangan Zusami sangat mengintimidasi dirinya meski terlihat tenang.


"Hei-hei, berapa kali kukatakan jangan terlalu serius. Kau menakuti mereka, Zusami." Tsakuya mengetuk kepala Zusami cukup kuat, nyaris membuat Zusami terjungkal ke depan. Jika saja Zusami tidak cepat tanggap, maka jatuh lah ia di depan dua bocah itu.


"Sialan! Tidak bisakah kah kau membiarkanku terlihat keren barang semenit saja?!" Zusami menggerutu kesal. Oh, ayolah, Zusami hanya ingin terlihat keren di mata parah pembaca, visualnya sudah tampan, bergaya dingin sedikit kan tidak apa-apa?


"Cih! Sudah kukatakan dia tidak suka pria yang berlagak."


"Dia, dia, dia! Dia siapa yang kau maksud, hah?! Bukankah kukatakan aku akan membunuhmu jika kau berkata seperti itu lagi?!" Zusami berseru kesal, sangat kesal hingga urat-urat lehernya muncul.


"Eerr ... apa yang terjadi di sini?" Jiazhen terhenyak melihat Zusami dan Tsakuya. Tadi di mata Jiazhen, Zusami itu dingin, berwibawa, dan keren. Namun, setelah melihat adegan tak disangka ini, luntur semua pandangan Jiazhen pada Zusami.


Sementara di sisi lain, Minghao menepuk dahi pasrah. Bukan sekali dua kali ia melihat Zusami dan Tsakuya seperti ini, dalam satu hari ini mungkin ada sepuluh kali.


"Oke! Aku mengerti, kau tidak ingin aku memanggil dia, tapi langsung namanya, ya? Men-"


Duak!


"Tutup mulutnya sialan!" timpal Zusami kesal.


"Huhuhu ... kau lupa aku ini Adikmu? Teganya kau memukulku?" Zusami memegang wajahnya yang baru saja mendapat bogem. Bisa ia rasakan wajahnya membengkak akibat bogeman Zusami.


"Huh! Kau pantas menerimanya." Zusami mendengus acuh sambil membuang pandangan. "Kau tidak akan mengerti, Tsakuya. Kenapa aku berkata 'tidak juga' itu karena bocah ini!" Zusami menunjuk Jiazhen tegas, lantas membuat Jiazhen dan Minghao terkejut.


"Bocah cerewet ini?" Tsakuya keheranan. "Ada apa dengannya?"


"Hei! Aku tidak cerewet! Kau yang cerewet! Seluruh keluargamu cerewet!" timpal Jiazhen tidak terima.


"Hus! Diam lah bocah, Kau berisik sekali." Tsakuya menutup sebelah telinganya dengan jari kelingkingnya, pasalnya Jiazhen berteriak tepat di telinganya. "Lanjutkan, Zusami." Tsakuya menginstruksikan Zusami untuk melanjutkan ucapannya yang tertunda tadi.


Zusami berdehem sejenak, mengembalikan ketenangan. "Dia, dia adalah bocah itu. Bocah yang kulihat sekilas ketika kesadaranku mulai pulih."


"Bocah yang kau lihat? Memangnya apa yang kau lihat?" Tsakuya tidak mengerti, kenapa juga Zusami berbicara sepotong-sepotong begini.


"Apa kau pernah bertemu dengannya?" tanya Minghao pada Jiazhen. Adiknya menggeleng tanpa ragu. Itu artinya tidak.

__ADS_1


"Aku bahkan baru pertama melihat pria bodoh sepertinya," balas Jiazhen enteng.


"Bodoh?" Zusami mendekati Jiazhen dengan wajah galaknya. Baru kali ini dia mendapat seseorang mengatakannya bodoh. "Beruntung kamu adalah anak darinya. Jika tidak ... maka aku tidak akan segan membunuhmu meski ada Kakakmu di sini." Zusami mendengus sinis sambil menjaga jarak dari Jiazhen.


Sementara ke tiga pria itu dibuat terkejut oleh ucapannya.


"Anak? Dia? Dia siapa?!" Tsakuya sudah lebih dulu menyemburkan pertanyaan.


"Anda tahu orang tua kami? Aku kira Anda tidak tahu?" Minghao bertanya serius.


"Heh, ternyata pria bodoh ini mengenal orang tua kita? Kenapa bisa? Aku tidak menyangka pertemanan Ibu dan Ayah serendah ini." Jiazhen berkata pelan sambil membuang wajah acuh.


Tsakuya maju, menarik Zusami sebelum pria itu pergi meninggalkannya. "Jelaskan Jelasku siapa orang tua anak ini?! Yang kisah cintanya amat tragis!!" tanya Tsakuya menggebu-gebu. Baginya berita ini adalah berita seru, karena dari yang Tsakuya ketahui, ke dua orang tua Minghao dan Jiazhen berasal dari dunia yang berbeda. Pastilah menarik mencari tahu siapa orang tua dua bocah itu.


Zusami menepis tangan Tsakuya dari bahunya, kesal. Bukan kesal karena sentuhan itu, tapi kesal pada pertanyaan Tsakuya.


"Kau mengenal orangnya!" balas Zusami galak.


"Aku mengenalnya?" Tsakuya menunjuk dirinya sendiri. "Siapa? Sepertinya aku tidak memiliki kenalan yang mempunyai dua anak seperti ini? Yang satu nekatan dan satu cerewet."


"Hei! Kau yang cerewet, Pak tua!" Jiazhen tahu siapa yang disindir Tsakuya tadi, sudah jelas adalah dirinya.


Tsakuya berdelik acuh mendengar balasan Jiazhen. Kembali lagi ia pada Zusami. "Katakan padaku, katakan padaku siapa orang itu? Aku penasaran! Kisah cinta mereka heroik sekali!" Tsakuya mendesak Zusami. Menggoncang ke dua bahu kakaknya agar lekas memberitahukannya.


"Lepaskan bodoh!" Dan lagi Zusami menepis ke dua tangan Tsakuya. "Kenapa kau begitu penasaran dengan kisah cinta orang lain! Urus saja kisahmu sendiri. Sudah melajang selama tujuh ratus tahun, perempuan mana kah yang kau tunggu itu dasar tua!"


"Hei! Dalam kamus pria, dilarang menyebut umur! Lagi pula kau lebih tua dariku, tapi masih saja melajang. Dasar perjaka tua!"


"Apa kau bilang?!" Zusami naik pitam. "Oh, dasar penggoda tua! Jangan kira aku tidak tahu sudah banyak gadis di istana yang kau tiduri! Apa jadi-eeumm ...." Zusami tersentak ketika tangan Tsakuya membekap mulutnya.


"Hei, ada anak-anak di sini, tidak baik berkata vulgar seperti itu." Tsakuya menatap tajam Zusami.


"Lepaskan bodoh! Oke, kau mau tahu siapa orang tuanya kan? Akan aku beritahu. Dia adalah, Menma!"


Jedar!


Jiazhen dan Minghao menunduk bersamaan sambil menutup kepala mereka dari sambaran petir yang entah dari mana datangnya. Setelah Zusami menyambut nama 'Menma' tiba-tiba saja muncul petir, padahal mereka berada di dalam gua.


"Me-Menma?" Tsakuya sangat tercengang mendengar ucapan Zusami. Tubuhnya kaku bak batu, pandangannya membulat menunjukkan keterkejutan. Dan sedikit info, dia lah penyebab petir tadi muncul. "Kau bilang Menma? Katakan sekali lagi!" pinta Tsakuya keras. Semburat wajah marah tampak di wajahnya.


"Menma! Menma! Menma! Apa kau sudah mendengarnya bodoh!" Zusami berteriak keras, melakukan sesuai permintaan Tsakuya.


Tsakuya tercengang, tidak tahu harus berkata apa, ia terlalu terkejut. Kakinya bergerak tanpa diperintah, menjauhi Zusami ke sisi lain.


"Ti-tidak mungkin. Itu tidak mungkin. Mana mungkin, Menma, punya anak?" gumam Tsakuya pelan.


"Tidak mungkin? Tapi begitu lah kenyataannya," sahut Zusami sinis.


Tsakuya tiba-tiba berbalik, tatapannya yang nyalang tertuju pada Zusami. "Itu tidak mungkin! Aku tidak percaya!" Tsakuya sekeras mungkin membantah. Dia tidak akan percaya dengan ucapan Zusami.


"Terserah, aku hanya berkata sesuai faktanya." Zusami memainkan kukunya sambil tersenyum tipis, senang melihat reaksi marah adiknya.

__ADS_1


"Tunggu dulu!" Jiazhen menyela Zusami dan Tsakuya. "Hei, Pak tua, pria bodoh! Siapa kalian mengatakan orang tua kami Menma? Orang tua kami itu, Lou Yue dan Shua Xie! Bukan Menma! Jangan asal main ganti nama!" Jiazhen berseru kesal, tidak terima nama orang tuanya diganti.


^^^A/N : Update lama, sekali update bab gak menarik 😹 marah lah, marah lah... 😈😹^^^


__ADS_2