Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 195


__ADS_3

Di depan bangunan besar itu, Menma berdiri tegap, menatap bangunan besar dan megah yang keadaan sekitarnya tak lagi baik. Banyak mayat prajurit  berserakan. Darah menggenang di mana-mana.


'Sudah terlambat.'


Menma melangkahkan kakinya memasuki pekarangan kerajaan. Melewati ratusan mayat yang berserakan. Prihatin? Sedih? Kasihan? Menma bahkan tak yakin perasaan apa yang ia rasakan saat ini, semua bergejolak, seakan ingin keluar dari dalam sana.


Tap, tap, tap ....


Berbagai lorong, koridor, ruangan ia lewati. Semua sama. Mayat prajurit yang terus menjamu mata cantiknya. Hal yang semakin membuatnya merasa bersalah sebab datang terlambat.


"Maaf." Menma menunduk sekilas di depan singgasana bertakhtakan emas. Naik ia ke sana lalu berbalik. Menatap ratusan mayat dengan pandangan datar. Menma tak ingin bersedih atau pun sebaliknya, karena ia yakin hal itu hanya akan membuatnya semakin bersalah.


Menma mengangkat tangannya, seketika muncul setitik api di sana. Uniknya, api itu tidak berwarna merah seperti pada umumnya, melainkan putih.


Apa yang akan dilakukan Menma dengan api itu? Jawabannya, ia ingin membakar semua mayat yang ada di kerajaan ini. Kenapa? Karena Menma tidak ingin mayat-mayat itu membusuk dan membuat wabah penyakit berbahaya. Lagi pun, ini salah satu cara Menma membalas kematian mereka, dengan tidak membiarkan mayat-mayat itu membusuk.


Menma mengibaskan tangannya, membiarkan setitik api putih itu terbang dan membakar semua mayat yang ada. Setelah itu, Menma turun dari sana, kemudian berjalan menuju lorong sepi dan gelap.


"Perasaan ini ... ketakutan yang mengerikan."


 


***


 


"Hah!" Azura menyeka keringat di dahinya. "Aku tidak menyangka mengurus manusia-manusia ini akan semelelahkan ini." Azura bahkan baru beberapa jam di sini, mencoba menyelamatkan manusia yang masih bisa dia selamatkan. Namun, sayang, bahkan setelah semua usaha yang ia lakukan, tidak satu pun manusia berhasil ia selamatkan.


Klotang.


Azura seketika menoleh ketika mendengar suara benda jatuh. Dapat ia lihat lima orang anak kecil berdiri tidak jauh darinya. Lima anak itu terkejut ketika Azura berbalik.


"Kalian-"


"Jangan mendekat, atau kau akan menyesal!" Bocah yang paling besar menyela ucapan Azura. Sambil menghalau teman-teman.


Niat Azura ingin bertanya kenapa anak-anak itu bisa ada di tempat ini, tapi tidak Azura sangka lima anak-anak itu justru malah mengancamnya.


"Kalian salah paham."


"Kau, kau pasti ingin, akh-" Bocah itu tiba-tiba meringis sambil memegang dadanya. Azura tersentak, lantas kakinya bergerak tanpa keinginannya menuju anak-anak itu.


"Apa yang terjadi?" tanya Azura sedikit panik.


"Jangan mendekat!"


"Tenang lah bocah, aku tidak berniat jahat pada kalian." Azura mencoba meyakinkan bocah-bocah itu.


"Apa buktinya?" tanya salah satu dari lima bocah itu.


"Buktinya aku tidak menangkap kalian meski aku sudah berada di depan kalian." Jawaban Azura berhasil membuat lima bocah itu terdiam. Azura berjongkok di depan bocah yang meringis kesakitan, perlahan ia memegang tangan bocah laki-laki itu.


"Kau habis tertimpa sesuatu?" Azura yang telah memeriksa kondisi bocah itu bertanya. Azura memang bukan seorang Tabib atau Alkemis seperti Tsakuya, tapi setidak ia tahu sedikit ilmu medis meski hanya berupa penyakit biasa, seperti luka ringan. Dan dari apa yang Azura periksa, bocah malang ini sepertinya habis tertimpa benda berat yang membuat tulang belakangnya patah.


"Kau hebat, luka seperti ini seharusnya membuatmu tidak bisa berjalan atau bahkan bangun. Padahal kau hanya manusia biasa ...." Azura memandang bocah itu sambil tersenyum. Sebelum akhirnya ia menggendong bocah itu, membuat si bocah panik.


"Apa yang kau lakukan! Turunkan aku!"

__ADS_1


"Tenang lah, aku akan mengobatimu. Tidak, bukan aku, tapi seseorang." Azura tanpa izin membawa bocah itu pergi. Tentu diikuti bocah yang lain.


"Apa yang akan kau lakukan pada Elmer!"


"Iya, apa yang akan kau lakukan pada Elmer?!"


Azura menoleh pada dua bocah laki-laki yang berjalan di sampingnya. "Bukankah sudah kukatakan, aku akan mengobatinya. Maksudku, seseorang."


"Kau tidak akan membunuh Kakakku kan?" Bocah perempuan berambut cokelat bertanya. Dia memanggil Elmer dengan sebutan 'Kakak', berarti gadis kecil itu adalah adik dari bocah laki-laki yang Azura gendong.


"Aku tidak tertarik membunuh manusia seperti kalian," balas Azura yang membuat para bocah itu keheranan.


"Emang kau ini apa? Siluman? Dewa? Malaikat?" Gadis itu bertanya lagi, pasalnya ia bingung dengan penuturan Azura barusan.


"Ya, kau bisa anggap seperti itu. Aku bisa jadi malaikat atau pun sebaliknya," balas Azura sambil tersenyum tipis.


"Lalu akan kau bawa ke mana Kakakku?"


"Kepada seseorang yang bisa menyembuhkan Kakakmu."


"Siapa dia?"


"Yang Mulia-ku."


 


 


***


 


 


Tap, tap, tap ....


Namun, usaha mereka percuma. Pintu yang ditutup dengan gembok itu bersuara, suara pukulan dan ketukan.


"Kalian yang di dalam buka lah pintu ini. Aku tahu kalian ada di dalam," seru suara seorang perempuan dari luar.


Gadis berambut cokelat itu menoleh, menatap orang-orang yang bernasib sama dengannya. Salah satu dari mereka menggeleng, meminta gadis itu untuk tidak membuka pintu.


"Buka lah, kalian tidak perlu takut. Aku adalah teman Shua Xie. 'Matahari bersemu malu di bibir langit'," ucap suara perempuan itu lagi. Dengan kalimat aneh di akhir ucapannya.


'Shua Xie?'


Salah satu dari penghuni ruangan ini segera bergerak, menuju pintu, ingin membukanya. Membuat yang lain terkejut akibat tindakan pria itu.


"Senior Kun, apa yang Anda lakukan?" Gadis berambut cokelat itu tersentak. Tidak menyangka pria bernama Kun itu akan membuka pintu.


"Senior Kun!"


"Senior Kun!"


Pemuda bernama Kun tidak memedulikan panggilan orang-orang dibelakangnya. Ia terus melanjutkan aksinya, berusaha membuka pintu. Sesaat pintu itu tidak lama lagi akan terbuka, muncul pria lain yang langsung menahannya.


"Dia belum tentu teman gadis itu. Bagaimana jika pemilik suara itu berbohong." Tu Mo, teman pemuda itu menahan.

__ADS_1


Kun menoleh. Wajahnya masih datar. Seperti tidak memiliki emosi, padahal situasi kerajaan Dilie sedang tidak baik saat ini.


"Aku tahu itu dia." Kun menurunkan tangan Tu Mo dari tangannya. Lalu kembali membuka pintu.


Ceklek!


Pintu terbuka, tampak lah seorang perempuan cantik berdiri di sana. Tu Mo terkejut, begitu pun dengan Kun. Sementara yang di belakang berusaha untuk melihat siapa yang datang.


"Terima kasih telah membukanya. Sempatku pikir aku akan mendobrak pintu ini secara paksa." Menma tertawa kecil. Kepalanya mulai melihat ke dalam ruangan kecil itu, mencoba mengetahui siapa saja yang ada di dalam.


"Senior Kun, apa kau mengenal dia?" tanya Tu Mo setengah berbisik. Tu Mo hanya tidak menyangka Kun memiliki kenalan secantik ini. Bahkan Tu Mo sampai sulit mengalihkan pandangannya. Baru kali ini Tu Mo melihat perempuan secantik di depannya. Rambut putih berkilau dan mata merah yang terang. Serta gaun cantik yang dikenakan perempuan itu, sungguh menambah kecantikkannya.


Kun menggeleng. "Aku tidak mengenalnya." Tiga kalimat ini berhasil membuat Tu Mo terkejut. Tu Mo memandang Kun tak percaya.


"Lalu kenapa kau membuka pintu untuknya?" Jika Kun tidak mengenal perempuan itu, seharusnya Kun tidak membuka pintu, tapi justru yang dilakukan Kun berbeda dengan reaksi seharusnya.


"Karena dia bisa tahu lokasi ruangan ini."


"Hah? Maksudnya?" Tu Mo tidak mengerti.


"Sebelum perang ini terjadi. Putri Shua Xie pernah memberitahukan padaku mengenai rencananya, dia bahkan telah menduga-duga kemungkinan jika dia tidak sempat membantu."


Meski telah dijelaskan, Tu Mo masih belum mengerti.


"Intinya adalah, ruangan ini hanya diketahui beberapa orang penting saja. Dan aku memberitahukan ruangan ini pada Putri Shua Xie jika kemungkinan besar hal buruk terjadi di kerajaan Dilie," jelas Kun lagi.


"Lalu?"


"Sebenarnya." Menma menoleh. Dia mendengar jelas percakapan Kun dan Tu Mo meski ke dua pemuda itu telah memperkecil suara mereka. "Aku tahu ruangan ini berdasarkan instingku, bukan karena ingat pada perkataanmu waktu itu."


"Waktu itu?" Kun mengerutkan kening. Dia merasa ada yang tidak beres pada perempuan itu. Berbeda dengan Tu Mo, dia mulai waspada pada Menma setelah mendengar penuturan perempuan itu.


"Ya, waktu perbincangan yang singkat itu. Tuan-Kun-Rou-Jie," balas Menma sambil mengeja satu persatu nama Kun  dengan menekan setiap nama.


Kun dan Tu Mo tersentak. Bagaimana tidak, nama asli Kun tidak banyak orang yang tahu, hanya Tu Mo dan keluarga Kun sendiri yang tahu nama asli Kun. Sedang kan selama ini, Kun memakai nama depannya tanpa pernah memberitahukan siapa nama aslinya. Bahkan kepada pemimpin kerajaan ini pun tidak dia beritahukan.


"Senior Kun." Tu Mo memandang Kun yang tampaknya tidak memasang ekspresi terkejut sepertinya.


"Jadi kau itu dia? Tapi bagaimana bisa?" Kun mengabaikan panggilan Tu Mo, ia lebih terfokus pada Menma.


"Bukan, aku hanya utusannya saja. Dia mengatakan padaku untuk menyebut namamu agar kau percaya padaku."


"Siapa?"


"Tentu saja Shua Xie."


 


#Bersambung


A/N : Shua Xie ngaku Shua Xie, jadi ingat jeruk minum jeruk 👀


Aku up lagi, jangan lupa like dan komentar biar aku terus semangat menulis 🔥


Jangan lupa mampir ke karya ku yang berjudul Who? Dan Jiwa Pengganti🔥


 

__ADS_1


 


__ADS_2