Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 150


__ADS_3

'Apa dia baru saja mengancamku?' tanya Huanran dalam hatinya, sedikit gemetar ketika dia mendengar beberapa kata dari Shua Xie.


"Ini bukan ancaman, kau tahu jelas kekuatanmu tidak akan sanggup menahan tamparanku. Jadi ke depannya, tolong jaga sikapmu, Nona Huanran," balas Shua Xie seolah dia bisa menebak apa yang sedang Huanran pikirkan saat ini. Dan setelah itu, Shua Xie melepaskan pelukannya bersamaan dengan mengumbar senyuman manis di sana.


"Huanran tidak perlu khawatir, aku juga salah, tidak seharusnya aku berdiri di pinggir kapal." Seketika saja sebuah wajah sandiwara terjadi, mengejutkan Huanran yang seharusnya bersikap sebaliknya, "Aku tadi terlalu lama melamun sehingga tidak sadar kau berjalan menuju ke arahku." Shua Xie menepuk jidadnya, bersikap seolah dia sedang mengasihani kebodohannya sendiri.


Biming mengulum senyum tipis, senang melihat Shua Xie tidak menyimpan kebencian pada Huanran meski Huanran lah penyebab Shua Xie hampir kehilangan nyawa, 'Sepertinya murid Shua Xie ini memiliki kelapangan dada yang besar.'


***


Daratan Alam Abadi, nama itulah yang dikenal akrab oleh para Kultivator dunia Bawah benua barat. Daratan Alam Abadi berada di selatan negara Angin, di kota Caihong, kota terbesar ke dua setelah kota Haiyang ibukota negara Angin. Kota Caihong berjarak cukup jauh dari kota Awan Merah, sehingga untuk mempercepat perjalanan sekte Kunlun memberikan kapal terbang untuk membawa para murid lebih cepat ke kota Caihong.


Setelah 3 jam lamanya mengarungi langit, akhirnya kapal yang mereka tumpangi telah sampai di kota Caihong. Mereka pun turun di gerbang masuk kota Caihong karena kapal terbang yang mengantar mereka tidak bisa memasuki kota Caihong, larangan kendaraan besar memasuki kota Caihong sebab di kota Caihong begitu banyak Kultivator, akan mengganggu ketertiban jika kapal sekte Kunlun masuk ke dalam.


Selepas para penumpang kapal itu turun, kapal itu pun kembali berlayar pulang ke kota asalnya. Biming menuntun para muridnya masuk ke dalam kota, di depan gerbang rombongan mereka dicegat penjaga gerbang, meminta identitas mereka sebagai bukti mereka bukanlah seseorang yang akan membuat masalah di kota Caihong, karena sudah cukup banyak pembuat onar masuk ke kota Caihong membuat Gubernur kota Caihong harus bertindak tegas.


Setelah mengisi beberapa formulir, Biming bersama 20 muridnya kembali berjalan masuk ke dalam kota, tentu saja tujuan pertama mereka mencari penginapan untuk mereka tempati tinggal selama beberapa hari ke depannya.


Ketika rombongan meraka telah memasuki alun kota, mereka dibuat terpukau dengan banyaknya para murid Kultivator di mana-mana, mungkin kedatangan banyak murid Kultivator karena Daratan Alam Abadi yang kabar hari ini akan terbuka. Tapi mereka semua bisa masuk besok setelah para penjaga gerbang Daratan Alam Abadi bisa memastikan keamanan saat menggunakannya nanti.


Tidak butuh waktu lama, Biming dan rombongan muridnya tiba di sebuah bangunan bertingkat tiga yang terlihat cukup mewah. Di atas pintu masuk bangunan itu bertuliskan nama 'Penginapan Matahari'. Dengan tenang Biming membawa muridnya masuk ke dalam, menuju kasir meja penerima tamu ataupun pelanggan.


"Kami ingin pesan tiga kamar," ujar Biming dengan tenang. Namun tiba-tiba saja terdengar suara sahutan.


"Kenapa hanya tiga kamar saja Tetua?" tanya Huanran. Dia bingung kenapa Biming hanya memesan tiga kamar sedangkan jumlah mereka adalah 21.


"Putri hanya berjumlah lima orang, tidak masalah jika kalian tidur sekamar. Sedangkan yang Putra pasti bisa tidur sekamar, ini semua demi menghemat uang, belum lagi uang makan dan lainnya lagi," jelas Biming tanpa menoleh kepada Huanran, dia sibuk memilih kunci kamar yang mana akan dia pilih.


"Tapi, dilihat dari penginapannya kamarnya pasti kecil, tidak mungkin bukan kita tidur di lantai?" sahut murid perempuan lainnya, bernama Yue Jian, murid peringkat ke sebelas.


"Benar Tetua, kamarnya pasti kecil satu kasur tidak akan muat untuk lima orang," sahut murid perempuan lainnya bernama Xiu An, murid peringkat ke sembilan.


"Kalian adalah Kultivator, tidur sambil berkultivasi akan lebih bagus, jika ingin tidur menggunakan kasur silakan sewa kasur sendiri dengan uang kalian masing-masing." Qixuan menyahuti ke tiga gadis itu, membuat mereka bertiga langsung diam dan tidak berani lagi berbicara.


Shua Xie sampai berdecak kagum melihat betapa terhormatnya Qixuan di mata semua murid sekte Kunlun. Padahal Qixuan sendiri hanya bocah berumur 14 tahun, bahkan jauh lebih mudah dari Shua Xie, tapi sudah sanggup membuat dirinya begitu disegani di sekte Kunlun. Shua Xie kagum dengan kehebatan dan kecerdasan Qixuan yang tidak sebanding dengan bocah seumurannya.


Setelah selesai melakukan pembayaran, Biming mengambil kunci yang diberikan petugas kasir tersebut. Namun sebelum Biming mengambilnya, tiba-tiba muncul tangan lain merebut kunci tersebut.


"Hei kau, aku ingin tiga kamar ini, aku akan bayar lebih banyak dari yang dia sewa." Seorang pemuda yang entah dari mana datangnya berlagak sombong sambil melemparkan sekantung uang perak kepada sang kasir.


"Maaf Tuan, tapi kami sudah lebih dulu menyewa kamar ini, kalau kau mau kamar pilihlah kamar yang tidak dipesan orang." Biming menatap pemuda itu tajam, namun masih berusaha untuk bisa bersikap tenang mengingat tempat dia berada sekarang tidak memungkinkan untuk menggunakan kekerasan.


"Heh, kupikir perguruan dari mana, ternyata dari sekte Kunlun? Ck! Hanya sekte dari pelosok tapi berani merebut kamar yang aku ingin? Kalian tidak pantas!" balas Pemuda itu di akhiri dengan tawa keras, bahkan para pengikut di belakang pemuda itu juga itu mentertawakan Biming beserta muridnya.


"Kalian! Beraninya menghina sekte kami!" pekik Kiseki geram, tidak hanya Kiseki yang geram semua murid terkecuali Shua Xie dan Qixuan juga bersikap sama. Mereka semua menyahut dengan berbagai macam umpatan.


"Bahkan jika kau dari sekte besar pun tidak boleh menghina sekte kami! Yang Mulia Kaisar akan menghukummu jika Yang Mulia tahu!" sahut murid pria lainnya bernama Jianying dengan nada tegas namun tetap berusaha untuk tenang. Paling tidak dia sudah menyebutkan sosok yang seharusnya sanggup membuat pemuda itu takut.


"Benar! Kaisar pasti akan menghukummu jika Kaisar tahu kau melakukan penghinaan kepada sekte kami!" sahut murid pria lainnya.


Namun alih-alih keras takut dengan ancaman itu, pemuda itu justru semakin tertawa kencang membuat para murid sekte Kunlun itu terdiam dengan ekspresi bingung. Tidak hanya pemuda itu, bahkan pengikutnya juga semakin tertawa tidak terkendali.


"Hahaha ... apakah mereka sedang melawak di sini! Apakah mereka tidak tahu siapa Tuan Muda kita!?"


"Hahaha ... aku rasa begitu. Mereka pasti tidak tahu siapa Tuan Muda kita!"

__ADS_1


"Kalau begitu beritahu mereka siapa Tuan Muda kita!?"


"Hei! Apa kalian bodoh?! Dia adalah Pangeran ke Tiga, anak dari Kaisar Wexin! Kalian ingin melapor? Silakanlah melapor, itu pun jika didengarkan! Hahaha."


Tawa para rombongan itu semakin pecah tatkala mereka telah memberitahukan identitas pemuda yang baru saja merebut kunci milik Biming. Sedangkan pemuda yang dibanggakan oleh para pengikutnya memasang tampang wajah merasa hebat dengan gaya berlagak keren.


Berbeda dengan mereka yang tertawa, Biming dan para muridnya justru memasang ekspresi terkejut yang berlebihan, mungkin tidak akan menduga pemuda yang baru saja mencari masalah dengan mereka adalah Pangeran ke Tiga, Fang Xin. Pantas saja ketika mereka menyebut nama Kaisar, pemuda itu tidak terlihat takut sama sekali, justru semakin terlihat bahagia.


Tidak aneh juga Pangeran ke Tiga ada di kota Caihong, berhubungan Daratan Alam Abadi sangat terkenal sebagai tempat baik untuk berlatih pastinya keluarga bangsawan juga akan banyak terlihat di kota Caihong, seperti Pangeran ke Tiga contohnya.


"Apa kalian sudah takut setelah mengetahui identitas Tuan Muda? Jika kalian merasa begitu segeralah berlutut dan meminta maaf, mungkin saja Tuan Muda akan memaafkan kalian dan melupakan semua yang telah terjadi!" pekik salah satu pria yang sejak tadi terus memprovokasi suasana. Seringai sinis bahkan pria itu utarakan dengan jelas.


Para murid sekte Kunlun menjadi dilema, di satu sisi mereka ingin meminta maaf namun di sisi lain meraka tidak ingin melakukannya, karena jika mereka melakukannya maka sama saja halnya mereka merendahkan perguruan dan harga diri mereka sendiri. Namun di hadapan keluarga bangsawan kelas tinggi, apa yang bisa mereka lakukan selain menurut.


Biming segera memberi hormat namun dalam bentuk hormat yang sederhana, karena dia ada Tetua sekte tidak masalah jika hormatnya tidak terlalu mewah, "Salam kepada Pangeran ke Tiga, maaf jika kami tidak terlalu sopan sebelumnya, kami harap Pangeran ke Tiga mau memaafkan kami," ujar Biming dengan tenang meskipun di dalam hatinya dia memaki keluarga bangsawan selalu bersikap sesuka hati mereka terhadap kaum rendah dan lemah.


Melihat Biming memberi hormat, para muridnya pun melakukan hal sama tanpa terkecuali, tentu mereka ingin menyelesaikan masalah ini dengan cara baik-baik tanpa harus menggunakan cara kasar. Terlebih lagi mereka sadar status pemuda itu tidak baik untuk disinggung. Ucapan salam sekaligus memohon maaf serempak semua murid itu ucapankan, tanpa ada nada terpaksa sekali pun.


Pemuda bernama Fang Xin itu tersenyum sinis, menatap rendah Biming dan semua muridnya, "Membosankan," dengus Fang Xin pelan namun bisa didengar semua orang di sekitarnya. Tentu mereka semua tahu makna kalimat itu, pasti Fang Xin merasa bosan dengan sikap Biming berserta murid, dia pasti berharap terjadi sedikit perdebatan paling tidak untuk menghibur dirinya yang bosan dengan suasana kota Caihong.


Fang Xin berbalik, berniat meninggalkan Biming dan lainnya, namun salah satu pengikutnya langsung menghentikannya, "Tuan Muda, lihatlah ... murid perempuan sekte Kunlun sangat cantik, bagaimana jika kita meminjam mereka sebentar untuk menghibur Tuan Muda?" ucap pengikut Fang Xin yang sejak awal memang sengaja memprovokasi Fang Xin dan rombongan Biming, ketahuilah bahwa Fang Xin bisa bersikap seperti ini karena hasutan pria itu.


"Gadis?" Fang Xin berbalik, lalu memperhatikan lima gadis yang berada di belakang para murid pria. Mata Fang Xin sedikit terkejut ketika dia melihat seorang gadis dengan wajah dingin tengah menatapnya.


Biming yang tentunya mendengar itu tidak tinggal diam, dia segera memberi hormat lagi demi menyelamatkan murid perempuannya, "Pangeran ke Tiga, tolong jangan membawa murid perempuanku, meskipun anda adalah keluarga bangsawan anak dari Yang Mulia Kaisar Wexin. Tetap saja anda tidak boleh bersikap semena-mena, membawa murid kami untuk menghibur anda, jangan salahkan kami bertindak tegas," ungkap Biming dengan nada tegas, seolah meyakinkan bahwa ucapannya bukanlah sebuah kebohongan untuk mengancam.


"Kau! Beraninya melawan Tuan Muda! Apakah sekte kalian sudah tidak ingin berdiri lagi?!" sahut Dazhong lantang sembari dia menunjuk Biming dengan mimik wajah kesal.


"Maaf jika saya lancang!" Qixuan segera menyahut, tentu ingin membantu guru dan murid lainnya termasuk dirinya, "Meskipun Pangeran ke Tiga anak dari Yang Mulia Kaisar Wexin, tapi tetap saja tidak boleh bertindak seperti ini, tidak hanya membuat semua orang berpikir Pangeran ke Tiga buruk juga akan merusak reputasi keluarga bangsawan. Jika Pangeran ke Tiga ingin wanita, kenapa tidak pergi ke rumah bordil saja, di sana anda bisa memuaskan nafsu anda dengan wanita-wanita ular," jelas Qixuan tenang tanpa sedikit pun merasa bahwa ucapannya telah menyinggung Fang Xin secara keseluruhan.


"Dazhong, apa kau ingin mencari masalah dan membuat namaku menjadi buruk?" Fang Xin memberikan tatapan dingin kepada Dazhong, membuat pria itu bergetar seketika, "Yang dikatakannya itu benar, jika kau ingin wanita pergilah ke rumah bordil."


Tidak hanya Dazhong terkejut karena ucapan Tuannya, bahkan pengikut berserta sombong Biming pun merasakan hal yang sama. Tiba-tiba saja sikap Fang Xin berubah, sedikit lebih dewasa dari sebelumnya. Bahkan tatapan dingin Pangeran itu, mampu membuat beberapa orang di sekitarnya bergidik ngeri.


"Tu-Tuan Muda?"


"Enyalah dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku, jika aku melihatmu lagi aku tidak akan memberimu ampun!" Fang Xin melempar Dazhong, membuat pria itu berjalan keluar dari rombongannya dengan tampang ekspresi terkejut.


Dazhong telah banyak menyinggung orang, jika dia tidak di bawah perlindungan Fang Xin mungkin saja pria itu sudah tidak bernafas sekarang. Tapi sekarang Fang Xin sudah membuangnya, maka mereka yang dendam padanya ... pasti akan membalas dendam.


Dazhong sangat ingin berbalik lalu meminta maaf kepada Fang Xin, tapi karena dia sangat mengenal Fang Xin lebih baik jangan berbalik, jika berbalik Dazhong yakin Fang Xin akan menghajarnya sampai mati. Sekali membuat Pangeran itu tidak suka, jangan pernah berharap mendapat rasa suka itu kembali lagi.


Selepas Dazhong pergi, semua orang menatap Fang Xin dengan tatapan heran, bingung kenapa Fang Xin tiba-tiba saja membuang Dazhong setelah salah satu murid perempuan sekte Kunlun berbicara. Ada yang aneh, sekejap saja pandangan mereka beralih lagi kepada Qixuan, ingin mengamati apa yang spesial dari gadis itu sehingga Fang Xin menuruti kemauannya.


Fang Xin beralih menatap Qixuan, tersenyum kepada gadis itu namun dibalas tatapan tajam dari Qixuan. Fang Xin merasa sedikit terkejut dan segera mendekati Qixuan, "Qixuan ... masalah tadi aku akan melupakannya. Aku tidak tahu ternyata kau ada di rombongan ini," ujar Fang Xin dengan nada bersalah, bahkan Fang Xin berniat memegang tangan Qixuan sebagai bentuk dia tulus meminta maaf, namun Qixuan langsung menarik tangannya menghindari sentuh pemuda di depannya.


"Pangeran ke Tiga aku tidak mengerti maksud anda, tapi terimakasih telah melepaskan kami," balas Qixuan datar.


Biming dan para muridnya terbelalak melihat Fang Xin meminta maaf kepada Qixuan dengan wajah bersalah seperti itu. Tidak pernah mereka pikir bahwa Qixuan mengenal anggota keluarga kerajaan seperti Fang Xin, pantas saja Fang Xin menyebut Qixuan dengan nama gadis itu begitu lembut. Seolah di antara mereka berdua pernah terjadi hubungan spesial.


Shua Xie bahkan sampai tertegun melihat Fang Xin meminta maaf, usia Pangeran ke Tiga memang tidak jauh berbeda dengan usianya, jika tebakan Shua Xie benar, usia Fang Xin seharusnya 16 tahun. Pemuda lumayan tampan dan gagah.


'Sepertinya Qixuan mengenal anggota keluarga kerajaan, pantas saja aku melihat dia berbincang dengan Xingxing, ternyata mereka sudah saling kenal. Tidak aneh juga jika Qixuan mengenal Pangeran ke Tiga,' ujar Shua Xie dalam hatinya.


"Qixuan, aku-"

__ADS_1


"Pangeran ke Tiga sangat baik hati, karena telah melepaskan kami maka kami akan pergi. Tetua, apakah Tetua telah memesan kamar lain, jika sudah sebaiknya kita segera beristirahat untuk hari esok." Qixuan menyela ucapan Fang Xin tanpa merasa bersalah sedikit pun, tidak peduli dengan ekspresi terkejut orang-orang di sekitarnya.


Biming yang telah memesan kamar lain mengangguk pelan, "Ya, aku sudah memesannya. Kalau begitu, kami pamit undur diri Pangeran ke Tiga." Biming memberi hormat kepada Fang Xin setelah itu barulah dia pergi bersama para muridnya naik ke lantai atas.


Sedangkan Fang Xin menatap kepergian Qixuan dengan pandangan nanar, jelas sekali dia merasa sangat bersalah telah bersikap sembarangan di hadapan Qixuan. Qixuan adalah wanita yang dia sukai sejak kecil sekaligus sahabat dekatnya, bahkan dia sampai meminta kepada Ayahnya Kaisar Wexin untuk menikahkan dia dengan Qixuan. Namun, lagi-lagi Qixuan melihat sifatnya yang seakan tidak tahu aturan, membuat gadis itu kecewa besar padanya. Jika saja Fang Xin memperhatikan lebih baik tadi rombongan Biming, mungkin saja kejadian ini tidak akan terjadi.


'Qixuan, mau sampai kapan kau mengabaikanku? Kita sudah lama tidak saling bertegur sapa, aku rindu suasana dulu,' lirih Fang Xin dalam hatinya.


***


"Ka-kalian mau apa!? Berani kalian menyakitiku Pangeran ke Tiga tidak akan melepaskan kalian!" pekik Dazhong lantang, berusaha untuk terlihat tidak takut di hadapan sekumpulan orang di depannya. Orang-orang yang pernah dia ganggu selama berada di bawah perlindungan Fang Xin.


Belum lama Dazhong dilempar Fang Xin keluar dari rombongannya, berita Dazhong sudah tidak berlindung kepada Pangeran ke Tiga langsung tersebar begitu cepat, mereka semua yang membenci Dazhong berkumpul bersama-sama mencari Dazhong lalu membalas dendam atas perbuatan Dazhong selama ini kepada mereka.


"Ck! Mau mengancam kami dengan trik yang sama! Itu sudah tidak mempan lagi! Pangeran ke Tiga sudah membuangmu, sekarang tidak akan ada yang menghalangi kami membalas dendam!" sahut seorang pemuda dengan seringai wajah sinis, tangannya berbunyi-bunyi keras ketika dia meremas jarinya sendiri.


"Benar! Tanpa perlindungan Pangeran ke Tiga kau bukanlah ancaman besar! Kami lebih banyak darimu! Tentu saja kami akan menang! Dendam ini sudah lama terpendam dan sekarang sudah saatnya kami membalas apa yang pernah kau lakukan pada kami!" Pemuda lain menyahut.


"Dazhong rasakanlah pembalasan dendam kami!"


"Kalian! Berani menyetuhku, Pamanku adalah pejabat kerajaan, jika Pamanku tahu dia pasti tidak akan melepaskan kalian!" pekik Dazhong masih melepaskan beberapa ancaman agar mereka semua tidak berani melukai Dazhong.


Alih-alih merasa takut justru mereka semua malah tertawa keras seperti orang gila yang kehilangan kewarasannya.


"Hahaha! Kenapa jika Pamanmu pejabat kerajaan?! Selama dia tidak tahu kami membunuhmu, kami tidak akan mendapat masalah apapun!" sahut pemuda di depan Dazhong.


"Benar, setelah aku membunuhmu seperti kau membuat adikku mati bunuh diri atas pelecehan yang kau lakukan! Aku akan keluar kota dan menyembunyikan diri! Jika pun aku tertangkap tidak masalah selama aku telah membalas dendam kematian adiku!" Pemuda lain menyahut dengan mimik wajah sedih yang mengerikan.


"Kau telah menghancurkan rumahku!"


"Kau telah membuat bisnis keluargaku hancur!"


"Kau telah menindasku selama ini!"


Berbagai macam keluhan dari para pemuda itu terdengar, alasan-alasan kenapa mereka sangat ingin membalas dendam kepada Dazhong. Karena memang selama ini perlakuan Dazhong sangat terlewat batas, hanya karena Pangeran ke Tiga melindunginya dia bersikap semena-mena demi kesenangannya sendiri.


"Ti-tidak! Jika Kalian mau uang? Aku akan berikan, tapi kumohon lepaskan aku!" Dazhong segera berlutut memohon ampun, sadar kalau dia tidak akan bisa lepas dari rombongan di depannya. Makan cara lain menyelamatkan dirinya hanyalah dengan meminta maaf dan memberikan mereka uang.


Dazhong mengeluarkan dua kantung uangnya lalu meletakkannya di depannya, "A-ambillah semua uangku ini, tapi kumohon lepaskan aku!" ujarnya dengan nada pasrah.


"Melepaskanmu? Jika uangmu sanggup mengembalikan semua yang kami punya, kami akan melepaskanmu! Tapi uangmu saja tidak cukup membalas semuanya, kami ingin nyawamu!" balas Pemuda lain keras. Sangat geram ketika melihat Dazhong memberi mereka uang, meskipun jumlahnya memang banyak tapi uang itu tidak sebanding dengan perlakukan Dazhong selama ini kepada mereka.


"Dazhong jangan banyak bicara lagi! Serahkan sekarang nyawamu!"


"Ti-tidak!" sahut Dazhong keras sembari dia bersujud di tanah sambil menutup mata, tidak sanggup melihat para rombongan itu berlari ke arahnya dengan senjata mereka masing-masing. Dazhong telah pasrah, jika memang dia mati hari ini itu semua karena kesalahannya, namun tetap saja dia tidak akan ikhlas jika yang membunuhnya ada orang-orang rendah seperti mereka.


Suara benturan senjata terdengar keras, membuat Dazhong semakin menutup rapat matanya. Namun tidak butuh waktu lama, suara itu lenyap, tergantikan dengan heningnya suasana.


"Apakah aku sudah mati sebab itu semua terasa hening?" gumam Dazhong dalam sujudnya, berpikir jika dirinya telah mati dan berada di ruang hening surga.


"Dazhong angkat kepalamu, mau sampai kapan kau bersujud seperti itu? Dazhong yang kukenal tidaklah selemah ini." Tiba-tiba terdengar suara pria terdengar, sontak saja Dazhong mengangkat kepalanya dan menemukan sesosok pemuda berbaju mewah dengan tiga orang pria berpakaian serbah hitam di belakangnya.


"Pangeran ke Dua!?" sahut Dazhong dengan nada terkejut, tentu terkejut melihat Ceng Xin, Pangeran ke Dua berada di hadapannya. Dazhong mengalihkan pemandangannya, melihat para rombongan yang tadinya ingin membunuhnya telah tewas di tanah begitu cepat, darah mereka berserakan di mana-mana.


"Pangeran ke Dua kenapa menolong saya? Bukankah Pangeran ke Tiga tidak menyukai saya?" tanya Dazhong setelah dia mencermati keadaan bahwa Ceng Xin lah yang telah menyelamatkannya dari serbuan orang yang ingin membalas dendam padanya.

__ADS_1


Ceng Xin mengukur senyum tipis, memberikan tatapan penuh arti kepada Dazhong, "Aku perlu bantuanmu."


__ADS_2