
"Aku akan keluar." Jiazhen bertekad. Membuat Yihua, Feng Kim dan Feng tersentak kaget.
"Tidak boleh!" Yihua segera membalas tegas. Tentu ia tidak akan setuju jika Jiazhen pergi keluar mencari keberadaan Minghao. Di luar sangat berbahaya.
"Aku sependapat dengan, Yihua. Kau tidak boleh keluar." Feng Xian ikut menambahkan, tak kalah tegas.
Jika Yihua dan Feng Xian menolak sebegitu tegas, Jiazhen yakin Feng Kim pun juga akan seperti itu. Tapi, meski ia tahu ia tetap melirik Feng Kim, berharap jika sang Kakeknya itu berpihak padanya. Dengan begitu dua sekutu tak setuju dengan idenya bisa ia lewati begitu mudah.
Tapi, kenyataannya, Feng Kim menggeleng pelan dengan raut khawatir di sana. "Tentu aku tidak akan mengijikanmu, Jiazhen. Di luar sangat berbahaya." Begitu katanya. Meski terdengar lembut, tetap saja Jiazhen tak menyukai jawaban itu.
Jiazhen memutar bola matanya, malas. Harusnya ia tahu, Feng Kim tak mungkin menyetujui ide gilanya. Pergi keluar seorang diri tanpa khawalan tentu bukan ide yang bagus. Tidak tahu apa yang ada di otak kecil Jiazhen sehingga ia berpikir nekat seperti itu.
"Tapi, Minghao?" Jiazhen menatap mereka bertiga substansial. Tapi reaksi mereka justru jauh dari apa yang Jiazhen harapkan. Oke, Jiazhen paham mereka tak mengizinkannya pergi karena mereka khawatir akan keselamatan Jiazhen. Tapi, dibandingkan itu, Jiazhen rasa, Minghao lebih patut dikhawatirkan.
"Kita bisa memerintah prajurit yang tersisa untuk mencarinya. Kau tidak perlu harus turun tangan, apalagi sendiri. Idemu itu sangat gila." Yihua mencibir. Memberi alasan telak agar Jiazhen tak pergi ke mana pun di situasi seperti sekarang.
"Kau ...." Jiazhen menjeda sejenak. "Aku tidak tahu apa yang ada di otak kecilmu itu." Jiazhen berkata datar, tajam dan dingin. Spontan membuat Yihua dan yang lain tertegun.
"Apa yang kau katakan, Jiazhen?" Yihua bertanya ragu. Masih kaget dengan ucapan Jiazhen yang cukup kasar. Tapi, ia akan tetap berpikiran positif, mungkin saja ucapan Jiazhen tadi bukan untuk dirinya, atau mungkin ada kesalahan yang tak disengaja.
"Kau egois," balas Jiazhen semakin datar serta sorotan mata kian mendingin.
"Jiazhen, jaga ucapanmu!" Suara bentakan itu milik Feng Xian. Dia sudah lebih dulu tersulut karena ucapan Jiazhen yang teramat kasar. Seharusnya Jiazhen mengerti kenapa mereka melarangnya pergi.
"Paman." Jiazhen melirik sinis disertai kekehan kecil merendahkan. "Jangan ikut campur. Ini masalahku dengan dia, dan anda hanyalah orang luar." Lanjutnya tajam membuat Feng Xian terdiam kaku tak percaya. Perkataan telak itu membuatnya terpukul dan sadar, keberadaannya masih belum sepenuhnya ada di hati bocah kecil tampan tersebut.
"Jiazhen!" Yihua memekik marah, wajahnya memerah padam karena menahan kemarahan. Sementara Jiazhen memutar lagi bola matanya malas, dia tahu apa yang akan Yihua lakukan. Untuk menghindari perdebatan yang bisa saja semakin panjang, Jiazhen pun meninggalkan mereka bertiga dengan wajah datar yang menusuk bagi penglihat agar tak ada yang berani menatapnya.
"Jiazhen!"
__ADS_1
"Sudah jangan dikejar, biarkan dia sendiri. Dia butuh waktu menenangkan pikirannya," sahut Feng Kim menghentikan langkah Yihua yang hendak mengejar Jiazhen. Yihua berbalik dengan wajah piasnya, merasa bersalah karena membuat Jiazhen marah. Ia tahu Jiazhen sangat mengkhawatirkan Minghao, begitupun dengan Yihua. Ia pun tak bisa memungkiri kalau dia sangat khawatir dengan keadaan Minghao sekarang. Tapi, membiarkan Jiazhen pergi juga bukan cara terbaik, Yihua takut Jiazhen tak akan kembali sama seperti Minghao. Itu saja. Itu alasan kuatnya kenapa ia menahan kepergian Jiazhen.
Jiazhen memang tak kalah kuatnya dari Minghao. Terlebih lagi dengan kecerdasannya, Yihua yakin Jiazhen bisa melawan para prajurit perang dunia Atas. Tapi, tetap saja hatinya tidak bisa berbohong jikalau dia sangat mengkhawatirkan Jiazhen. Sebagai Kakak, ia akan melakukan yang terbaik agar adiknya selalu terjaga dari bahaya. Meski mereka bertiga bukan saudara kandung.
"Jiazhen. Aku harap kau mengerti maksudku, dan bukan sebaliknya ...."
***
"Pangeran. Kami sudah menjarah empat kerajaan dan mereka semua sudah kami buat tunduk. Sesuai perintah, para perempuan, anak-anak dan orang tua lansia kami penjarakan di gua." Seorang pria yang dikenal sebagai Jenderal ke lima, Hyung Ji, berbicara pada Lou Yue.
"Kami juga telah melaksanakannya," sahut Jenderal ke dua, Xiao Kun.
"Bagus," balas Lou Yue singkat.
"Jadi apa yang akan kita lakukan lagi, Pangeran?" Jenderal pertama, Wei Jingyu, bertanya.
Lou Yue tersenyum tipis. Kemudian ia menunjuk sebuah lokasi di peta yang lokasinya berada di pertengahan peta. Semua mengernyit heran, tapi tetap bungkam menunggu ucapan yang akan keluar dari Pangeran mereka.
Mereka terdiam tak percaya mendengar ada satu kerajaan sehebat itu. Mereka bahkan tidak tahu jika ada kerajaan di sana, terlebih mereka sudah menjelajahi dunia Tengah hampir sepenuhnya. Tak terkecuali titik lokasi yang Lou Yue beritahukan.
"Seberapa kuat kerajaan mereka, Pangeran?" tanya Hou Wen, jenderal ke tujuh. Hou Wen menganggap perkataan Lou Yue sangat serius, karena ia tahu, apa yang dikatakan Lou Yue tak pernah salah.
"Sangat kuat. Aku pernah sekali ke sana, mereka sangat mengagumkan. Selain kerjasama mereka yang kuat, mereka juga memiliki teknologi canggih dan modern," jelas Lou Yue santai.
"Jadi Pangeran ingin kami memusnahkan kerajaan itu?" tanya Wei Jingyu, serius. Dia pikir pertanyaan ini benar, ternyata, Lou Yue menggeleng. Yang artinya tidak.
"Kalian tidak akan sanggup. Percayalah, meski aku mengirim kalian semua ke sana, tetap tidak akan sanggup melawan mereka. Mungkin kalian bisa memukul mereka meski hanya sebagian. Tapi, aku tidak ingin mengambil kerugian yang tak menguntungkan. Karena aku masih membutuhkan kalian."
"Sekuat itu?" Rou Shen, Jenderal ke tiga, terkesima mendengar ucapan Lou Yue. Ia pun sudah bisa membayangkan seberapa kuat, maju dan modern-nya kerajaan Bulan itu.
__ADS_1
"Jadi Pangeran ingin kami melakukan apa pada kerajaan itu?" tanya Hou Wen.
Lou Yue menekuk ke dua tangannya di meja lalu menopang dagunya. Pandangan serius ia paparkan pada ke lima Jenderal yang ada di dalam kamp persembunyian mereka. "Pergi ke sana dan lakukan ekspedisi tanpa harus mencari masalah dengan mereka. Bersikaplah sebagai pendatang yang sedang melakukan perjalanan. Aku ingin kalian mengais informasi seberapa canggihnya kerajaan itu."
"Aku memang pernah ke sana. Tapi itu sudah cukup lama, mungkin sekitar ratusan tahun, tidak, ribuan tahun. Dan mereka masih memikirkan kemajuan teknologi." Lanjut Lou Yue lagi. Semua Jenderal terdiam dengan wajah sangat serius.
Jangan kaget jika tahu usia Lou Yue tidak semuda wajah tampannya. Kenyataannya, menapaki dunia abadi membuatnya awet muda hingga sekarang.
***
"Aku kedatangan tamu? Siapa?" Lou Zhou yang berada di ruang kerjanya sedang sibuk melakukan pekerjaannya sebagai seorang Raja, tersentak saat merasakan ada kekuatan lain menyusup masuk ke kerajaan Langit. Ia sudah memasang segala inderanya kepekaannya di seluruh wilayah kerajaan Langit.
"Dia menuju penjara?" Lou Zhou berujar lagi. Alisnya mulai berkerut sesaat ia merasakan dua kekuatan itu telah memasuki penjara dengan mudahnya. "Mereka membunuh dua penjaga begitu mudah?"
Tak!
Tak lama setelah itu, Lou Zhou mendadak berdiri dengan wajah teramat kaget. Matanya yang membulat tertuju pada daun pintu ruangannya. "Kutukan itu sudah dilepas?! Siapa yang menyusup?!"
"Dan sekarang mereka menuju ke ... tempatku? Apa yang-" Lou Zhou semakin mengeyit .Kepalanya berpikir keras tentang siapa tamu tak diundang yang mendatangi kerajaannya, bahkan sampai membunuh dua penjaganya.
Tidak!
Tidak hanya dua. Setiap kali mereka menemukan penjaga sekitar, tidak satu pun dari penjaga itu di biarkan hidup. Dalam hitungan tak sampai 1 detik semua penjaga itu mati saat bertemu dengannya.
Sangat kuat! Lou Zhou pikir tamu yang datang ini memang sangat kuat. Apalagi Lou Zhou merasakan aura dua tamu itu terasa tidak asing baginya. Seperti pernah bertemu, tapi ia lupa di mana dan kapan. Namun meski begitu, Lou Zhou tetap berusaha mengingat aurah dua tamu itu tak diundang itu.
Seperti ....
"Mereka?! Ya, mereka! Tidak salah lagi. Aura gadis itu terasa sangat kental seperti darah." Lou Zhou mulai panik. "Apakah dia datang untuk membalas dendam? Tapi kapan aku pernah menyinggung sosok sepertinya. Aarg! Sial!"
__ADS_1
_______________
A/N : Sorry baru update. Dua hari ini aku sedang ulangan, jadi untuk sementara update cerita ini berhenti sampai ulanganku selesai. Mungkin, hanya mungkin nih, aku akan up kalau ada kesempatan. So, jangan minggat ke mana-mana, maksudku jangan lupakan cerita ini selama aku gak online 😄 bye, see you next time, my dear. (kalau salah maklumi, Aku gak pandai bhs inggris 😂)