Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 60


__ADS_3

Di taman belakang kediaman Walikota, Rong Sui menatap ke langit dengan pandangan kosong, semalam dia mendapat mimpi buruk membuatnya tidak akan bisa melupakan mimpinya sendiri sebab di dalam mimpinya ada burung Phoenix Agung mendatanginya.


Rong Sui semalam bermimpi kota Kekai akan hancur karena serangan Kultivator dari dunia Atas. Kultivator itu datang ke kota Kekai ingin mengambil bulu Phoenix Agung dan menangkap seorang gadis, yang lebih parahnya Kultivator itu membawa banyak pasukan kemudian menyerang kota Kekai hingga hancur. Bahkan tidak banyak warga-warganya tewas karena serangan itu.


Di dalam mimpinya, Rong Sui menangis tersedu-sedu sebab tidak bisa menyelamatkan keluarganya dan juga warganya, sebagai Walikota dia merasa telah gagal menjalankan tugasnya.


Dan di akhir mimpinya dia bertemu dengan burung Phoenix Agung berwarna biru, yang mana bulu burung itu ada di kota Kekai. Burung Phoenix Agung mengatakan pada Rong Sui bahwa saudaranya akan datang ke kotanya bersama gadis bermata merah yang dia mimpikan. Dan burung Phoenix Agung meminta bulunya yang tertinggal untuk diberikan pada gadis itu.


Mimpi itu terasa begitu nyata bahkan sampai dia telah bangun dari mimpinya. Rong Sui menceritakan mimpinya pada istrinya, namun istrinya hanya mengatakan bahwa dia hanya bermimpi. Hal itu membuatnya menjadi murung bahkan tidak ada semangat kerja sebab mengingat terus bagaimana mudahnya hancurnya kotanya dalam sekejap.


Rong Sui masih ingat bagaimana rupa pemuda yang menghancurkan kota, dan bagaimana rupa gadis bermata merah yang dia temui dalam keadaan terluka di dalam mimpinya.


"Huft, apa ini memang cuma mimpi atau? Ah ... sudahlah ini hanya mimpi seperti yang istriku katakan." Rong Sui beranjak bangun hendak masuk kembali ke kediamannya, namun baru saja dia hendak bangun tiba-tiba saja cahaya berwarna merah muncul dan meledak di langit seperti kembang api.


Mata Rong Sui langsung membulat sempurna saat dia melihat cahaya merah itu, bergegas dia masuk ketika cahaya merah itu telah menghilang setelah meledak. Rong Sui sendiri bergegas mengambil senjatanya kemudian berlari keluar rumah, dari belakang anak dan istrinya mengikutinya penuh kekhawatiran. Apa yang dikhawatirkan Rong Sui ternyata benar, cahaya merah yang meledak di langit itu sama persis dengan di dalam mimpinya, dan setelah cahaya itu muncul tidak lama kemudian kota Kekai akan kedatangan seribu pasukan.


"Kalian tunggulah di rumah, jangan keluar sampai aku kembali." Itulah ucapan terakhir Rong Sui untuk istri dan anaknya sebelum akhirnya dia berlari menuju aliansi pusat kota di mana pertarungan besar akan terjadi.


"Ibu, apa yang terjadi? Kenapa Ayah terlihat terburu-buru meninggalkan rumah? Apa akan ada sesuatu yang terjadi?" tanya gadis kecil berusia 10 tahun, gadis itu menatap sang Ibu dengan raut wajah polos.


Sang Ibu menatap anaknya penuh rasa khawatir mengingat bagaimana suaminya Rong Sui menceritakan mimpinya tentang kehancuran kota yang ternyata benar. Dia sendiri merasa malu sekaligus takut sebab tidak mempercayai suaminya sendiri.


"Kita do'akan saja semoga Ayahmu pulang dengan cepat," jawab Sang Ibu sambil membawa masuk anaknya.


***


Saat ini kota Kekai memasuki keadaan darurat, Rong Sui sendiri sudah banyak memanggil Kultivator yang siap siaga menunggu serangan. Di depan gerbang kota mereka telah siap, jumlah mereka memang tidak banyak tapi paling tidak mereka siap menjaga kota mereka sebelum kota mereka dimasuki para pasukan musuh.

__ADS_1


Para warga sebagian telah diungsikan dengan cepat oleh Kultivator generasi muda, karena kota Kekai lebih banyak para alkmes dari pada Kultivator, jadi baik yang muda mau yang tua asalkan kultivasi mereka telah di tahap Bumi mereka akan diikut langsungkan dalam menjaga keamanan kota.


Klan Tang dan klan Nara juga sudah mengirim para Kultivator mereka setelah melihat cahaya merah di langit, mereka semua mendapat firasat buruk saat melihat cahaya pertanda sinyal untuk musuh.


Rong Sui menghampiri Meng Han selaku Kultivator terbaik di pemerintahan kota Kekai, tidak hanya Meng Han, 3 Kultivator tahap Jenderal Emas lainnya juga telah siap.


"Han aku percayakan keamanan gerbang padamu, aku tidak tahu apa ini memang penyerangan seperti yang kumimpikan semalam, tapi tidak ada salahnya kita waspada. Aku akan ke aliansi Gold Lion, sepertinya di sana telah terjadi pertempuran besar."


Meng Han mengganguk paham, "Baik, kami akan siap di sini."


"Terimakasih, kota Kekai bergantung pada kalian semua. Jenderal Fau Lie ikut denganku, aku merasa aliansi Gold Lion lebih membutuhkan kita." Rong Sui menatap Fau Lie serius sebab dia yakin bahwa aliansi Gold Lion lah yang lebih hancur saat ini.


"Baik!" jawab Fau Lie tegas.


***


Di sisi lain Lan Susu bertarung sekuat tenaga melawan Long Suan, walau pun mereka berada di tahap kultivasi yang sama, namun kekuatan Long Suan lebih unggul darinya sebab Long Suan memiliki tato aura 2 elemen, dan dia mampu mengendalikan kekuatannya dengan sempurna. Sedangkan Lan Susu, tato auranya hanya memiliki 1 elemen yaitu elemen api. Elemen yang Lan Susu punya juga tidak terlalu berpengaruh apa-apa dengan Long Suan.


Lan Susu tidak tinggal diam, walau pun dia sedang tidak dalam keadaan baik, tapi demi menjaga keamanan kota Kekai dia tidak akan menyerah, inilah gunanya aliansi Gold Lion didirikan demi menjaga keamanan kota dan keselamatan warga.


"Teknik Golok Api - Api Hitam!"


Semburan api besar berwarna hitam langsung berhantaman keras dengan jurus yang Long Suan keluarkan. Suara dentuman keras langsung terdengar tatkala ke dua jurus mereka saling berbenturan. Lan Susu terpental cukup jauh akibat efek dari dentuman jurusnya dan jurus Long Suan. Sedangkan Long Suan, dia hanya terpukul mundur dalam posisi berdiri sejauh 5 meter.


Lan Susu batuk darah lebih banyak dari sebelumnya, efek akibat memaksakan tubuhnya dan juga akibat serangan Long Suan benar-benar membuat tubuhnya mati rasa.


"Uhuk! Uhuk! Tidak boleh menyerah!" Lan Susu segera bangun kemudian berdiri menatap Long Suan yang perlahan mulai terlihat saat asap akibat benturan ke dua jurus mereka mulai menghilang.

__ADS_1


Di sisi lain Long Suan hanya tersenyum kecil melihat Lan Susu sedikit tidak berdaya, Long Suan yakin dalam beberapa serangan lagi Lan Susu pasti akan mati.


"Cih ... sedikit sulit tapi sangat menghibur," gumam Long Suan pelan sambil menatap Lan Susu dari kejahuan.


Mereka berdua kembali bergerak sama-sama berlari ke depan kemudian saling menghantarkan senjata mereka masing-masing. Pergerakan mereka sangat cepat bahkan tidak akan bisa dilihat dengan mata biasa. Mereka berdua sudah saling bertukar jurus sebanyak ratusan kali dalam waktu singkat.


Long Suan menangkis golok Lan Susu sambil tersenyum ke arahnya, "Nenek Tua! Sebaiknya kau pikirkan sekarang, di mana kau akan di makamkan nanti!"


Lan Susu menarik goloknya kemudian menyerang dengan sisi miring 35° ke barat. Long Suan langsung menahan serangan itu, namun tidak di sangka kaki Lan Susu bergerak menendang kakinya hingga dia terjungkal ke tanah.


"Anak muda! Aku memang tua, tapi bisa dipastikan yang tua lah lebih berpengalaman. Sebaiknya kau yang memikirkan di mana kau akan di makamkan sebab aku tak yakin tubuhmu akan utuh sepenuhnya!" balas Lan Susu sambil menghujam goloknya ke arah Long Suan yang terbaring di tanah, namun Long Suan sempat berguling ke sisi lain menghindari hujaman golok itu.


Long Suan langsung berdiri dengan cepat kemudian menyerang kembali Lan Susu dengan cepat, karena tenaga Lan Susu telah terkuras banyak jadi dia tidak bisa lagi mengimbangi kecepatan Long Suan dengan baik. Long Suan melihat ada cela langsung menendang perut Lan Susu dengan keras hingga Lan Susu terpental cukup jauh menabrak bangunan di belakangnya.


Long Suan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung mendekat dan menghujam tombaknya ke kepala Lan Susu tapi masih sempat di tahan oleh golok Lan Susu.


Ke dua senjata mereka saling mengadu kekuatan, Lan Susu berusaha menahan tombak Long Suan agar tidak menusuk kepalanya, sedangkan Long Suan sebaliknya.


"Nek Tua, kupastikan wajahmu akan rusak setelah kau mati!" ungkap Long Suan sambil tersenyum paksa. Tangannya semakin menekan keras ke bawah namun kekuatan Lan Susu memang tidak bisa diremehkan.


"Teknik Tombak Petir - Petir Jingga!"


Kilatan petir mulai keluar dari ujung tombak Long Suan membuat Lan Susu terkejut hebat. Dia sendiri dalam keadaan terpojok tentu sulit baginya untuk menghindar, kalau pun bisa menghindar kemungkinan selamat hanya 15%.


Duaarr!!!


Suara ledakan besar saat teknik petir Long Suan menyambar keras ke arah Lan Susu. Long Suan sendiri sudah melompat menjauh dari ledakan setelah melihat Lan Susu tidak akan bisa menghindari serangannya.

__ADS_1


***


Tolong jangan lupa beri dukungan ;)


__ADS_2