
Beberapa waktu sebelum Menma membunuh Lou Zhou ....
'Sial.' Menma berbalik dengan perasaan kesal, berniat keluar dari telaga Iblis dari pada berdiam diri seperti orang bodoh. Lagi pun sepertinya pemilik teratai Api Kutukan tidak ingin memberikan benda kepunyaannya, tidak ada gunanya lagi Menma berlama-lama di sini. Apalagi Menma tidak yakin bisa merebut teratai Api Kutukan dari pemiliknya, mengingat betapa mengerikannya penjaga teratai Api Kutukan. Bukannya Menma takut, tapi dibanding mengambil resiko besar sementara ada hal besar lainnya juga yang menunggunya di atas sana, Menma tidak ingin kewalahan sendiri nantinya. Untuk itu Menma mengalah, hanya untuk kali ini saja.
Blur, blur, blur ....
Dengan gerakan cepat Menma berenang ke permukaan, tidak akan membiarkan pertarungan di atas sana berlangsung lama. Menma yakin Azura tidak akan menang melawan King Lan meski Menma sudah memberi pil pemulih Qi tingkat tinggi pada Azura.
Srash!
'Em?'
Namun tampaknya untuk keluar dari telaga Iblis tidak akan begitu mudah, Menma hampir melupakan ke tiga siluman penghuni telaga Iblis. Ke tiga siluman itu mencegat Menma dengan melemparkan serangan mendadak. Untungnya Menma cepat tanggap dan segera menepisnya.
"Kikikiki! Beraninya kau mempermainkan kami! Kau hanya makanan!"
"Sepertinya persembahanini tidak pernah diberi pelajaran! Kau akan menyesal sebab telah berani mempermainkan kami!"
'Mereka, aku hampir melupakannya.' Menma memandang ke tiga siluman itu datar. Tangannya terangkat, menangkap sesuatu di sana. Dan muncul lah sebuah pedang di tangannya, yang tidak lain adalah pedang Pembelah Langit.
'Mari bermain ....' Perlahan Menma menarik pedang keluar dari sarungnya. Namun, belum sepenuhnya pedang itu keluar, sesuatu mengejutkan tiba-tiba saja muncul. Mengejutkan Menma dan ke tiga siluman itu.
Muncul sesosok makhluk yang hanya memperlihatkan dua bola mata raksasa berwarna merah pekat seperti darah. Dari dasar telaga mata besar itu memandang Menma dan ke tiga siluman nyalang, seperti sedang menatap mangsa. Dan tiba-tiba saja terdengar suara raungan mengerikan dari bawah sana. Menggetarkan seluruh air telaga.
"Ggrroooorr!!!"
Auman yang begitu besar, kuat, dan berbahaya, hampir saja membunuh Menma jika Menma tidak segera melindungi dirinya dengan jurus pelindung tingkat tinggi. Meski telah berusaha berlindung, pelindung yang Menma buat justru hancur dalam hitungan detik saja. Alhasil Menma terpukul mundur dengan mendapat luka sayatan hampir di sekujur tubuhnya, beruntung Menma segera melindungi wajahnya, jika tidak, kemungkinan besar ke dua matanya akan terluka.
Beruntung bagi Menma yang memiliki kultivasi tinggi, sementara ke tiga siluman itu sudah meledak lantaran tidak sanggup mendengar raungan bergelegar itu. Raungan yang mengandung Qi besar.
'Eesstt ... makhluk apa itu?' Menma bertanya penasaran, tapi tidak berani mencari tahu tentang makhluk itu. Mendengar raungannya saja sudaj hampir membunuhnya, apalagi jika bertarung, Menma pastikan dia akan mati dalam hitungan detik saja.
'Tapi kenapa aku tidak pernah tahu tentang makhluk hebat ini? Bahkan sembilan roh pun tidak mengetahuinya.' Ini lah yang membuat Menma sangat penasaran. Apakah pengetahuan sembilan roh masih kurang luas, atau makhluk itu memang bukan makhluk sembarangan yang bisa diketahui banyak orang.
'Aku baru tahu ada sosok mengerikan seperti di dalam telaga Iblis,' sahut King Huan serius. Dia pun juga baru tahu adanya makhluk mengerikan di dalam telaga Iblis.
'Aku rasa kalian juga merasakan apa yang aku rasakan tadi. Makhluk itu mengintimidasi kita sangat tajam,' timpal Kie Lie dibalas anggukan oleh roh lainnya. 'Sebaiknya, Yang Mulia, segera keluar sebelum sosok itu bertindak lagi.' Tambah Kie Lie memberi saran.
Menma mengangguk, sependapat dengan ucapan Kie Lie. Ia harus segera keluar sebelum terjerat lebih dalam dengan makhluk mengerikan itu. Secepat mungkin Menma berenang ke atas, tidak berniat menunda lagi.
Namun!
Whuss ...
Di sini masalah baru terjadi. Sangat membuat Menma dan sembilan roh terkejut hebat. Menma tidak bisa berenang ke permukaan lagi, tidak tahu kenapa ia justru malah semakin terjatuh ke dasar telaga. Meski telah menggunakan seluruh kemampuan, tetap tidak mengubah apapun. Menma terus terjatuh ke dasar, seolah ada energi lain yang terus menariknya ke bawah.
'Apa yang terjadi?! Kenapa aku tidak bisa naik!' Menma tentu saja panik bukan kepalang dengan keadaan, meski telah berusaha tetap tidak mengubah apapun.
'Apa yang-'
__ADS_1
***
"-Terjadi?" Menma tercengang, tidak tahu harus berkata seperti apa pada apa yang dia lihat. Tadi dia dihisap oleh sesuatu pusaran air, lalu semuanya mengelap sampai sesuatu bercahaya muncul menyilaukan pandangannya.
Tapi tiba-tiba saja dia muncul di sini. Apa yang terjadi?
"Manusia."
"Siapa?!" Menma lantas berbalik ketika mendengar suara asing di belakangnya. Lekas ia menjaga jarak ketika mengetahui ada seorang pria bertopeng hitam tanpa wajah di dekatnya. Sepertinya pria bertopeng itulah yang bersuara tadi.
"Teratai Api Kutukan." Pria bertopeng itu bersuara lagi.
"Kau?" Menma memandang pria itu dari bawah sampai atas. Tidak ada yang spesial selain penampilan nya yang terlihat muda. Hampir seumuran dengan Azura dan Kiseki. Hanya saja, rambut putih panjang milik pria bertopeng itu terasa tidak asing bagi Menma, seperti pernah melihatnya pada seseorang.
"Apa kau yang membawaku ke tempat ini?" tanya Menma berhati-hati.
Pria itu mengangguk lalu berjalan mendekati Menma, spontan membuat Menma melangkah mundur, menghindarinya. Jika saja pria itu tidak segera memunculkan sesuatu telapak tangannya, Menma pasti sudah akan menyerangnya dengan pedang Pembelah Langit yang dia sembunyikan keberadaannya.
"Teratai Api Kutukan. Jadi kau lah sosok mengerikan itu?" Refleks Menma bertanya, antara kagum dan kaget mengetahui sosok mengerikan itu adalah seorang pria muda.
Pria mengangguk lagi. "Ambil," ucapnya tenang.
Menma memicingkan pandangan, mencurigai niat pria itu. Aneh, bukankah sebelumnya pria itu enggan memberikan teratai Api Kutukan miliknya. Lalu kenapaย sekarang justru sebaliknya. Menma yakin pasti ada niat tidak baik di balik kebaikan pria asing ini.
Pria itu kembali mendekat, refleks lagi membuat Menma melangkah mundur.
Plak!
Tapi sayangnya Menma melupakan begitu satu fakta ini, bahwa pria itu bukan pria sembarangan. Hanya dengan menggunakan kibasan pelan, pedang yang Menma gunakan terpental, membuat Menma terkesiap kaget.
"Hei! Ku-kubilang jangan maju!" bentak Menma gagap, tidak bisa berbuat apapun selain melangkah mundur. Tidak tahu kenapa tiba-tiba saja pikirannya menjadi kacau. Menma merasa seolah tengah berhadapan dengan sesuatu yang besar dan kuat, sementara dirinya tidak bisa berbuat apapun selain tunduk.
Lebih-lebih lagi ketika dia tidak bisa mengaktifkan Sajak Kutukan. Aneh, seolah semua kekuatan Menma telah dilumpuhkan.
"Ugh?" Menma tersentak ketika merasakan sesuatu menabrak punggungnya. Sial, ternyata itu adalah dinding gua yang mana menjadi jalan buntu baginya. Sementara di depan, pria itu terus mendekatinya, terus mendekat hingga Menma benar-benar tidak bisa berbuat apapun selain diam ketakutan. Takut dalam artian lain.
Pria bertopeng itu memandang Menma dalam diam, sementara yang dipandang hanya mampu menunduk ketakutan. Enggan mengangkat wajahnya dari pada mendapat masalah.
"Kau takut?" tanya pria itu dengan nada ambigu.
'Pake segala ditanya? Ya, jelas iya lah. Anda terus maju hingga menjempet saya seperti ini, tidak tahu kah Anda bahwa sikap Anda ini membuatku merinding? Kenapa tidak segera Anda bunuh saja aku, dari pada bersikap seperti ini!' Tentu saja Menma hanya berani memaki pria itu dalam hati.
"Jangan takut, aku tidak akan melukaimu." Pria itu menyibak rambut Menma dengan lembut. Membuat Menma semakin merinding. Seolah ada sengatan listrik yang menyentak kulitnya.
Menma luruh, hendak jatuh ke tanah lantaran kakinya sudah kehilangan tenaga. Jika saja pria itu tidak segera menahan Menma dengan tangannya, Menma pasti sudah terkulai tak bertenaga.
'Permisi! Ini bukan adegan romantis-romantisan. Sepertinya pria ini bisa menyedot aura seseorang, pasalnya aku merasa semakin lemas kalau berada di dekatnya.' Menma menjelaskan, tidak ingin para pembaca salah paham.
"Hehehe, masih lemah." Tiba-tiba pria itu tertawa kecil. Lalu menggeleng pelan. "Ambil teratai Api Kutukan ini, lalu pergi lah." Pria itu langsung memasukkan teratai Api Kutukan ke dalam cincin milik Menma. Kemudian berdiri dan menjaga jarak.
__ADS_1
Menma menengadah, menatap heran pada pemuda itu. "Tunggu dulu, kau pasti memiliki niat lain. Tidak ada barang gratis di dunia ini." Bukannya Menma tidak ingin bersyukur telah diberikan benda yang dia inginkan secara gratis, tapi tetap saja aneh bagi Menma mendapat sesuatu secara gratis. Waspada untuk berjaga-jaga dari suatu kemungkinan buruk, tidak ada salahnya bukan.
"Oh? Kau bisa menganggapnya seperti itu. Anggap saja itu kompensasi untuk di masa depan."
"Hah? Apa kita akan bertemu lagi?" Menma yakin ini lah maksud ucapan pria itu.
"Tentu saja. Sekarang pergi lah, sudah tidak ada waktu lagi."
"Eh? TUNG-"
***
"GU!" Menma tersentak, hampir terjatuh. Tempatnya berdiri sekarang bukan lagi di gua, tapi di daratan di atas telaga Iblis. Lantas Menma melirik kiri dan kanan, mencari keberadaan pria bertopeng itu, tapi nihil, tidak ada selain Lou Zhou dan dua pria yang kini sedang bercengkrama.
'Azura?' Menma tertegun melihat Azura berlutut tidak berdaya di tanah, berhadapan dengan King Lan yang sedang berbicara pada Azura. Menma menggeram marah, tentu tidak terima melihat Azura diperlakukan seperti itu. 'King Lan, kau melukai orangku, maka aku juga akan melukai orangmu!'
Dengan langkah tegas Menma mendekati Lou Zhou yang kini memunggunginya. "Hei ...." Menma menepuk pundak Lou Zhou lalu menebas kepala pria itu ketika sang empu baru saja berbalik hendak menatapnya.
Bruk!
Tubuh kokoh itu lantas rubuh ke tanah dengan darah bercucuran deras di lehernya. Menma meraih kepala Lou Zhou yang menatapnya dengan mata membulat, sepertinya terkejut dengan kemunculan Menma. Namun, tidak sempat bereaksi lantaran Menma langsung menebas kepalanya.
"Mati lah kau, Azura!"
Mendengar jeritan King Lan, Menma lantas menoleh. Melihat pedang raksasa hitam hendak menebas kepala Azura, sesegera mungkin Menma melempar pedang Pembelah Langit untuk menangkis pedang raksasa itu.
Trang!
Kepulan debu melambung tinggi ke atas, hampir memenuhi daratan kecil yang dipijak Azura. Bagaimana mungkin tidak, jika pedang besar dan berbahaya milik King Lan itu menghantam tanah, membuat getaran besar dan kuat di sana.
"Kenapa begitu terburu-buru, Raja King Lan? Apakah kau tidak sabar membunuh mantan sahabatmu sendiri?"
"Kau!!" King Lan menatap ke arah Menma nyalang, kesal dengan kemunculan gadis itu yang membuat rencananya gagal.
"Ups, sepertinya, Raja, kita marah?" Menma menutup mulut lalu terkekeh pelan, sedang menghina King Lan. "Sebelum kau membunuh orangku, aku sudah membunuh orangmu terlebih dahulu." Menma mengangkat tangan kanannya, memperlihatkan kepala Lou Zhou kepada King Lan. Lalu melempar kepala kepala itu kepada King Lan.
"Dasar tidak berguna." King Lan meramas kepala Lou Zhou hingga kepala itu hancur menjadi abu. "Kau pantas mati, Lou Zhou, melawan seorang gadis kecil pun tidak mampu. Dasar tidak berguna."
"Jangan salah dia, salahkan dirimu yang memilih pengikut lemah sepertinya." Menma mendengus pelan. "Mari bertarung, aku sudah cukup lama menantikan pertarungan di antara kita berdua."
"Kau ingin melawanku?" King tertawa keras. " Hahaha ... naif juga dirimu gadis kecil."
"Naif atau tidak akan dibuktikan pada akhir pertarungan. Apakah gadis kecil ini yang naif, atau kah Raja King Lan dengan keinginan besarnya mengusai dunia yang naif?"
Bersambung
A/N : Menma nih sombong, tadi sama pria bertopeng ciut ๐ canda Menma โ๐
Horas, aku update lagi, hampir gak up sebenarnya, tapi gak tahu kenapa lagi semangat ngetik, jadi up deh. Yup berikan like, vote, dan hadiah, biar saya makin rajin update ๐๐บ
__ADS_1