
Pria paruh baya memasuki ruang bersama tiga orang pria berbaju hitam. Kedatangan pria paruh baya berpakaian serbah putih itu, membuat para tamu di ruangan tersebut menyambut kedatangannya.
"Master Gu," sapa beberapa orang.
Pria paruh baya yang mereka panggil Master Gu hanya membalas dengan senyuman. Cukup melihat sikap Master Gu tadi, menunjukkan Master Gu ramah dan terbuka dengan banyak orang. Namun cukup misterius.
Berbeda dengan Shua Xie, dia tampak tidak merespon apapun, seakan kedatangan Master Gu yang merupakan pemilik Pavilun Wûkì biasa saja baginya. Tapi Shua Xie juga ikut menyambut kedatangan Master Gu sebagai bentuk Shua Xie masih menghormati karir Master Gu.
Berbeda dengan Chi Su, dia cukup terkejut melihat kedatangan Master Gu, yang merupakan sosok yang banyak dikagumi banyak pendekar sebab keahliannya menempa berbagai senjata sangat terkenal. Termasuk Chi Su adalah penggemarnya.
Bisa dikatakan, Master Gu adalah panutan sebagian Pendekar. Tidak hanya pandai bertarung, tapi dia juga ahli pembuat senjata.
"Aku tidak sangka, suatu saat akan bertemu dengan Master Gu," gumam Chi Su haru, seakan sangat tersentuh bisa bertemu legenda penempa senjata.
Shua Xie berpaling menatap Chi Su setelah
mendengar ungkapan haru dari Chi Su barusan.
"Apa kau sangat mengagumi Master Gu?" tanya Shua Xie santai.
Namun nyatanya Shua Xie cukup penasaran, apa yang harus diidolakan dari Master Gu? Karena menurut pandangan Shua Xie, Master Gu biasa-biasa saja, bahkan sangat lemah darinya. Menurut Shua Xie, Phoe lah yang pantas dikagumi sebab memiliki banyak pengetahuan juga berkekuatan hebat.
Tapi ....
Shua Xie segera menggelengkan kepalanya sambil menjerit dalam hatinya, mengingatkan kalau dia tidak boleh merendahkan siapapun sebelum dia mengenalnya. Apalagi, tidak sepenatasnya Shua Xie iri pada orang tua seperti Master Gu. Shua Xie tidak boleh terlihat, busung dada karena kekuataan hebat. Bukankah karma berlaku jika kita terlalu meremehkan seseorang?
'Apa yang aku pikirkan. Bisa saja Master Gu lebih hebat dari apa yang aku pikirkan!' tegas Shua Xie dalam hatinya.
Melihat Shua Xie menggelengkan kepala, Chi Su langsung melontarkan pertanyaan, "Nona, ada apa?"
Chi Su sedikit khawatir kalau Shua Xie sedang memikirkan sesuatu hal buruk, setelah melihat ekspresi yang Shua Xie keluarkan tampak seperti sedang menyedihkan sesuatu. Sebaiknya Shua Xie membagi masalah jika memilikinya, sebagai pelayan pribadinya sudah menjadi tugas Chi Su menjaga dan melindungi Shua Xie.
Kepala Shua Xie menoleh, menatap Chi Su lagi ketika Chi Su memanggilnya. Secepatnya Shua Xie langsung menggelengkan kepalanya, "Tidak ada apa-apa," balas Shua Xie di akhiri dengan senyum tipis yang singkat.
Di sisi lain, salah satu pria 30 tahunan yang berdiri di samping Master Gu membuka suara, suara cukup keras dan tegas. membuat semua pandangan langsung tertuju padanya.
"Perhatian, Master Gu baru saja menyelesaikan tempaannya, sebuah senjata baru, senjata yang terbuat dari batu logam mulia spirit sejati yang jatuh dari langit. Kononnya, batu itu adalah batu yang cocok untuk dibuat menjadi senjata hebat," jelas pria itu. Lalu dia memberi sebuah kode suara cukup pelan, dan salah satu pria lainnya segera maju memberikan sebuah benda panjang yang di bungkus kain hitam tebal.
Tampak semua pandangan menatap benda terbungkus kain hitam itu, cukup penasaran senjata apakah yang baru Master Gu tempa. Dan lebih menariknya lagi, juru bicara Master Gu mengatakan senjata itu adalah senjata terkuat yang pernah Master Gu buat.
Master Gu tidak bereaksi apapun, dia hanya memaparkan wajah cukup tenang sambil melihat sekitarnya. Dan di saat dia memperhatikan para tamu khusus, pandangan Master Gu tertarik pada satu pengunjung, yang tidak lain ialah Shua Xie. Bukan karena sikap Shua Xie yang cuek berhadap senjatanya, tapi karena sesuatu.
"Berapa Master Gu akan menjual senjata itu?" tanya salah satu tamu cukup antusias ingin memiliki senjata hebat itu. Setelah mendengar senjata itu sangatlah hebat.
Mendengar pertanyaan tamu, Master Gu langsung menatap pengunjung itu cukup dalam.
"Senjata itu tidak dijual," balas Master Gu datar.
Semua terkejut mendengar balasan Master Gu. Mereka semua memberikan tatapan terkejut dengan ekspresi bermacam-macam, tapi tidak untuk Shua Xie. Dia masih tampak tidak peduli dengan senjata itu.
"Senjata ini tidak bisa digunakan sembarang orang, jadi aku tidak menjualnya. Tapi jika ada seorang bisa menggunakan pedang ini, aku akan memberikannya secara percuma," jelas Master Gu lagi, semakin membuat banyak orang tercenung hebat.
Tentu saja mereka sedikit tidak paham akan ucapan Master Gu. Menggunakan sebuah senjata? Bukankah semua pendekar pasti bisa menggunakannya. Bagaimana mungkin Master Gu mengambil kalimat seperti itu.
Kali ini Shua Xie mulai menunjukkan sedikit reaksi, seakan tertarik mendengar ungkapan Master Gu. Shua Xie yang tadinya hanya menatap area sekitar karena tidak tertarik pada senjata itu, kini menatap Master Gu penuh pertanyaan. Cukup penasaran kenapa Master Gu mengeluarkan syarat aneh begitu, aneh untuk seorang pendekar biasa.
__ADS_1
Laila menatap Master Gu aneh, sangat aneh dia mendengar kata yang membuatnya bingung. Laila tidak yakin, apa dia salah dengar atau tidak.
"Master Gu, apa maksud dari menggunakan senjata? Apa Master Gu meremehkan keahlian kami dalam menggunakan pedang?" tanya Laila.
"Benar, aku masih sedikit bingung akan maksud Master Gu. Menggunakan pedang itu aku cukup yakin semua pendekar di sini bisa?" sahut Tu Mo setuju dengan pertanyaan Laila.
Master Gu tersenyum tipis, lalu dia meraih senjata terbungkus kain hitam itu dari juru bicaranya. Setelah senjata itu di tangannya, Master Gu membuka bungkusan hitam dan memperlihatkan sebuah pedang lebar berwarna hitam pekat. Pedang lebar 10 cm itu ditancapkan Master Gu ke lantai sangat dalam. Bahkan membuat sedikit keretakan di sana.
Semua orang sedikit panik melihat Master Gu menancapkan pedang raksasa itu di lantai yang terbuat dari kayu. Tidakkah Master Gu takut bangunannya bisa saja rubuh karena pedangnya itu? pikir beberapa tamu.
Semua mata menatap pedang lebar berwarna hitam pekat itu cukup dalam. Tidak hanya besar dan tampak perkasa, tapi juga terlihat berenergi kuat dan berbahaya. Bahkan beberapa tamu merasa sedikit takut untuk menyetuh pedang hitam itu. Seakan ada gairah jahat di sana.
Master Gu memegang gagang pedang sambil menatap para tamu, "Pedang ini adalah pedang buatanku. Aku menamainya pedang Pembelah Langit, sebab pedang ini bisa membelah gunung sekali pun. Mungkin ungkapan saya terdengar cukup melucu buat kalian, tapi apa yang aku katakan memanglah benar. Pedang ini sangatlah berat, jadi tidak sembarang orang bisa menggunakannya. Dan juga, pedang ini memiliki pikiran dalam memilih majikannya, pedang ini tidak suka dengan majikan yang kemah," jelas Master Gu cukup serius. Sedikit berharap para tamu tidak meremehkan ucapannya.
Mendengar ucapan Master Gu yang menurut sebagian mereka hanya karangan, mereka memberikan respons tidak percaya. Mereka pun mulai bertanya pada sesama, apakah yang Master Gu katakan bukan sebuah lelucon?
Pedang itu memang besar, tapi besarnya tidak jauh berbeda dengan sebalok besar kayu. Lalu bagaimana pedang yang tampak biasa saja bisa membelah gunung? Apakah mereka tidak salah dengar.
Laila, tidak bisa menyembunyikan tertawanya. Sungguh sebuah lelucon baginya ada sebuah pedang bisa membelah gunung. Dunia mereka bukanlah dunia dongeng.
"Hahaha ... apakah Master Gu tidak bercanda. Pedang bisa membelah gunung? Mustahil!" ucap Laila dengan tawanya.
Tu Mo segera menepuk pundak Laila sambil memberikan tatapan cukup tajam, memperingati bahwa Laila tidak boleh berkata tidak sopan seperti itu. Mau bagaimana pun Master Gu adalah ahli pembuat senjata dan sudah sangat diakui, jadi sudah seharusnya para pembelinya harus percaya akan ucapannya mengenai kualitas senjatanya.
Walaupun itu terdengar mustahil, tapi tetap saja harus menghargai ucapan seseorang.
Laila pun langsung menghentikan tawanya dengan menutup mulutnya. Tidak ingin membuat masalah karena telah meremehkan ucapan Master Gu barusan.
Kun yang merupakan pemimpin rombongannya masih bisa bersikap tenang setelah mendengar ungkapan Master Gu, walaupun terdengar sangat tidak masuk akal, tapi Kun harus menghormati ucapan Master Gu. Kun percaya, apa yang Master Gu katakan sudah seharusnya benar, sebab Master Gu adalah master pembuat senjata.
Kun yang mencermati setiap kata Master Gu menangkap satu keganjalan yang harus dia pertanyakan.
"Karena dia terbalut kain ini." Master Gu mengangkat kain hitam yang tadi membungkus pedang hitam itu. Beberapa orang menunjukkan reaksi kebingungan.
Selembar kain bisa meringankan senjata? Bagaimana mungkin?
Masih ingin berpikiran terbuka, Kun menghormati penjelasan Master Gu walaupun ucapan Master Gu semakin tidak masuk akal.
"Bagaimana bisa sepotong kain meringankan pedang?" sahut dari tamu lain.
"Karena kain ini telah diberikan mantra khusus. Kalian tidak akan paham, tapi kalian bisa mencobanya jika tidak percaya," balas Master Gu.
Tidak ingin berdebat lagi karena Master Gu yakin mereka tidak akan percaya sebelum merasakannya sendiri. Maka dari itu, Master Gu akan mempersilakan mereka mengangkat pedang buatannya itu. Untuk membuktikan ucapannya benar atau tidak.
Beberapa tamu mulai berbisik-bisik, ada yang meragukan Master Gu adapun yang percaya. Untuk manusia normal seperti mereka, mendengar pandang bisa membelah gunung adalah hal mustahil bagi mereka.
Tapi tidak untuk Kultivator seperti Shua Xie. Sudah hal biasa baginya jika ada senjata mampu membelah atau bahkan menghancurkan gunung. Termasuk senjata favorit Shua Xie, ialah katana miliknya.
Chi Su memberikan respons tidak percaya, sebagai manusia normal sepertinya sangat wajar dia tidak mempercayai ungkapan Master Gu.
Chi Su pun berinisiatif menanyakan pada Shua Xie, menurut pandangan Shua Xie apakah Shua Xie setuju atau tidak?
"Nona bagaimana menurutmu? Apakah benar pedang itu sungguh bisa membelah gunung?" tanya Chi Su dengan suara pelan. Tidak ingin membuat orang lain mendengar bahwa dia meragukan Master Gu.
Shua Xie tidak mengalihkan pandangannya dari senjata itu, "Tentu tidak," balas Shua Xie singkat. Dan jawabannya itu membuat Chi Su tersenyum puas.
__ADS_1
"Aahh ... Aku sudah yakin Nona pasti sependapat denganku. Mana mungkin sebuah pedang itu mampu membela gunung." Chi Su cukup senang, ternyata Shua Xie sependapat dengannya. Itu artinya Shua Xie masih berpikir normal.
Karena Chi Su yakin Shua Xie tidak percaya hal mustahil seperti itu.
Melihat Chi Su ceria, Shua Xie kembali berbicara, "Tentu saja tidak, jika yang menggunakannya adalah pendekar biasa. Pedang seberat itu, aku yakin tidak ada yang bisa mengangkatnya selain Master Gu."
'Dan diriku.' lanjut Shua Xie dalam hatinya sinis. Walaupun Shua Xie terkesan meremehkan semua pendekar di dunia Tengah, tapi memang begitulah kenyataannya. Shua Xie harus akui, bisa saja dirinya paling hebat di dunia Tengah atau bisa juga tidak.
Tapi Shua Xie bukan tertarik pada pedang itu, Shua Xie justru tertarik dengan Master Gu. Melihat Master Gu bisa mengangkat pedang berat dengan santai, Shua Xie sangat yakin kekuatan Master Gu bukan lagi pendekar melainkan Kultivator. Shua Xie pun berinisiatif menarik Master Gu sebagai pasukannya.
Bukankah hebat jika di pasukan Shua Xie terdapat Master yang bisa membuat senjata hebat?
Di sisi lain, salah satu tamu mulai berdiri membuat semua sorotan mata menatap tamu tersebut. Seorang pria berbadan kekar, berwajah datar itu berjalan mendekati pedang di depan Master Gu.
"Cih, hanya sebuah pedang. Pedang ini pasti menjadi milikku," ungkap pria kekar itu lalu mendaratkan tangannya memegang gagang pedang.
Berpikir bahwa dirinya pasti bisa mengangkat pedang itu sebab dia memiliki otot tubuh yang kekar dan kekuatan besar, pria itu yakin hanya dirinya saja yang bisa mengangkat pedang itu. Pasalnya para tamu lain bahkan tidak jauh kecil dari sebatang pohon muda.
Para tamu lain yang lihat pria berbadan kekar itu juga memasang sedikit keyakinan, dengan tubuh sebesar itu sudah pasti dia bisa mengangkat pedang hitam itu.
"Berhati-hatilah, pedang ini sangat agresif. Jika dia tidak menyukaimu, kau akan terluka." Master Gu memperingati. Sebagai pembuat pedang hitam itu, tentu saja Master Gu tahu pedang buatannya seperti apa keganasannya saat digunakan dan tidak menyukai seseorang.
"Cih! Pedang ini akan menjadi milikku!" sinis pria itu, semakin yakin kalau pedang yang dia pegang akan menjadi miliknya.
Pria kekar itu mulai meregangkan otot-ototnya lalu menghimpun semua tenaga di ke dua tangannya.
Dengan seluruh kekuatannya, pria berbadan itu mulai mengangkat pedang tersebut. Namun hal mengejutkan terjadi. Pedang itu benar-benar tidak bisa tercabut.
"Aaarggghh!" pekik pria itu keras sambil terus berusaha mencabut pedang tersebut. Urat-urat dari pria itu mulai bermunculan, keringat juga mulai bercucuran. Berbagai macam posisi telah pria kekar itu lakukan agar bisa mencabut pedang itu, tapi tetap saja tidak pergerakan sedikit pun. Bahkan membuat pedang itu tergerak sedikit saja mustahil baginya.
Setelah berusaha keras membuat pedang itu tercabut, namun tetap saja tidak ada pergerakan sedikit pun. Pria itu pun segera melepaskan cengkeramannya dengan nafas terengah-engah, dia menjauhi sedikit pedang itu sambil menatap Master Gu kurang percaya diri.
Baru saja dirinya meremehkan ungkapan Master Gu, dan sekarang dia sudah merasakan. Pedang itu memang benar-benar berat. Sekarang pria itu telah memakan kesombongannya yang membuatnya malu.
Pria itu segera memberi hormat kepada Master Gu sebagai permintaan maafnya karena telah meremehkan Master Gu.
"Maaf Master Gu, saya telah meremehkan Master Gu. Ternyata memang benar, pedang itu sangat berat," ujar pria itu sedikit pelan, sebab malu untuk menerima kenyataan bahwa pedang itu memanglah berat.
Master Gu tersenyum tipis sambil mengangkat satu tangannya, "Tidak masalah. Aku menghargai pendapat kalian."
Master Gu sendiri bukan ingin besar kepala setelah seorang pria berbadan kekar telah mencoba ucapannya. Dan setelah terbukti bahwa pedang itu berat, barulah pria itu percaya. Master Gu hargai menurut sudut pandang mereka masing-masing, tentu saja sebagai pendekar manusia biasa sulit bagi mereka menerima hal yang di luar kepala.
"Aku masih ragu, masa iya sebuah pedang bisa membela gunung? Itu mustahil," sahut Laila. Dia masih sangat meragukan ada pedang seperti itu, walaupun dia telah melihat sosok pria berbadan kekar bahkan menurut sudut pandang siapa pun pria itu lebih kuat dari Laila, tapi Laila masih tidak bisa percaya.
Dia adalah manusia berpikir alami, jadi sulit baginya menerima kenyataan yang menurutnya aneh.
"Kau boleh mencobanya jika tidak percaya, aku yakin setelah kau mencobanya. Kau akan paham dengan ucapan Master Gu," sahut pria yang tadi telah mencoba mengangkat pedang hitam itu. Pria itu sudah kembali ke tempat duduknya.
Laila menatap sinis pria kekar itu, tidak ingin merasa diremehkan Laila langsung berdiri dengan beraninya.
"Baiklah, akan aku coba!"
_____________
__ADS_1