Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 92


__ADS_3

Shua Xie melihat ke belakang tepatnya pada tiga pemuda, Chen Xui, Xui Cuisha dan Xui Miaoyu. Shua Xie tersenyum tipis pada mereka membuat tiga pemuda itu sedikit kebingungan.


"Ayo," ucap Shua Xie kemudian dia berjalan santai meninggalkan tiga pemuda itu. Chen Xui menatap Xui Cuisha dibalas angkatan bahu dari Xui Cuisha dia juga tidak paham tapi tidak bisa menolak. Tiga pemuda itu ikut berjalan tak jauh di belakang Shua Xie.


Gadis berbaju hanfu serba merah muda melihat Shua Xie lewat begitu saja tanpa menoleh ke arahnya, membuatnya kesal di dalam hati namun senyumannya tidak pudar. Gadis memegang bunga menatap ke pergian Shua Xie sampai punggung gadis itu tak terlihat lagi matanya.


'Sepertinya ... gadis itu menyadarinya. Heh, semakin menarik.'


Satu sentuhan menyentuh pundak gadis bergaya merah muda itu, sontak dia langsung memutar kepalanya menatap tajam pria yang memegang pundaknya. Kemudian pandangan gadis manis itu tertuju pada tangan pria itu yang menyentuh pundaknya.


"Lepaskan," ucap gadis itu dengan suara dingin.


"Apa kau marah? Seharusnya aku yang marah! Kau merebut antiranku ...." Pria itu menurunkan tangannya dengan wajah kesal, berniat meninggalkan gadis itu sebab dia sendiri tidak tega melukai gadis 10 tahunan, jika dia melukainya sebelum di arena apa kata peserta lainnya? Yang ada di akan dikatakan menindas yang kecil dan lemah.


Gadis itu tak suka pria itu menyentuhnya seenaknya kemudian pergi meninggalkannya begitu saja, berniat menepuk pundak pria itu dan ingin memberi pelajaran padanya, tapi satu sentuhan menyentuh pundaknya lagi, menghentikan gerakan gadis itu. Gadis itu langsung menoleh ke belakang, berniat menyerang seseorang yang berani menyentuh pundaknya, namun setelah melihat pria yang dia kenal menyentuh pundaknya gadis itu langsung menghentikan serangannya.


"Yugito! Kau mengejutkanku," ucap gadis itu sedikit tinggi.


Yugito melirik ke sekitarnya, banyak perhatian tertuju padanya dan gadis di depannya yang tak lain ialah Uni. Yugito menatap tajam ke arah Uni, memberikan sesuatu isyarat dari tatapannya.


Mengerti kalau Yugito tengah menyampaikan sesuatu padanya, Uni langsung mengedarkan pandangannya. Dan benar saja dia bisa melihat banyak orang tengah menatapnya, hal itu membuat Uni langsung tersadar kalau dia telah menarik perhatian banyak orang.


Uni mendekat selangkah pada Yugito lalu berbisik, "Yugito, bagaimana mungkin kau tahu aku ada di sini?"


"Di mana ada keramaian pasti kaulah pembuat onarnya," balas Yugito dengan nada malas, kemudian dia menarik tangan Uni meninggalkan kerumunan. Uni sedikit tersentak saat Yugito menariknya kuat, namun Uni tidak memberontak atau berkomentar, sebab dia sendiri sadar dia telah melakukan kesalahan. Seharusnya ia tak membuat keributan, hal itu bisa mengancam majikannya Huang Zechi.


Semua ini terjadi sebab rasa penasaran Uni ingin berdekatan dengan Shua Xie, sehingga tanpa dia sadari dia maju menerobos antiran di depannya. Dan membuat keributan yang tak seharusnya dia buat.


Tapi ada satu hal yang mengejutkan Uni saat dia hampir dekat dengan Shua Xie, sesuatu yang bahkan tak pernah Uni rasakan dari siapa pun.


Yugito berhenti ketika mereka berdua sudah berada di pojokan sepi. Yugito melepaskan tangan Uni lalu menatapnya tajam sambil menghela nafas, sedikit kesal sebab Uni selalu saja membuat sesuatu yang bisa saja membahayakan majikan mereka berdua.


"Uni, apa kau tahu semua ini bisa membuat Tuan Huang Zechi dalam bahaya," ucap Yugito sambil berkacak pinggang.


Uni mengerutkan bibirnya sambil melihat ke arah lain, tak ingin menatap mata Yugito yang menurutnya menyeramkan kalau sedang marah.


"Iya aku tahu ... tapi aku tidak sengaja melakukannya. Ini semua karena gadis itu," balas Uni dengan nada sedikit marah.


Yugito memutar matanya malas, lalu dia menarik lengan kiri Uni hingga membuat Uni bertatapan langsung dengannya. Jarak antara Uni dan Yugito lumayan dekat. Uni sedikit tersentak akan perlakukan Yugito, bukan merasa seperti adegan romantis, dia justru seperti merasakan adegan kakak sedang memarahi adik.


"Uni berhenti beralasan. Gadis itu bahkan tak melakukan apapun? Aku telah memantaunya dari jauh." Yugito melepaskan cengkramannya di lengan Uni dengan sedikit keras, membuat Uni termundur selangkah.


"Kau!" Uni menunjuk ke arah Yugito, tatapan kesal terpampang jelas di wajahnya. Tak suka akan perlakukan Yugito yang begitu kasar pada gadis seimut dia, tidak Yugito merasa kasihan padanya?


Kasihan pada gadis beracun seperti Uni? Itu sama saja kasihan pada Katak Panah Biru.


"Tidakkah kau bisa bersikap lembut sedikit?" Uni mundur selangkah sambil melipat ke dua tangannya di depan dadanya.


"Lupakan soal itu," balas Yugito datar, pandangannya tertuju pada seseorang yang tak jauh dari mereka berdua tengah menatap ke arah mereka berdua. Pria bertopeng yang pernah berkunjung secara tidak baik ke kediaman Huang Zechi.


"Kau beraninya menga-" belum sempat Uni menyelesaikan ucapannya, Yugito langsung menarik kuat lengan Uni membuat gadis itu berdiri sejajar di sampingnya.


"Kau lihat itu, dia ada di sini," ucap Yugito dengan nada sedikit tak nyaman. Seakan kedatangan pria bertopeng itu seperti malaikat maut mereka.


Melihat sosok bertopeng tengah duduk santai di dahan pohon Uni langsung tersentak kaget. Tidak dia sangka pria bertopeng itu muncul lagi, kali ini secara terang-terangan walau pun dari kejahuan.

__ADS_1


"Dia benar-benar mengawasi kita," balas Uni dengan nada ketakutan, bahkan senyumannya itu terlihat seperti senyuman pahit yang dipaksakan. Uni bergidik ngeri saat pria bertopeng itu melambaikan tangan pada mereka, seakan malaikat maut itu tengah melambaikan tanda kematian pada mereka.


****


Setelah pendaftaran telah selesai, kini saatnya lah waktu yang ditunggu. Pertandingan antar Kultivator akan di mulai. Sekitar ada 500 peserta mengikuti pertandingan, semua jumlah itu telah digabungkan wanita dan pria. Kebanyakan yang mengikuti pertandingan ini ialah pria berusia 14 - 25 tahunan dari berbagai pelosok kota dan desa.


Babak pertama ialah pertarungan 50 peserta, pertandingan ini melibatkan 50 peserta berada dalam 1 lingkaran tak terlalu besar namun cukup luas untuk 50 peserta ini. Di mana di dalam lingkaran mereka akan saling membuat peserta lain keluar dari lingkaran, dan bila peserta telah keluar maka akan dianggap kalah. Babak pertama bisa dikatakan lumayan sulit sebab mereka harus saling bertarung membuat peserta lain keluar. Yang boleh tersisa dalam lingkaran hanya 3 peserta saja, dan 3 sisanya akan melanjutkan ke babak berikutnya.


Setelah cukup beberapa menit panitia menjelaskan cara main babak pertama, babak pertama pun di mulai dengan 50 peserta yang telah dipilih secara teracak, tidak berdasarkan siapa paling kuat atau statusnya.


50 peserta itu masuk ke dalam lingkaran, di 50 peserta itu ada Chen Xui yang menjadi salah satu peserta.


Xui Cuisha dan Xui Miaoyu sedikit tidak tenang akan babak pertama, tidak hanya banyak musuh namun dipastikan tidak ada rekan pula di dalam lingkaran. Sehingga para peserta tidak akan sempat membuat kelompok dalam babak pertama.


"Menurutmu apakah Chen akan berhasil?" tanya Xui Miaoyu sambil menangkupkan ke dua tangannya seolah tengah berdo'a.


Xui Cuisha sulit menjawab, dia tak bisa menebak pasti apakah Chen Xui bisa lolos atau tidak setelah melihat lawan Chen Xui banyak berada di tahap seimbang dengan Chen Xui. Tidak bisa menjamin apakah Chen Xui bisa menang di babak pertama.


"Aku tidak tahu ... tapi yang jelas aku berharap dia tidak apa-apa." balas Xui Cuisha.


Shua Xie dapat mendengar perbincangan Xui Miaoyu dan Xui Cuisha, kalau dia juga ditanyakan hal seperti itu, Shua Xie akan menjawab dengan jawaban yang sama. Namun menurut pandangan Shua Xie semua tergantung Chen Xui, jika dia bisa berpikir dengan cepat dan licik, maka kemungkinan besar dia bisa keluar sebagai pemenang.


'Logikanya, dalam babak seperti ini kita harus bisa bermain licik jika kita lemah.' Shua Xie tersenyum kecil, merasa lucu kalau dia akan mengeluarkan semua peserta nantinya, sebab Shua Xie ingin memamerkan sedikit kekuatan di ajang kali ini. Berterus terang dan pamer adalah bagian sifat dari Shua Xie.


'Tapi di sini akulah yang sangat kejam di dalam pertandingan ini. Sudah jelas aku berada di tahap paling tinggi di antara mereka semua tapi masih saja ikut. Andaikan ini bukan demi menarik perhatian empat kerajaan dan sekte Kilat, tentu aku tidak akan perlu repot-repot ikut pertandingan ini.' Shua Xie sendiri sadar dengan basis kultivasinya saat ini berada di puncak kultivasi dia telah menjadi peserta paling licik, berpura-pura lemah dan menjuarai pertandingan. Padahal dia bisa saja merekomendasikan dirinya sendiri ke Menara Felix langsung dengan kekuatannya sekarang pasti dia akan diterima, tapi karena masih ada hal yang menurutnya menguntungkan untuknya tentu saja dia akan lakukan.


***


Di dalam lingkaran 50 peserta telah masuk dan bersiap-siap dengan senjata masing-masing. Peraturan pertandingan juga telah dibacakan, tidak boleh membunuh. Itu saja, sisanya boleh dilakukan.


Paham akan tatapan Xui Sukong, Chen Xui tersenyum kecil. Di sini Chen Xui tidak berpikir untuk menang, yang penting bisa membuat Ayah bangga saja itu sudah cukup.


Seorang pembawa acara yang berada di panggung lain mengangkat tangannya, "Perundingan akan dimulai! Dalam hitungan satu sampai tiga!"


"Satu!" Para penonton ikut berseru bersama pembawa acara.


"Dua!"


"Tiga! Mulai!"


Saat kata 'Mulai' telah berseru, para peserta langsung bertarung satu sama lain. Begitu pun dengan Chen Xui, dia langsung dihadapkan pria berbadan besar dengan palu besar di tangannya. Mungkin pria berbadan besar itu berpikir, jika ingin mengalahkan peserta lain maka dia harus membereskan yang lemah terlebih dahulu.


Chen Xui juga tidak tinggal diam, dia langsung mengeluarkan pedangnya. Kemudian menepis keras palu milik pria berbadan besar itu. Tapi karena palu itu sangat kuat dan berat, ditambah lagi tenaga pria berbadan besar itu lumayan kuat, justru Chen Xui terpukul mundur beberapa langkah.


Tidak perlu banyak bicara, pria berbadan besar itu langsung menyerang Chen Xui lagi. Sadar kalau dia akan diserang lagi, Chen Xui langsung menghindari serangan palu itu.


Getaran lumayan hebat membuat arena lingkaran itu sedikit bergetar dan rusak, namun beberapa saat arena kembali utuh seperti semula. Banyak peserta lain yang menyaksikan arena kembali utuh sedikit terkejut dan terkagum, bagaimana mungkin arena itu bisa utuh kembali dalam waktu beberapa detik saja.


Itu semua karena formasi sajak khusus yang telah di pasang di arena sehingga arena akan kembali utuh seperti semula walau mengalami telah kehancuran. Tapi jika kehancuran para maka proses pemulihannya akan melambat.


Chen Xui menatap tajam ke arah pria berbadan besar itu, dan dia langsung berlari ke arah pria itu sambil menghunuskan pedangnya.


"Teknik Pedang - Pedang Seribu!"


Pedang yang digenggam Chen Xui langsung berputar searah jarum jam dan mengeluarkan banyak bayanganan seiring pedangnya berputar. Hal itu membuat pandangan pria itu menjadi sedikit terganggu, dia sendiri sulit menebak mana padang yang asli. Karena tidak bisa membedakan mana pedang asli milik Chen Xui, akhirnya pria itu tidak bisa menhindari serangan Chen Xui dengan cepat mengakibatkan dia terpantal keluar arena.

__ADS_1


Pria berbadan besar itu meringis pelan saat punggungnya mendarat kasar di tanah, dia mengalihkan pandangan ke sekitar, ternyata sudah banyak peserta telah keluar sebelum dia keluar. Perasan kesal, marah tak terima menggerogoti benaknya, namun apa yang bisa dia buat? Dia telah keluar maka kekalahan sudah menjadi takdirnya.


Chen Xui mengalihkan pandangannya ke arah lain dia bisa melihat peserta telah banyak berkurang, paling tidak tinggal 20 puluhan peserta tersisa. Pandangan Chen Xui tertuju pada pria yang bertarung dengan 5 peserta sekaligus, pria itu mengenakan samurai panjang. Dan hanya dalam beberapa putaran samurainya saja 5 peserta itu langsung terpental mundur keluar arena.


Chen Xui membulatkan matanya, tidak dia duga ada peserta sekuat itu di dalam babak pertama. Jika Chen Xui langsung menghadapi pria itu maka dia akan langsung keluar dalam beberapa serangan saja melihat betapa kuatnya pria bersamurai itu.


Dari arah lain, ada pria berkulit coklat berlari menghampiri Chen Xui dan langsung menyerang Chen Xui dari belakang. Karena Chen Xui terlalu larut pada pria samurai itu, dia tidak sadar ada peserta lain mendekatinya. Alhasilnya, Chen Xui mandapat pukulan keras di punggungnya, membuat Chen Xui jatuh terguling-guling ke pinggir arena. Pedangnya juga terlepas dari ganggamannya dan terlempar keluar arena.


Chen Xui memuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya, akibat pukulan keras di punggungnya dia mengalami cidera lumayan besar. Chen Xui menatap pria berkulit coklat yang kini berjalan mendekatinya. Chen Xui berniat berdiri kembali namun karena sakit di punggungnya lumayan parah, Chen Xui tidak bisa berdiri lagi.


Ketika pria berkulit coklat itu sudah berdiri tepat di depan Chen Xui, dia langsung menendang kuat perut Chen Xui sehingga Chen Xui terlempar cukup jauh dari arena. Tepat di depan barisan peserta yang jaraknya 100 meter dari arena.


"Aakkhh!!!" Chen Xui meringis kuat saat tubuhnya terbentur di tanah, dia berguling beberapa kali seakan berusaha menahan rasa sakit. Tidak lama itu juga, muncul 2 pemuda di depannya dengan wajah sangat khawatir.


"Chen! Kau tidak apa-apa?" teriak seorang gadis yang tak lain ialah Xui Miaoyu. Miaoyu langsung merangkul tubuh Chen Xui bersama dengan Xui Cuisha.


"Chen! Apa kau dengar kami?" panggil Xui Cuisha lumayan keras, berharap tidak ada luka serius yang didapat Chen Xui.


Chen Xui tidak membalas ucapan mereka berdua, bahkan mengangkat kepalanya saja dia sudah tidak sanggup. Luka yang dia terima akibat tendangan pria berkulit coklat itu sungguh parah, bahkan beberapa tulang rusuk patah dan organ tubuhnya luka parah.


Xui Cuisha langsung membawa Chen Xui ke tenda medis, di sana mereka juga langsung disambut para medis yang telah siap merawat para peserta yang terluka.


Chen Xui dibaringkan di atas tandu tali dengan perlahan kemudian dibawa pergi para tim medis menuju tenda darurat untuk peserta yang menderita luka serius. Xui Cuisha dan Xui Miaoyu tidak bisa mengikuti lagi sebab tenda medis tidak bisa didatangi banyak peserta. Dengan adanya korban terluka saja sudah banyak, ditambah lagi dengan ada mereka berdua hanya mengganggu ketenangan para medis mengobati peserta terluka.


Shua Xie berjalan santai menghampiri Xui Cuisha dan Xui Miaoyu, dia juga sedikit kaget saat pria berkulit coklat itu sangat berani menendang seorang Pangeran dengan kuat. Kalau pelan mungkin masih bisa dimaklumi, tapi kalau sudah seperti ini, sepertinya pria berkulit coklat itu berniat membangunkan singa ganas di kerajaan Bora, Xui Sukong.


"Apakah Chen akan baik-baik saja? Aku lihat dia sangat terlihat kesakitan." Xui Miaoyu menggigit bibir bawahnya, sangat khawatir akan luka yang diderita Chen Xui. Dia sendiri tahu, luka yang diderita Chen Xui bukanlah luka ringan.


Xui Cuisha mengepalkan tangannya, dia sungguh tak terima sepupunya diperlakukan seperti hewan. Ditendang dengan kuat dari arena seperti sedang menghina kelemahan pangeran dari kerajaan Bora. Sebagai sesama pangeran dari kerajaan Bora dan keluarga dekat tentu dia tidak terima atas perlakuan pria berkulit coklat itu.


"Pria itu! Dia harus dihukum!"


Xui Cuisha berbalik, tampaklah wajah begitu merah karena marah, rahang mengetat disertai urat-urat yang menonjol. Saat Xui Cuisha berbalik tepat di depannya ada Shua Xie dengan wajah super datar membuat Xui Cuisha sedikit terkejut.


"Kau mau melakukan apa?" tanya Shua Xie dengan nada datar seolah tidak merasakan emosi apapun setelah melihat Chen Xui ditendang kuat keluar arena.


"Kak Shua! Apa kau tidak lihat pria itu telah melukai Adik Chen! Dia harus dihukum!" balas Xui Cuisha sedikit keras, bahkan otot wajahnya semakin mengetat memperlihatkan betapa marahnya sosok penyabar ini.


Shua Xie mendaratkan satu pukulan di perut Xui Cuisha membuat pemuda itu terpukul mundur bahkan terjatuh ke tanah, "Bodoh!" balas Shua Xie dingin.


Melihat Xui Cuisha terjatuh, Xui Miaoyu langsung mendekati Xui Cuisha. Xui Miaoyu menatap tajam ke arah Shua Xie, dia tidak paham kenapa Shua Xie meninju perut Xui Cuisha. Padahal niat Xui Cuisha sangat baik.


Baik? Itu menurut mereka berdua, tapi tidak untuk Shua Xie.


Xui Cuisha meringis pelan sambil memegang perutnya yang sakit akibat tinjuan Shua Xie. Dia menatap ke arah Shua Xie sedikit terkejut karena Shua Xie telah memukulnya.


"Kak Shua, kenapa memukul Kak Cuisha?" tanya Xui Miaoyu dengan nada sedikit marah, dia memang dari awal tak terlalu suka pada Shua Xie, sekarang ditambah lagi Shua Xie menghajar Xui Cuisha itu membuat rasa tak suka Xui Miaoyu pada Shua Xie semakin besar.


"Jika tidak ingin terluka sebaiknya tidak perlu ikut pertandingan dari awal! Mendapat luka seperti itu sudah harus menjadi kesiapan bagi mereka yang memang ingin ikut pertandingan ini. Apa kau pikir di pertandingan ini status pangeran akan di pandang? Tentu tidak, di sini semua sama! Pikir itu! Jangan bertindak bodoh!" balas Shua Xie tajam setelah itu dia berbalik meninggalkan 2 Pemuda itu.


________


A/N : Hayo Shua Xie marah 😒 benerkan yang Shua Xie katakan? kalau gak mau terluka ya gak usah ikutan 😂 toh dalam pertandingan status tidak dipandang! semua sama 😒 tapi kejam juga si Shua Xie 😅


gaes maaf kemarin saya gak jadi berangkat tapi gak up, pulsa data saya abis jadi gak up, siang tadi mau up tapi belum menulis 😅 hehehe maaf ya ❤

__ADS_1


Jangan lupa like gaes! like sangat penting buat saya 🖒❤ vote juga ya 10 vote aja gak masalah kok ❤ kalau bisa beri tip lah juga buat saya 😍😂 bagi-bagi rezeki di sayang Tuhan gaes 😂🍀 dan mampir donk ke cerita saya yang satunya Pheonix Reincarnation 👑 emang belum banyak sih tapi berilah dukungan 😊😄 aku jamin cerita itu tak kalah jauh menarik dari Perjalanan Melawan Dunia 👑👑


__ADS_2