
Alunan musik melantun indah, membuat para pendengarnya tidak bisa tidak menikmati kebahagiaan. Di tengah kerumunan perjamuan besar itu, sekelompok wanita menari dengan gemulai, memikat beberapa mata nakal di sana.
Di antara banyaknya jiwa yang sedang menikmati kebahagiaan, satu orang di antara mereka tampak diam tenang, tidak terlihat seperti sedang menikmati perjamuan tersebut. Seseorang itu memilih diam memperhatikan percakapan sang Kaisar bersama para tamu lainnya.
Teringat kembali saat dia berada satu ruang dengan para tamu itu, terjadi perdebatan tapi untungnya dia bisa menetralkannya. Pada akhirnya dia meminta para tamu itu untuk bersikap biasa, menganggap dirinya seperti tidak pernah ikut rapat beberapa waktu yang lalu. Meskipun permintaannya itu sempat ditolak mengingat dirinya bisa dikatakan seseorang yang paling berpengaruh besar dalam rapat itu.
Lama dirinya terdiam tanpa menyetuh sedikit pun makanan di meja, mengundang salah saudaranya bertanya padanya.
"Adik, kenapa kau tidak memakan makanan di meja?" Gadis bergaun cukup mewah dengan perhiasan wanita hampir memenuhi kepalanya itu bertanya dengan nada sedikit keheranan.
Pandangan gadis itu langsung tertuju pada sosok wanita di depannya, yang tidak lain Kakaknya, Wang Xinian. Sejenak gadis itu terdiam seperti sedang kebingungan, tapi ketika dia melihat Wang Xinian menatap makanan di mejanya, gadis itu langsung tersadar.
"Aku akan memakannya, tapi nanti," balas gadis itu tenang.
Alis Wang Xinian naik sebelah, sedikit bingung mendengar jawaban Adiknya itu, "Kenapa? Apakah kau tidak menyukai makanannya?" Berpikir kalau Adiknya itu tidak menyukai makanan yang dihidangkan, pasti akan membuat Kaisar Feng Kim merasa tidak dihargai.
Gadis itu tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya, "Bukan begitu, hanya saja aku masih kenyang. Bukankah memaksakan perut sama saja membuat tubuh sakit," balasnya masih dengan nada tenang.
Wang Xinian merasa sedikit tidak senang mendengar jawaban Adiknya. Mau bagaimana pun dia ingin Adiknya itu menyentuh salah satu makan di meja. Berpikir menyetuh salah satu makan di meja, pandangan Wang Xinian tertuju pada segelas anggur. Bersamaan dengan itu sebuah senyuman licik terlukis di wajahnya.
"Jikalau begitu, aku tidak akan memaksa Adik." Wang Xinian mengesampingkan anak rambut yang menutupi pandangannya ke belakang telinganya, sembari memasang tampang wajah polos, "Tapi, untuk menghargai tamu yang ada. Paling tidak Adik harus meminum anggur untuk menunjukan kesopanan terhadap para tamu besar Ayah. Bukankah begitu, Adik?" Wang Xinian menyentuh bibirnya, tampang wajah polos dan sikapnya terlihat sangat penuh kepolosan yang tidak dibuat-buat.
Gadis di depan Wang Xinian tersenyum, "Jika memang harus seperti itu, aku akan melakukannya." Gadis itu tidak berniat menolak, sadar kalau dia menolak sama saja dia tidak menghargai tamu kerajaannya. Untuk menghindari bisikan-bisikan yang tidak diinginkan, gadis itu memang harus meminum anggur itu. Gadis itu meraih gelas anggur, membuat mata Shan Qiayu membulat senang, tapi seketika rasa senangnya itu terhenti saat dia melihat Adiknya membagi air di anggur itu menjadi dua. Lalu memberikan satu gelas kepada Wang Xinian, membuat Kakaknya itu sedikit terkejut, "Tapi aku tidak bisa menghabiskannya sendiri, aku sangat lemah pada anggur. Aku yakin Kakak pasti mau membantuku menghabiskannya untuk tamu Ayah," ucapnya dengan nada sangat lembut penuh kepolosan.
Ekspresi Wang Xinian berubah buruk, matanya itu tidak lepas dari gelas di tangan Adiknya. Di mana gelas itu seharusnya digunakan Adiknya minum, bukan dirinya. Tapi entah sengaja atau tidak, Adiknya itu memberikan gelas beracun itu pada Wang Xinian, sedangkan Adiknya itu mendapat gelas yang tidak ada racunnya.
__ADS_1
Shan Qiayu beralih menatap Adiknya sembari memberikan senyum canggung, "Ah ... Adik. Sepertinya aku tidak bisa membantumu."
"Kenapa?" Gadis itu langsung bertanya, membuat Wang Xinian menjadi sedikit gugup.
Pandangan Shan Qiayu melirik ke lain sembari berpikir alasan apa yang bagus untuk menolak permintaan Adiknya, "Aku, aku, aku sudah meminum cukup banyak anggur. Jika meminumnya lagi, aku takut aku tidak akan kuat meminumnya," balas Wang Xinian dengan nada sedikit gugup.
Adiknya itu memiringkan sedikit kepalanya, tampak seperti kebingungan, "Jika aku tidak salah lihat, Kakak hanya meneguk sekali gelas anggur Kakak. Apakah itu bisa dikatakan banyak?" Sudah sangat jelas bukan jika Wang Xinian membohongi Adiknya. Gadis itu sudah memperhatikan Wang Xinian cukup lama dan melihat Wang Xinian hanya meneguk sekali gelas anggur lalu menghambiskan sedikit waktunya bercerita dengan beberapa orang di sekitarnya.
"Ah, itu, aku-"
Belum selesai Wang Xinian beralasan, gadis itu langsung memberikan gelas di tangannya ke tangan Wang Xinian, membuat Kakaknya itu terkejut setengah mati. Tidak hanya sampai di situ, gadis itu juga langsung berteriak cukup keras membuat semua pandangan tertuju padanya, "Hadirin semua, tamu yang terhormat, maaf menganggu waktu kalian sebentar." Gadis itu mengumbar senyum manis, membuat beberapa pria yang memandangnya menjadi sedikit terpesona.
"Shua Xie apa yang ingin kau lakukan?" tanya Wang Xinian sambil bersikap semakin terlihat kaku. Wang Xinian merasakan firasat tidak baik melihat Shua Xie berteriak memanggil semua tamu menatapnya.
Gadis yang tidak lain Shua Xie itu masih tersenyum, sejenak pandangannya kembali menatap Shan Qiayu lagi, "Putri Utama ingin membantuku meminum anggur ini untuk kalian. Bersilang untuk para tamu terhormat." Shua Xie mengangkat gelas di tangannya lalu dengan cepat meminum anggur di gelas itu.
"Ya, bersilang untuk kerja sama." Jenderal Feng Xian mendukung penghormatan Shua Xie terhadap para tamu.
Melihat Jenderal Besar Feng ikut mengangkat gelas dan meminum anggur, para tamu lainnya juga ikut melakukan hal sama. Ribut sorak untuk keberhasilan menggema keras, diiringi dengan canda tawa.
Setelah Shua Xie meminum anggurnya, dia beralih menatap Wang Xinian, bisa dia lihat gadis itu masih belum meminum anggurnya. Membuat Shua Xie tertawa sinis di dalam hati. Tapi, tentu Shua Xie tidak akan membiarkan Kakaknya tidak meminum anggur itu.
"Kakak, kenapa belum meminumnya. Sebagai calon Putri Utama, apa Kakak tidak ingin memberi hormat kepada para tamu besar?" tanya Shua Xie masih dengan drama polos yang dia buat. Satu jari Shua Xie menyentuh bibirnya, "Mungkinkah Kakak tidak mau?" Pernyataan terakhir Shua Xie mengundang banyak pandangan kepada Wang Xinian, bahkan Kaisar Feng Kim juga menatapnya cukup tajam. Menunggu Putrinya itu meminum anggur itu agar tidak mempermalukan kerajaan Xuilin di depan ke empat tamunya.
Wang Xinian menjadi salah tingkah, keadaan sudah memojokkannya, tidak pernah Wang Xinian duga jebakan yang dia siapkan untuk Shua Xie kini berbalik menyerangnya, "Aku, aku .... bisakah aku mengganti anggurnya?" tanya Wang Xinian dengan suara pelan sembari menatap Shua Xie nanar, terlihat seperti sedang memohon di sana.
__ADS_1
Berharap Shua Xie setuju dengan permintaannya itu, tapi nyatanya Shua Xie menolak dengan cara halus, "Kenapa Kak? Apa Kakak tidak suka anggur itu. Bukankah sama saja dengan anggur yang diminum tamu?"
"Itu ...." Wang Xinian menjadi semakin gugup, tidak terasa keringat mengucur cukup deras di wajahnya dan lehernya. Sikapnya itu semakin mengundang Shua Xie untuk memojokkannya
"Bukankah, Kakak yang tadi memintaku meminum anggur untuk tamu besar? Kenapa sekarang Kakak seperti tidak ingin meminumnya? Apakah Kakak ingin membuat Ayah malu?" ujar Shua Xie, nada keluguan yang dia buat semakin terlihat nyata.
Di sisi lain, Kaisar Feng Kim menatap Wang Xinian semakin tajam sembari berkata, "Sebagai calon Putri Utama, apakah kau tidak ingin memberi mukamu sendiri?" cukup jelas Feng Kim memaksa Wang Xinian meminum anggur itu.
Keringat semakin mengalir, dan bahkan sekarang membasahi telapak tangannya. Wang Xinian memandang Kaisar Feng Kim gusar, "Yang Mulia, aku ...." Wang Xinian melihat lagi ke sekitarnya, pandangan banyak orang terhadapnya seperti sedang menghinanya, Wang Xinian tidak ingin melihat tatapan seperti itu. Pandangnya beralih lagi ke gelas yang dia pegang, 'Gelas ini beracun, jika aku meminumnya aku akan mati. Tapi jika aku tidak meminumnya, Ayah pasti akan memarahiku dan mencabut gelarku ... Shua Xie itu. Dasar Jal*ng! Tunggu saja pembalasanku.' Tidak ada pilihan lain Wang Xinian dengan terpaksa meneguk anggur di gelas itu dengan raut wajah kesulitan. Setelah selesai meneguknya, dia mengangkat gelas tinggi seraya berkata, "Untuk tamu besar."
Sorak tepuk tangan kembali berbunyi, menyoraki Wang Xinian seakan memberikan kebanggaan pada gadis itu. Keadaan kembali seperti semula, sibuk dengan candaan masing-masing.
Bersamaan kembalinya tenang keadaan, Wang Xinian menjauhi keramaian sembari memegang kepalanya yang mulai terasa pusing, tepat pada saat itu salah satu gadis datang mendekatinya, gadis itu adalah Mielan, sahabat dekat Wang Xinian. Mielan meraih tubuh Wang Xinian yang perlahan melemas.
"Wang Xinian, kau telah melakukan dengan baik, aku tidak sangka kau akan senekat ini demi gelarmu," ujar Mielan dengan suara pelan.
Seketika pandangan Wang Xinian tertuju pada Mielan, terlihat jelas raut wajah kebingungan di sana, "Apa maksudmu, Mielan? Cepat berikan aku penawar racunnya, kau yang mengusulkan racun itu dan seharusnya kau memiliki penawarnya bukan?" tanya Wang Xinian dengan suara lemah.
Sesaat Mielan terdiam membuat Wang Xinian semakin kebingungan, seharusnya sahabatnga itu memberikan penawar racun padanya, tapi sahabatnya itu hanya diam. Tidak lama kemudian Mielan terdiam, dia mengukir senyum, sebuah senyum penuh kelicikan di sana, "Wang Xinian, maaf aku harus memamfaatkanmu untuk membalas dendam Ayahku. Shua Xie telah memenjarakan Ayahku, dan aku butuh seseorang untuk membalasnya." Yang pastinya seseorang yang dibutuhkan Mielan pastinya adalah Wang Xinian. Karena kebencian Wang Xinian terhadap Shua Xie sangat besar, Mielan memanfaatkan kebencian itu menjadi peluang balas dendamnya.
Mata Wang Xinian membulat, dia menatap Mielan dengan tatapan tidak percaya, sahabatnya itu telah memanfaatkannya sedari awal, "Mielan! Kau, aku tidak akan membiarkanmu, uhuk." Seteguk darah segar keluar dari mulut Wang Xinian membuat ucapannya itu terpotong. Wang Xinian memandang darah di tangannya, mata membulat besar serta tubuhnya semakin bergetar melihat darah sebanyak itu, Wang Xinian mulai ketakutan, "Uhuk! Uhuk!"
"Maaf, Wang Xinian. Kau harus korbankan nyawamu demi balas denganku," bisik Mielan pelan semakin membuat mata Wang Xinian membulat.
"Mielan, kau, uhuk! Uhuk! Uhuk!"
__ADS_1
Suara batuk Wang Xinian mengundang banyak pandangannya mengarah kepadanya, dan ketika melihat sosok calon Putri Utama itu batuk darah, sebagian orang berteriak karena terkejut.
"Putri Utama, keracunan!" pekik Mielan keras. Dialah yang pertama menyuarakan rasa terkejutnya dengan ekspresi sangat ketakutan.