
Ada pemberitahuan di bawah, wajib baca π₯
Setelah berhasil membunuh Lou Zhou dan Raja Iblis King Lan, Menma dan Azura segera kembali ke dunia Tengah untuk membantu Zusami dan Tsakuya melawan pasukan dunia Atas. Namun, bukannya tiba ke wilayah kerajaan Xuilin, Menma dan Azura justru tiba di wilayah kerajaan Dilie. Tidak salah tujuan seperti sebelumnya, melainkan memang keinginan Menma mendatangi tempat ini lebih dulu.
Saat ini kadaan wilayah kerajaan Dilie cukup buruk, beberapa desa dan kota telah di serang secara kejam, banyak mayat-mayat dari manusia biasa berserakan dalam keadaan tidak baik. Sebagian besar mayat kehilangan kepala mereka. Menma menggeleng tidak percaya, tidak disangka Lou Yue bisa sekejam ini pada manusia biasa.
"Pembunuhan yang mengerikan, bahkan pada manusia biasa pun harus seperti ini," ucap Azura dengan suara pelan, antara kasihan dan tak menyangka dengan apa yang terjadi pada rakyat kerajaan Dilie.
"Hem, mereka terlalu kejam. Apakah harus sekejam ini membunuh manusia biasa?" Menma menyahut pelan. Merasa sedikit kasihan dengan kemalangan rakyat biasa kerajaan Dilie.
"Lalu kenapa kita datang ke sini? Kenapa tidak langsung ke kerajaan Xuilin? Aku rasa mereka juga cukup membutuhkan kita."
Jika kondisi kerajaan Dilie saja seperti ini, pasti kerajaan Xuilin pun tidak jauh berbeda. Bahkan kemungkinan besar penyerangan yang mereka dapat bisa lebih parah.
"Aku telah berjanji akan melindungi mereka, tapi aku gagal menepati janjiku." Azura terhenyak mendengar ucapan Menma. "Aku pikir aku lah yang lebih kejam di sini. Aku memberi mereka harapan, tapi ternyata hanya bualan belaka." Lanjut Menma sambil tersenyum miris. Miris pada dirinya sendiri.
Mendengar ucapan Menma barusan membuat Azura tersentak. Lantas dia segera berjalan ke depan Menma, menghentikan gadis itu lalu menepuk ke dua pundaknya sembari menatapnya lekat.
"Hei, apa yang kau katakan itu salah. Setidaknya kau telah berusaha memberikan yang terbaik pada mereka. Hanya saja, tampaknya takdir baik tidak berpihak pada mereka.Β Jadi, jangan menyalahkan dirimu sendiri," ucap Azura lugas menekankan ke dua pundak Menma.
Menma bungkam, tidak berniat membalas ucapan Azura. Entah lah, dia sedikit kecewa pada dirinya sendiri. Dia kuat, tapi tidak bisa membantu apa pun. Tentu saja rasa kecewa dan menyesal akan merambat ke hati dan pikirannya, terlepas Menma telah berjanji pada 5 Raja akan membantu mereka memenangkan peperangan.
Tapi di luar dugaan, perang terjadi lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Selain itu, Menma juga mengalami hambatan yang membuatnya harus datang terlambat.
"Jangan egois, saat ini kau bukan pemeran utamanya." Lanjut Azura lagi. Berkat ucapan Azura ini, Menma mengangkat kembali wajahnya, menatap Azura dengan pandangan sulit diartikan.
'Bukan pemeran utama?' Menma menatap Azura lekat. Berusaha menelisik sesuatu di sana, tapi dia tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan.
Menma melenguh pelan. "Bisa turunkan tanganmu dari bahuku?" pinta Menma sambil melirik sekilas pada tangan Azura yang masih setia di atas dua bahunya.
"Sudah merasa baikkan?" Azura mengulum senyum, senang melihat Menma bisa kembali.
"Sejak kapan aku merasa tidak baikkan?" Menma menurunkan tangan Azura sendiri dari bahunya. Kemudian melewati pemuda itu acuh. "Sebaiknya kita mencari orang-orang yang selamat dari pembantaian kejam ini, mungkin saja ada beberapa dari mereka yang berhasil menyelamatkan diri mereka," ucap Menma sambil terus berjalan.
Azura terkekeh pelan. Mengejar Menma dan berjalan di sampingnya. "Ya, baik lah. Apa perlu kita berpencar?" Azura mengusulkan ide, setidaknya jika ingin pekerjaan cepat selesai, ada baiknya mereka berpencar dan mencari di tempat yang berbeda.
Menma berpikir sejenak. "Hem ... ide yang bagus. Kalau begitu aku akan mencari ke kerajaannya langsung. Mungkin saja ada yang bersembunyi di sana."
"Baik lah, aku akan mencari di kota dan sekitarnya. Jika ada apa-apa kau beri tanda saja padaku."
"Heh, tidakkah kau khawatir pada orang yang salah?" Menma tersenyum sinis. Menatap Azura remeh.
Azura tertawa. "Hahaha ... Aku baru ingat, kau kan Ratu Dunia? Tapi ...." Azura berhenti tertawa. Menatap Menma sambil tersenyum manis. "Tetap saja kau seorang wanita. Wanita yang membutuhkan perlindungan. Dan aku lah pelindungmu."
Bug!
"Aauu, kenapa memukulku?" Azura merungut sambil mengusap kepalanya yang baru saja mendapat pukulan. Siapa lagi jika bukan Menma pelakunya.
"Jangan bucin, aku tak yakin seseorang akan senang mendengar ucapanmu tadi," timpal Menma sambil tersenyum tipis.
"Bucin? Apa itu bucin?"
__ADS_1
"Budak cinta, kau sangat budak cinta," balas Menma enteng. Azura tersinggung, tapi ia tidak marah, justru ia malah merasa malu.
"Jadi kau mengakui cintaku?" tanya Azura antusias, seketika membuat Menma menatap heran. Sedikit kaget mendengar ucapan Azura.
"Ini aneh, kenapa aku merasa begitu banyak pria yang menyukaiku? Apakah aku terlalu cantik di mata kalian?" Menma bukannya tidak senang disukai banyak pria, dia pun sama seperti wanita lainnya, terkadang ingin diperhatikan, tapi jika yang memperhatikannya sebanyak ini, bukannya senang Menma malah merasa risi.
"Kau bahkan lebih cantik dari apa pun yang ada di dunia ini." Azura menatap Menma lekat. Begitu pun Menma padanya. "Namun, bukan kecantikanmu yang membuatku tertarik, tapi sifat dan hatimu," ucap Azura lagi, dengan nada selembut mungkin.
γ
***
γ
"Sial, sejak kapan aku mempunyai jantung?" Bukan itu maksud Menma, tapi yang ia maksud sejak kapan jantung jadi berdetak kencang seperti itu hanya karena kata-kata basi yang biasa para pria ucapkan kepada para wanita.
Menma memegang dadanya, merasakan detak jantung yang tidak karuan. "Tidak mungkin aku suka sama anak kucing itu, bukan? Tidak-tidak." Menma menggeleng keras, menampik perasaan dan pikirannya yang kacau.
Menma kembali terdiam. Menatap tangan kirinya yang memegang dadanya cukup lama. "Perasaan ini ...."
Bruk!
"Siapa?" Menma segera berbalik. Mendapati seorang anak kecil tengah berdiri ketakutan di sana. Anak kecil segera berlari ketika Menma menatapnya.
"Hei, bocah ... tunggu!" Menma lekas mengejar anak kecil itu, dan tanpa butuh waktu lama, dengan menggunakan sedikit keahliannya sebagai Kultivator, Menma bisa mencapai anak kecil itu dengan cepat.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku! Tolong! Tolong! Ada penjahat!" Anak kecil itu berteriak sekeras mungkin sambil berusaha melepaskan dirinya dari Menma.
"Tolong! Tolong Uni! Penjahat menangkap Uni!" Anak kecil itu masih berteriak memanggil bantuan.
Srek! Gluduk!
Perhatian Menma seketika teralihkan ketika 3 butir batu melayang ke arahnya. Spontan saja Menma berputar sambil memeluk anak kecil itu, sementara tangan kirinya menangkap ke tiga batu itu dengan baik.
Plak!
Setelah berhasil menangkap 3 batu itu, Menma lekas menatap ke arah batu itu datang. Dan tampak lah 4 orang anak laki-laki muncul dari balik reruntuhan bangunan. Sepertinya ke 4 bocah itu bersembunyi di balik reruntuhan agar tidak didapat para prajurit kerajaan Langit. Jika tidak, maka tidak seharusnya 4 bocah itu berada di sini. Sudah seharusnya mereka tertangkap.
"Lepaskan, Uni! Jika kau mau menangkapnya, maka tangkap aku saja!" teriak bocah laki-laki paling besar.
"Ya! Lepaskan, Uni! Kau tangkap kami saja, jangan, Uni!" Bocah di samping bocah yang berteriak tadi ikut menyahut.
"Kakak ...." Anak kecil di pelukan Menma mulai berkaca-kaca, mungkin terharu dengan perkataan dua bocah laki-laki tadi.
Menma menatap anak kecil bernama Uni. Lalu kembali lagi menatap ke depan.
"Sepertinya kalian telah salah paham. Aku bukan penjahat."
"Bohong! Jika kau bukan penjahat, lalu kenapa kau menangkap Adikku?!" Bocah itu membalas keras.
"Menangkap? Aku tidak menangkapnya, tapi dia sendiri yang lari dariku. Padahal aku berniat membantunya." Menma berusaha menjelaskan, tapi tampaknya ke 4 bocah itu tidak mau mempercayainya.
__ADS_1
'Dasar bodoh, mereka hanya anak-anak, apa perlu aku menjelaskan maksud kedatanganku?' Menma melenguh, merasa bodoh sendiri. Seharusnya ia tidak perlu bersikap seperti.
"Baiklah jika kalian tidak percaya. Aku juga tidak membutuhkan kepercayaan kalian." Menma melepaskan Uni dari pelukannya. Membiarkan gadis kecil itu berlari kepada Kakaknya.
"Kakak! Huhuhu, Uni takut ...."
"Uni, tenang lah, kau sudah aman. Kakak pasti akan melindungimu."
Lagi, Menma melenguh menyaksikan drama adik kakak di depannya. Tidak ingin membuang waktu lama-lama, Menma pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju kerajaan.
'Huh, apa aku tampak seperti karakter antagonis bagi mereka?'
γ
# Bersambung
A/N : Cenat-cenut jantung ini, ooo π³
Lou Yue yang mendengar seketika memasang wajah datar, merasa tersindir π
Yos aku bisa update lagi π₯ seneng gak? Harus seneng lah π
Promosi cerita π₯
* Who?
Genre romantis fantasi β
Genre Horor - Trailer β
Pembunuhan di kota β
Pembunuhan di kampung β
Pembunuhan sesama rekan β
Pembunuhan sesama keluarga β
Bermula dari perebutan hak warisan yang berubah menjadi pembunuhan berantai. Kisah 3 orang anak dari pria tua bernama Lentong. Beliau meninggal karena sakit dan meninggalkan harta warisan yang tak sedikit. Lantas ke tiga anak itu berusaha untuk menerima warisan masing-masing, tapi sayangnya anak pertama berambisi untuk mengusai semua harta. Terjadi lah pertengkaran mulut yang besar. Anak ke dua mengatai anak pertama akan mati.
Dan esok harinya, anak pertama ditemukan mati mengenaskan, sesuai dengan ucapan anak ke dua semalam. Semua kaget dan saling tuduh-menuduh bahwa salah satu dari mereka adalah pelaku pembunuhan.
Tidak hanya sampai di situ, korban terus berjatuhan secara acak hampir setiap harinya. Semua ketakutan sebab tidak bisa menebak siapa dalang dari pembunuhan berdarah dingin itu.
Who? Siapa?
Mari tebak siapa pelakunya!
Ada yang minat? Baca cerita trailer - hororΒ (ada gorenya)
Tidak disarankan untuk bawah usia 16+
__ADS_1
A/N : Baru kali ini aku bikin cerita horor - thriller, karena ada event jadi aku coba. π³ mana tahu lulus. Cerita Who update tiap hari π₯ begitu pun dengan Jiwa Pengganti π