
"Katakan padaku apa yang terjadi, Tsakuya!" Zusami menatap tajam pemuda di depannya, sangat ingin tahu apa yang terjadi pada pemuda itu dan gadis berambut perak tadi.
Ini bukan sekadar perasaan dan tebakan Zusami saja, tapi dia rasa apa yang dia pikirkan memanglah kenyataan. Ah ... Tsakuya, perkenalkan dia adalah Raja ke Tiga ras Pheonix, adik Zusami dan Kie Lie. Zusami tidak bisa mengapresiasikan perasaannya saat ini, dia terkejut, senang sekaligus marah.
Tsakuya mengusap hidungnya, dia yakin pembicaraannya dengan Zusami akan sangat panjang mengingat Zusami ialah Kakak yang paling ingin tahu segalanya. Tsakuya menatap Zusami sejenak sambil mencari awalan topik seperti apa yang akan dia gunakan. Tsakuya bukan tipe yang pandai dalam menceritakan sesuatu, terutama soal kejadian sekarang.
"Singkatnya aku bertemu dengannya secara tidak sengaja, saat itu jiwanya terluka parah di dalam dunia roh." Tsakuya mulai menjelaskan. Dia menarik nafas lalu membuangnya lagi. "Aku merasakan sesuatu yang unik dari rohnya, maka dari itu aku membantunya. Dan setelah itu, aku mengetahui semuanya."
Penjelasan yang singkat bukan? Zusami saja yang pintar mengernyit karena belum paham sepenuhnya maksud ucapan Tsakuya. "Dunia roh? Jadi maksudmu dia keluar dari tubuh aslinya?" Zusami menerka, seharusnya apa yang dia katakan memang benar.
Tsakuya terdiam sejenak kemudian mengangguk membuat Zusami tertegun tidak percaya. "Dia hanyalah roh yang menumpang di tubuh orang lain, dan suatu kebetulan meraka memiliki inisial yang sama. Aku rasa aku tidak perlu menjelaskan lebih lanjut, seharusnya kau sudah tahu kondisinya."
"Tidak!" Zusami berdalih. "Aku tidak tahu kalau dia hanya roh yang menumpang. Aku memang bisa melihat takdirnya, tapi aku tidak bisa melihat masa lalunya." Zusami menatap Tsakuya lekat. Sekarang pikirannya jadi kacau, banyak hal aneh dan unik yang belum dia ketahui, terutama tentang Shua Xie yang sekarang.
"Hal itu wajar, kemampuanmu tidak akan berguna pada orang sepertinya. Apa kau lupa dia siapa?" Tsakuya tersenyum tipis, kakinya melangkah mendekati pohon yang kebetulan tidak jauh dari mereka, dengan begitu santai dia menyandarkan punggungnya di pohon itu.
"Jangan lupa, kau hanyalah bawahannya, apa pantas bawahan sepertimu menyelidiki masa lalunya?" Tsakuya menegaskan bahwa Zusami harus mengingat siapa dirinya dan siapa yang sedang dia selidiki. Bermain dengan orang yang salah bukanlah pilihan yang tepat.
Zusami berbalik, berjalan mendekati Tsakuya dengan raut wajah sedikit panik. "Aku tahu aku melampaui batas sebagai bawahan, tapi aku belum sepenuhnya percaya pada manusia. Mereka makhluk yang sangat egois, naif dan serakah ... apa kau ingat kejadian yang menimpa dunia Surgawi? Semua karena manusia."
"Tapi dia manusia yang berbeda, statusnya tidak bisa dianggap biasa." Tsakuya membalas, sorotan matanya menajam karena perkataan Zusami mengganggu suasana hatinya. "Lalu apa kau berpikir hanya manusia makhluk yang egois? Lalu kenapa peperangan besar bisa terjadi? Apa kau bisa menjelaskan padaku bahwa kita dan ras lainnya ialah ras suci dan bersih yang tidak memiliki perasaan nafsu seperti manusia?" Tsakuya tertawa sinis, menghina betapa tingginya harga diri Kakaknya, padahal Kakaknya itu bisa lebih tahu siapa yang paling serakah.
Zusami terdiam lagi, perkataan Tsakuya begitu telak menusuk harga dirinya, terutama ke kukuhannya tentang pandangannya terhadap manusia. Namun meski dia tahu dirinya juga tidak jauh berbeda seperti apa yang dia pikirkan tentang manusia, tetap saja dia masih sulit menerima kenyataan bahwa dia akan menjadi bawahan dari seorang manusia. Mungkin selama ini dia selalu bersikap baik dengan Shua Xie, tapi jangan salah paham, sikap baiknya bukan karena dia sudah terbuka kepada manusia, karena dia tertarik menyelidiki identitas Shua Xie yang tidak biasa.
"Tsakuya! Aku memang tidak menyukai manusia, tapi bukan berarti aku tidak belajar untuk terbuka pada mereka." Sorotan mata lekat dan penuh penekanan itu membuat Tsakuya mendegus sinis. "Aku sudah tahu kalau dia akan menjadi pembinaku. Tapi masih ada satu hal yang begitu aku ingin tahu, siapa sebenarnya gadis itu? Kenapa bisa dia memegang takdir yang begitu besar? Kenapa kita semua harus tunduk padanya? Itulah yang menjadi pertanyaanku. Aku ingin mengetahui semuanya.
Hening!
__ADS_1
Suasana mendadak hening karena mereka berdua tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana itu. Tentang siapa sebenarnya Shua Xie? Jangankan Zusami yang terus mempertanyakannya, Tsakuya pun juga memiliki pertanyaan sama ketika dia menyadari keistimewaan Shua Xie.
"Namun dibandingkan dengan itu, aku lebih penasaran apa yang telah terjadi di antara kalian berdua? Kenapa Shua Xie bisa bertemu denganmu? Dan kenapa dia kembali dengan penampilan yang berbeda."
Ya, mungkin Zusami memang penasaran dengan identitas asli Shua Xie. Tapi sekarang dia lebih penasaran kenapa Shua Xie bisa berakhir dengan Tsakuya, adiknya. Kalian harus tahu, betapa terkejutnya Zusami melihat kemunculan Tsakuya di depan matanya setelah ratusan tahun mereka tidak pernah bertemu. Meski Zusami cukup kesal dengan para saudaranya, tapi dia tidak bisa menutupi perasaannya kalau dia sangat merindukan para saudaranya.
Tsakuya menghela nafas lagi. Pandangannya lurus menatap hutan sepi dan hening. Tsakuya sengaja membawa Zusami cukup jauh dari Shua Xie agar gadis itu lebih leluasa menyelesaikan masalahnya dengan Shua Xie yang satunya.
"Semua berawal dari dunia roh."
***
"Sebenarnya ada apa ini?!" sahut ke dua gadis kembar kebingungan.
"Tunggu dulu, mungkinkah kau Shua Xie anak dari Permaisuri Shu Hua?" Shua Xie menunjuk kembarannya, dia berpikir kenapa bisa ada dua Shua Xie karena Shua Xie yang asli belum sepenuhnya mati, melainkan rohnya terkurung di tempat aneh ini.
"Ya, aku memang anak dari Permaisuri Shu Hua. Kau yang selama ini menyamar menjadi diriku kan?! Aku melihatmu dari tempat ini, aku melihatmu menggunakan tubuhku. Kenapa kau lakukan ini pada?!"
"Kenapa kau merebut tubuhku! Kau tidak seharusnya merebut tubuhku! Aku sudah cukup sabar dengan penyiksaan mereka, apa kalian belum cukup puas melihatku menderita? Kalian memisahkan aku dari Ibuku, dan sekarang kalian memisahkan aku dari tubuhku sendiri?! Kenapa?!"
"Apa yang kau bicarakan! Apa kau berpikir aku sengaja merebut semua milikmu?!" Shua Xie balas membentak, tidak terima dituduhkan gadis kembarannya itu. Sejak kapan coba dia ingin merebut milik orang lain? Dia bukan manusia seserakah itu, lagi pula dia juga tidak pernah berharap akan datang ke dunia ini. Jika bukan karena seseorang yang tidak dia kenal membawanya ke dunia inin mungkin sekarang hidupnya jauh lebih tenang dan aman di dunianya yang sebenarnya. Paling tidak dia tidak akan bermain dengan nyawanya sendiri.
"Ya! Kau merebutnya dariku! Kau merebut Ayahku! Kau merebut semua posisiku!" balas gadis itu tidak kalah keras. Jujur saja dia sangat membenci Shua Xie di hadapannya sekarang, jika saja Shua Xie itu tidak muncul mungkin saja dia tidak akan berakhir di tempat ini. Mungkin saja dia bisa bahagia bersama keluarganya bukan?
Shua Xie melongos disertai dengusan kecil tak percaya. Tidak percaya kembarannya itu justru menuduh dirinya perebutan segala apa yang gadis itu miliki. "Nona kau jangan salah paham. Aku tidak akan bermain kasar denganmu karena aku menghargai masa lalumu dan juga jasa tubuhmu membiarkan aku hidup selama dua tahun ini."
"Jangan munafik! Kalian semua sama saja, kau pasti telah berencana dengan mereka untuk merebut semuanya dariku."
__ADS_1
Shua Xie tertawa kecil, jujur dia tidak suka atas tuduhan ini di mana dia sudah berusaha membuat yang terbaik untuk gadis itu agar diakui semua orang. Tapi sekarang, gadis itu justru salah paham padanya.
"Terserah kau mau mengatakan apa, aku tidak peduli. Tapi perlu kukatakan, kesalah pahamanmu mengingatkan padaku kalau kita sama. Sama-sama manusia yang egois." Shua Xie berbalik berniat mengakhiri semuanya tanpa masalah apapun. Lagi pun dia juga ingin segera kembali, takutnya Zusami dan lainnya mencarinya. Namun ... sesuatu mengejutkan terjadi tanpa Shua Xie sadari.
"Tidak bisa! Kalian harus mengembalikan hidupku padaku! Kalian tidak bisa melakukan ini padaku! Aku tidak pernah berbuat jahat pada kalian!" Gadis itu sudah berlari ke arah Shua Xie dan bahkan sudah memeluknya begitu kuat, tidak rela jika Shua Xie pergi kembali mengambil kehidupannya.
"Apa yang kau lakukan! Lepaskan aku! Aku tidak ingin berbuat kasar padamu!" Shua Xie memberontak di dalam pelukan gadis itu, namun entah kekuatan dari mana gadis itu dapat, Shua Xie merasa kalah tenaga darinya.
"Kembalikan kehidupanku padaku!!"
"Lepaskan aku! Aku tidak ingin berbuat kasar padamu!"
"Tidak akan! Kau harus mengembalikan kehidupanku!"
"Lepaskan! Aku juga sedang berusaha mengembalikan hidup-"
Belum selesai dirinya berbicara, sebuah benda yang terasa tajam dan dingin sudah menusuk punggungnya begitu dalam. Spontan Shua Xie berbalik menatap gadis itu dengan pandangan tak percaya, dia tidak tahu dari mana gadis itu mendapat senjata, tapi yang jelas gadis itu sudah menusuknya begitu dalam. Shua Xie langsung jatuh berlutut, matanya terasa kering, jantungnya berdetak semakin kencang. Darah memang tidak keluar dari lukanya, tapi rasa tusukan itu jauh lebih menyakitkan dari rasa tusukan di dunia nyata.
"Kau? Heh! Aku terlalu baik padamu." Shua Xie tersenyum sinis menatap gadis kembarannya itu. Tubuhnya terbaring tak berdaya, kakinya mulai terasa dingin. Shua Xie tidak menyesal atau pun benci meski yang membuatnya seperti ini adalah gadis itu, paling tidak dia bisa membuat gadis itu mengerti satu hal. Jangan pernah berbuat baik kepada seseorang yang belum pernah dijumpai. Dan Shua Xie mengambil pelajaran dari kejadian ini. Karena untuk pertama kalinya, dia merasakan pengkhianatan besar.
"Ka-kau, kau mengambil kehidupanku! Aku hanya ingin kehidupanku lagi!" jelas gadis itu kaku, antara takut dan kaget melihat tindakan sendiri telah melukai Shua Xie.
Shua Xie tersenyum tipis. "Ya, hiduplah dengan baik ... dan pastikan kita jangan sampai berjumpa di kehidupan mana pun. Karena aku, tidak akan berbaik hati lagi padamu." Setelah berkata demikian, Shua Xie menutup matanya. Perlahan tubuhnya ditelan kegelapan dan akhirnya menghilang.
Sekarang tinggallah gadis dengan berbagai rasa di ruang gelap itu, dia senang bisa mengambil kembali hidupnya, dia senang bisa membalas mereka semua, tapi di sisi lain dia juga takut, terkejut dan sedih telah membunuh Shua Xie. Jangan salahkan dirinya, dia juga tidak punya pilihan lain, jika dia ingin kembali maka dia harus membunuh roh Shua Xie dan mengambil alih kembali tubuhnya.
Gadis itu mengukir senyuman, senyaman yang tidak pernah dia buat selama hidupnya. "Jadi seperti ini rasanya membunuh? Jadi seperti ini rasanya membalas dendam? Menyenangkan sekali."
__ADS_1
___________
A/N : Wihh Shua Xie bunuh Shua Xie, menurut kalian gimana?