Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 140


__ADS_3

Sekte Kunlun salah satu perguruan aliran netral, tidak banyak ikut konflik dengan pihak kerajaan ataupun konflik antar sekte hitam maupun putih. Sekte Kunlun juga cukup terkenal sebagai salah satu sekte besar yang melahirkan banyak Kultivator berbakat terutama mahir dalam ilmu pedang, meski urutan sekte Kunlun berada di posisi ke lima tapi cukup banyak pihak pemerintah maupun perguruan lain mengakui sekte Kunlun.


Sumber daya pelatihan maupun perlengkapan sekte Kunlun juga cukup terbutuhi, biasanya dalam sebulan sekali sekte Kunlun akan membagikan tiga butir pil penambah tenaga dalam kepada seluruh murid.


Kondisi sekte Kunlun juga lumayan bagus, bangunan masih kokoh dan kuat, lahan mereka mereka juga luas, bahkan sekte Kunlun juga memiliki satu air terjun di mana airnya cocok digunakan untuk berlatih.


Saat ini sekte Kunlun dipimpin oleh pria sesepuh bernama Yueliang, seorang tetua berusia hampir tiga ratus tahun, tingkat kultivasinya juga cukup tinggi, satu level lagi pemimpin sekte itu akan memasuki tingkat kultivasi Nirwana.


***


Setelah mengantar murid baru ke asrama mereka masing-masing, Jiang Liang langsung mendatangi kediaman khusus Tetua Besar pengurus sekte Kunlun. Dirinya sudah berjanji pada Shua Xie akan membantunya menanyakan cara lebih cepat menjadi murid dalam, meski pun janji itu tidak membantu secara cepat tapi paling tidak memberitahukan permintaan Shua Xie mungkin bisa dipertimbangkan Tetua Besar.


Kediaman Tetua Besar cukup tersembunyi dan privasi, sehingga tidak banyak murid mengetahui kediaman Tetua Besar di dalam sekte Kunlun. Lagi pun Tetua Besar sengaja menutupi keberadaannya sebab ingin memfokuskan meningkatkan kultivasinya ke tingkat berikutnya.


Bunga persik berguguran tatkala Jiang Liang memasuki satu halaman kecil namun sangat indah dipandang. Taman yang bertanamkan begitu banyak pohon persik itu begitu asri. Suasana halaman itu cukup tenang dan nyaman, ditambah lagi udara cukup sejuk dengan angin semilir yang berhembus dengan lembut.


Jiang Liang terus melangkahkan kakinya menuju satu pondok kecil yang terbuat dari bambu. Bisa Jiang Liang lihat seorang sesepuh yang lebih tua darinya sedang bertapa dengan tenangnya. Ketika Jiang Liang sudah di depan sosok sesepuh itu, dia langsung memberi hormat.


"Tetua Besar, saya datang kemari membawa berita kecil," ungkap Jiang Liang sembari pandangannya itu menunduk.


Pria yang Jiang Liang sebut Tetua Besar masih terdiam, tidak menujukkan respon sedikit pun. Namun beberapa detik kemudian Tetua Besar bernama Yueliang itu berbicara, "Lalu apakah ada hal menarik yang terjadi?"


"Ada Tetua Besar. Seorang gadis muda memiliki bakat bagus, dan sekarang gadis itu sudah masuk sekte Kunlun. Hanya saja gadis muda itu ingin langsung menjadi murid dalam," balas Jiang Liang dengan berhati-hati takut perkataannya menyinggung sosok besar di depannya, karena untuk pertama kalinya dia melaporkan kasus seperti ini.


Yueliang membuka matanya menatap Jiang Liang di hadapannya masih memberi hormat padanya, "Seberbakat apapun dia, sekte Kunlun masih memegang kuat peraturan tidak peduli dia keturunan bangsawan atau tidak." Yueliang menyambut sehelai kelopak bunga persik yang terbang ke arahnya, lalu menatap kelopak bunga itu cukup dalam, "Namun, karena kau mengatakan gadis itu sangat berbakat. Mungkin aku bisa mempertimbangkannya, bawalah dia kemari dan aku akan menguji sendiri seperti apa bahayanya. Jika memang seperti yang kau katakan, aku mungkin bisa menjadikannya murid dalam sekaligus muridku." Lanjut Yueliang.


Jiang Liang segera mengangkat pandangannya, sembari wajahnya itu berekspresi cukup terkejut. Tidak Jiang Liang sangka Yueliang juga tertarik dengan gadis itu, bahkan berniat menjadikan muridnya secara langsung jika memang gadis itu seberbakat yang Jiang Liang katakan. Jika seperti ini, Jiang Liang juga cukup merasa bangga seseorang yang dia rekomendasikan bisa menjadi murid Tetua Besar, bukankah membanggakan dirinya selaku perekomendasi? Ditambah lagi selama ini Yueliang hanya memiliki satu murid, jika gadis itu bisa menjadi murid ke dua kedudukan gadis itu akan cukup dipandang di sekte Kunlun.

__ADS_1


"Tetua Besar, gadis itu memiliki kecepatan dan kekuatan fisik cukup baik, bahkan saat pertarungan gadis itu tidak mengeluarkan satu pun jurus tapi dia bisa menang. Aku yakin gadis itu cukup berbakat dan memang pantas menjadi murid Tetua Besar," balas Jiang Liang sedikit antusias.


Yueliang menutup telapak tangan kanannya dengan tangan kirinya, beberapa detik kemudian Yueliang mengangkat kembali telapak tangan kirinya dan terlihatlah kelopak bunga persik yang sebelumnya utuh sudah terbelah beberapa bagian.


"Berbakat tidaknya seseorang juga dipandang dari sikapnya, sikap juga bisa menjadi penentu bagaimana akhir dari sang pembela diri itu." Yueliang memberikan kata kiasan.


Jiang Liang menunduk kembali, dia mengerti maksud dari Yueliang. Yueliang hanya mengingatkan percuma berbakat jika tidak memiliki moral yang baik, jika mengungkit soal moral, Jiang Liang tidak bisa mengatakan moral gadis itu cukup baik mengingat ketika pertarungan terjadi gadis itu sedikit merendahkan lawan.


Tapi Jiang Liang yakin, jika dibawa bimbingan Yueliang pasti sikap gadis itu bisa berubah menjadi lebih baik lagi.


"Dibawa bimbingan Tetua Besar, gadis itu pasti akan berubah menjadi lebih baik," balas Jiang Liang pelan, "Selain itu, Daratan Alam Abadi tidak lama lagi akan terbuka tinggal menunggu hari saja. Aku yakin, gadis itu bisa lebih berkembang jika dia ikut bersama murid pilihan lainnya." Tambah Jiang Liang lagi.


Sesuatu jika semakin dipoles dan diperbaiki pasti akan semakin baik, begitulah pepatah mengatakan. Gadis itu memang memiliki perangai sedikit kurang sopan, tapi jika telah mengenal kejam baiknya dunia, Jiang Liang yakin sikap gadis itu perlahan akan berubah. Seperti Jiang Liang sendiri, dulu dia memiliki sikap kurang baik sampai akhirnya gurunya mengajarkannya menjadi lebih baik, bukankah dengan begitu gadis itu juga memiliki kesempatan berubah karena bimbingan seseorang?


Tapi semua tergantung dalam seseorang itu mengajarkannya.


"Daratan Alam Abadi bukanlah daratan sembarangan. Mengirim murid baru juga bukan pilihan baik, di sana terlalu bahaya untuk murid baru sepertinya. Ingat, sudah banyak manusia mati di sana, dan kita mengirim murid ke sana bukan buat mati secara sia-sia. Kita mengirim mereka untuk menjadikan mereka lebih baik dalam hal sikap dan kekuatan," balas Yueliang.


Karena merasa bersalah, Jiang Liang kembali memberi hormat, "Maafkan aku Tetua Besar, aku terlalu antusias dengan gadis muda itu mendengar Tetua Besar bisa menjadikannya murid pribadi Tetua Besar."  Baru saja Jiang Liang merasa senang sekarang dia merasa malu, dihadapan Tetua Besar dia melihatkan sifat naifnya. Terlalu berharap tinggi kepada manusia dari pada diri sendiri.


Yueliang memaklumi sikap Jiang Liang mengingat perangai pria itu memang terlalu antusias kepada sesuatu yang menarik perhatiannya. Lagi pun Yueliang tahu, jika Jiang Liang tertarik pada sesuatu berarti sesuatu itu memang bagus seperti yang dikatakannya.


"Semua kembali kepada gadis yang kau maksud, jika memang dia memiliki potensi bagus mungkin memang takdirnya untuk ikut ke Daratan Alam Abadi." Yueliang tidak ingin mematahkan semangat Jiang Liang, sebab itu dia tidak secara langsung mengatakan tidak pada ungkapan Jiang Liang.


"Tetua benar. Jika begitu kabar ini akan aku sampaikan kepada gadis itu."


***

__ADS_1


Setengah hari berlalu cukup cepat, Shua Xie masih menunggu kabar dari Tetua Jiang Liang. Melihat Tetua Jiang Liang cukup lama belum memberinya kabar, Shua Xie bisa menduga, permintaannya itu pasti akan sangat sulit diterima, jika pun ada yang menerima belum tentu Tetua lainnya akan setuju. Pastinya terjadi sedikit perdebatan antara Tetua.


'Mungkinkah permintaanku terlalu cepat?' Shua Xie menghela nafas pelan sembari berpikir memang permintaannya ini sedikit berlebihan. Shua Xie hanya murid baru masuk, meminta menjadi murid dalam langsung tentu terlalu berlebihan, mau seberbakat apapun Shua Xie tetap saja harus mengikuti prosedur yang ada.


'Jika memang tidak bisa, aku tidak bisa memaksa. Dengan begitu perjalananku ke benua timur juga bisa dipercepat. Tapi, aku cukup penasaran dengan Daratan Alam Abadi, seperti apa tempat itu.' Shua Xie beranjak dari kasur yang dia duduki, berjalan menuju pintu.


Berdiam diri cukup lama di kediamannya juga membuat Shua Xie bosan, mendengar penjelasan Jiang Liang mengenai sekte Kunlun membuat Shua Xie sedikit tertarik ingin berkeliling sekte ini. Setidaknya dia bisa mengenal sekte Kunlun lebih dekat sebelum dia pergi nantinya.


Ketika Shua Xie membuka pintu, dia dikejutkan dengan munculnya seorang gadis di bawa usianya. Gadis berbaju yang terbuat dari kulit sisik berwarna hitam dengan satu pedang besar bertengger di bahunya. Gadis setinggi sebahu Shua Xie itu tersenyum lebar, sangat lebar kepada Shua Xie.


"Halo! Aku Xingxing, teman asramamu." Gadis itu memperkenalkan dirinya dengan nada begitu ceria seolah dia dan Shua Xie sudah begitu akrab.


Shua Xie terdiam untuk sejenak, mengingat kembali bahwa Jiang Liang pernah mengatakan padanya dia memiliki teman satu asrama dan datang cukup terlambat sebab murid yang satu itu keluarga dari bangsawan, lebih tepatnya Putri dari Kaisar Wexin.


Kaisar Wexin pemimpin dari negara Angin. Negara Angin dibagi menjadi beberapa bagian, termasuk kota Awan Merah bagian dari negara Angin meskipun kota Awan Merah bukan kota besar. Ibu kota negara Angin bernama Haiyang di mana kekaisaran Feng bertempat. Jiang Liang juga mengatakan teman satu kediamannya anak dari Kaisar Wexin pemimpin negara Angin. Meskipun ini akan sangat menyulitkan tapi Shua Xie juga tidak ada hak menolak aturan yang ada.


Shua Xie membalas senyuman Xingxing dengan senyuman sedikit kaku, entah lupa cara senyum atau bagaimana, melihat Xingxing merupakan sosok yang ceria muncul firasat buruk di benak Shua Xie, "Halo juga Putri Xinxing, aku Shua Xie," balas Shua Xie sedikit canggung sembari memberi hormat. Meskipun kedudukan Shua Xie dan Xingxing sama-sama Putri, tapi di dunia Bawah status Shua Xie bukanlah apa-apa.


Xingxing menyetuh tangan Shua Xie lalu menariknya keluar, "Kau jangan panggil aku dengan sebutan Putri, panggil saja aku Xingxing."


Mendengar balas Xingxing, Shua Xie sedikit terkejut, 'Bagaimana mungkin aku memanggil anak dari Kaisar pemimpin negara ini dengan nama saja. Bukankah sama aku mencari masalah?' ujar Shua Xie dalam hati, merasa semakin cemas dengan sifat cukup terbukanya gadis kecil itu, 'Firasat ini sepertinya sangat familiar.'


Melihat Shua Xie tidak berbicara apapun lagi, Xingxing paham dan kembali berbicara, "Tidak perlu cemas, statusku tidak berarti di mataku. Bagiku kekuatanlah yang pantas dipandang," jelas Xinxing seraya mengepalkan tangannya kuat.


Cukup melihat sikap Xinxing, Shua Xie bisa menebak gadis itu menginginkan kekuatan daripada kedudukan, dari ucapannya saja semua orang bisa mencerna maknanya, gadis kecil berstatus Putri itu lebih memilih dipandang karena kuat daripada dipandang status. Pasti ada sebab yang membuat gadis kecil itu bersikap demikian.


'Jadi dia datang ke sekte Kunlun hanya ingin menjadi kuat?' Tebak Shua Xie dalam hatinya.

__ADS_1


____________


A/N : Hem roman-roman kawan baru 😨


__ADS_2