
Shua Xie meringis pelan saat merasakan kepalanya begitu sakit, tapi tangannya tidak bisa merabah kepalanya sebab ke dua tangannya tidak bisa digerakkan seolah ke dua tangannya kaku. Begitu pun dengan ke dua kakinya juga tidak bisa digerakkan.
Shua Xie menoleh ke kiri dan ke kanan, dilihatnya bangunan kamar begitu elegan namun tidak terlalu mencolok. Shua Xie terdiam saat merasakan dirinya berada di tempat asing. Ingin dia pergi meninggalkan kamar itu namun kaki dan tangannya tidak bisa digerakkan.
Shua Xie mulai mengingat kembali kejadian-kejadian, seharusnya dia ada di kediaman klan Mo dan bertarung melawan 3 Kultivator elit. Tapi yang terakhir Shua Xie ingat hanyalah saat dia terus terpukul mundur melawan 3 Kultivator elit itu, setelah itu Shua Xie tidak mengingat apapun.
"Ini aku ada di kamar siapa? Siapa yang membawaku ke tempat ini?" gumam Shua Xie pelan.
"Nona kau sudah sadar?"
Tiba-tiba dari arah pintu datang seorang pria paruh baya terlihat berumur 60 tahunan, namun aslinya dialah pria paling tua di kota ini. Pria paruh baya itu berjalan mendekati Shua Xie sambil membawa mangkuk kecil berwarna putih.
Shua Xie melirik ke arah pria itu, "Siapa kau? Kenapa aku bisa di sini? Apa kau yang membawaku ke mari? Apa yang kau inginkan dariku?" Berbagai macam pertanyaan Shua Xie lontarkan pada pria paruh baya itu, sampai membuat pria paruh baya berhenti sejenak kemudian tertawa kecil.
Pria itu melanjutkan mendekati Shua Xie kemudian meletakkan mangkuk kecil di meja yang tak jauh dari kasur Shua Xie. Shua Xie masih setia menatap tajam penuh kewaspadaan. Sebab Shua Xie tidak kenal pria itu makanya dia bersikap kasar dan curigaan.
"Padahal Nona sedang terluka parah, tapi mulut Nona masih sanggup bertanya sebanyak itu," ujar pria paruh baya itu sambil menatap Shua Xie tersenyum lembut.
"Kau! Jawab saja pertanyaanku!" balas Shua Xie sedikit kesal.
__ADS_1
"Baiklah aku jawab. Harusnya kau sopan sedikit pada orang tua. Dasar anak muda jaman sekarang." Terdengar pria paruh baya itu mengeluh sebelum dia melanjutkan lagi ucapannya.
"Seminggu lalu aku melihatmu pingsan di kediaman klan Mo. Aku sempat melihatmu bertarung melawan orang-orang kediaman klan Mo, dan ternyata kau sanggup membantai mereka semua. Aku takjub melihat kekuatanmu, tapi asal kau tahu kekuatanmu itu, membuatmu dianggap sebagai buronan kota ini."
"Aku tidak tega melihatmu terluka karena itulah aku membawamu ke sini. Karena kau juga mirip dengan cucuku, jadi aku menolongku," jawab pria itu lembut.
Shua Xie terdiam mendengar jawabannya, dia tidak menyangka pria tua itu yang menolong dirinya. Shua Xie berpikir dia sudah tertangkap klan Mo maka dari itu dia jadi waspada dan kasar.
Tapi saat mendengar jawaban orang tua itu, Shua Xie juga sempat terkejut. Apalagi saat pria tua itu mengatakan dirinya telah membantai habis klan Mo dan sekarang menjadi ancaman kota Kekai. Shua Xie tidak ingat akan hal itu, bahkan dia tidak sadar kalau dirinya sudah membunuh begitu banyak orang-orang klan Mo.
Shua Xie tidak ingin bertanya tentang kenapa dirinya bisa lupa bahwa dia sudah membantai klan Mo. Tapi yang pasti dia bisa menebak kalau penyakit jiwanya pasti kambuh. Shua Xie tidak menduga bahwa penyakitnya itu akan terbawa sampai ke dunia ini, padahal dia sudah mati di dunia pertamanya seharusnya semua penyakit bahkan harta bendanya tertinggal di sana, kecuali ingatannya dan wataknya.
Pria paruh baya itu dapat mendengar helaan nafas Shua Xie, dia pun melihat ke arah Shua Xie.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu, Nona? Sebaiknya kau jangan banyak berpikir, demi kepulihan kaki dan tanganmu," ungkap pria itu.
"Aku mengerti, aku juga pernah jadi dokter kecil walau ilmu tidak seberapa. Tapi, terima kasih telah menolongku, maaf juga aku telah berprasangka buruk pada anda. Aku pikir anda adalah orang dari klan Mo, maka dari itu aku waspada dan kasar," balas Shua Xie pelan, pandangannya tertuju pada pria tua itu.
"Aku cukup terkejut mendengarnya, aku pikir anak jaman sekarang tidak tahu terimakasih dan minta maaf."
__ADS_1
Shua Xie sedikit terkejut, "Eh, itu? Em, aku tidak lupa. Maka dari itu aku minta maaf dan berterimakasih."
Pria tua itu tertawa kecil melihat ekspresi Shua Xie, "Hahaha ... aku tahu. Sekarang minumlah ini agar kaki dan tanganmu bisa sembuh kembali." Pria itu memberikan mangkuk kecil yang sebelumnya dia taruh di meja. Pria itu membantu Shua Xie minum secara perlahan dan setelah Shua Xie meminumnya, dia meletakkan kembali mangkuk kecil itu ke meja.
Shua Xie merasa terkejut satelah dia minum air obat itu, khasiat air obat itu benar-benar mujarab. Dalam hitungan detik saja kaki dan tangannya bisa digerakkannya kembali seperti biasa. Shua Xie menatap takjub tangan dan kakinya, sambil beberapa kali Shua Xie mencoba menggerakkan kaki dan tangannya agar tidak terasa kaku.
"I-ini, obat apa itu? Kenapa lukaku bisa sembuh dalam sekejap?" tanya Shua Xie sambil menatap pria itu.
Pria tua itu tersenyum lembut, "Itu adalah ramuan yang baru saja aku racik. Setelah seminggu lebih aku memeriksa keadaanmu dan memastikannya barulah aku membuat obatnya. Tidak aku sangka kau akan sadar hari ini, pemulihanmu lumayan cepat juga."
Memang seminggu ini pria tua itu berusaha memeriksa luka dan penyakit Shua Xie, namun saat dia memeriksa kaki dan tangan Shua Xie, dia cukup terkejut pasalnya luka yang diderita Shua Xie bukanlah luka biasa. Bahkan dia saja sangat kesulitan menemukan obat yang cocok untuk Shua Xie, namun berkat kecerdasannya dia bisa menemukan obat yang cocok untuk Shua Xie walau memakan waktu lumayan lama.
Dari pengalaman itu juga dia mendapat sedikit pencerahan, selama ini dia menjadi alkemis sekaligus tabib, dia tidak pernah mendapat kesulitan saat seperti dia menyembuhkan Shua Xie, biasanya dia bisa menyebutkan penyakit atau luka apapun dalam waktu cepat. Tapi setelah mengetahui ada yang aneh dengan tubuh Shua Xie, dia pun berusaha meneliti jelas tubuh Shua Xie dan penyebab kenapa kaki dan tangan Shua Xie terluka parah.
Akhirnya setelah dia mendapat jawabannya, dia pun membuat ramuan untuk Shua Xie. Setelah Shua Xie sadar nanti dia akan memberikan ramuan itu padanya.
"Bisa membuat obat semujarab itu, siapa sebenarnya anda? Atau jangan-jangan anda ...." Shua Xie diam tidak melanjutkan ucapannya sebab dia tidak yakin akan tebakannya.
"Nona kecil bisa memanggilku Feng Xian."
__ADS_1