Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 34


__ADS_3

Hai para pembaca, tolong ya beri like nya ^-^


__________________________________


Setelah sesi pertama selesai, peserta sebelumnya seratus lebih kini menjadi lima puluh, banyak dari mereka tidak bisa memberi warna pada kubus putih, membuat mereka kalah dalam sesi pertama. Adapun yang terpilih rata-rata hanya bisa memberi warna biru, di atas dari warna itu bisa dihitung dengan sepuluh jari.


Setelah sesi pertama selesai, mereka yang dinyatakan lulus digiring pergi menuju arena petarung, tempat di mana pertandingan sesungguhnya dinantikan. Tapi sebelum itu, mereka harus menandatangani surat perjanjian, dinyatakan di surut itu bahwa selesai acara ini tidak ada dendam atau benci pada pihak penyelenggara maupun pihak peserta.


Selesai mendantangani surat perjanjian itu, mereka pun digiring ke arena. Dari lapangan arena mereka bisa melihat begitu banyak penonton duduk di kursi stadion sambil berteriak histeris. Tidak tahu apa yang mereka katakan, karena suara-suara mereka bercampur aduk menjadi satu.


Semua peserta bebas berdiri di mana pun asal tidak keluar dari arena stadion, atau pun masuk ke dalam arena pertandingan. Mereka semua terpencar mencari tempat yang sesuai menurut mereka masing-masing. Xiao Mei sendiri, dia mencari tempat seorang diri, di mana dia bisa menonton pertandingan dan bisa menenangkan dirinya dari keramaian peserta.


Xiao Mei menatap Shua Xie nun di sana, tepatnya di kursi tamu khusus. Entah bagaimana caranya Shua Xie bisa duduk di sana, Xiao Mei terpukau karena Shua Xie memiliki banyak koneksi membuat dirinya selalu berada di tempat tinggi.


"Haih, Kak Shua memang banyak menyimpan rahasia. Aku ingin sekali menjadi seperti dia," gumam Xiao Mei pelan sambil menunduk.


Di atas arena pertandingan ada seorang pria paruh baya dan pembawa acara, salah satu dari mereka berseru semangat membuka pertandingan. Sampai tiba seorang pria dari langit, hal itu mengejutkan mereka semua karena dia adalah pemimpin kota Brotavia.


Xiao Mei menutup pendengarannya, dia lebih memilih memperhatikan satu persatu lawannya ketimbang melihat pemimpin kota yang tidak ada urusan dengannya. Xiao Mei menatap Sao Yun, lalu pria di samping Soa Yun, mereka berdua tidak jauh hebat dari Xiao Mei. Beberapa waktu yang lalu Shua Xie sempat mengingatkan padanya untuk berhati-hati jika bertemu salah satu dari dua orang itu, Shua Xie mengatakan mereka jauh lebih hebat darinya, hanya saja mereka belum memperlihatkan kekuatan aslinya.


Lalu beralih pandangan Xiao Mei pada seorang pria berbaju hijau, dia memikul pedang yang lumayan besar di punggungnya. Waktu ujian sesi pertama dia mendapatkan warna merah yang sama seperti Ye Guan Yu dan Xiao Mei, hal itu juga perlu Xiao Mei perhatikan. Pada babak ke dua ini, musuh lumayan kuat tidak boleh diremehkan, apalagi rata-rata tubuh mereka lebih besar dari Xiao Mei.


Tapi satu hal yang paling Shua Xie ingatkan padanya, untuk jangan bertarung menggunakan kekuatan spirit terlebih dahulu, maksudnya Shua Xie ingin Xiao Mei menggunakan pedangnya, setelah bertemu Ye Guan Yu barulah dia boleh menggunakan kekuatan spirit esnya. Adapun jika saat mendesak sekali, Xiao Mei juga boleh menggunakannya. Dan juga topeng yang dia gunakan jangan sampai hancur atau terlepas dari wajahnya, akan bahaya baginya jika Ye Linghui melihat Xiao Mei ada di arena nanti.


Xiao Mei memalingkan pandangannya ke kanan, tampak 2 orang pria sedang berjalan ke arahnya. Sebelumnya 2 orang itu pernah mengatainya sewaktu Xiao Mei naik ke atas panggung pada sesi pertama.


Salah satu dari mereka menunjuk Xiao Mei, "Hei orang aneh, kenapa kau tidak melepas topengmu saja? Apakah wajahmu sangat buruk?"


"Benar! Aku lihat kau mendapat warna merah, tidak jauh lebih lemah dari kami berdua ya. Kau itu pria atau wanita, memakai jubah dan topeng, apa kau monster?" timpal satu lagi dari mereka, pemuda itu menarik jubah Xiao Mei hendak membukanya.


Jubah yang Xiao Mei gunakan terlepas dari tubuhnya. Terlihat baju biru dan putih polos yang mempelihatkan kaki jenjang Xiao Mei, ada lilitan perban dari ujung kaki kanan sampai pahanya, sedangkan kaki kirinya tidak tertutup apa-apa. Lalu rambut berwarna putih tergerai hingga pinggang rampingnya. Ada juga pedang bersarung giok biru melekat di pinggangnya.


Ke dua pemuda itu tergelak kaget, "Dia wanita, tubuhnya bagus sekali."


Ke dua mata Xiao Mei membulat sempurna saat jubah yang dikenakannya terlepas, tanpa memperdulikan sekitarnya dia langsung menendang kuat perut pemuda yang memegang jubah. Pemuda itu terpental jauh ke belakang, sedangkan temanya yang satunya terdiam bak patung di tempat dia berdiri. Xiao Mei berjalan melewati teman pemuda itu tanpa mempedulikan ekspresi terkejut dari orang itu.


"Kalau kita bertemu di arena nanti, aku pastikan kau akan mati," ujar Xiao Mei tajam, tangannya mengambil jubahnya dari tangan pemuda yang memegangnya. Pemuda itu terbatuk sambil memegang perutnya, sekali lagi dia tidak menyangka gadis bertopeng itu memiliki kekuatan fisik yang kuat.


***


"Darling ...."


Shua Xie terdiam di kursinya tanpa menoleh ke arah suara yang berbisik di telinganya, benar-benar menjijikan mendengar kata-kata seperti itu di saat suasana seperti ini. Untunglah tidak ada yang mendengarnya selain Shua Xie dan pria itu.

__ADS_1


Di samping Shua Xie, Gong Chen menatap Shua Xie takjub, mungkin karena dia pikir Shua Xie dan pemimpin kota memiliki hubungan yang sangat dekat, sampai-sampai pemimpin kota ingin duduk di sampingnya.


"Apa Nona mengenal pemimpin kota Brotavia?" tanya Gong Chen sedikit berbisik. Beralih pandangan Shua Xie padanya setelah mendengar ucapannya.


"Mungkin," jawab Shua Xie singkat.


"Hebat, Nona ternyata bisa mengenal orang-orang penting sepertinya. Nona pasti tahu, dia adalah Master hebat, namanya sudah hampir terkenal di seluruh daratan."


"Menurutku biasa saja, tidak ada yang perlu dikagetkan." Shua Xie masih membalas dengan nada datar, mungkin karena dia tidak terlalu ingat dengan wajah pemimpin kota Brotavia. Tapi wajahnya itu mengingatkan Shua Xie pada seseorang.


Shua Xie kembali fokus menatap ke depan, tapi pikiran berkecamuk di kepalanya. Ucapan yang dikatakan pemimpin kota itu, sangat membuat Shua Xie kaget.


'Ini aneh, dia paham bahasa Jepang. Apa dia juga dari masa depan, dia juga mengenaliku, apa aku juga mengenalnya?' tukas Shua Xie dalam hatinya.


'Aku memakai topeng saja dia tahu, apa dia tahu aku juga memiliki niat buruk pada keluarga Ye? Ingin bahaya, bagaimana jika dia membantu keluarga Ye.'


Benar juga, jika pemimpin kota membantu keluarga Ye maka kemungkinan 0% Shua Xie tidak akan bisa membebaskan keluarga Xiao, mengingat pemimpin kota berada di tahap yang sangat jauh berbeda dengannya. Tentu saja sekali pukul, Shua Xie akan mati rasa karenanya.


Shua Xie melirik ke sampingnya, tepatnya dia melirik pemimpin kota yang sedang mantap ke arah arena. Shua Xie jadi gusar ingin bertanya, tahu-tahu pemimpin kota itu nanti akan langsung menyerang mendadak sebab mengatahui niat buruknya.


Shua Xie menarik nafas sedalam mungkin lalu menghembuskannya, "Maaf, apa anda mengenal saya?" Terdengar suara datar Shua Xie dari balik topengnya, pemimpin kota itu spontan menoleh ke arahnya.


"Kau tidak ingat padaku?" Pemimpin kota itu justru bertanya balik, tampak ekspresinya itu membuat Shua Xie serba salah.


"Cepat sekali kau melupakanku, padahal kita baru berpisah beberapa minggu. Aku Lou Yue, apa karena penampilan asliku ini kau jadi tidak kenal padaku?" ungkapnya sedikit pelan, tampak raut wajah sedih yang dibuat-buat di wajahnya.


"Eh? Lou Yue?" tukas Shua Xie karena terkejut, matanya membulat sempurna. Dari atas sampai bawah Shua Xie menatap Lou Yue, pantas saja wajahnya tidak asing di mata Shua Xie. Yang membedakannya ialah warna rambutnya yang berwarna putih, tidak hitam seperti pertama kali Shua Xie bertemu dengannya. Dan juga bola mata berwarna biru itu, sangat cantik dari warna mata sebelumnya.


"Kenapa? Kau terkejut ya melihat penampilan asliku. Sebelumnya, aku menyamar untuk bisa dekat denganmu, setelah aku tahu sifat aslimu. Aku rasa tidak masalah jika aku memperlihatkan penampilan asliku, ini lebih meringankan bebanku."


"********! Berani sekali kau memanggilku Darling. Kau adalah anak Lou Zho, jadi jangan bertindak sok akrab denganku! Kita itu musuh!"


Lou Yue terkekeh pelan, tangannya menjentik topeng Shua Xie hingga topeng itu terbelah dua. Tampaklah sorotan mata marah Shua Xie sedang menatap Lou Yue tajam. Jari telunjuk Lou Yue menyentuh dahi Shua Xie, tatapan mereka berdua saling beradu.


"Aku tahu gerak-gerikmu, jangan asal melalukan apapun tanpa persiapan yang matang sekali. Jika ingin membunuh, pastikan kau cukup mampu membunuh semuanya."


***


Acara pertandingan mulai berlangsung, satu persatu peserta dipanggil naik ke atas arena sesuai urutan undian nomer yang sudah ditentukan. Waktu terus berlalu, sedikit demi sedikit peserta mulai berkurang karena tersingkirkan.


Di papan peringkat juga sudah sampai di babak 10 besar, tersisa 10 Kultivator muda hebat yang masih bertahan. Sejauh ini Soa Yun dan Kimiki yang paling tenar, karena mereka berdua masih belum mengeluarkan kekuatan spirit mereka, bahkan mereka menggunakan tangan kosong saat bertarung. Tapi belum ada satu peserta mampu melukai mereka. Para petinggi hampir mengira kalau mereka berdua itu ialah master tua yang menyamar manjadi anak muda. Sangat jarang ada anak seusia mereka memiliki kekuatan sehebat itu.


Sedangkan Xiao Mei, dia juga lumayan diakui sebab dia juga belum mengeluarkan kekuatan spiritnya. Sejauh ini dia hanya menggunakan kekuatan pedang yang dia miliki.

__ADS_1


Lalu ada 7 orang yang tidak jauh hebat dari mereka bertiga, di antara salah satunya ada Ye Guan Yu yang sudah mulai terkuras tenaganya. Dari awal dia terlalu meremehkan saingannya, akibatnya dia sendiri yang kewalahan.


"Babak selanjutnya, Taichi melawan Soa Yun!" seru pembawa acara penuh semangat, semakin histerislah para penonton di bangku mereka. Sebagian dari mereka meneriaki nama Soa Yun, dan sebagiannya lagi nama Taichi.


Mereka berdua naik ke atas arena bersamaan dari sisi arena yang berbeda. Taichi seorang gadis seumuran seperti Ye Guan Yu, dia adalah gadis dari desa yang tidak jauh dari kota Brotavia. Alasannya mengikuti pertandingan sedikit berbeda, dia hanya ingin hadiah uang dari perlombaan ini.


Setelah mereka berdua berdiri di arena, formasi perlindung di sekitar arena mulai terpasang, gunanya saat mereka bertarung serangab mereka tidak melukai orang luar, seperti para penonton atau peserta lainnya.


"Pertandingan dimulai!" seru wasit.


Taichi mengeluarkan tombaknya, aliran energi spirit gelap mulai memenuhi tombak miliknya. Tampak sekali dia sangat serius, mungkin karena dia tahu lawannya yang sekarang bukanlah lawan yang pantas diremehkan.


"Menyerahlah, kau bukan lawanku," ujar Sao Yun tanpa ekspresi. Membulat mata Taichi mendengar ucapannya.


"Enak saja! Apa kau pikir aku ini lemah!" teriak Taichi.


"Kau memang lemah, kau tidak pantas menjadi lawanku. Bahkan semua orang di arena ini tidak ada yang bisa mengalahkanku."


Mengerat rahang Taichi ketika Sao Yun mengatakan dia lemah bahkan tidak pantas. Di sisi panggung, Xiao Mei terkejut mendengar ucapan Soa Yun, tidak hanya dia, semua yang menonton pun terkejut. Soa Yun ini terlalu meremehkan peserta lainnya, begitulah ucapan dari mulut para petinggi.


Tanpa berbasa-basi lagi, Taichi langsung melompat menyerang Sao Yun dengan tombaknya. Tombaknya itu menancap di tanah tatkala Sao Yun menghindari serangannya, area pijakan pun menjadi retak. Taichi semakin kesal, dia terus menyerang Sao Yun sangat cepat, bahkan pergerakan mereka berdua itu terlihat seperti kilat yang bergerak tak menentu arah.


"Sialan! Jangan menghindar terus! Kau pengecut Sao Yun!" teriak Taichi kesal.


.


.


.


.


.


.


.


**Bersambung


Terimakasih atas dukungannya sejauh ini, besok kemungkinan author gak up dulu ^-^


sampai bertemu di bab berikutnya** ....

__ADS_1


__ADS_2