
"Jadi dia terkena penyakit nadi dingin?" Zusami menatap Tsakuya terkejut. Tentu saja dia terkejut mengetahui Shua Xie memiliki penyakit nadi dingin, penyakit yang sangat sulit disembuhkan. Tapi sekarang ada Tsakuya, seharusnya pemuda itu bisa membantu Shua Xie sembuh dari penyakitnya.
"Ya, seperti itulah. Tapi dia tidak ingin aku membantunya menghilangkan penyakit nadi dinginnya," balas Tsakuya datar. Dia jadi mengingat bagaimana kerasnya Shua Xie menolak disembuhkan olehnya, padahal Tsakuya tidak pernah berniat mengambil keuntungan darinya, Tsakuya justru berbaik hati menawarkan dirinya.
"Kenapa?" sahut Zusami panik lagi. Tsakuya tersenyum miring, tidak menyangka Kakak ke duanya terlalu polos menanggapi penyakit nadi dingin.
"Tubuh barunya sangat bagus, bahkan mengalahkan tubuh terbaik yang ada di dunia. Karena tubuh barunya juga dia mendapat penyakit nadi dingin, roh dan tubuhnya masih belum beradaptasi satu sama lain." Sejenak Tsakuya berhenti. "Dia sendiri tahu penyakit dingin tidak bisa disembuhkan seorang diri, dia membutuhkan seseorang yang memiliki keunikan sama sepertinya. Dan untuk saat ini, hanya aku yang bisa menyembuhkan penyakitnya. Tapi dia tahu konsekuensinya akan merugikannya."
"Jadi apa maksudmu penyakit nadi dingin hanya bisa disembuhkan dengan bersetubuh sesama pemilik tubuh unik?" Tebak Zusami setelah dia mencermati perkataan Tsakuya. Tsakuya tersenyum miring lagi dan Zusami tahu arti dari senyuman itu kalau tebakannya benar.
"Jangan sesekali pun kau berani menyentuhnya, Tsakuya! Meski pun dia sedang sakit kau tidak boleh memanfaatkan dirinya!" Tahu-tahu Zusami langsung menarik kerah baju Tsakuya. Geram karena tebakannya benar. Dia tidak mungkin membiarkan Shua Xie disentuh pria mana pun, tidak akan pernah!
Tsakuya tersenyum melihat sikap Zusami. Alisnya naik sebelah. "Apa kau cemburu karena hanya aku yang bisa menyembuhkannya?"
"Omong kosong macam apa itu!" Zusami mendorong Tsakuya, kesal mendengar ucapan Adiknya barusan. "Aku tidak cemburu, tapi aku tidak rela jika dia disetubuhi olehmu. Dia sudah ku anggap sebagai Adikku, seharusnya kau juga menanggapnya sebagai Adikmu. Tidak mungkin seorang Kakak meniduri Adiknya sendiri," jelas Zusami tegas sambil membuang pandangan ke sisi lain.
"Tapi jika penyakitnya dibiarkan dia tidak akan bisa bertahan lama, dia memang kuat tapi penyakit nadi dingin ... kau sendiri tahu seberapa kejamnya penyakit itu. Setiap lima jam sekali penyakit itu akan kambuh, dia tidak akan sanggup menahan penyakit itu selama bertahun-tahun. Jika tidak segera disembuhkan, dia akan mati karena penyakitnya sendiri."
"Tapi kau juga tidak bisa melakukan hal itu padanya!" sahut Zusami keras. Masih tidak setuju Tsakuya melakukan itu pada Shua Xie. "Pasti ada cara lain menyembuhkannya! Kau pasti tahu cara menyembuhkannya, bukan!?"
Melihat kemarahan Zusami, tidak salah lagi Zusami sangat melindungi Shua Xie, Tsakuya bisa merasakan kecemasan Kakaknya itu sangatlah dalam. Terlebih lagi bagaimana Zusami menegaskan padanya untuk tidak menyetuh Shua Xie apapun yang terjadi, bukankah sudah jelas Zusami sangat peduli pada Shua Xie lebih dari siapapun? Bahkan Zusami sendiri tidak pernah sekhawatir ini pada saudaranya yang lain. Padahal baru beberapa waktu yang lalu dia mengatakan kebenciannya terhadap manusia.
Tsakuya menghela nafas pelan. "Ada cara lain-"
"Cara apa?! Katakan padaku!!" Belum selesai Tsakuya berbicara Zusami sudah memotongnya. Bahkan tanpa sadar dia menarik kerah baju Tsakuya lagi. Tsakuya segera menepis tangan Kakaknya itu dari bajunya, dia tidak akan rela disentuh dua kali dengan cara yang sama.
"Kau bahkan tidak membiarkanku selesai berbicara, diam dan dengarkan. Aku tidak akan menjelaskannya dua kali," balas Tsakuya datar. Zusami langsung menuruti perkataan Tsakuya, dia benar-benar diam menunggu penjelasan dari Tsakuya. Tsakuya mendelik melihat sikap Zusami, karena untuk pertama kalinya dia melihat Zusami bersikap patuh seperti ini. Tidak seperti Zusami biasanya, sombong dan acuh terhadap sesuatu.
"Kita hanya perlu mencari seseorang yang bisa menyerap penyakit nadi dingin. Dia seseorang yang juga memiliki tubuh istimewa, tubuh Jiwa Gelap. Tubuh Jiwa Gelap memang terkenal sebagai tubuh yang sulit dikendalikan karena memiliki keturunan kekuatan Raja Iblis yang sangat sulit dikendalikan. Tapi satu kelebihan tubuh ini, dia bisa menyerap berbagai penyakit dan menjadikannya sebagai Qi."
"Dan tidak perlu melakukan persetubuhan, mereka hanya perlu berdekatan dan saling berpegangan tangan." Tsakuya menegaskan kalimatnya yang ini karena Zusami hampir menyemburkan lagi perkataannya ketika mendengar tubuh Jiwa Gelap.
"Lalu di mana kita bisa mendapatkannya?" tanya Zusami lemah.
"Aku tidak tahu." Tsakuya mengangkat bahunya pasrah. "Dari apa yang aku tahu pemilik tubuh Jiwa Gelap terakhir kali dimiliki Raja Iblis King Huan. Namun sekarang Raja Iblis King Huan kehilangan raganya dan berada di tubuh Shua Xie. Jadi jika kita ingin menyembuhkannya maka kita harus mencari raga Raja Iblis King Huan. Tapi masalahnya kita tidak tahu di mana raga Raja Iblis King Huan berada."
Mereka berdua terdiam, tidak bicara lagi karena sibuk berpikir cara mengatasi masalah yang satu ini. Zusami juga tidak tahu di mana raga Raja Iblis King Huan berada, namun sempat dia dengar dari Shua Xie kalau gadis itu akan berpergian ke sembilan dunia berbeda mencari raga para pemimpin sembilan ras. Masih ada kesempatan bagi Shua Xie bisa sembuh, dan sekarang masalah lain ada pada waktunya, tidak ada yang tahu kapan mereka akan menemukan raga Raja Iblis King Huan. Sedangkan Tsakuya mengatakan waktu Shua Xie tidaklah banyak. Jadi kesimpulannya mereka harus mencari raga Raja Iblis King Huan terlebih dahulu.
"Masalah itu bisa kita urus. Lagi pula dia berkata akan mencari raga para pemimpin sembilan ras," ujar Zusami pelan.
"Benarkah? Berarti itu kabar bagus, tapi kita tidak tahu kapan dia akan menemukan raga Raja Iblis King Huan. Sekarang dia hanya bisa bergantung pada nasib baik saja." Tsakuya merasa sedikit lega mendengar ucapan Zusami, dengan begitu Shua Xie masih bisa diselamatkan jika memang Shua Xie tidak mau bersetubuh dengannya.
"Sebaiknya kita kembali, kita perlu mengatakan masalah ini padanya."
"Ya." Zusami mengangguk pelan membalas Tsakuya. Mereka berdua pun langsung hilang di waktu bersamaan.
***
"Aku?" Gadis itu menunjuk dirinya sendiri, lalu tersenyum santai seperti tidak ada masalah pada dirinya. "Kalian bisa memanggilku, Menma. Soal katana dan cincin ini memang milikku, kau mungkin anak dari Raja Langit, tapi aku adalah pemimpin Ayahmu."
"Apa yang dia katakan? Apa kalian pernah mendengar nama Menma?"
__ADS_1
"Entahlah, sepertinya tidak."
"Aku bahkan baru mendengar nama itu untuk pertama kalinya."
"Sepertinya dia pendatang dari benua lain?"
"Bisa jadi seperti itu."
Gadis bernama Menma itu yang tidak lain ialah Shua Xie menyinggung senyum tipis sembari matanya menatap gadis bernama sama sepertinya. Tanpa peduli dengan bisikan-bisikan orang di sekitarnya.
"Kau mengetahui identitasku?" Shua Xie bertanya pelan, berhati-hati dengan gadis bernama Menma itu.
"Tentu saja. Apakah kau sudah lupa denganku? Seseorang yang pernah kau tusuk dari belakang karena tidak rela aku mengambil milikmu."
Sejenak Shua Xie terdiam mendengar perkataan Menma. Namun sekejap saja dia langsung teringat kejadian beberapa waktu yang lalu. Spontan dia menatap Menma dengan pandangan tak percaya.
"Jadi itu kau?!"
Menma menyungging senyum lagi. "Benar, apa kau takut denganku? Kau ingat bukan aku pernah mengatakan padamu, jangan sampai kita bertemu lagi karena aku tidak akan berbaik hati lagi padamu." Sekejap senyuman Menma menghilang, tergantikan dengan raut wajah dingin yang menyimpan begitu banyak kebencian.
"Jadi kau ingin membalas kejadian waktu itu?"
"Tentu saja, kau pikir buat apa aku datang ke sini?"
"Aku tidak tahu apa yang telah terjadi di antara kalian berdua. Tapi kau tidak boleh membunuh Shua Xie. Dia adalah anggotaku, sudah menjadi kewajibanku melindungi anggotaku." Qixuan berdiri di depan Shua Xie, menjadi pelindung dari Menma yang ingin membalas perbuatan Shua Xie yang tidak dia ketahui.
Menma tertawa sinis mendengar perkataan Qixuan, bahkan setelah seminggu dia dan Qixuan tidak bertemu sikap gadis itu masih saja sama. Sangat bertanggung jawab terhadap keselamatan anggotanya. Menma tersentuh akan kebaikannya, namun dia tetap akan membalas Shua Xie meski Qixuan melindunginya. Menma masih tidak terima atas tuduhan dan perlakukan Shua Xie waktu itu padanya, bahkan gadis itu belum mendengar penjelasannya sebelum membunuhnya. Seharusnya dia tahu, Menma bukanlah gadis yang cepat melupakan perbuatan jahat seseorang terhadapnya. Dia tidak akan tenang jika tidak membalasnya.
Semua terkejut melihat Menma mengeluarkan senjata, yang berarti gadis itu tidak akan mundur meski Shua Xie dijaga banyak orang. Dia tidak akan menyerah sebelum membalas semua perbuatan Shua Xie terhadapnya.
"Yue Jian, pinjamkan aku pedangmu. Aku juga tidak akan kalah darinya." Yue Jian terkejut atas permintaan Shua Xie, tapi dia tidak berkeinginan menolak permintaan gadis itu. Dia memberikan pandangnya kepada Shua Xie.
"Pastikan kau mengerahkan semua kekuatanmu, karena aku sungguh akan membunuhmu hari ini." Menma mengibas katana miliknya membuat sarung katana itu terlepas. Di sisi lain Shua Xie juga telah melepaskan sarung pedangnya, dia bahkan sudah siap jika Menma langsung menyerangnya.
"Aku harap kau tidak mati lagi untuk ke dua kalinya," sindir Shua Xie sambil tersenyum sinis.
Semua orang menjaga jarak dari Shua Xie dan Menma tidak terkecuali Qixuan. Shua Xie meminta Qixuan untuk segera menjauh karena dia yakin pertarungannya ini bisa melukai seseorang yang bahkan telah menjaga jarak, untuk menghindari hal buruk lebih baik Qixuan menjauh. Shua Xie juga yakin kekuatan Menma mungkin setara dengannya.
Trang!!
Suara benturan senjata terdengar nyaring memekikkan telinga, tidak hanya satu kali namun berkali-kali. Pertarungan Shua Xie dan Menma telah terjadi, tidak ada yang bisa melihat pertarungan mereka karena ke dua gadis itu bertarung sangat cepat, yang terlihat hanya sekilas cahaya dan suara yang terdengar. Semua yang menyaksikan pertarungan mereka berdua hanya bisa berdecak kagum dengan mulut terbuka lebar.
'Oh, akhirnya aku tahu, dia memiliki sedikit kekuatanku yang tertinggal. Selain itu dia juga pasti telah mengamatiku dari dalam sambil memperlajari apa yang aku pelajari. Tidak salah jika dia bisa sekuat ini.' Menma menangkis ayunan pedang Shua Xie. Sengaja dia tidak mempercepat akhir pertarungan ini karena dia ingin tahu dari mana Shua Xie mendapat kekuatan sedangkan selama dua tahun ini dia terkurung di dalam alam batin yang sulit bisa dijangkau siapapun.
'Dia jauh lebih hebat dari perkiraanku.' Shua Xie meringis pelan dalam hati, tangannya terasa kebas setiap kali dia melancarkan serangan pedang dan Menma berhasil menahannya.
'Karena aku sudah tahu maka tidak ada waktu lagi bermain-main dengannya. Akan aku akhiri semuanya.' Menma melayangkan tendangannya tepat di saat Shua Xie sedang menahan pedangnya. Shua Xie langsung jatuh terpental ke tanah cukup keras, tidak sempat menghindari serangan yang Menma luncurkan. Begitu Shua Xie jatuh ke bawah, Menma juga langsung turun ke bawah, tidak ingin memberikan kesempatan bagi gadis itu untuk bangun.
"Seka'mat," bisik Menma di telinga Shua Xie. Semua terbelalak melihat katana Menma sudah di leher Shua Xie, selain itu Menma juga mengunci pergerakan Shua Xie sehingga tidak ada cela bagi Shua Xie menghindar ataupun melawan serangan.
"Apa kau sungguh akan membunuhku?" tanya Shua Xie pelan. Tetap bersikap dingin meski katana itu sudah menyentuh leher jenjangnya. Bahkan sudah menggores sedikit luka dan mengeluarkan darah.
__ADS_1
"Tentu saja, kenapa tidak? Kau bahkan tidak ragu membunuhku saat itu tanpa mendengarkan penjelasanku," balas Menma dingin.
"Kau tidak bisa melakukan ini padaku."
"Oh, ya? Mari kita lihat apa akhir dari pertarungan kita berdua."
"Kau sudah tinggal di tubuhku selama dua tahun, dan kini kau ingin membunuhku? Apakah kau tidak tahu cara berterima kasih yang benar?"
"Ck! Apa sekarang kau takut?" Menma menekan katananya membuat luka di leher Shua Xie semakin melebar. Shua Xie tersenyum sinis.
"Aku tidak akan takut kepada seseorang perebut sepertimu."
"Aku pikir kau akan minta maaf atas kejadian waktu itu. Tapi tampaknya akulah yang terlalu berharap lebih tentangmu. Aku ... menyesal pernah membantu gadis sepertimu."
Srash!!
"Shua Xie!!"
Bruk!!
Shua Xie jatuh berlutut di tanah, pandangannya membulat sempurna menatap Menma yang juga sedang menatapnya dingin. Rambut panjang Shua Xie jatuh berantakan di tanah.
"Kenapa?"
"Bersyukurlah karena Ayahmu memohon padaku atas nyawamu." Menma mundur beberapa langkah, membiarkan Shua Xie yang masih tertegun atas tindakannya. Tampaknya Shua Xie masih tidak menyangka Menma tidak jadi membunuhnya, dan justru hanya memotong rambut panjangnya menjadi pendek sebahunya.
Di sisi lain Menma menyimpan kembali pedangnya ke dalam cincin Ruangnya. Bersamaan dengan itu Tsakuya dan Zusami datang, mereka berdua langsung dibuat terkejut ketika melihat Shua Xie yang satunya jatuh berlutut di tanah dengan rambut yang telah terpotong.
"Apa yang terjadi?" tanya Zusami pada Menma.
"Aku ingin membunuhnya." Tsakuya dan Zusami menatap Menma terkejut. "Beruntung Ayahnya Raja Shujin Xian memohon nyawanya padaku." Lanjut Shua Xie dingin.
"Lalu karena itu kau memotong rambutnya?" balas Tsakuya menebak. Jika dia tidak salah seharusnya tebakannya ini benar, Menma memotong rambut Shua Xie sebagai peringatan ke depannya dia sungguh tidak akan berbaik hati lagi. Beruntung Ayah gadis itu memohon ampun untuknya.
"Kau bisa menganggapnya seperti itu. Sekarang kita bisa pergi, urusanku telah selesai." Menma berniat berbalik namun dia langsung teringat sesuatu. "Oh ya, aku melupakan seseorang." Menma beralih menatap Kiseki spontan saja pemuda itu mengalihkan pandangan darinya.
Menma melemparkan sesuatu kepada Kiseki dan pemuda itu langsung menangkapnya dengan gesit kemudian melihat benda apa yang dilempar Menma.
"Pil?" Kiseki menatap Menma bingung. Pasalnya dia tidak mengerti kenapa Menma memberikannya sebutir pil berwarna merah ini. "Untuk apa?" Dia memberanikan diri bertanya.
"Kau akan paham setelah memakannya." Menma tersenyum sekilas berniat pergi namun Kiseki berbicara lagi.
"Kenapa?"
"Kenapa?" Menma mengernyit, memikirkan alasan kenapa dia memberikan pil itu Kiseki. "Hem ... kau bisa anggap aku pernah berutang sesuatu padamu. Pil itu adalah bayarannya utangku." Alasan Menma membuat Kiseki mengenyit bingung.
'Kapan dia pernah berutang padaku? Aku bahkan tidak mengenalnya.' Kiseki tidak berniat bertanya lebih jauh lagi khawatir jika dia bertanya banyak Menma merasa risi karenanya dan akhirnya membunuhnya.
Menma melirik sinis pada Shua Xie yang masih tertegun. "Heh, aku peringatkan padamu, pada pertemuan berikutnya, aku mungkin tidak akan memaafkanmu seperti saat ini."
__________
__ADS_1
A/N : Dah keren belom Menma nya >0<