
Terbelalak Chi Su maupun Ogher mendengar ucapan serius dari Shua Xie, mereka berdua tahu apa yang baru saja Shua Xie ucapkan bukanlah ancaman belaka.
Chi Su mengangkat kepalanya yang menyetuh lantai, perlahan pandangannya tertuju pada Shua Xie yang kini tengah menatapnya dengan tatapan tajam. Bagai melihat tatapan dari Batara sang Agung, Chi Su menelan ludahnya kasar.
Tidak ingin Shua Xie marah lagi, Chi Su segera berdiri dan melarikan diri ke sisi Ogher. Chi Su menunduk, tidak sedikit pun berani mengangkat pandangannya lagi setelah melihat tatapan tajam dari Shua Xie.
Sadar kalau dirinya terlalu berlebihan, Shua Xie hanya bisa menghela nafas pelan, "Maaf, aku bukan bermaksud menakutimu, Chi Su, aku hanya-"
Belum selesai dirinya menyelesaikan ucapannya, keburu suara lain menyela ucapannya, "Aku mengerti, Nona. Lain kali aku tidak akan seperti ini lagi," sela Chi Su cukup tegas.
Shua Xie terdiam dengan mulut sedikit terbuka, walaupun tidak menyangka Chi Su akan menyela ucapannya, tapi Shua Xie tidak mempermasalahkan itu. Paling tidak Chi Su sudah bisa memahami kesalahannya.
Shua Xie menutup mulutnya kembali lalu mengukir senyum tipis, "Baiklah. Bukankah kalian penasaran kenapa bisa terjadi peperangan?" Shua Xie mengalihkan topik, "Bukan kau tahu Chi Su maksudku di Pavilun Wûkì?" Shua Xie menatap pelayannya itu.
Alis Chi Su mengerut, tampak tidak paham akan maksud Shua Xie, "Di Pavilun Wûkì?" Tampak Chi Su berpikir keras maksud Shua Xie barusan, " Mungkinkah ...." Chi Su menatap Shua Xie sedikit terkejut. "Dunia Atas yang Nona maksud?" lanjutnya lagi.
Terlihat anggukan dari Shua Xie, "Benar, peperangan ini tidak sesederhana yang kalian pikirkan, sebagaimana Kaisar Feng Kim menyatakannya."
***
"Apa maksudnya ini?" Seorang gadis manis melempar cangkir minumannya ke lantai setelah mendengar kabar yang menusuk gendang telinganya, "Ayah kembali ke takhtanya? Kenapa?" Gadis itu menatap seorang pelayan yang tidak lain ialah pembawa kabar tadi.
Tampak pelayan itu menggelengkan kepalanya, "Ti-tidak ada yang tahu, Putri. Tapi ... tampaknya akan terjadi keributan besar yang memaksakan Yang Mulia kembali ke takhtanya," jawab pelayan itu seraya menunduk menatap kakinya, tidak berani menatap tatapan marah dari majikan di depannya.
Gadis yang tidak jauh duduk di dekat perempuan muda yang marah memutar bola matanya malas, meskipun kabar kenaikan Feng Kim ke takhtanya membuat kegaduhan di mana-mana, tapi nyatanya gadis ini hanya bersikap biasa saja, seakan berpikir kenaikan sosok pria itu tidak akan berdampak padanya.
Gadis itu membuka suara, membuat semua pandang tertuju padanya, "Kenaikan Yang Mulia pasti berhubungan dengan, Putri ke Lima."
"Apa kau berpikir Ayahku kembali ke takhtanya karena si jal*ng itu?" Pandangan berkobar tertuju pada gadis yang masih tenang itu. Benar-benar tenang, tidak menunjukkan ketakutan di sana.
"Bisa dikatakan seperti itu, bukankah kita semua sadar, Yang Mulia kembali bertakhta ketika Putri ke Lima datang? Hal itu patut dipertanyakan," jawab gadis itu sambil beranjak berdiri. Dia berjalan mendekati perempuan muda yang masih menggebu-gebu marah, "Tuan Putri Pertama, aku khawatir posisimu akan tergantikan, mengingat Yang Mulia Feng Kim sangatlah bijaksana dalam bertakhta." lanjutnya lagi sambil menyentuh pundak yang dia sebut Putri Pertama.
Wang Xinian melotot tatkala gadis itu menyebut posisinya, "Mielan! Apa maksudmu posisiku akan tergantikan!" sahut Wang Xinian dengan nada cukup membentak.
Gadis yang Wang Xinian sebut Mielan tersenyum sinis, berpikir bahwa otak dari calon Putri Mahkota atau Utama begitu, BODOH. Tapi sebagai teman yang baik, Mielan akan membantunya bukan?
"Putri Pertama, ingat kau mendapatkan posisimu sekarang hanya karena Pamanmu Jenderal Besar Feng merasa kasihan, tidakkah kau sadar itu?" tutur Mielan tajam.
__ADS_1
Wang Xinian kaget namun tidak berbicara sepata katapun, sambil berpikir bahwa apa yang dikatakan Mielan memang benar, posisinya sekarang hanya karena sebatas kasihan. Sewaktu Feng Xian menjadi Kaisar, Wang Xinian menggunakan berbagai macam cara untuk membujuk pamannya menjadikannya calon Putri Mahkota, dan semua orang tahu, Wang Xinian mendapatkan posisinya hanya karena belas kasihan dari Feng Xian. Sekarang sosok yang memberikannya jabatan telah turun takhta, hal itu bisa menyebabkan goyahnya kedudukannya.
Pandangan Wang Xinian menjadi khawatir, seketika dia memandang Mielan, "Kau benar, Mielan! Lalu apa yang harus aku perbuat agar posisiku tidak hilang?" tangannya sambil memegang ke dua tangan Mielan penuh harapan. Berharap teman sekaligus sahabatnya itu bisa membantunya.
"Aku takut aku tidak bisa membantumu, Putri Pertama. Berita telah tersebar, Putri ke Lima adalah Putri yang cantik dan kuat, bahkan Yang Mulia begitu melindunginya." Sejenak terpampang raut wajah khawatir, namun sekejap saja raut wajah itu terganti dengan senyuman sinis, "Tapi ... bukan berarti aku tidak memiliki rencana untukmu, Putri Pertama. Asalkan kau bisa melakukannya dengan bersih dan rapi, aku yakin setelah itu, Putri ke Lima bukan lagi masalah besar."
***
Baru saja Chi Su membuka pintu kediamannya, dia langsung dikejutkan dengan kedatangannya Jenderal Besar Feng. Tampaknya Feng Xian baru ingin memegang pintu itu, namun keburu dibuka oleh Chi Su.
"Ya-Yang-Jenderal Besar Feng," kejut Chi Su dengan mata sedikit membulat, hampir saja dia memanggil mantan Kaisar itu dengan sebutan 'Yang Mulia'. Chi Su segera menunduk memberikan hormat, dan setelah itu barulah dia bertanya ada maksud apa kedatangan Feng Xian ke kediaman Putri ke Lima.
"Jenderal Besar Feng, apa yang membuat anda datang ke sini?"
Feng Xian mengamati kediaman Shua Xie cukup lama, matanya menatap tajam ke dalam pavilun, "Apakah Putri ke Lima ada di kediamannya?" tanya Feng Xian.
"Ada, silakan masuk Jenderal Besar Feng." Chi Su mempersilakan Feng Xian masuk. Tanpa membalas apapun, Feng Xian langsung melenggang masuk ke dalam kediaman Shua Xie.
Pandangan Feng Xian tidak beralih sesaat matanya itu menatap sesosok gadis cantik tengah duduk di kursi kayu sambil memandang gelas di depannya. Tangan gadis cantik itu berputar-putar di bibir gelas tanpa memperdulikan sekitarnya, meskipun dia tahu dia kedatangan seorang tamu tidak diundang.
"Jenderal Besar Feng, selamat datang, silakan duduk." Shua Xie membuka suara, tanpa menolehkan sedikitpun pandangannya dari gelas yang dia mainkan.
"Shua Xie, aku rasa kau tahu aku akan datang ke sini?" Feng Xian menatap intens Shua Xie, mengetahui pelayan yang tadi menyambutnya di pintu kini sudah tidak berada di dalam kediaman. Seakan mereka sudah memperkirakan Feng Xian akan berkunjung, sehingga memberi ruang untuk dua sosok ini berbicara.
Pergerakan tangan Shua Xie terhenti, bersamaan dengan itu dia mengangkat pandangannya, "Paman ... ah, tidak, apa aku harus memanggilmu Bibi Feng?" dengus Shua Xie pelan.
"Kau! Bagaimana bisa?" Terbelalak Feng Xian menatap Shua Xie, terkejut sebab gadis cantik si depannya itu tahu akan rahasia terbesarnya.
Shua Xie tersenyum sinis, "Bibi, Ah ... rasanya kurang sopan memanggil Jenderal Besar Feng dengan sebutan seperti itu." Shua Xie menggelengkan kepalanya pelan, namun senyuman seperti menghina itu tidak pudar.
"Kau! Di mana sopan santunmu, mau bagaimana pun aku adalah keluargamu juga!" Tidak bisa ditahan, Feng Xian meluapkan rasa marahnya, mungkin kesal sebab Shua Xie bersikap kurang sopan kepada yang lebih tua, padahal Feng Xian baru saja tiba. Feng Xian beranjak berdiri, berniat pergi, namun ucapan Shua Xie langsung menghentikannya.
"Bukan kedatangan Jenderal Besar ingin mengetahui sesuatu?" Shua Xie benar-benar tenang, terlalu yakin kalau Feng Xian tidak akan pergi, "Duduklah, aku hanya menguji kesabaran Jenderal Besar. Sungguh aku tidak berniat membuat Jenderal Besar marah sepenuhnya. Nanti Ayah akan menghukumku jika dia tahu aku bersikap kurang sopan kepada Adiknya," lanjut Shua Xie lagi, kali ini dia menatap Feng Xian sambil memberikan senyuman hangat.
Bohong! Itu adalah kebohongan besar, bahkan jika Shua Xie tidak menghentikan Feng Xian mengadu sikap Shua Xie yang kurang sopan santun itu, apakah Feng Kim akan terlalu mempedulikannya? Justru Feng Kim yang akan memarahi Feng Xian sebab menggangu Putri tersayangnya.
Feng Xian kembali duduk, namun raut wajah yang dipaparkannya sungguh tidak bersahabat. Bahkan aura kekesalan menyeruak ke mana-mana.
__ADS_1
"Shua Xie, jika kau tidak bisa bersikap sopan, percaya atau tidak akulah yang akan mengajarimu bagaimana cara bersikap sopan!" Feng Xian tidak menutupi rasa kesalnya, meskipun percuma juga dia memperingati Shua Xie. Shua Xie adalah gadis bebas dan liar, siapa bisa mengatur kehidupannya?
Lagi-lagi Shua Xie memberikan senyuman tipis yang lebih terkesan meledek, "Jika Jenderal Besar bisa melakukannya, aku sungguh merasa terbantu," balas Shua Xie.
Feng Xian mengangkat tangannya, siap menunjukkan Shua Xie dengan jarinya, tapi dia hentikan sebab merasa tidak ada gunanya juga dia melakukan itu, "Kau ... sudahlah. Aku malas berbasa-basi!" Feng Xian mendengus pelan, kesal dan marah bercampur, "Katakan dari mana kau tahu pasukan Dunia Atas akan datang ke Dunia Tengah?" Tidak ingin berbasa-basi lagi, Feng Xian langsung mengajukan pertanyaannya.
Sudah Shua Xie duga, Feng Xian datang pasti ingin mempertanyakan hal ini, wajar saja jika Feng Xian bertanya, sebab karena kabar itu juga Feng Xian harus turun dari takhtanya. Untuk memastikan benar tidaknya kabar buruk itu, Feng Xian harus membuktikannya.
Shua Xie menatap Feng Kim, "Apa perlu Jenderal Besar mengetahu itu? Bukankah yang lebih penting adalah mengamakan para manusia biasa?" Shua Xie mengalihkan pertanyaan. Pandangan menurun lagi menatap gelasnya, "Aku rasa lebih baik Jenderal Besar memikirkan cara melindungi mereka yang lemah untuk saat ini." Bukannya Shua Xie tidak ingin menjawab pertanyaan itu, hanya saja, Shua Xie harus merahasiakannya karena suatu hal.
Feng Xian memaki Shua Xie dalam hatinya, kekesalannya bertambah tatkala Shua Xie menjawab pertanyaan tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.
"Shua Xie, apa kau ingin bermain-main denganku?" tanya Feng Xian dengan tatapan cukup tajam.
Namun bukannya tertekan atau pun takut, Shua Xie justru tersenyum, tapi senyumannya itu membuat Feng Xian tertegun, "Apa aku terlihat sedang bermain?" balas Shua Xie dingin.
"Kau! Ya sudahlah, jika kau tidak ingin menjawabnya!" Feng Xian mendengus kasar, melihat senyuman mengerikan dari Shua Xie membuatnya sangat-takut-enggan untuk mengetahuinya. Dia tahu jika Shua Xie sudah seperti itu, berarti tidak sebaiknya dia mengetahui hal itu, "Lalu setelah membuat keributan seperti ini, apa lagi yang akan kau perbuat?" Feng Xian mengalihkan topik. Tapi pertanyaan ke duanya ini memang patut diajukan. Kira-kira setelah berbuat keributan dengan memberitahukan pengumuman perang kepada Feng Kim, apalagi yang Shua Xie lakukan? Tidak mungkin bukan Shua Xie hanya memberitahu saja tanpa memberikan sedikit solusi atau cara untuk menghadapi pasukan dari Dunia Atas.
Tahu kalau Feng Xian takut dengan senyumannya, Shua Xie hanya bisa tertawa dalam hati, sambil berpikir, sebegitu mengerikannya kah dia di mata Feng Xian?
"Sebelum aku melakukan apa yang bisa aku bantu, aku ingin para pemimpin datang ke kerajaan Xuilin besok atau lusa! Jika tidak, jangan salahkan aku jika aku membiarkan mereka mati di tangan para maniak itu."
"Kau! Kau tidak berniat bukan mengendalikan seluruh wilayah hanya karena peperangan?" tanya Feng Xian dengan tatapan sulit dijelaskan. Namun hal yang pasti, Feng Xian berpikir Shua Xie ingin mengendalikan seluruh wilayah dengan kekuatannya, meskipun bertujuan baik.
Shua Xie menyentuh keningnya, "Apakah aku terlihat seperti orang yang haus akan kekuasaan? Jika aku mau sudah dari awal aku melakukan itu, tapi aku sadar, aku bukanlah orang sejahat itu. Aku datang ke sini hanya untuk membantu kalian, setelah itu tugasku selesai." Shua Xie tidak mengerti ada apa dengan otak Feng Xian, berpikir Shua Xie ingin berkuasa, dia bukanlah seperti Lou Zhou.
"Lalu?" Alis Feng Xian naik sebelah, "Untuk apa kau meminta Feng Kim kembali menjadi Kaisar dengan mengancam dirimu akan menjadi Kaisar jika dia tidak kembali."
"Jika bukan dia yang bisa mempimpin peperangan, lalu siapa?" Shua Xie bertanya balik, wajahnya kini menunjukkan aura kesal.
"Kau meremehkanku!?" sahut Feng Xian cukup keras, dia bahkan tanpa sadar menunjukkan Shua Xie dengan jarinya. Maksud dari meremehkan seharusnya kalian tahu, Shua Xie memaksa Feng Kim naik takhta sebab tidak percaya dengan kekuatan yang Feng Xian miliki.
Shua Xie menghela nafas pelan sambil memutar bola matanya malas, "Jika kau berpikir seperti itu, itu akan lebih baik dari pada aku memberitahukanmu secara halus namun menusuk," balasnya dengan nada malas. Walaupun sebenarnya Shua Xie terlambat jika ingin mengatakan kata itu, sebab Shua Xie sudah menjatuhkan harga diri Feng Xian sebagai Jenderal Besar yang terkenal hebat dan kuat.
"Nona manis, kata-katamu sungguh tidak sesuai rupamu." Feng Xian meremas jarinya, sambil berwajah cukup kesal untuk melampiaskan kekesalannya.
"Terimakasih atas pujiannya," balas Shua Xie sambil tersenyum. Tidak merasa sedikitpun tersinggung meski Feng Xian sedang menyindir sikap dan rupanya yang tidak sesuai.
__ADS_1
'Bocah ini, apa dia pikir aku sedang memujinya?' pekik Feng Xian dalam hati.