Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 183


__ADS_3

"Makanlah." Seorang pria berjirah perang lengkap menyodorkan sekotak kue keras kepada Shua Xie. Menyerong kotak itu dengan kayu seakan Shua Xie adalah virus berbahaya yang harus dihindari. Setelah memberi makanan tersebut, ia langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.


Shua Xie tak memedulikan perkataan prajurit itu. Ia tetap termenung dengan pikirannya sendiri. Menatap kosong ke dua kakinya yang tak lagi menggunakan alas kaki.


Srek ....


Shua Xie mengangkat wajahnya, menatap langit-langit penjara yang sebenarnya adalah gua. Bau, basa dan pengap bisa Shua Xie rasakan dengan jelas. Ia tak akan mengeluh karena tempat seperti ini sudah biasa baginya sejak ia kecil, sepi dan sendiri. Hanya ada suara tetesan air yang menemani kesendiriannya.


Tes, tes, tes ....


Srek ....


"Emm ...." lenguhan pelan terdengar. Shua Xie mengusap pipinya yang basa akibat tetesan air dari langit-langit gua. Terdengar juga suara rantai menggema tatkala ia menggerakan kaki dan tangannya yang terikat rantai besi.


Beberapa waktu yang lalu Shua Xie berusaha melepaskan diri dari rantai besi, tapi ternyata rantai besi itu adalah senjata spirit tingkat tinggi, sehingga ia tak bisa mematahkannya. Apalagi Lou Yue juga menguncing beberapa merediannya, sehingga Shua Xie tidak bisa mengeluarkan semua Qi-nya.


Srek!


Shua Xie menyerong sedikit posisinya, bersandar pada dinding gua. Dingin, itulah yang Shua Xie rasakan ketika punggungnya dan dinding gua bersentuhan. Kemudian ia memejamkan matanya dan berusaha mengistirahatkan tubuhnya setelah apa yang terjadi padanya hari ini. Dia lelah dan butuh istirahat.


Klontang!


Belum sampai dua detik Shua Xie memejamkan matanya. Terdengar suara benturan besi memancing kesadarannya. Dari pintu penjara, tampak dua orang pria berpakaian zirah lengkap melenggang masuk. Shua Xie membuka kembali matanya. Tapi tetap bersikap acuh dengan kedatangan dua prajurit itu.


"Hem, jadi dia Putri Langit itu?"


"Iya."


"Lumayan. Tidak salah Pangeran tidak mengizinkan kita menangkapnya."


"Ya. Dia memiliki paras yang sangat cantik dari gadis biasa. Selain itu basis kultivasinya juga cukup tinggi. Tapi sebagai klan murni justru terlihat sangat rendah. Memalukan. Aku pikir dia sangatlah hebat seperti klan Langit lainnya."


"Aku dengar dia sudah pernah pergi ke dunia Bawah dan memiliki banyak sekutu di sana. Tapi apa sekarang? Bahkan sekutunya tak datang membantu. Kasihan sekali."


"Sangat disayangkan jika gadis sepertinya mati begitu saja."


"Bagaimana jika kita bermain-main sejenak dengannya?"


"Tapi bagaimana jika Pangeran tahu? Kita bisa mendapat masalah nantinya."


"Tidak akan ada yang tahu jika kau tidak mengadu."


"Berisik!" Tak tahan mendengar ocehan dua pria yang baru saja masuk ke dalam penjara, Shua Xie menyahuti mereka untuk diam. Apalagi Shua Xie mendengar jelas perkataan kurang ajar dari mulut -dua prajurit itu.


Seandainya tatapan bisa membunuh, dua pria itu pasti sudah mati sejak tadi akibat tatapan tajam Shua Xie.


"Hah?! Dia bilang apa tadi?" tanya salah satu pria itu. Temannya yang satu hanya bergidik bahu seakan tak mendengar apa yang Shua Xie katakan.


Tap, tap, tap ....


Srek!


"Ehm."


"Kau bilang apa tadi?" Pria itu bertanya lagi dengan nada teramat mengintimidasi. Tatapannya yang tajam tertuju pada wajah Shua Xie yang dia pegang dengan kasar.


Shua Xie tak berniat menghindari tatapan pria di depannya. Ia pun membalas tak kalah tajam dan angkuh. Bahkan Shua Xie memberikan seringai tipis, yang tentunya tujuan menghina pria itu.

__ADS_1


"Cuih!" Shua Xie meludah tepat di wajah pria itu. "Bersisik bajingan! Apa masih kurang keras?!" Lanjutnya tegas. Tepat setelah Shua Xie berkata, dia langsung terdorong mundur hingga menabrak dinding gua.


"Aargg! Beraninya kau meludahi wajahku! Dasar wanita j*lang!"


Plak!


Tamparan keras mendarar keras di pipi kiri Shua Xie. Sangat keras hingga sudut bibir kanannya mengeluarkan darah. Bagaimana tidak, pria itu menggunakan tenaga dalam saat menampar wajah cantik Shua Xie. Tak henti sampai di situ saja, dia bahkan menarik baju Shua Xie secara paksa, hingga baju yang dipakai Shua Xie sobek.


Srak!


"Hentikan! Bajingan!" Shua Xie tentu tak tinggal diam. Meski kaki dan tangannya terikat rantai dia masih bisa bergerak. Dengan gerak cekatan Shua Xie menendang perut pria itu hingga pria itu terpental menabrak dinding gua.


"Sialan!" Pria yang satu maju menyerang, sebagai balasan sekaligus rasa geramnya pada Shua Xie. Tangan kanannya terangkat, membentuk kepalan yang siap menghajar Shua Xie. Di kepalannya itu juga dialiri Qi cukup tinggi.


Duak!


Sebelum tinju pria itu sampai, kaki kiri Shua Xie sudah lebih dulu menendang betis pria itu hingga sang pria tersungkur ke tanah secara kasar. Ia bahkan hampir mati oleh dinding-dinding gua yang tajam, jika tidak cepat menghindar kepala pasti sudah tertancap di sana.


"Sialan!" Pria yang satunya menyerang lagi. Kali ini ia menggunakan senjatanya dan mengaliri Qi di sana.


Srash!


Shua Xie tak sempat menghindar apalagi perhatiannya sempat teralihkan oleh pria yang satunya. Alhasil tangan kirinya mendapat sayatan cukup besar. Shua Xie menatap tajam pria pengguna pedang tersebut. Lalu ia menggenggam erat rantai di ke dua tangannya, mengangkat tubuhnya sedikit tinggi kemudian melambung tubuhnya dan menendang wajah pria itu sekuat mungkin.


Duak!


Pria itu terpukul mundur lagi dengan wajah yang tak lagi baik, hidung dan mulutnya mengeluarkan sendiri darah. Sejenak dia mengusap darah di hidungnya, lalu menatapnya. Rasa geram dan kesal pun muncul, tak terima mendapat luka dari Shua Xie. Dia pun berniat menyerang Shua Xie lagi dengan jurus yang lebih kuat tentunya.


"Sialan kau jal*ng!"


"Hentikan!" Sebelum pedang pria itu sampai, seorang prajurit lain yang berada di luar penjara sudah lebih dulu menghentikannya. Tampaknya prajurit itu mendengar keributan dan segera menuju ke tempat ini. Melihat pertarungan yang tak sepatutnya terjadi, ia pun segera menghentikannya.


"Kenapa kau menghentikanku! Aku belum puas memberikan dia pelajaran!" balas pria yang memegang pedang, kesal.


"Apa kau lupa siapa dia? Apa kalian sudah tidak ingin hidup? Aku akan melupakan masalah ini jika kalian segera pergi," balas prajurit itu datar. Sebenarnya ia tak peduli apa yang dilakukan dengan dua prajurit itu, tapi mengingat Shua Xie bukan tawanan biasa. Mana bisa dia membiarkan hal itu terus berlanjut.


Sejenak dia terdiam, memandang prajurit di luar penjara dan Shua Xie bergantian. "Cih! Kau selamat jal*ng! Ayo pergi!" ucapnya kesal sembari melenggang pergi begitu saja. Temannya mengikutinya dari belakang.


Klontang!


Plang!


"Uuhh ...." Shua Xie segera terduduk setelah tiga prajurit itu pergi. Lenguhan pelan kembali keluar ketika ia merasakan sakit pada lengan kirinya. Sejenak Shua Xie diam, lalu tiba-tiba dia mengusap wajahnya kasar, kemudian beralih menjambak rambutnya sendiri.


"SIALAN!!!"


***


Bom!


Duak!


Aron tercengang dengan mulut ternganga lebar. Dia baru saja menyaksikan sesuatu yang sangat sulit untuk dijelaskan. Intinya, semua prajurit yang mengepung mereka sekarang berada dalam situasi tak baik. Semua prajurit itu melayang di udara dengan akar yang membelit tubuh mereka. Tak sampai di situ, tubuh para prajurit itu mendadak kering sampai hanya menyisakan pakaian dan tulang kerangka mereka saja.


Aron sangat tercengang!


"A-apa yang terjadi?" tanya Aron di sela rasa kekaguman dan ketakutannya.

__ADS_1


Azura terkekeh pelan melihat reaksi Aron. "Meski kuberi tahu kau juga tidak akan mengerti. Intinya, mereka semua telah kalah," sahut Azura membalas. Kemudian perhatiannya kembali pada Menma yang kini sudah melangkah pergi. Tanpa ba-bi-bu lagi, Azura segera mengikuti Menma. Begitu pun dengan Aron.


"Hei, kau cukup kejam juga rupanya. Menyerap inti kehidupan mereka sampai kering adalah hal tabu di jalan keabadian." Azura menyejajarkan langkahnya dengan Menma. Menatap Menma dengan senyuman manis.


"Berlaku bagi mereka yang memegang teguh jalan kebenaran. Sayangnya aku bukan tipe manusia berhati baik. Selama jalan tersebut bisa mempercepat, kenapa tidak dilalui?" balas Menma lugas. Tetap fokus berjalan tanpa merubah raut wajahnya yang datar.


"Perkataan yang bagus. Namun, dampak negatif menapaki jalan yang salah itu lumayan beresiko."


"Apakah sekarang kau beralih menjadi pak tua penceramah?" Menma menatap sekilas Azura.


"Tidak. Aku masihlah aku. Hanya saja aku tak ingin kau terluka," balas Azura serius.


"Heh? Berhentilah membual, aku ingin muntah mendengar gombalanmu itu." Jujur Menma memang ingin muntah, tapi dia lebih ingin menampol wajah Azura agar pemuda itu berhenti menggodanya.


"Aku serius."


"Aku juga serius. Jika mulutmu tidak bisa diam, kau bisa pergi bersama pak tua itu."


"Oke, aku diam. Tapi jangan mengusirku."


"Bagus. Jadilah peliharaan yang patuh."


"Hei! Aku ini bukan peliharaanmu. Aku berbeda dengan Tsakuya dan Zusami."


"Memelihara tiga pria dalam harem juga tidak ada salahnya. Aku rasa kalian bisa memuaskanku."


"Apa?!" Azura sudah memerah malu. Bagaimana mungkin Menma bisa mengatakan hal semacam itu begitu santai. Terlebih lagi di hadapan seorang pria. "Tidak boleh. Aku saja sudah cukup memuaskamu! Mereka jadikan pelayan di belakang saja!" balas Azura sedikit keras.


"Tidak bisa. Aku selalu memperlakukan priaku dengan sangat adil. Bagaimana mungkin aku membuang mereka?"


"Menma!"


"Hahaha ... kau lucu. Jika kau sanggup memuaskanku. Mungkin aku bisa mempertimbangkan ucapanmu."


Tap!


Menma dan Azura berhenti melangkah. Begitu pun dengan Aron di belakang mereka. Menma menatap dua lorong yang ada di depannya, dan di sinilah mereka bertiga akan terpisah. Em, mungkin lebih tepatnya Aron yang memisah dari mereka berdua.


"Pak tua, seperti yang kita bicarakan sebelumnya. Kita akan berpisah di tempat ini," ucap Azura.


"Aku mengerti." Aron mengangguk, kemudian pergi menuju lorong kiri. Ia juga sudah sungguh tak tahan terus mengikuti Azura dan Menma. Bukannya apa, sejak mereka berjalan, pembicaraan dua anak muda ini tidak pernah ada yang beres. Bikin Aron geleng-geleng kepala.


"Apa kau yakin membiarkan pak tua itu sendiri?" Azura menatap kepergian Aron yang semakin menjauh.


Menma juga beralih menatap Aron."Tentu. Dia salah satu Menteri kepercayaan Raja Shujin Xian. Meski dia lemah, tapi otaknya jauh lebih cerdas dari otakmu." Ucapan Menma berhasil memanggil sahutan kesal dari Azura.


"Hei! Apa maksudmu berkata seperti itu?"


"Karena memang begitulah kenyataannya."


"Aku merajuk!"


"Jangan jadi bocah! Atau aku akan membuangmu, baka."


______________


A/N : Kok dua orang ini bisa deket sih? ketinggalan berita apa, gue?📰🔎

__ADS_1


__ADS_2